Bekal Nasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 27 May 2014

Semenjak aku sekolah pagi, aku jadi lebih banyak kegiatan. Kegiatan tambahan dari ekskul, rapat osis dan latihan musik benar-benar membuatku jauh dari makan siang, terutama jauh dari Nasi. Tapi aku benar-benar muak dengan makanan pokok satu itu. Aku bosan harus makan nasi, sekalipun ditemani lauk yang paling enak, aku akan lebih memilih hanya makan lauk daripada harus makan sama nasi.

Di sekolah pun jika aku lapar aku tidak akan makan nasi. Aku lebih memilih bakso yang sebenarnya lebih memuaskan porsi nasi daripada bakso. Teman-teman ku yang membawa bekal terkadang menawarkan ku bekalnya, aku menerimanya tetapi jika nasi, aahhh lebih baik aku hanya minum air putih saja.

Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi tidak suka nasi. Jelas-jelas dari kecil aku sudah terbiasa makan makanan pokok satu itu. Seluruh keluarga ku juga tidak pernah bosan makan nasi. Mungkin aku bosan dengan rasa nasi yang itu itu saja.

Setiap pulang sekolah aku selalu menunggu angkot di depan sekolah. Tapi karena hujan, aku jadi menunggu angkot sambil berteduh di sebuah pondok.
“Raya maaf aku sudah dijemput. Aku pulang duluan yah?” vivi memelas.
“Yah, baiklah vi aku gak apa kok. Hati-hati yah.”
“Oke. Bye Raya.” sambil dia memakai jas hujan dan menaiki motor yang menjemputnya.
Aku sendirian dan benar saja, satu pun angkot belum ada yang lewat. Sekalipun lewat angkot juga sudah pada penuh.
“Aduh!! Angkot mana sih? Lama bener, laper duluan aku disini.” gerutukku sendiri. Tiba-tiba ada orang yang lari ke arah pondok.
“Ahh hujan lagi. Basah lagi pulang ini?” suaranya terdengar. Dengan pakaian seragam yang beda, sepertinya berasal dari sekolah yang tak jauh dari sekolahku.
“Ya iyalah basah namanya juga hujan air.” jawabku sewot.
“Oh ada orang rupanya, Haha maaf aku tak lihat, aku berteduh disini yah?”
“Segede ini gak lihat. Yah silakan aja tempat umum juga.” sambil menatap dia sinis.

Aku hanya diam. Aku memandangi dia sebentar, dia malah tersenyum manis padaku. Ihh mungkin ini cowok yang paling aneh yang pernah kutemui. Dan yang paling membuatku aneh, tiba-tiba dia mengeluarkan kotak bekal makanannya. What?! Bekal?
“Untung bekalku belum dimakan. Jadi kita bisa makan bareng.” Katanya.
“Ihh apaan sih kamu? Makan aja sendiri. Gak usah sok ramah deh.” jawabku marah.
“Gak usah malu lagi. Kamu tuh laper. Perut kamu dari tadi udah nyanyi. Hahaha.”
“Mau kamu apa sih? Jangan sok tau kali. Makan aja sendiri! Aku gak laper!!”
“Jangan marah gitu. Nih aku bawa nasi dengan lauk ayam goreng dan sambelnya tidak lupa.” jawabnya rinci.
Aaahhh tidak!! Nasi lagi? Bisa-bisa aku muntah sekarang. Anak ini sudah membuat dua kesalahan padaku. Pertama dia membawa nasi dan kedua dia membuatku marah sehingga aku tidak memperhatikan lagi angkot yang sudah lewat.
“Uuhh kamu… gara-gara kamu aku gak pulang-pulang!! Angkot yang lewat aku biarkan saja. Kamu tau tidak? Sudah hampir sejam aku disini. Sekarang sudah jam 2, Ibuku pasti mencariku.” bentak ku padanya yang sedang asyik nenikmati makan siangnya.
“Wah curhat nih? Panjang banget ngomong. Udah duduk sini makan, aku tahu kamu lapar.” jawabnya dengan santai dan sambil tersenyum.
Ini orang benar-benar membuatku marah dan benar-benar marah. Terpaksa aku duduk di bangku panjang yang dia juga tempati.
“Tidak suka nasi!! Aku mau muntah kalau makan itu.” kataku ringan.
“Uhuk uhuk.. ahh kamu membuatku jijik. Kenapa tidak suka? Nanti kamu mati gak makan nasi.”
“Hahaha salah sendiri. Idih gak gitu juga kali. Masih banyak makanan lain yang bisa aku makan.” jawabku bangga.
“Ini, aaaa ayo makan.” katanya sambil menyodorkan sendok ke arahku yang diisi dengan nasi, ayam dan sambelnya.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan anak ini, dia tidak mengenalku dia malah menyuapiku makan.
“Aduh apaan sih? Aku gak mau! Ahh mana lagi angkot gak lewat-lewat.” Gerutukku kesal.
“Gak akan lewat sampe kamu makan ini. Ayoo cepat tanganku pegal.” jawabnya sambil senyum.
Akhirnya aku makan nasi itu dan tidak ada pengaruh apapun. Aku mengunyahnya dan tidak membuat aku muntah. Rasanya enak, dan ini kesempatanku buat ngisi perut kosongku. Lumayan makan gratis.
“Niih gak muntah? Oh ya aku Rei, kamu siapa?”
“Raya. Emmm Rei aku boleh minta nasimu? Kamu kan dari tadi sudah makan banyak.” pintaku polos dan tanpa malu. Lapar benar-benar membuatku hilang kendali.
“Haha akhirnya, ya udah boleh kok. Habisin yah.”
Aku mengangguk sambil melahap makanan yang dia bawa.
“Wahh kamu benar-benar lapar ternyata. Cepat habiskan, mumpung hujan sudah reda kita bisa langsung pulang. Ini minum untukmu.”
“Baiklah terimakasih banyak Rei..”

Akhirnya aku sampai juga ke rumah. Entah tadi dia itu Malaikat atau sejenis manusia pilihan yang menyelamatkanku dari siksa kelaparan di perutku. Semenjak pertemuan itu, aku mulai menyukai nasi. Aku kembali makan nasi dan tidak pernah ada pengaruh apapun, aku tidak mual, aku juga tidak muntah. Malah aku lebih nafsu makan jadinya, sampai-sampai Ibuku khawatir nanti aku malah menjadi jumbo.

Seperti biasa aku pulang dengan angkot. Aku sekarang lebih memilih menunggu angkot di pondok sambil menunggu Rei. Sekarang kami berteman, cukup dekat. Aku menunggu di pondok sambil duduk senyum-senyum memandangi teman-teman yang pulang bareng pacarnya. Aku juga heran, kenapa aku susah untuk mendapat pacar. Lamunanku pecah tiba-tiba.
“Doorr!! Haha udah lama? Cieee kamu ngeliatin mereka? Iri yah?” Rei mengagetkan.
“REI!!! Kamu bisa gak buat aku gak marah? Aku jantungan nih!!” jawabku kesal.
“Ahh iri kan, makanya jangan galak-galak. Mana ada cowok yang mau hahah.”
“Udah donk. Kamu tuh yah baru juga kenal tapi udah buat aku kesel berkali-kali.”
“Ehh maap lah, jangan marah. Tuh ada angkot. Ayo kita pulang.”

Tiga hari aku dan dia terus pulang bersama. Kami hanya bertemu saat pulang sekolah. Janjian pun tidak bisa karena aku tidak memiliki nomor handphonenya, begitu juga sebaliknya. Kami hanya menggunakan perasaan untuk saling menunggu. Sampai hari ke empat, aku berjalan ke arah pondok. Biasanya aku duluan yang sampai tapi ternyata dia sudah duduk manis duluan disana. Dia tidak memakai seragam sekolah.
“Kamu bolos? Ihh Rei bolos. Pantes gak ada cewek yang suka haha.” Aku tertawa sekaligus membalas ledekan dia yang kemarin.
“Wah sok tau kamu! Aku gak punya pacar karena aku ini terlalu ganteng tau! Haha.”
“Hah? Gak salah? Iuhh deh.” jawabku jijik. Tapi sebenarnya Rei ini manis, dengan kulit yang sawo matang, tinggi kurang lebih 170 cm, serta lesung pipitnya yang selalu menghiasi setiap senyumnya. Membuat dia menjadi lebih manis.
“Haha udah aa. Raya aku kesini mau pamit.”
“Pamit? Kemana jauh? Lama gak?” jawabku agak cemas
“Ke Singapore, 1 bulan. Kenapa kamu kengen yah? Haha. Aku mau berobat Ray”
“Ahh kamu, aku Cuma nanya. kamu kembali? Berobat? Kamu yang semangat yah.”
“Baik Ray. Aku tidak tahu, tapi yang jelas 1 bulan aku tidak disini. Doakan aku Ray.” senyumnya meyakinkan kecemasan ku.
“Selalu Rei. Semoga kamu cepat sembuh.” kataku dengan senyum menyemangatinya.

Seminggu dua minggu ternyata dia benar-benar pergi. Aku tidak menyangka ternyata aku merasa kehilangan. Aku benar-benar merasa aku kangen sama dia, dan sepertinya aku suka dia. Tepat satu bulan genap dia pergi ke Singapore. Dengan penuh kepercayaan, aku berpikir dia sudah pulang. Aku menunggu dia di pondok berharap dia ada disana.

Aku sampai, aku menunggu, setengah jam, satu jam, satu setengah jam ternyata dia tidak datang. Aku kira dia sudah tidak peduli lagi padaku. Mungkin dia sudah lupa. Aku pulang sendiri dengan rasa kecewa.

Hari ini aku bawa bekal karena aku pikir hari ini ada pelajaran tambahan seperti biasa, tapi ternyata ada pengumuman mendadak bahwa hari ini pulang cepat karena guru akan mengadakan rapat. Aku tentu senang rasa suntuk ku dapat teratasi. Tapi aku harus makan bekal ini dulu.

Sesampainya di pondok, aku membuka bekal ku disini, ada ayam dan sambel serta sayur capcay. Tiba-tiba aku teringat Rei lagi. Tapi aku coba fokus pada makanan ku.
“Ahh mumpung bisa makan, makan dulu lah.” Aku menikmati makananku. Saat aku makan tiba-tiba langit mendung dan mulai turun hujan. Aku mulai mengeluh.
“Aduh hujan lagi. Gimana ini?”
Suara hentak kaki dari arah belakang pondok.
“Hujan ini membuatku lapar.” Suara itu terdengar jelas. Membuat aku menoleh ke belakang.
“Rei? Kamu disini? Kok bisa?” jawabku kaget sambil bengong melihat dia.
“Aku pulang lah. Sudah dari kemarin tapi aku kemarin istirahat jadi tidak kemana-mana. Aku juga sudah sembuh. Kebetulan aku lewat sini tadi. Aku melihat sekolah mu bubar lebih awal. Jadi aku memutuskan untuk turun dari dalam mobil mamaku. Aku sebenarnya ingin memberitahu mu Raya, tapi aku tidak ada nomor HP mu. Aku kangen kamu Ray.” jawabnya jelas dan terperinci tanpa ditanya.
Dia membuat hatiku bergetar, aku sungguh senang melihatnya kembali. Aku tersenyum padanya, mungkin saat itu senyumku benar-benar begitu manis sampai-sampai dia berkata,
“Kamu cantik kalau senyum. Aku menyukai senyummu, sama seperti aku menyukaimu. Kalau kamu?”
Aku tertawa mendengarnya. Aku hanya mengangguk tidak bisa bicara apa-apa.
“Terimakasih Sayang. Kebetulan aku lapar, itu makanan favoritku. Boleh aku memintanya?” katanya manis.
Dengan penuh senyuman, aku menjawab pertanyaannya.
“Tentu saja, bekal nasi ini memang spesial untukmu.”

The End

Cerpen Karangan: Nabila Maulidiyah
Facebook: Nabila NM
Nama: Nabila Maulidiyah
SMAN 18 Palembang

Cerpen Bekal Nasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masih Amatir

Oleh:
Siang itu aku berjalan dengan santai menuju ruang guru untuk melaksanakan tugas yang telah diamanahkan kepadaku, tak terbebani sama sekali aku ini namun mata-mata yang curiga dan sok tau

Cowok Itu Abil

Oleh:
Malam yang cerah dengan bintang yang bersinar terang membawa ketenangan dan keyakinan pada malam ini. Malam ini akan terasa lain dari malam biasanya, yang biasanya cuma di rumah dan

Berawal Dari Halte

Oleh:
Langit semakin gelap, gemercik rintikan hujan semakin lama semakin deras. Aku berteduh di halte bus sambil menunggu bus datang menjemputku. Bersama beberapa orang yang sepertinya kedinginan -sama sepertiku- yang

An Impossible Love

Oleh:
Huaahh… Gadis bernama nauva atau akrab dengan panggilan ova itu menguap lebar-lebar. Good morning world. Ia baru saja bangun dari tidurnya yang mungkin lumayan nyenyak. Ia melihat ranjang tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bekal Nasi”

  1. evadia nathalie says:

    romantissss

  2. Salma Suhailah Rajwa says:

    Ya ampunn.. Romantis bgt.. Klo Aku gimana ya?? Haha.. Inget Azam 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *