Berawal Dari Pertunangan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 March 2017

Dengan hati sedih, marsya pun segera menuruni anak tangga satu-demi-satu. Ia tampak begitu cantik dengan senyuman yang manis sehingga setelah ia tiba di bawah, para tamu begitu terpukau dengan kecantikannya. Namun senyumannya pun seketika lenyap karena mengetahui siapa cowok tunangannya ia pun merasa kaget, tapi tuanangannya hanya tersenyum padanya dengan santainya. Marsya merasa kaget karena tunangannya adalah kevin, cowok yang di sekolah tadi. Ingin rasanya mrsya lari jauh meninggalkan acara ini, tapi ia ingat kepada papanya yang sedang sakit jantung. Makanya ia nggak berani menentang pertunangan ini di depan papanya.

“baiklah, selamat sore para hadirin. Kita patut mengucap syukur kepada tuhan kerena dihari yang indah ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka pertunangan dua orang anak tercinta kami yaitu kevin alvaro dan marsya cornicova. Baiklah karena para hadirin tampaknya sudah tidak sabar, jadi marilah kita menyaksikan pemasangan cincin dari kedua anak kita” kata para protokol
Marsya pun bertambah gugup, tapi ia mencoba untuk tenang. Setelah pemasangan cincin, dilanjutkan dengan ucapa trimah kasih bapak dari kedua mempelai. Setelah acara selesai, para hadirin pun dipersilakan menikamati hidangan yang ada. Marsya yang hanya dari tadi duduk dan melihat orang-orang yang tampak bahagia hari ini. Bahkan ia masih melihat senyuman yang indah di wajah kevin. “mengapa dia tenang-tenang aja?” pikir marsya. Marsya pun segera bersikap santai kerana ia melihat kevin, papanya kevin, dan papanya kini menuju ke arahnya. Mereka pun segera menghampiri marsya dengan senyuman yang tampak bahagia.

“hallo marsya, gimana? Kamu pasti senang donk hari ini. Om itu bisa lihat dari muka kamu. Memang ya jems, kita nggak salah menjodohkan mereka” kata om ibran yang adalah papa kevin kepada pak jems papanya marsya
“iya bran, mereka tampak begitu serasi. O iya marsya, inikan malam minggu jadi papa izinin kamu keluar tapi harus dengan kevin. Gimana, ide aku bagus bran?”
“bagus banget malah, kamu siap kan vin keluar malam minggu ini dengan marsya?”
“iya pa, kevin siap”

Setelah itu suasana rumah tampak begitu kembali seperti biasa karena para tamu kini telah pulang. Hanya saja di ruang tamu tampak begitu ramai dengan canda tawa keluarga tersebut. Hanya saja sepertinya satu dari mereka ada yang ngg ikut bergabung. Siapa lagi kalau bukan marsya. Ia lebih memilih berdiam diri di dalam kamar sambil terus melihat cinci yang terpasang di jari manisnya. Cincin itu terus dipandangnya. Sementara terus memandang, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, dan ia pun segera berdiri dan membuka pintu.

“hey, kamu udah siap? Kevin udah nunggu tuh, katanya mau jalan-jalan” kata kak meilan setelah marsya membuka pintu
“emang harus ya kak? Aku kayaknya malas deh” ucap marsya
“kamu nggak boleh gitu donk, kevin udah nunggu loh. Udah cepat ganti baju sana” kata kak meilan sambil kembali menutup pintu kamar

Akhirnya dengan berat hati, marsya pun segera bersiap-siap. Setelah semuanya udah beres, ia pun segera turun ke bawah untuk menemui kevin yang sedang berbincang-bincang dengan keluarganya. Setelah berpamitan dengan kedua orangtua, mereka pun langsung beranjak pergi dengan menaiki sebuah mobil. Suasana didalam mobil begitu sepi bukan berarti marsya malu ngomong sama kevin, hanya saja ia malas. Karena merasa sepi, kevin pun membuka pembicaraan

“aku tahu kok, kamu nggak suka dengan pertungan ini. Tapi kenapa kamu nggak membantah? Mungkin jika kamu membanta, pertunangan ini nggak akan terjadi ” kata kevin yang membuat marsya bertambah diam. Tapi akhirnya marsya pun segera menanggapi
“aku nggak mau papa aku kenapa-kenapa. Papa aku itu sakit, jadi aku nggak mau sakitnya tambah parah jika aku menolak pertunangan ini. Terus kamu sendiri kenapa nggak menolak?” tanya marsya balik yang membuat kevin tersenyum
“aku? Aku fine fine aja dengan pertunangan ini, lagian nggak ada dampaknya bagi hidup aku. Kalau memang ada dampak, paling dampak yang positif aja” jawab kevin yang membuat marsya melongo
“apa kamu bilang? Fine-fine aja? emang kamu nggak takut belajar kamu terganggu? Aku justru mau menolak pertunangan ini karena aku masih mau fokus sama belajar aku. Kamu kok mala fine-fine aja sih”
“marsya, justru aku malah tambah lebih semangat karena dengan adanya tunangan aku, aku itu seperti kayak nggak mau lihat dia kecewa salah satunya dengan nilai sekolah aku. Jadi, kamu juga harus semangat dong aku tahu kamu bisa kok selama itu kamu mau berusaha” hibur kevin
“udah ah, lo tambah banyak basa-basi. Dengar ya, sampai kapanpun lo kasih masukan ke gue, gue tetap nggak mau nerimah. Dan satu lagi, jangan mentang-mentang papa gue sakit lo seenaknya aja dekatin gue karena gue nggak akan pernah nganggap lo sebagai tunangan bahkan teman sekalipun” kata marsya yang hanya membuat kevin menggeleng
“terserah kamu aja, yang penting selama lo ada di sisi gue, gue udah senang kok” kata kevin yang membuat marsya kaget
“lo gila ya, udah ah kita pulang sekarang”
“pulang? Nyampe ke tempat tujuan aja belum, lo udah minta pulang”
“lo nggak mau anterin gue pulang? Oh ya udah, gue bisa pulang sendiri kok, turunin gue di depan situ”
“marsya marsya, oke kita pulang”

Setelah itu kevin pun segera mengantar marsya pulang, sepanjang perjalanan kevin nggak nyangka kalau marsya itu sanget benci banget dengan pertunangan ini. Tapi mau gimana lagi, ini sudah menjadi suatu keputusan, apalagi papanya marsya sedang sakit. Apa yang dirasakan marsya nggak sama dengan apa yang dirasakan kevin, kevin justru merasa senang dengan pertunangan ini dan ia merasa makin suka dengan marsya walaupun marsya sering bersikap acuh padanya. Setelah sampai di rumah marsya, kevin pun segera berpamitan pulang. Setelah sampai di rumah, marsya pun segera menuju ke dalam kamarnya dan langsung tidur karena ia rasa capek banget hari ini.

Pagi harinya setelah ia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, ia pun segera menuju ke ruang makan yang mana keluarganya sudah menunggu. Setelah selesai makan, ia pun segera menuju ke sekolah dan hari ini ia diantar oleh sopirnya. Sesampai di sekolah ia langsung menuju ke kelasnya yang mana kini teman-temannya telah berkumpul semua. Tak lama kemudian bel pertama pun berbunyi, semua anak-anak bergegas masuk ke kelas dan bersiap-siap menerimah pelajaran pertama. Namun tampaknya marsya nggak fokus dengan pelajaran hari ini, karena saking melamunnya, ia pun nggak tahu kelau ternyata gurunya telah berdiri di depannya sambil memandangnnya terus dan akhirnya ia pun ditegur

“marsya, marsya. Apa yang kamu lamunkan? Dari tadi ibu perhatiin kamu hanya melamun terus” tegur bu guru yang membuat marsya kaget dan gugup
“nggak bu, saya nggak melamun. Saya sedang memperhatikan ibu mengajar” ngelak marsya
“oh kalau gitu kamu jawab pertanyaan ibu, apa yang dimaksud dengan histogram? Kalau memang benar kamu sedang memperhatikan ibu mengajar jelas kamu tahu donk, tapi kalau nggak udah jelas kamu nggak tahu” kata ibu yang tambah membuat marsya gugup
“histogram… histogram…, saya nggak tahu bu” kata marsya sambil menundukan kepala
“tuh kan, apa yang lamunkan dari tadi? Histogram saja kamu nggak tahu? Marsya, kamu ini juara umum jangan jadi kayak gini donk. Udah sebagai hukumannya, kamu harus bersiin gudang yang ada di lantai paling atas. Cepat!” perintah bu guru yang membuat marsya kaget
“apa bu? Besiin gudang? Saya sendiri bu?”
“ya iyalah marsya, kok kamu jadi kayak gini sih. Udah cepat sana”

Setelah itu marsya pun dengan terpaksa menuju kegudang di lantai paling atas. Sesampainya disana ia membuka pintu gudang tersebut dan ia pun terbatuk-batuk setelah membuka pintu tersebut. Namun dengan terpaksa ia pun segera membersihkan gudang tersebut. Saat sedang membersikan gudang, ia terkaget dengan suara cowok yang masuk ke dalam gudang, dan cowok itu adalah kevin. Kehadiran kevin hanya dicuekkan oleh marsya, kevin memakluminya kerena ia tahu saat ini marsya pasti lagi kesal. Namun kerena sudah lama dicuekin, akhirnya ia pun menegur marsya

“marsya, kamu kenapa sih? Kamu nganggap di sini hanya kamu sendiri? Aku dari tadi ngomong sama kamu loh?” kata kevin dengan sedikit membentak
“o, ada kamu ternyata? Udah lama datangnya? Kalau emang udah lama dengarnya, kevin alvaro gue nggak butuh bantuan lo dan ini semua gara-gara lo jadi mending lo pergi aja karena gue nggak mau lihat lo lagi. ngert!” jawab marsya nggak membuat kevin kaget
“marsya lo nggak seharusnya kayak gitu, gue itu tunangan lo jadi…”
“apa? Tunangan? Sejak kapan gue nganggap lo sebegai tunangan gue? Udah deh kevin, mending lo pergi aja, atau lo mau tinggal disini. Okey kalau gitu gue yang pergi. Bye” ucap marsya yang langsung meninggalkan kevin.

Karena masih merasa kesal dengan kevin, akhirnya marsya pun terjatuh saat menuruni tangga. Saat ia hendak berdiri sakit terasa dikakinya, sepertinya ia keseleo. Mendengar suara rintihan marsya, kevin pun segera menolongnya dan membawanya ke ruang UKS. Sesampai disana marsya pun segera diobati oleh seorang guru. Setelah diobati marsya merasa mendingan, bahkan keseleonya pun kayak nggak kerasa lagi. Saatnya bel istirahat, marsya pun segera keluar dari UKS dan mendapati kevin yang masih menunggunya di luar, saat melihat kevin ia hanya cuek namun kevin hanya bersikap sabar saja karena ia tahu betul bagaimana sifat marsya terhadapnya. Saat kevin hendak mengejar marsya, ia terhalang dengan panggilan pak luky yang menyuruhnya datang ke kantor.

Tak terasa bel pulang pun berbunyi, anak-anak pun segera bergegas keluar dari ruangan kelas dan menuju ke tempat parkiran. Namun nampaknya masih ada seorang siswi yang masih duduk diam di kelasnya, siapa lagi kalau bukan marsya. Ia duduk sambil berpikir bagaimana caranya agar ia nggak pulang bareng kevin. Hari ini setelah kejadian tadi, marsya merasa tambah benci pada kevin padahal kevin itu baik, mueah senyum, pintar, perhatian, ganteng tapi marsya malah benci. Kalau cewek lain yang jadi tunangan kevin pasti mereka akan sebarin seisi sekolah. Sambil terus berpikir, akhirnya marsya mendapatkan ide agar dia nggak pulang dengan kevin. Marsya pun segera keluar dari kelasnya dan menuju gerbang sekolah ia berusaha agar kevin nggak melihatnya. Namun nasib berkata lain, kevin pun segera melihat marsya yang sedang menuju ke pintu gerbang dan ia pun segera mengejarnya. Karena nggak bisa lari akhirnya marsya pun berhenti karena ia merasa sakit pada kakinya

“marsya, lo mau kemana sih? Lo itu pulang bareng gue jadi ayo ikut gue, lagian gue nggak mau kaki lo tambah parah” kata kevin penuh perhatian
“gue bisa pulang sendiri kok, lo nggak usah peduli sama gue” balas marsya dengan cuek sambil meninggalkan kevin
“marsya, marsya… duh gimana ya? Mending gue ambil mobil dulu deh baru gue kejar dia”

Kevin pun segera mengambil mobilnya dan langsung menyusul marsya, namun ia terkejut karena marsya udah nggak kelihatan lagi. Rasa khawatirnya pun bertambah besar, ia pun segera memelankan mobilnya sambil terus mencari-cari marsya. Tiba-tiba kevin pun terkejut saat melihat menemukan marsya dan melihatnya sedang dihadang oleh dua orang preman. Dengan cepat kevinpun keluar dari dalam mobil dan langsung menolong marsya. Kehadiran kevin membuat marsya kaget sekaligus senang. nggak tau kenapa marsya seperti merasa kalau dia nggak akan kenapa-kenapa karena kevin menolongnya. Namun rasa senang marsya berubah menjadi khawatir karena melihat kevin yang kini telah kena pukulan dari dua orang preman tersebut. Meski terkena pukulan, kevin nggak akan tinggal diam demi untuk menyelamatkan tuanangannya, ia pun segera bangkit dan membalas abis-abissan para preman itu. Merasa kalah, preman tersebut segera berlari meninggalkan kevin dan marsya. Melihat kedua preman itu telah lari, marsya pun segera menndekati kevin dengan penuh rasa kekhawatiran

“kevin, gue minta maaf ya karena gara-gara gue lo jadi kayak gini. Sebagai tanda minta maaf gue, luka lo biar gue yang obati. Sekaraang kita ke rumahku aja yuk” ajak marsya dengan penuh kekhawatiran
“marsya, nggak usah. Gue nggak papa kok paling sebentar juga sembuh.” kata kevin
“nggak vin, pokoknya lo jangan nolak ini ya. Soalnya gue merasa bersalah banget sama kamu. Yuk, gue mohon kevin” pinta marsya memohon
“ya udah, kalau emang ini mau lo. Gue mau”
“gitu donk, okey kalau gitu biar gue aja yang bawah mobilnya”
“emang bisa?”
“bisalah, yuk”

Cerpen Karangan: Cherli Sepriyanti Laondang
hay… aku cherli. aku bersekolah di SMA N 3 LUWUK dan aku tinggal di luwuk. selamat membaca kisah cerpenku.
salam kenal cherli

Cerpen Berawal Dari Pertunangan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Kebiasaan

Oleh:
Sedari tadi, lelaki itu masih duduk terdiam. Rupanya, ia masih ingin berada di tempat ini. Kedua anaknya tengah berdiri di belakang menatapnya. Anak perempuannya, mendekat dan berbisik: “Pak. Aku

Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

To Whom May It Concern

Oleh:
Tak habis pikir aku merasakan tak enaknya menjadi pengangguran intelek. Kau tahu pengangguran intelek itu apa? Ya, seorang sarjana muda yang tidak punya pekerjaan. Peraih predikat terancam cumlaude saat

Surat Merah Muda

Oleh:
Seperti biasa. Surat itu selalu datang di dalam lokerku setiap jam istirahat. Bukan hanya aku, semua teman-temanku merasakan hal yang sama. Isi surat bermacam-macam dan selalu bersifat misterius, ia

Takkan Kali Kedua

Oleh:
“Bila waktu ini bisa diputar, aku akan memutarnya ke belakang dan tak akan aku membuat kesalahan sebodoh itu” Rasa penyesalanku belum juga menghilang masih terlintas dan mengambang-ambang di pikiranku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *