Benar Sahabat itu Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 August 2016

Aku tutup novel yang telah selesai kubaca, dalam hati aku bergumam tentang apa isi cerita yang mengkisahkan seorang sahabat. Sempat ku berfikir apa ada seorang sahabat yang nantinya akan menjadi cinta? ah bayanganku semakin ke arah yang tak menentu sampai akhirnya ku lihat jam dinding kamarku pukul 10 malam dan kuputuskan untuk tidur karena besok aku harus bangun pagi untuk pergi ke sekolah.

Namaku Tika Ratnaningsih, aku duduk di kelas 12 SMK di jawa tengah. Seperti biasanya di pagi yang cerah dengan dinginnya angin yang tak lepas menggodaku untuk tetap dalam balutan selimut doraemonku membuat rasa kantuk yang berkepanjangan. Tepat pukul 05.00 WIB alarmku berbunyi itu tandanya aktifitasku di pagi ini harus segera dimulai, dengan mata yang belum terlalu full wattnya kupaksakan untuk bangun dan kumatikan alarm yang sedari tadi tak ada capeknya untuk terus berdering.

“Deek Banguun…” sangat kuhafal suara itu, tanpa harus kutunggu suara itu untuk kedua kalinya ku mulai langkahkan kaki ini untuk segera ke kamar mandi dan bersiap berangkat sekolah.
Kicauan burung seolah ikut menghantarkanku berangkat sekolah dipagi ini dengan langkah panjang aku bergegas menghampiri bus yang setia mengantarkanku ke sekolah.

Tiba-tiba kudengar Clining….
Secepat kilat kuraih handphone di tas ransel unguku, ada 1 pesan masuk

“Selamat pagi sayang, Happy Anniversary 1th ya longlast. Semangat berangkat sekolahnya hati-hati love you” pesan ituku baca dengan guratan senyum yang mengembang. Kutarik nafas perlahan kusapu pandangan di jendela bus yang kunaiki seolah menghantarkanku untuk flashback dimana aku dan dia pertama kali berkenalan, PDKT sampai akhirnya menjalin hubungan selama 1 tahun ini. Dia adalah faiz kekasihku, kami berdua satu sekolah tetapi beda kelas.

Clining..
Suara pesan masuk menyadarkanku dari lamunan.
“Kok blm dibales, tika sudah berangkat belum?” pesan dari pengirim yang sama, segera kubalas karena sudah ada dua kali pesan yang dikirimnya.
“Iya happy anniversary yah faizku, longlast dan jangan capek-capek ada disini. Tika sudah berangkat see you–” setelah selesai kubalas pesannya, kumasukan handphone kembali ke dalam tas.

Kualunkan langkahku pelan sembari ku lihat kegiatan anak-anak yang sedang sibuk dengan persiapan upacara, parkir dan lain lain.
“Dorr..!!” suara lelaki jahil yang sudah sangat hafal untukku.
“Hih fahri! kebiasan lu mah” suara tawa yang hanya dibalas dari kejengkelanku pagi ini,
“Hey lagian ngapain pagi-pagi plonga plongo sambil jalan, ketabrak lu ntr” nerocos katanya.
“Biarin si dari pada lu, eh tumben gak telat ada angin apa? angin kentut whaha” balasku ledeknya.
“Sialan lu, makanya ini kepagian jadi belum sarapan yuk temenin gua beli roti” seperti biasanya pagi ini kubiarkan langkahku berbalik mengikutinya ke kantin samping.

Dia fahri teman sekelasku, lebih bisa disebut sahabatku orang yang selalu ada untukku lebih tepatnya dia orang yang selalu ada untuk orang lain itulah dia baik banget tapi lucu dan jailnya gak ketulungan eiitss tapi juga alim seolah paket komplit ada dirinya.
“Hih gua mikir apa tadi tentang fahri hiiii…” gumamku.
“Eh ngomong apa lu?” tanyanya.
“Haha gak gua cuman mau ngomong gua udah sarapan tadi” secepat kilat mulut ini untuk segera meluncurkan kalimat untuk mengeles.
“Jihaha iya gak nawarin lu juga kale ye.. nih coklat aja buat lu. Yuk udah balik ke kelas” kami pun kembali ke kelas.
Banyak hal yang aku lakukan bersama dengan sahabatku, tak pernah kufikirkan ada kata cinta di antara kita, aku tau dia pun sama tak pernah ada rasa untuk ku selain sayangnya sebagai sahabat.

Pelajaran belajar mengajar pun selesai. Segera kuraih tas ranselku karena sepulang sekolah ada janji untuk belajar bersama dengan faiz.
“Hey tik lu mau kemana?”
“Pacaranlah, emang lu haha” ledekku. Fahri telah lama menjomblo sampai akhirnya aku selalu suka untuk meledeknya.
“Asem.. eh ada latihan tau sore ini. yaudh si kirain mo makan di sebelah ntar bareng” ada rasa kecewa tergambar di wajahnya.
“Ya ayo makan tapi sama faiz juga ya gak apa-apa kan?” tarik dia sambil membawa ku ke kelas faiz.
Aku selalu tau jawabannya tak pernah bersikap berubah sekalipun dia tau aku akan dengan pacarku. Hal itu yang buatku yakin bahwa tak ada rasa lebih darinya untukku karena dari sahabat lelakiku yang lain hanya dia yang masih tetap di sampingku sekalipun ada lelaki yang berstatus pacarku.

Kami bertiga pun makan diwarung biasa, ada sesuatu yang lupa untuk kusampaikan ke faiz.
“Hari ini tika ada latihan basket mendadak kalau perginya besok gak papa?”
Lelaki yang selalu dapat mengerti dengan kegiatanku. Dia hanya tersenyum dan membalas dengan kata
“Iya gak papa kok tapi nanti pulangnya gimana tak jemput ya?” aku pun menolak tawarannya karena ku tak ingin merepotinya biarkan nanti aku pulang dengan fahri.

Di lapangan basket ini menjadi tempat ternyamanku dengan fahri, kita sama-sama suka dengan olahraga basket kebetulan latihan sore ini sepi hanya ada beberapa adek kelas yang sibuk latihan lay up dan drible. Matahari mulai terbenam masih kunikmati udara sore di tepi lapangan basket.
“Tik lu bentar lagi kan ultah, mau minta apa?” pertanyaan fahri mengawali percakapan ini.
“Ah sok banyak duit ni nawar-nawarin, gak usah gak mau apa-apa” jawaban seperti itu yang selalu kuberikan karena selama 3 tahun persahabatan ini, pertanyaan itu yang selalu dia tanyakan mendekati ulang tahunku. Sering setelah ku jawab tidak usah dia bukan lantas diam tetapi justru tetap membelikanku kado. Ku ingat terakhir kado yang dia beri ada satu pucuk surat ucapan ulangtahun dan ungkapannya tentang persahabatan ini.
“… Walaupun terkadang ada kalanya kita seperti orang yang gak deket kalo salah satu lagi ada urusan atau yang lain tapi apapun itu..” kalimat yang masih belum terlalu aku pahami dan tak ada niat juga untuk kutanyakan.

Hari semakin gelap waktunya untukku pulang. Dia selalu tak pernah tega membiarkanku untuk sendirian di halte menunggu bus. Banyak hal yang selalu kita bicarakan dari hal topik apa pun sampai dengan masalah kisah cintaku yang terkadang dapat buatku menangis di depannya. Hal yang tak pernah dia sukai ketika harus ada air mata di ujung kelopak mataku. Dalam hatiku tak pernah pungkiri tak ada hal yang buatnya kurang di mataku.

Pagi telah menyapaku kembali setelah pertengkaranku semalam di telepon dengan faiz, bagiku hal yang wajar ada pertengkaran dalam sebuah hubungan tetapi menjadi hal yang tidak wajar jika selalu ada tangis yang tercipta. Kuhela napas pantas kulihat mata sembabku di depan cermin. Senyum tipisku balas dengan kata “aku tidak apa-apa”.

Sepanjang jalan menuju ke sekolah banyak hal yang kufikirkan, tentang cinta. Seolah inginku tak mengenalnya terlebih dahulu jika akhirnya ku belum terlalu paham atau setiap kepahamanku harus dengan penjelasan air mata? pertanyaan itu terjawab dengan bunyi Clining..
“Selamat pagi sayang, maaf ya yang semalam..?” pesan masuk dari faiz. Ku tersenyum getir untuk sekarang yang kubutuhkan hanya teman bercerita. Kumasukan kembali hanphoneku tanpa kutinggalkan balasan pesannya.

Kursi dengan urutan kedua dari kanan menjadi singgasanaku dipagi ini. Kubiarkan kepala yang terasa berat ini tergeletak malas di atas tas ranselku.

“Heeey tuan putri malas, bangun ini masih pagi malah tidur lagi” godaan fahri muncul dari pintu kelas, dia perlahan berjalan menghampiriku. Aku masih tak bergeming dengan godaannya.
“tikaa.. kenapa?” pertanyaannya berubah ketika dia dapati mataku sembab dan lesu. Tanpa harus kuberikan kalimat panjangku dengan air mata yang tak lagi dapat kutahan seolah ini tempat ku bercerita. Dia pun mengerti tangisku karenanya.
“kamu berantem lagi sama faiz?” ada rasa marah di wajahnya seolah dia selalu tidak terima ada yang membuatku menangis.
“aku berantem lagi, tapi ini sudah tidak apa-apa kok. Apa selalu seperti ini ya dalam sebuah hubungan?” aku mulai menjawab deretan pertanyaannya.
fahri hanya terdiam.
Kuhapus air mataku sendiri, kulihatnya yang tak biasanya melihatku seperti itu seperti ada tarikan nafas panjang sebelum dia mulai menanggapi pertanyaanku.
“Pertanyaan yang seperti kau simpulkan sendiri tik, ada rasa yang kutahan demi bisa melihatmu bahagia tanpa ada tangis, ada hal sakit yang kukorban kan asal bisa kutukarkan dengan tawamu, tapi bila ini adanya kau dapati hanya tangis sepertinya aku pun bisa ada di tempat faiz. Satu yang kutakutkan, bukan ku tak berani mengungkapkan bukan ku tak berani ku katakan aku sayang padamu tapi dari kata itu ada hal yang takut ku tak bisa wujudkan, membahagiakanmu” mata yang selalu indah binarannya kini berubah dengan keemosian seperti ada cambukan hebat yang dia dapat. Aku hanya bisa diam dengan ungkapannya seperti tersimpul dengan jelas jawaban dari suratnya.

Dia fahri Ramdhan sahabat yang tau semua keburukanku kekuranganku tapi dia tak pernah punya niat untuk buatku kecewa dan menangis, lelaki yang selalu terlihat baik-baik saja saat di depanku dengan faiz berubah menjadi seseorang yang sangat berperan penting yang ingin buatku bahagia.
“Ada perasaan lebih darimu untukku, sahabat?” pertanyaan itu yang mewakili perasanku.
“lebih dan lebih.. hanya dengan caraku menjadi sahabatmu aku bisa menjadi orang yang terus menjagamu” dia selalu menjadi pemeran yang menghapus air mataku, menggantinya dengan simpulan senyum tulusku untuknya.
Terimakasih, ku percaya Benar ini Cinta sahabat…

Cerpen Karangan: Atika Mayangsari
Facebook: Mayanx Sari

Cerpen Benar Sahabat itu Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putri Pelangi

Oleh:
Tinta pena hitam itu masih terus diukir di atas sebuah kertas putih bersih. Itu adalah kebiasaannya yang sulit dihilangkan, menulis di buku diary yang selalu setia menemaninya setiap saat.

Ketika Cinta Tak Kutunggu

Oleh:
Memori masa lalu 2 tahun silam itu masih terbayang setelah berlari menapak meninggalkan jejak. Aku terpaku diam membungkam setelah semua memori indah itu berubah. Hatiku kosong, setelah semua tak

Seribu Origami Untukmu

Oleh:
Hmmm… kutarik helai nafas panjang di pagi itu. Udara terasa sejuk saat mentari mulai mengedipkan sinarnya ke bumi. Saat itu pula aku berfikir bagaimana cara untuk memulai hari. Huuuhhh….

Just About Time

Oleh:
“Kau tahu, hari ini akan ada peresmian CEO baru. Jadi, tidak mungkin kalau kita bakalan di forsir kerja,” ucap Bram dengan memakan mie ramennya. “Lo tahu darimana, Bram?,” tanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *