Berakhir dengan Senyuman (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 6 September 2021

Hari itu, Bandung, 03 Mei 2017, ialah hari yang ditunggu-tunggu oleh Larik. Hari di mana Larik telah menyelesaikan sekolahnya dan dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan Pekerjaan Umum Negeri Bandung Provinsi Jawa Barat, sekaligus menjadi ajang perpisahan yang penuh akan kenangan indah bersama teman-temannya.

Setelah Larik dinyatakan lulus dan berpisah dengan teman-teman seperjuangannya, tanpa terasa waktu terus bergulir, hari demi hari silih berganti, sedangkan Larik masih saja diselimuti perasaan resah yang penuh tanya. Ya, Larik resah karena ia belum bisa memastikan dirinya untuk memilih bekerja atau melanjutkan sekolahnya ke jenjang sarjana. Namun, disela-sela keresahan yang dirasakannya, Larik berusaha untuk mencari informasi dengan bertanya dan meminta saran kepada teman-temannya melalui aplikasi chatting di media sosial, meskipun pada akhirnya Larik masih saja belum mendapatkan jawaban yang dapat meyakinkan hatinya untuk memilih.

Resah yang dirasakan oleh Larik pun kini berubah menjadi jenuh, sehingga Larik iseng-iseng mendownload aplikasi chatting yang dapat menghubungkan dirinya dengan siapa saja yang ingin berkenalan dan berkomunikasi dengannya melalui chatting. Hingga akhirnya Larik tergugah hatinya untuk memulai chatting dengan seorang wanita yang bernama Sara.

“Hey” pesan pembuka yang dikirimkan oleh Larik.
“Iya” jawab pesan yang dikirimkan oleh wanita tersebut.
“Salam kenal yah, namaku Larik” ungkap Larik.
“Iya salam kenal juga, aku Sara” jawab wanita.
“Okey, ngomong-ngomong kamu tinggal di mana?”
“Sidoarjo, kamu?” Sara balik bertanya.
“Aku Bandung” jawab Larik.
“Jauh banget”
“Hihi… iya, kamu udah makan belum?”
“Udah kok, kamu?”
“Udah aku juga, kamu ada saudara gak di Bandung?”
“Gak ada”
“Hmm… kira aku ada hehe, ntar kapan-kapan kan bisa ketemuan”
“Nggak ada, jadi gak bisa ketemuan deh”
“Iya enggak apa-apa, kapan-kapan kan siapa tau kita bisa main bareng”
“Iya deh”

“Kamu udah kuliah yah?”
“Iya, kamu masih sekolah ya?”
“Aku baru lulus, rencananya mau lanjut kuliah”
“Oke deh”
“Kamu kuliah di mana?”
“Surabaya”
“Universitas atau Institut?”
“Universitas”
“Ngambil jurusan apa kamu?”
“Kedokteran”
“Wihh… salut sama kamu, semoga sukses ya”
“Iya makasih”

“Kamu sekarang udah semester 3 dong yah, atau semester 5?”
“Semester 3”
“Wihh… semangat yah”
“Iya makasih, kamu lagi apa?”
“Aku lagi nongkrong sambil ngobrol sama teman rumah, kalau kamu lagi apa?” kebetulan malam itu teman-teman Larik sedang kumpul di rumahnya.
“Tiduran”
“Oh… iya-iya hehe, kamu lagi libur yah?”
“Iya, aku lagi libur”
“Hihi… iya happy holliday yah”
“Iya deh”
“Iya, ntar kapan-kapan kalau ada waktu kita ketemuan yuk hihi…”
“Boleh, tapi jauh lohh”
“Hihi… iya yah, tapi demi kamu mah gapapalah hehe, kalau saudara kamu ada di mana aja?”
“Kebanyakan di Manado sama Medan”
“Wihh… banyak yah, kalau aku saudara adanya di Bandung, Banjarmasin, Jakarta, Tanggerang, sama Jawa Barat kebanyakannya hehe, Surabaya juga ada?”
“Ada, terus di Bogor juga ada”
“Yang di Bogor boleh juga tuh, kapan-kapan kalau kamu main ke Bogor kabarin aku yah, siapa tau aku juga lagi main ke Jakarta kan gak terlalu jauh ke Bogornya hehe…”
“Oke…” pesan terakhir dari Sara menjadi penutup perbincangannya dengan Larik di malam itu.

Keesokan harinya, tepatnya di waktu sore, Larik kembali menghubungi Sara.
“Sore Sarrr…” pesan dari Larik kepada Sara membuka kembali perbincangan.
“Iya sore juga Rikkk… ada apa?” balas pesan dari Sara.
“Kamu punya line, instagram, whatsapp, sama bbm gak?”
“Line ada, whatsapp ada, bbm gak, ig punya tapi privasi”
“Boleh gak aku minta Sara, ntar aku add sama ikuti buat komunikasi. Jadi, kalau gak di aplikasi ini juga kita masih bisa tetap komunikasi”
“Minta yang mana?”
“Minta yang ada aja Sara hehe”
“Whatsapp? Gimana?”
“Iya gapapa, tapi aku sering onlinenya di line sama instagram”
“Yaudah line aja”
“Okey sara”

Sara pun meminta id line Larik untuk ditambahkan ke dalam pertemanan linenya.
“Udah” balasan singkat dari Sara kepada Larik.
“Makasih yah Sara, udah aku add back” balas Larik.
“Oke…”
“Kalau aku chat kamu, pacar kamu marah gak? hehe…”
“Belum ada cowok”
“Hehe… okey kalau gitumah, aku olahraga dulu yah, biasa tiap sore suka pada main bola di lapang sama teman-teman rumah”
“Iya-iya, aku dukung dari sini”
“Uhhh… makasih dukungannya hehe, ntar lanjut lagi malam”
“Iya…”

Larik pun lanjut bermain sepak bola bersama teman-temannya di lapang, hingga akhirnya matahari mulai memancarkan cahaya senjanya yang indah dan perlahan mulai terbenam, Larik bersama teman-temannya pun berniat untuk menyudahi aktivitas olahraganya. Kemudian, Larik dan teman-temannya kembali pulang. Begitu sampai di rumah, Larik teringat akan Sara, sehingga Larik pun kembali menghubunginya.

“Alhamdulillah beres, keringatan nih hehe, bentar yah aku mandi dulu, udah itu shalat Maghrib deh, langsung ngabarin kamu lagi hehe”
“Iya…” balas Sara.

Sara merupakan seorang mualaf, sehingga membuat Larik terkagum-kagum. Setelah selesai mandi dan shalat Maghrib, Larik kembali menghubungi Sara.
“Kamu udah makan belum?” tanya Larik.
“Udah, kamu?” Sara balik bertanya.
“Bagus deh kalau gitumah, ini lagi makan, kamu lagi ngapain?”
“Dengarin musik”
“Wii… dengar lagu apa?”
“Kpop”
“Mantap, kamu suka lagu barat gak?”
“Linkin Park, kalau kamu?”
“Kalau aku suka lagu barat dari bandnya Arctic Monkeys, The Beatles, Oasis, Nirvana, Mr Big, Bonjovi, sama Coldplay”
“Oh… iya-iya, keren juga yah selera musik kamu”

“Hehe…iyaa, ngomong-ngomong aku ganggu kamu gak?”
“Enggak kok”
“Okey deh, ngomong-ngomong kamu kelahiran tahun berapa?”
“1997, kalau kamu?”
“Kalau aku 14 Desember 1999”
“Ternyata kamu lebih muda daripada aku yah hehe”
“Hehe… iya, kamu tau gak pemuja rahasia kamu siapa?”
“Siapa?”
“Itu aku”
“Masa sih?”
“Iya…”
“Kenapa? Kamu kok mau jadi pemujaku? Aku lebih tua darimu lohh…”
“Karena kamu tuh unik, hehe… iya sih umur aku lebih muda dari kamu, tapi seenggaknya aku bolehkan jadi pemuja kamu?”
“Unik?”
“Iya… imut lagi”
“Unik? Imut?”
“Iya… jujur aja yah, kamu tuh cantik”
“Semua cewek itu cantiklah, habis ini kamu masuk kuliah pasti ketemu cewek-cewek cantik”
“Hihi… iya cewek itu cantik, kamu juga cantik, tapi kalau di mata aku kamu yang terbaik… eh iya, maaf yah kalau aku lancang atau gak sopan ke kamu, kan kamu lebih tua dari aku”
“Iya gapapa”

“Bahas yang lain aja ya kak Sara”
“Iya…”
“Liburan ke mana aja kamu?”
“Pulang ke Manado”
“Kamu asli Manado dong?”
“Iya…”
“Kalo sekarang kamu lagi di Sidoarjo atau lagi di Manado?”
“Sidoarjo”
“Syukurlah kalo kamu udah di rumah hehe, ntar kapan-kapan kalau kamu main ke Bogor kabar-kabar yah”
“Oke-oke…”
“Kamu belum punya cowok gitu?”
“Belum, baru deket-deket aja”
“Oh… iya-iya, semoga sukses ya, akumah bahagia asal kau bahagia”
“Iya…”
“Kamu juga kalau punya teman yang seumuran aku bolehlah hehe”
“Hehe… iya-iya, kamu juga kalau punya kakak cowok atau teman seumuran aku boleh dong hehe”
“Hehe… iya, nanti kalau ada pasti bakalan aku kasih, aku cuman mau yang terbaik aja buat kamu, kalau takdirkan Allah yang nentuin yah, kitamah cuman bisa usaha wkwk”
“Iya… kamu harus berusaha dapetin cewek yang kamu suka”
“Tapi, lelaki mana sih yang gak mau sama kamu, aku sebenarnya suka sama kamu, cuman aku tahu umur hehe”
“Iya, kita berteman aja ya”
“Okey Sara siap, makasih yah kamu mau jadi teman aku, walaupun bukan pacar, tapi aku bahagia kok”
“Hehe… iya-iya, aku boleh curhat gak?”
“Boleh, aku terbuka kok hehe”
“Ada senior sama teman sekampus yang suka sama aku, tapi aku gak suka gitu karena masih satu kampus yang sama, tapi aku bingung gimana ngomongnya ke mereka, gak enak gitu rasanya kalau langsung nolak tanpa alasan yang tepat”
“Coba kamu dengan menghindar, sama jangan terlalu dekat sama mereka, mungkin dengan begitu, secara gak langsung mereka tahu bahwa kamu gak suka sama mereka”
“Ohh gitu, oke-oke nanti aku coba”
“Okey, semoga berhasil”
Chat antara Larik dan Sara pun akhirnya selesai sampai di situ.

Keesokkan harinya, tepatnya di waktu siang, Larik kembali menghubungi Sara untuk menanyakan keadaannya.
“Siang” Larik mengirimkan pesan untuk kembali mengawali perbincangan.
“Iya siang juga…” jawab Sara.
“Kamu lagi ngapain?”
“Baru pulang kuliah”
“Yaudah… kamu makan dulu deh, pasti capek kan hehe, oh iya gimana udah dicoba belum?” Larik mencoba bertanya perihal cowok yang mendekati Sara kemarin.
“Udah, tadi diajak dia makan bareng”
“Wii… jadinya gimana dong? Jadi suka dong hehe…” Larik mencoba menutupi kegalauannya, ia hanya takut apabila Sara benar-benar suka terhadap cowok yang mendekatinya.
“Justru aku gak enak sendiri sama dia, mana dia kasih kado lagi buat aku” jawab Sara.
“Kalau begitu, kamu lebih buka hati kamu aja buat dia, kayaknya dia rela berkorban deh demi kamu hehe, apalagi kalau udah ngasih kado kayak gitu, jaman sekarang susah loh nyari cowok yang rela berkorban untuk ceweknya hehe” balas Larik seraya meyakinkan Sara, walaupun sebenarnya hati Larik sudah mulai tidak karuan, tetapi Larik bisa mengatasinya dengan tenang.
“Jadi, aku harus terima dia?” tanya Sara sembari terlihat bingung.
“Kalau itu tergantung hati kamu, kalau misalkan kamu suka sama dia, ya coba jalani dulu, tapi kalau enggak, gimana hati kamu aja buat nerima dia atau enggak” balas Larik, walaupun hati kecil Larik berkata “Semoga Sara tidak menerima cowok itu”, karena di hati kecil Larik hanya ada Sara seorang yang dicintainya.
“Oke deh, kamu udah kuanggap adikku sendiri” jawab Sara dengan hati bahagia.
“Hehe… iya, makasih yah” jawab Larik, sembari berkata di dalam hati, “Yah cuman dianggap adik deh hehe, tapi gapapalah” katanya.
“Iya…” jawab Sara.
“Goodluck terus yah, kamu lagi ngapain?”
“Hehe…iya, aku lagi ngemil, kamu?” Sara balik bertanya.
“Ngopi hehe” jawab Larik.
“Iya deh” ungkap Sara.

Larik mencoba mencairkan suasana dengan sedikit gurauan kepada Sara.
“Ngemil apaan tuh, kayaknya ketagihan wkwk”
Sara hanya membalas singkat dengan tertawa “Hahahahaha”
Larik pun kembali bertanya “Kamu lagi dengarin musik gak? hehe”
“Emang kenapa” tanya Sara.
“Biar kamu rileks hehe, kan enak sambil ngemil, sambil dengarin musik”
“Enggak, lagi males dengarin musik” ungkap Sara singkat.
Melihat balasan Sara seperti itu, Larik pun mencoba bertanya dengan topik yang berbeda.

“Aku boleh nanya gak?” tanya Larik.
“Boleh, mau nanya apa?”
“Kalau kuliah tuh beda gak sama sekolah di SMA/SMK?”
“Hampir sama, hanya saja kalau kuliah itu lebih menjurus lagi dibandingkan waktu sekolah di SMA/SMK dulu” ungkap Sara sembari menegaskan dan meyakinkan Larik.
“Ohh… gitu ya, iya-iya makasih ya buat penjelasannya” balas Larik, sambil mengucapkan terima kasih kepada Sara.
“Iya… sama-sama, emang kamu mau kuliah di mana?”
“Maunya sih kuliah di universitas yang ada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesianya hehe”
“Wiihh… semoga masuk di universitas yang kamu mau ya”
“Iya… makasih yah Sara, aku juga do’ain kamu semoga cepat lulus, dapat gelar yang kamu inginkan, tambah ilmunya, cepat dapat kerja yang kamu cita-citakan Aamiin”
“Iya Aamiin, makasih Larik, sekalian dapat pacar juga ya hehe”
“Hehe… iya insyaallah, kalau akumah gimana dianya, kalau dianya suka sama aku apa adanya, buat apa disia-siakan kan yah hehe”
“Hehe… iya benar, setuju deh sama kamu hehe”
“Kalau menurut kamu, sebaiknya aku ngambil D3 atau langsung S1 aja ya Sara?”
“Itu sih tergantung hati kamu, mau ngambil D3 dulu gapapa terus lanjut S1-nya sambil kerja, atau mau cari kerja dulu yang bisa singkron sama kuliah bisa, banyak kok universitas yang menerima kuliah sambil kerja di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia”
“Hehe… iya benar banget Sara, tapi kayaknya aku ngambil S1 dulu aja deh, sambil cari-cari kerjaan sampingan juga yang bisa singkron sama kuliahnya, insyaallah kalau sudah beres kuliahnya mau cari pekerjaan yang layak dan sesuai dengan keinginan yang selalu aku cita-citakan”
“Yaudah, semoga sukses di kuliah, sama nanti cepat dapat kerja”
“Aamiin, makasih yah Sara, kamu juga sukses yah, cepat lulus kuliah dan dapat kerja, pokoknya goodluck terus”
“Iya… makasih Larik”

Balasan pesan dari Sara kala itu menjadi penutup perbincangan yang penuh makna bagi Larik. Larik seakan-akan termotivasi dan kembali semangat untuk menjalani hari. Namun, karena Larik terlalu bersemangat menjalani hari, ia sudah jarang menghubungi Sara. Sara pun tanpa sadar merasakan kehilangan sosok Larik yang selalu menghubunginya lebih awal. Sara benar-benar merasa bersalah dan takut kehilangan Larik, karena Sara sadar bahwa dirinya pernah berbohong soal umur dan perasaan yang sebenarnya kepada Larik.

Cerpen Karangan: Ramadhan Attalarik Iskandar
Blog / Facebook: Ramadhan Attalarik Iskandar
Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 14 Desember 1999

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 6 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Berakhir dengan Senyuman (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Afeksi

Oleh:
Bangku berwarna cokelat itu masih sama, tak berubah sama sekali. Bangku kayu tempat dimana aku dan dia bertemu, saat umurku baru menginjak lima belas tahun. Rambut panjang nan lembut

Jomblo

Oleh:
Kring kring Suara alarm mengusik tidur cowok tampan yang akrab disapa Nizar, ia sungguh enggan bangkit dari atas ranjangnya, dengan setengah sadar cowok ini mencari dimana letak jam alarm

Cinta Warna Warni

Oleh:
Cinta itu gila, buta, penuh misteri dan sangat tidak logis, tapi cinta itu indah. Cinta gak bisa ditebak kapan ia ingin datang, dan kapan ia ingin hijrah, cinta itu

If I Can Say I Love You

Oleh:
Pagi itu siswa siswi SMA Harapan sedang menunggu bel masuk sekolah. Begitu juga dengan Jess dan Stella. “Jess! Sebenarnya siapa sih nama cowok yang kamu sukai?” Tanya Stella. “Ih!

DayDream

Oleh:
Covering my ears to listen to you Shutting my eyes to imagine you You have slowly become blurred, You have slowly left me in the unstoppable memories – Daydream

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *