Berakhir Kata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 13 February 2016

Seperti sebuah kata yang bergantung pada kata-kata selanjutnya, seperti itu pula aku bergantungan padamu. Selalu ingin di sampingmu, meski aku tak pernah tahu tentang kejelasan perasaanmu terhadapku. Masih mengambang di memoriku bayangmu serta suaramu yang kian bernada memanggilku, menatapku dengan senyum sederhanamu. Jantungku kembali berdetak kencang, sekencang imajinasi yang terbang membentuk rangkaian harapan yang menyuruhku untuk menggapainya.

Membuat duniaku seakan berhenti sejenak, meski waktu tak pernah izinkan aku untuk mengucap kata, biarkan hanya hatiku yang berbisik padanya relung jiwaku bergantung menggantungkanku harapan yang kian berbenih. Searah dengan rindu yang ingin ku tepis, menyuruhku untuk menoleh pada luka yang menganakbiak, membawaku harus mengingat kembali sebutir harapan yang mulai rapuh dimakan waktu.

Sakitnya masih membekas, meski kalimatnya sudah menunjukkan akhir dari kata ‘kita’. Menyerang hatiku bertubi-tubi, menjadikanku pesakitan yang terus terobsesi dengan bermacam gerak-gerikmu, yang menyuruhku untuk menjadikanmu objek yang terekam jelas di memoriku. Seharusnya ‘kau malu.’ Kamu tahu, sejak kapan rasa ini ada? Iya, rasa ini ada semenjak kamu yang tanpa permisi itu memasuki hidupku, mengirimku salam-salam tak jelas, membuatku sedikit muak dengan sikapmu. Lantas untuk apa kamu mendekatiku, hingga tanpa kata kini kau menjauh?!

2 oktober 2015
“Udah ah, besok aja, udah di jemput tuh, duluan yaaa..” ku percepat langkahku, tapi sesaat kemudian…
“Hati-hati dong dek, lihat tuh hampir ketabrak kan, nah kalau ketabrak entar gimana? Harus nikah sama aku kan? Hahaha.” dia masih tertawa sambil memperhatikanku.
“Kamu tuh, lihat kiri kanan dulu kenapa?” Dia hanya tersenyum, meninggalkanku tanpa kata maaf.
“Dasar cowok aneh!” Takdir memang sulit ditebak, terjadi sendiri tanpa bertanya dulu apa seseorang mau menjalaninya atau tidak, memang bukan salah takdir, tapi biarkanlah itu terjadi.

13 oktober 2015
“Eh, si itu kemarin ngajak si Ati ketemuan di belakang…” Dasar kebiasaan cewek kalau gurunya lagi nggak masuk, apa lagi kalau bukan ngerumpi.
“Mau ke mana Nis?”
“Biasa, ke luar. Nggak betah di kelas.” Aku meninggalkan teman-temanku yang sedang asyik ngerumpi itu. Nah, sekarang aku di sini, di taman depan kelas, sambil nyanyi-nyanyi sendiri. Di detik-detik berikutnya, seorang pria sok cool lewat di depanku, entah datangnya dari mana, aku hanya menatapnya terkejut, namun dia hanya tersenyum.
“Nyebelin ah, bukannya minta maaf yang kemarin, eh malah disenyumin.” Aku mencoba bangkit dari dudukku, alias kembali ke kelas.

“Nis, lo dikirim salam tuh sama yang di luar.”
“Oya, siapa?” Tanyaku penasaran.
“Yang itu.” Dia menunjuk ke arah cowok putih yang sedang tersenyum ke arahku lewat jendela kelasku.
“Oe, yang putih itu ya?”
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Hmm, salam balik ya.”
“Oke deh.”

Beberapa hari setelah itu, aku sudah tahu namanya, dan aku sering dikirimnya salam, dia sering curi-curi pandang ke arahku. Semua terasa lebih indah sekarang, rasa benciku tiba-tiba berubah menjadi rasa sayang, rasa kagum, yang mungkin saja lebih dari itu.

7 November 2015
Aku terkejut saat membuka akun facebookku, tertera namanya di sana, dan pesan itu adalah pesan pertama dari dia, segera ku buka.
“Kok nggak pergi ngaji?”
“Nggak juga, lagi pengen di rumah.”
“Bilang aja malas, ya kan?”
Pesan itu berlangsung selama satu jam. Dan malam itu juga dia meminta nomorku. Duh, rasanya..

– Kesenian
Pada tahu kan pelajaran kesenian itu kayak gimana? Apalagi kalau bukan nyebelin. Di sisa-sisa jam terakhir itu sosok makhluk lewat di depan kelasku, aku dapat melihatnya lewat jendela di sebelah kiriku, dia memakai seragam volly, dan dia menatap ke arahku, tersenyum, melambai… Dug, rasanya, awaw. Semenjak kejadian-kejadian aneh itu datang mewarnai duniaku, semua terasa beda. Ada banyak warna yang kini berdatangan, membuat aku semakin semangat untuk ke sekolah.

Sabtu. Hari yang selalu memberiku momen-momen indah yang terekam begitu jelas di ingatanku. Ada pelajaran yang sangat istimewa, yaitu porkes, letak lapangan olahraga berhadapan dengan kelasnya, kelas 12 IPS 1. Entahlah, Mungkin karena gayanya yang sok cool itu dia sering berdiri atau maju ke depan kelas. Sesekali dia berdiri di depan jendela kelasnya sambil tersenyum ke arahku. Mungkin aku sedikit grogi, aku sering salting saat dia memperhatikanku atau saat dia melambai. Dia juga pernah mengajakku pulang dengannya, tapi ku tolak.

Setiap malam, aku mendapat pesan singkat dari dia. Walau dia hanya bertanya ‘sedang apa?’. Banyak temanku dan temannya yang tahu tentang keakrabanku dan dia. Dan kerap kali teman-temanku bertanya, “Kenapa belum jadian?” Aku hanya menjawab, “belum waktunya.” Aku merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi benar juga kenapa sampai saat ini, “Belum jadian?” Kita semakin dekat, kita semakin sering smsan bahkan kini panggilannya bukan hanya aku kamu tapi udah sayang-sayangan. Tapi, “Kenapa belum jadian?”

Kamu sering bertanya kepadaku, tentang hubunganku dengan mantan terakhirku itu yang katanya ‘kamu cemburu’. Katamu, kamu juga pernah mendengar bahwa aku sudah tunangan dan bukan sekali juga kamu bertanya tentang kejelasan semua itu. Dan susah untuk ku yakinimu bahwa memang itu tak pernah terjadi.

19 desember 2015
Bunyi ‘knock’ di hp-ku mengalihkan mataku yang semula menatap lembaran kosong kini beralih pada layar samsungku, tertera namamu di atasnya. Ku rasakan malam semakin sunyi. Pikiranku melayang entah ke mana. Rinduku, riindumu bertemu jua, bersatu dalam mimpi. Ingin ku tepis bayangmu, rasamu begitu mengikatku, membawaku pada beribu tanda tanya bersama butiran air mata. Mencintaimu begitu sakit untukku. Caramu menyayangiku begitu menyiksa. ‘Gantung’ mungkin hanya kaya itu yang cocok untuk menggambarkan status ini. Berhari-hari tak pernah ku dengar bunyi knock itu berdering. Hp-ku terasa semakin sunyi. Telah ku coba menghubungimu namun hasilnya nihil, tak ada balasan.

23 Desember 2015
Kita kembali bertemu di madrasah, aku hanya bisa menatapmu yang sedang duduk di depan kelasmu bersama keempat temanmu. Mata kita kembali beradu, namun yang anehnya sekarang tidak lagi ku temui senyummu di sini. Mungkin saja kamu sudah punya gebetan atau pacar barumu. Lah aku? Hanya orang yang numpang masuk ke dalam hidupmu. Kini semua terasa sepi, hampa, tanpa ada kamu. Dan aku cuma mau bilang, “Aku cinta kamu.” Mungkin hanya lewat ini aku bisa menyampaikannya. Semoga kamu tahu dan bisa merasakan itu.

Love U Raja Syahputra.

Cerpen Karangan: Rauzatun Nisa
Facebook: Fhanisa Videlia Part II

Cerpen Berakhir Kata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tunggu Aku di Batas Senja

Oleh:
Pagi itu Ara berlari menuju kolam ikan di samping rumahnya. Seperti yang biasa ia lakukan ketika pagi bertemunya, ia menemui ikan mas yang ada di kolam ikan samping rumahnya.

Senyum Terakhir Di Awal Oktober

Oleh:
Habis agustus sudah pasti september. Itu sudah menjadi hukum kekal di dunia. Tak mungkin setelah agustus terus desember. Tapi cerita ini bukan tentang kenapa setelah agustus pasti september atau

Love Me?

Oleh:
Namanya Riza, anak kelas X-3 di SMA Harapan Bangsa. Cowok paling cool dan ganteng, meskipun masih kelas X namun pesonanya mengalahkan pesona kakak kelas. Dia paling sering dibicarakan oleh

LDR

Oleh:
LDR? aku tak tau LDR itu singkatan dari apa, setidaknya aku tau bahwa maksud LDR itu hubungan jarak jauh. Ya, saat ini aku memang sedang menjalani LDR. LDR tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *