Berawal Dari Secangkir Hot Chocolate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

Pagi tepat hari senin tanggal 28 april aku berniat ingin pergi ke sebuah coffe shop favoritku, tempat dimana aku mencari inspirasi ketika deadline menanti. Ya memang hari itu aku sedang dihadapkan pada deadline untuk sebuah tulisanku, akhirnya aku memutuskan berangkat pada pukul 8 pagi. Dan ketika sampai di tempat coffe shop aku langsung memesan secangkir hot chocolate favoritku, namun ada yang aneh saat aku akan memesan. Karena saat itu ada seorang cewek yang juga hendak memesan juga tepat di sampingku, ketika mbak-mbak penjaga coffe shop bertanya.

“maaf mas mbak mau pesan coffe apa?” sontak kami berdua berteriak bersamaan.
“Hot Chocolate mbak!!” Saat itu kami saling bertatapan mata dan diam sejenak.
“cewek ini cakep juga, tapi kok bisa sama ya kesukaan kita?” tanyaku dalam hati. Entah apa yang ada dalam pikiran cewek itu ketika dia memandangku.
“mas mbak jadinya pesan apa ini?” teriak mbak penjaga yang membuyarkan lamunan kita berdua.
“oh ya mbak hot chocolate satu mbak” pintaku pada mbak penjaga, dan hal sama pula yang diminta cewek itu.

Akhirnya aku berjalan menuju tempat duduk yang ada di pojokan dengan membawa secangkir hot chocolate yang sudah aku pesan tadi, ketika sedang ingin membuka laptop tiba-tiba wanita tadi menghampiri tempatku.
“maaf mas boleh duduk di sini?” ucapnya dengan penuh senyum yang manis.
“oh mari mbak nggak apa-apa kok, nggak ada yang ngisi juga” jawabku dengan grogi dan sedikit malu-malu.
“mas sering ke sini ya? Tapi aku kok jarang lihat ya?” tanyanya penuh basa-basi.
“oh iya mbak, loh emang mbaknya juga pelanggan coffe shop sini ya?”
“iya mas aku sering sekali ke sini kalau lagi suntuk, oh ya aku Nisa mas..” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“oh aku Edo mbak,” ucapku sambil membalas uluran tangan cewek itu.

Akhirnya kita justru asyik ngobrol berdua dan obrolan itu membuatku lupa akan deadline tulisanku, kita asyik membicarakan hobi kita masing-masing, membicarakan kenapa kita bisa suka dengan hot chocolate, hingga sampai akhirnya kita saling bertukar nomor handphone. Hingga akhirnya waktu juga yang memisahkan kita di coffe shop itu, namun dari situlah awal mula kita dekat. Hampir setiap hari kami berbalas pesan singkat hanya sekedar menanyakan kabar masing-masing, kita jadi sering memberi perhatian satu sama lain.

Hingga akhirnya sebulan setelah pertemuan kita di coffe shop aku memberanikan diri untuk mengajak Nisa keluar makan malam, ya memang selama sebulan itu aku belum pernah berani mengajaknya pergi ke luar karena aku masih malu-malu. Akhirnya aku memberanikan diri menelponnya untuk mengajaknya ke luar.
“Halo nis, kamu hari sabtu besok ada acara nggak?”
“hmm besok sabtu ya? kayaknya nggak ada loh, emang kenapa mas?”
“Enggak gini loh, aku mau ngajakin kamu makan malam besok sabtu. Kamu mau nggak?”

“hah? Tumben-tumbenan kamu, ada acara apa nih?”
“ah nggak ada apa-apa cuman ingin ngajak kamu aja, gimana mau nggak?”
“ya okelah besok sabtu ya..” Sembari menutup telepon aku loncat kegirangan ketika mendengar Nisa mau aku ajak jalan, ya rencananya malam ini aku ingin mengutarakan perasaanku ke Nisa karena memang selama kita deket ini aku merasa ada rasa cinta yang timbul untuk Nisa, rasa yang akhir-akhir ini sering membuatku susah tidur.

Akhirnya hari yang ku tunggu tiba, aku dan Nisa pergi ke sebuah cafe yang sebenernya cafe favorit aku dan temen-temenku nongkrong. Tempatnya sedikit romantis dengan sebuah lilin di meja dan ditemani alunan musik romantis, membuat momen yang pas kalau ingin menyatakan perasaan hati. Akhirnya aku dan dia duduk berhadap-hadapan saat itu, sambil menunggu pesanan makanan yang sudah kita pesan, aku memandang dalam-dalam mata Nisa sambil mempersiapkan diriku untuk mengungkapan perasaanku ini.

“heh mas, kamu kenapa diam aja? Mana nglihatin akunya sampai gitu banget lagi, kenapa mas? ada yang salah sama penampilanku?” tanyanya yang membuyarkan lamunanku.
“eh nggak kok nis kamu terlihat cantik malam ini”
“ah bisa aja kamu mas gombalnya”
“nis sebenernya aku ngajak kamu makan malam ini, aku mau ngomong ke kamu kalau aku…”
“kamu kenapa mas?”
“kalau aku… aku sayang sama kamu nis” ketika aku mengucapkan itu entah kenapa perasaanku langsung lega saat itu.

Nisa kemudian diam sejenak dan menatap mataku dalam-dalam.
“kamu serius mas sama perasaanmu itu?” tanya Nisa sambil memegang kedua tanganku.
“iya nis aku serius, serius banget malah”
“oke jujur nih mas aku sebenernya sejak awal ketemu kamu memang aku sudah suka sama kamu, momen ini nih mas yang sebenernya aku tunggu-tunggu”
“jadi nis jawabannya apa?” tanyaku penuh penasaran.
“aku juga sayang mas sama kamu kita jalanin aja hubungan ini mas, semoga aja kita bisa berjodoh mas” jawab Nisa dengan senyuman manisnya, senyuman yang sama yang pernah dia beri ke aku waktu pertama kali bertemu.

Saat itu hatiku begitu lega mendengar jawabannya, jawaban yang akhirnya membuat aku dan Nisa resmi menjadi sepasang kekasih. Aku tak menyangka akhirnya aku menemukan cinta yang aku tunggu-tunggu, Nisa, ya pada Nisalah ternyata cintaku berlabuh. Aku tak menyangka semua itu justru berawal dari secangkir hot chocolate, dari hot chocolatelah aku dan Nisa dipertemukan dan hingga akhirnya kita bisa menjadi sepasang kekasih.

Cerpen Karangan: Al Rizki Edo Prakoso
Blog: alrizkiedo.blogspot.com

Cerpen Berawal Dari Secangkir Hot Chocolate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When You’re Leaving

Oleh:
Aku sadar sekarang. Dalam keadaan seperti ini, aku baru menyadarinya. Aku kehilangan dia. Sekarang aku tak tahu apa yang bisa aku buat untuk mengembalikkannya. Semuanya memang kesalahanku. Aku terlalu

Ku Tunggu Janjimu

Oleh:
13 april 2010 tepat hari ini, setahun sudah ku menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang selalu menemaniku dan selalu menjelma sebagai kekasih sekaligus kakak buatku, dan malam ini kami

Believe

Oleh:
‘Ini bukan pertama kali, selalu saja kau membuat ku kelelahan akan sikapmu yang begitu dingin terhadapku. Aku tak tahu apa yang selama ini kamu benci dari sosok ‘aku’. Kamu

3 Maret

Oleh:
Tanggal 3 maret adalah hari dimana aku putus dengan Wahyu. Wahyu ramadhan nama itu masih jelas terlintas dalam anganku tak terasa sudah satu bulan kejadian itu, Wahyu dia adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *