Belajar Merelakanmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 May 2018

Aku duduk terdiam di pojok kelas. Tak ada yang menyapaku. Aku tidak mengerti, mengapa tak satupun dari mereka yang mau menyapaku. Ya, mereka mengenalku sebagai anak ansos, anak yang tidak terlalu pintar dan terlalu baik. Mereka hanya datang padaku jika mereka butuh pertolongan. Tapi tak masalah, aku akan berusaha mendapat teman baru diajaran baru ini. Sekolah Santo Yohanes, tempat dimana aku telah menimba ilmu selama 3 tahun. Dan ini tahun ke empatku. Aku duduk di bangku SMA.

Bel kelas berbunyi, kami murid kelas X-MIPA-1 segera memasuki kelas. Ini adalah angkatan yang cukup gaduh dan bermasalah. Tak lama, wali kelasku masuk dan berusaha menenangkan kelas kami yang sangat gaduh. Setelah beberapa menit, wali kelas kami mempersilahkan seseorang masuk kelas. Anak baru. Dia memasuki kelas tanpa ada rasa khawatir maupun canggung. Dengan senyuman di wajahnya, dengan lengan yang cukup berisi, dia mendorong kursi rodanya ke dalam kelas. Semua murid perempuan terpesona menatapnya. Tampan, itu kata-kata yang kudengar dari mereka saat anak tersebut memasuki ruang kelas.

“Hai semua, nama saya Christian Mandala Aditya Sakti. Panggil saja Chris. Saya baru saja pindah dari Jerman. Saya berharap bisa berbaur dengan kalian di sini. Satu lagi, maaf jika kalian terganggu bila saya selalu bertanya arti suatu kata. Saya tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Senang berkenalan dengan kalian semua.” Ucapnya dengan girang dan disambut dengan bisikan-bisikan yang tidak sedap didengar. Mungkin murid tersebut mendengar bisikan yang diucapkan baik oleh para siswa maupun siswi.
‘Cakep sih, tapi sayang. Dia nggak bisa jalan. Ga mungkin gua harus dorongin kursi roda dia kalau pacaran. Capek tau.’ Ucap para siswi.
‘Dasar sok ganteng dan sok bule. Untung aja dia cacat.’ Ucap para siswa.

“Nah Chris, kamu boleh duduk di sebelah Wilonna” Aku Wilonna. Wilonna Joscelyn.
Chris segera mendorong kursi rodanya menuju mejaku. Aku segera menyingkirkan bangku yang ada di sebelahku dan membantu chris untuk mendorong kursi rodanya ke mejaku. Aku tersenyum kepadanya dan ia membalas senyumku.

Pelajaran pun dimulai dan wali kelasku meninggalkan ruang kelas. Guru matematika kami yang terkenal killer ini memasuki kelas. Dengan suara lantang percaya diri, dan tanpa rasa tukut, ketua kelasku memberi perintah agar kami memberikan salam kepadanya.
“Greetings” ucap sang ketua kelas. Para murid pun berdiri dan memberi salam.
“Good morning sir.” Kami semua serempak mengucapkan salam dan kembali duduk.
Pelajaran pun dimulai. Kelas mulai sedikit berisik, dan Pak Irawan mulai memarahi kami. Aku dan Chris hanya terdiam. Kami sibuk mencatat apa yang telah tertulis di papan tulis. Akibat rasa kesal yang sangat hebat, pak Irawan memberikan kami tugas yang sangat banyak dan harus dikumpul saat pelajaran selesai. Ya ampun, aku tidak terlalu pandai dalam pelajaran ini. Dan harus mendapat tugas sebanyak ini. Aku sangat bingung kenapa aku bisa masuk ke kelas yang dipenuhi anak-anak jenius dan berprestasi. Sedangkan aku, aku bahkan jauh dari kata pandai.

Aku mulai membuka buku matematika dengan ragu. Aku melihat soal pertama, aku mencoba mengerjakannya. Aku pun dapat menjawabnya dengan lancar dan terhenti di nomor sebelas. Masih ada 20 nomor lagi untuk selesai. Tak lama kemudian, Chris menepuk pundakku.
“Kamu kenapa?” Tanya nya dengan wajah yang masih dihiasi senyuman.
“Umm, a..a..aku, aku nggak apa-apa.” Aku menjawab dengan ragu. Ingin sekali aku bertanya.
“Kamu yakin? Tapi muka kamu bingung gitu.” Ucapnya.
“Eeh ini, aku mau nanya soal nomor sebelas. Kamu bisa?” tanya ku dengan ragu.
“Oh, aku bisa kok. Sini.” Dia mulai menjelaskan padaku. Aku mulai paham.
“Nih kalau kamu udah tau cara mengerjakan nomor 11, kamu bisa mengerjakan sampai nomor 25.”
“Memangnya kamu sudah selesai Chris?” tanyaku penasaran.
“Iya sih udah hehe. Kalau kamu ada yang nggak tau, tanya saja sama aku.” Ucapnya.

Aku senang bisa dekat dengannya. Mungkin aku bisa berkenalan dengannya. Setelah hampir 45 menit, aku telah menyelesaikan soal latihan yang diberikan oleh guru mengerikan tersebut. 15 menit lagi adalah waktu istirahat. Mungkin aku akan mengajak Chris untuk berkeliling di sekitar sekolah. Ya itu pun kalau tidak ada yang mengajaknya pergi ke kantin. Aku tidak bisa berharap banyak sih. Tapi ya sudahlah kalau memang aku harus sendirian, aku akan menyendiri saja.

Tak terasa 15 menit telah berlalu dan suara bel yang dinantikan para murid pun berbunyi. Murid segera berhamburan tanpa mengucapkan terima kasih pada Pak Irawan. Beliau hanya menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan kelas. Hanya ada aku dan Chris saja di kelas. Aku berusaha membuka pembicaraan. Namun ia yang memulai duluan.
“Kamu tidak ke kantin sama teman kamu?” tanya Chris.
“Eh, gimana bilangnya ya. A..a..aku nggak punya teman.” Jawabku ragu. Aku menundukkan kepala.
“Ouh, ya sudah. Kita bisa berteman kan? Sekarang ajak aku berkeliling dong!” ia tersenyum.
“Haha, okay sini. Aku yang dorongin ya.” Aku segera mendorong kursi rodanya.
“Maaf ya aku merepotkan kamu.” Aku tersenyum dan segera mengantarnya berkeliling.

Sudah 7 bulan kami menjadi sangat dekat. Kami sudah menjadi sahabat akrab dan semua orang mengetahui hal tersebut. Berkat dirinya, aku bisa dekat dengan teman-teman sekelasku. Awalnya aku berpikir tidak dapat berteman dengan mereka, ternyata aku bisa. Semua itu berkat Chris. Berita gembiranya dia sudah dapat berjalan perlahan. Dan hingga saat ini pula, Chris masih mengajariku matematika yang masih menjadi kelemahanku. Meskipun Pak Irawan mengatakan ada peningkatan, tetap saja aku masih butuh bantuan Chris. Bel istirahat berbunyi, banyak yang menawarkan kami untuk pergi ke kantin. Namun kami menolak karena ingin belajar matematika.

“Jadii 2 log 8 itu sama dengan sepuluh?” Tanyaku
“Ya ampun kamu itu, aku udah jelasin berkali-kali.” Ucapnya sambil tertawa.
“Eh, 5 ya?” Ucapku dengn ragu.
“Tiga, Josc. Tiga! Kamu tumben nggak fokus. Ada apa?” ucapnya dalam tawanya.
“Duuh, emang harus ya musisi tuh belajar matematika?” tanyaku dengan muka cemberut.
“Kamu mau jadi musisi?” tanya nya dengan penuh rasa kagum.
“Iya dong. Kamu sendiri mau jadi apa?”
“Kayaknya mau jadi pemimpin negara, apa tuh namanya? Presto? Pepes?”
“Presiden, Chris. Presiden.” Aku tertawa.
“Iya itu maksudku. Tapi kayaknya nggak bisa deh.” Ucapnya.
“Loh kenapa?” tanyaku penasaran.
“Soalnya nanti aku gak bisa fokus ngurus negara. Otak aku isinya Cuma kamu aja.”
“Iih apaan sih kamu.” Pipiku mulai berubah warna.
“Beneran kok.” Ucapnya sambil tertawa.
“Jawab serius, kamu mau jadi apa?” tanyaku berusaha senormal mungkin.
“Jadi pacar kamu.” Ucapnya.
“Hm kalau begitu coba kita mainkan sebuah permainan?” Tantangku dengan semangat
“Permainan apa?” tanya nya dengan penasaran.
“Coba kita mulai jalan bareng, nonton bareng, saling memberi perhatian satu sama lain, memberikan nama sayang satu sama lain, menyapa tiap pagi dan malam. Dan siapa yang lebih dulu jatuh cinta, dia yang kalah. Bagaimana?” Tantang ku.
“Okay. Tantangan di terima. Viel Glück” ucapnya. Aku tak mengerti.
“Hah? Vil apa?” tanya ku.
“Viel Glück. Artinya good luck.” Ucapnya. Aku hanya tertawa.

Namun setelah satu bulan, kami sudah tak sedekat dulu lagi. Bahkan kami jarang berbicara atau pun sekedar menyapa. Chat saja sudah tidak lagi. Aku merasa dia mulai menjauhiku. Aku tidak mengerti mengapa ia menjauhiku. Aku pikir, permainan yang kubuat dapat membuat kami semakin dekat. Namun tidak. Chris bahkan tak pernah menegurku, bahkan saat aku berusaha bertanya soal matematika, dia tidak menjawabku. Aku merasa dia tidak ingin bersamaku lagi. Aku segera memanggil Jessie, temanku, untuk bercerita. Aku telah melihat Jessie duduk di kantin sendirian sambil meminum susu cokelat yang dibelinya di kantin. Dia segera melambaikan tangannya.

“Lu kenapa lagi Wil?” tanyanya dengan raut wajah penasaran.
“Itu. Chris.” Jawab ku murung.
“Ada apa dengan Chris? Bukankah kalian sangat dekat?” tanya Jessie.
“Tidak, ada yang berubah darinya. Dia bukan Chris yang aku kenal dulu. Dia bahkan tak mau menyapaku dan membantuku mengerjakan matematika. Chris yang biasanya selalu tersenyum, sekarang hanya memasang muka datar. Hanya senyumnya yang dapat membuat hariku menjadi menyenangkan. Dan bahkan mata indah yang seharusnya jadi milikku, kini terlihat enggan untuk sekedar melirikku. Aku harus bagaimana?” tanyaku.
“Sepertinya dia gak suka lagi deh sama lu. Kalau dia sayang, dia gak akan mentelantarkan elu. Tapi ya, ini semua kembali ke elu. Lu mau bertahan sama dia atau mau melupakan dia?” tanya Jessie serius.
“Aku nggak tau, menurut kamu gimana?” tanya ku meminta pendapat.
“Semuanya kembali ke elu Wil. Gua gak mau ikut campur urusan orang. Gua takut malah mengacaukan semuanya. Jadi sekarang gimana?” tanya Jessie.
“Kayaknya aku harus belajar merelakan dia deh. Tapi aku masih ragu. Kamu bantu aku ya?”
“Gua pasti bantu lu melupakan Chris kok. Toh masih banyak cowok yang lebih pantas sama kamu. Lu fokus aja dulu sama tes beasiswa.” Jessie memelukku dan menghiburku. Dan akhirnya bel kembali berbunyi. Jam istirahat telah selesai dan kami kembali ke kelas.

Beberapa bulan kemudian, hasil tes kami dibagikan. Tes tersebut dibagikan tepat setelah ujian kenaikan kelas. Aku sangat bersyukur aku lulus dengan hasil memuaskan. Aku mendapat beasiswa tersebut. James, pacarku, juga turut bergembira. Ia juga berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Tahun ajaran berikutnya aku dan James dapat bersekolah di luar negeri. Tepatnya di Jerman. Awalnya aku mengikuti tes ini agar bisa pergi ke Jerman bersama Chris. Namun, dia sudah tidak dekat lagi denganku. Aku pun mulai penasaran, dan mencari nama Chris. Namun hasilnya nihil. Namanya tak muncul di daftar nama. Tidak mungkin, dia adalah anak paling pintar dan berprestasi di sekolah. Dia tak mungkin tidak lolos seleksi. Aku kembali mencarinya namun tetap tidak ada.

“Akhirnya ya Lonna. Kita berdua bisa pergi dan belajar bersama.” Ucap James.
“Eh, iya aku senang kita bisa berangkat ke Jerman bulan depan.” Ucapku sambil tersenyum tipis
“Iya nih, rencananya… Eh, aku dipanggil sama guru. Kamu tunggu di sini ya?” ujar James yang mencium keningku dan segera pergi.
“Ehem, selamat ya udah lulus.” Ucap seseorang mengagetkanku.
“Chris? Chris, aku udah cari nama kamu. Tapi kenapa bisa tidak ada?” tanyaku meminta penjelasan.
“Aku juga tidak tau. Aku sudah belajar dengan giat semalam.”
“Bohong!” teriakku.
“Ya, aku belajar semalam suntuk. Aku belajar untuk melupakanmu. Tapi soal apa yang keluar? Logaritma? Vector? Grafik? Fungsi!” jelasnya kepada ku.
“Kenapa Chris? Kenapa? Kenapa kamu bisa sebego ini!” aku mulai menangis. Chris memelukku.
“Maaf, aku jadi ngomong kasar ke kamu.” Ujarku.
“Tak masalah kok. Aku akan melanjutkan pembelajaranku di sini. Pastinya tanpamu.” Ucapnya sambil tersenyum.

Dan aku tersadar, ia sudah tak menggunakan kursi rodanya lagi. Aku segera melepaskan diri dari pelukannya. Tak lama, James datang menghampiriku yang masih menangis. Dia menatap Chris beberapa saat lalu merangkulku dan membawaku pergi. Aku juga harus bersiap-siap untuk acara penutupan tahun ajaran ini.

(Sudut Pandang Author)
“Kamu lupa Josc. Namaku ada di nomor paling terakhir. Karena abjadku berada palaing bawah. Zach Christian. Mungkin aku harus menyimpan kertas terakhir yang aku robek dari papan pengmuman ini. Aku akan menolak beasiswa ini dan tinggal di Indonesia.” Ujar Chris.

Beberapa tahun kemudian, setelah mereka semua lulus SMA. Chris pergi berkunjung ke sekolah lamanya. Santo Yohanes. Keadannya tidak berbeda dari terakhir ia pergi meninggalkan sekolah ini. Sekolah yang menyimpan banyak kenangan bagi dirinya. Ia melangkah menuju ke kantin sekolah untuk membeli makanan. Sang pemilik kantin pun langsung mengenali dirinya.

“Eh, mas Chris. Udah lama saya nggak melihat mas. Sekarang kuliah di mana?” tanyanya.
“Kuliah arsitektur kok mbak. Nasi gorengnya ya mbak.” Ucap Chris.
“Eh mas, kemarin si cantik datang loh ke sekolah.” Ucap penjaga kantin sambil memasak.
“Masa sih mbak?” tanya Chris tanpa rasa terkejut.
“Iya, masa dia kemarin nyariin kamu. Dia tanya ke semua guru dan mbak. Tapi mbak nggak tau. Tapi mbak bilang aja mungkin Mas Chris nya udah nikah.” Ucap sang penjaga kantin sambil tertawa.
“Haha, si mbak bisa aja.” Ujarku yang siap menyantap nasi goreng yang telah selesai dibuat.
“Jadi Mas udah nikah?” tanya sang penjaga kantin.
“Belum kok.” Ujar Chris sambil memakan makanannya.
“Terus, kalian tuh kenapa?” penjaga kantin tersebut bertanya lagi.
“Kopi hitamnya satu bu.” Ucap Chris dengan enteng.
“Ah kamu bisa aja nge-lesnya” ucap sang penjaga kantin.

Sudut pandang Chris
Kertas tersebut masih kusimpan rapi di dalam lemariku. Dan fotomu masih terpajang menghiasi dinding-dinding kamarku. Memang terasa sulit untuk melepaskanmu. Aku harus merelakanmu untuk berbahagia bersama laki-laki lain. Aku tak ingin, kau terus bersamaku dalam segala kesusahanku. Aku tidak ingin kau susah karenaku. Merelakanmu akan menjadi hal yang sangat menyakitkan. Tetapi melihatmu bahagia, akan menyembuhkan sakit hatiku, sekali pun engkau bahagia bersamanya. Seperti angin yang diciptakan untuk meniup rambutmu, aku untuk mencintaimu.

Cerpen Karangan: Winnova Joscelyn
Terinspirasi dari puisi karya norman adi satria, “belajar merelakanmu”

Cerpen Belajar Merelakanmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Cinta Anak Remaja (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari setelah itu. Hera dan Karin bener-benar tidak ada komunikasi. Ketika mereka saling bertemu Hera hanya diam tidak ada kata. Karin menceritakan semuanya pada Yoga saat mereka berada

Dua Insan Saling Merindu

Oleh:
“Terdiam dalam sepi mencoba tuk lupakan sesuatu yang pernah hadir di hidupku. Itu kamu, Din. Banyak kenangan yang telah kita lalui bersama dan setelah 4 tahun lamanya betapa aku

Choco Cookiss

Oleh:
Malam itu, ia benar-benar lesu, kecewa, dan pastinya sedih. Ia membutuhkan teman untuk menenangkan dirinya. ia duduk di sebuah bangku di pinggir jalan yang biasa digunakan pejalan kaki untuk

My Ex Boyfriend

Oleh:
Aku Danica Asha, enaknya panggil Asha aja yah… Aku kelas XI dan sesuai harapanku, aku masuk jurusan IPA I. Hari ini merupakan hari pertamaku masuk sekolah sebagai siswi kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *