Berbagi Rasa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Kisah ini berawal dari sebuah cerita khayalanku, mungkin menurut sebagian orang hal itu adalah konyol dan membuang-buang waktu, tapi menurutku berkhayal adalah hal yang paling menyenangkan. Dunia khayalan adalah dunia yang kita ciptakan sendiri, di sana kita akan berperan sebagai sutradara yang menjalankan dan menciptakan setiap scene. Sejak kecil aku selalu berkhayal mempunyai keluarga yang utuh dan harmonis. Walaupun tinggal di rumah sederhana aku sama sekali tidak permasalahkan hal itu karena bagiku kebahagiaan yang sesungguhnya itu muncul karena adanya kebersamaan dan kehangatan keluarga.

Kini aku beranjak dewasa dimana masa-masa paling indah untuk berbagi rasa kasih sayang dengan lawan jenisnya. Hmm apakah semua itu benar? Aku belum membuktikannya sih, karena aku belum pernah merasakan yang namanya berbagi rasa yang sesungguhnya. Kalau jatuh cinta mungkin sudah, tapi ya cinta-cinta monyet gitu yang selalu bertepuk sebelah tangan (Hehehe curhat). Aku ingin sosok laki-laki yang benar-benar tulus menyayangiku dan dapat mengobati rasa rinduku akan kasih sayang Ayah sejak kecil. Karena aku sudah lupa sejak kapan terakhir kalinya Ayah tersenyum dan memelukku, mungkin waktu aku masih bayi atau entahlah.

Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di kelas 1 SMA, rasanya sudah nggak sabar banget lihat kelas baru, temen baru, bangku, dan kursi baru, dan suasana baru tentunya. Karena tidak ingin terlambat hari ini aku bangun lebih pagi bahkan sebelum adzan subuh berkumandang aku sudah terjaga dari tidurku (hahaha niat banget berangkat pagi). Selesai sarapan sekarang waktunya berangkat menuju istana keduaku, seperti biasa aku kuncir rambut miring ke kanan atau ke kiri, pasti kalian pada bertanya.

Kenapa? Jadi sejarahnya gini, aku itu nggak pernah bisa yang namanya kuncir pas di tengah ataupun kuncir dua seperti kuda. So, aku kuncir aja miring biar kelihat unyu-unyu juga sih (hahaha ternyata). Walaupun aku bukan tipe wanita yang cantik dan mempesona tapi banyak orang yang bilang aku manis, lucu dan unik (emang barang antik Unik?).

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh menuju sekolah akhirnya sampai juga aku di depan pintu gerbang sekolah, namun apa yang terjadi, ternyata pintu gerbang masih tergembok rapat. Duh kecewa banget sakitnya itu di mata tau! (efek masih ngantuk), huuft padahal udah dibelain bangun di pagi buta. Aku yang kerajinan apa bapak satpamnya yang males ya? Ok akhirnya ku putuskan untuk menunggu di depan pintu gerbang sekolah. Aku turun dari motor Om Andre dan berjalan mendekati pintu gerbang.

“Kamu kan tadi sudah Om bilangin kalau ini itu masih pagi, ngeyel sih. Jadi kepagian kan ini itu baru jam 05.30 kamu udah stay aja di sekolah. Mau ngapain neng? Bantu sapu-sapu sama ngepel?” omel Om Andre yang nggak ada hentinya kalau udah nyerocos.
“Iya-iya Om aku kira ya nyampe sini sudah dibuka sekolahnya eh nggak tahunya masih tutup kan di luar dugaan Om.” Sergahku.
“Aduh Shasya please ya, dari zaman om dulu SD sampai sekarang yang namanya sekolahan itu bukanya paling pagi jam 06.00.” balas Om Andre mulai emosi.

“Kalem Om, kan tadi kita berangkat dari rumah jam 05.20, perkiraan Sasya nyampe sekolah kalau macet kan 40 menit. Jadi pas tuh jam 06.00 nyampe sini, bener kan?” Sambil mengedipkan mata berharap Om Andre juga sependapat denganku.
“Perkiraan kamu itu ngawur tahu. Perasaan tiap hari udah dikasih makan sekolah tapi masih aja dong-dong. Macet itu dimulai dari jam 06.30 wib kalau masih jam 6 kurang mah masih sepi tuh jalanan.”
“Idiih Om kok gitu sih, tiap hari itu Shasya makan nasi bukan bangunan sekolah! aahh omnya aja tadi yang naik motornya secepat kilat. Seharusnya tadi kita tuhh slow aja sambil menikmati pemandangan pagi gitu.” Balasku tak mau kalah.

“Aduuh tuh kan penyakitnya kumat, bener-bener parah nih bocah. Menikmati pemandangan pagi maksud kamu? Emang kita lagi liburan di puncak? ogah juga kalau sama kamu, enakan sama pacar Om.” Jawab Om Andre dengan wajah sok ganteng.
“Sejak kapan Shasya punya penyakit yang sering kumat? Dasar om ini yang kebentur tuh kepalanya makanya suka ngomong yang nggak jelas! Ohh.. jadi gitu yah, Oke Bye!” jawabku kemudian berlalu.
“Yah sih anak ajaib ngambek hahaha.” Kelakar om Andre kemudian menyalakan motornya dan pergi.

Dasar Om Andre aneh, masak keponakan sendiri dibilang suka makan sekolahlah, punya penyakit yang sering kumatlah, bahkan sampai dipanggil anak ajaib. Ihh ngebetein deh, kalau aku anak ajaib berarti dia itu Omnya anak ajaib dong. Sama aja kalau gitu kan? Umpatku sambil menendang-nendang rerumputan di pinggir jalan yang tak berdosa. Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tak jauh dari arahku. Ku tengok untuk memastikan benar adanya seseorang di sekitarku, ku dapati sesosok lelaki seumuran Om Andre sedang tertawa menatapku.

“Kenapa ketawa. Emang ada yang lucu?” tanyaku sedikit sewot.
“Iya lucu banget tuh kamu” jawabnya asal.
“Eh aku bukan pemain stand up comedy atau badut ya, jadi nggak ada bakat buat melucu. Kamu nggak usah ngarang deh, lagian siapa sih situ. Kenal juga enggak!” aku dibilang lucu? Dari mana coba, gerutuku dalam hati.

“Hahahaha Tuh kan lucu banget kamu, aduuh masih polos banget sih.”
“Eh dasar Mas-Mas SKSD seenaknya aja bilang lucu terus polos, maksudnya apa? Jangan kira kamu anggap aku polos terus kamu bisa bodohin aku dan macem-macem sama aku ya?”
Sambil mendekatiku kemudian mengulurkan tanganya untuk memegang jidatku dan berkata, “kamu nggak apa-apa kan? Sinetron banget sih pemikiran kamu, makanya susah untuk menerima logika di sekitar. Anak yang lucu.”

Kemudian dia berlalu. Eh, eh loh kok pergi aku kan belum selesai ngomongnya, terus apa maksudnya logika di sekitar itu coba? Dasar orang aneh nyebelin banget sih.
Tiba-tiba lamunanku buyar ketika ku dapati Gisty sudah berada tepat di depanku.

“Helloo, lagi ngelamunin apa Sya? Ada pangeran tampan lewatkah?”
“Pangeran? emang kamu kira ada pangeran tampan jatuh dari langit kayak iklan axe gitu? ngayal deh.”
“Please, Sya di iklan axe itu bidadari, bukan pangeran oke.”
“Yeah Oke Whatever..” kemudian ku tinggalkan Gisty dengan raut wajahnya yang bingung, mungkin dia berpikir, “Kenapa tuh anak tiba-tiba aneh banget.”

Suara pintu gerbang telah dibuka, waktunya meluncur ke kelas baru Yuhuu.. Akhirnya aku dan Gisty melesat menuju kelas untuk menentukan tempat persinggahan kita nanti. Satu Minggu kemudian tepat pukul 05.50 aku berangkat ke sekolah. Mungkin berawal dari perkenalan yang menurutku sangat menyebalkan dan menimbulkan tanda tanya besar di otakku, akhirnya ku putuskan untuk bertemu dengan mas-mas SKSD itu lagi.

Menurut prediksiku, Mas-Mas SKSD adalah seorang anak kuliahan yang punya jadwal masuk pagi jadi aku berinisiatif untuk menemuinya tepat di mana kita pertama kali bertemu. Taraa prediksiku kali ini tidak meleset tepat pukul 06.05 Mas-Mas SKSD itu muncul dengan celana jeans panjang, disertai kemeja putih yang ia tutupi dengan jaket yang sama dia kenakan waktu pertama kali kita bertemu. Dia melangkahkan kakinya menuju ke arahku dan aku pun mulai menghampirinya.

“Eh Mas-mas SKSD masih ingat aku nggak?” Tanyaku untuk memastikan apakah dia nggak akan tiba-tiba hilang ingatan. Hihihi.
“Tentu, si-anak-lucu, kan?” Jawabnya sambil tersenyum ramah kepadaku.
“Oke, whateverlah kalau kamu panggil aku si-anak-lucu, yang penting pada intinya masih ingat.” Jelasku.
“Loh kan aku memang nggak tahu nama kamu, kamu juga panggil aku Mas-mas SKSD apa itu?”
“Ya Mas-mas Sok Kenal Sok Deket, masak nggak tahu sih?”
“Bukannya nggak tahu, tapi mana ada panggilan seperti itu adanya itu Mas-mas tukang bakso, Mas-mas tukang pakir, tukang sayur dan seterusnya. Hmm emang lucu banget kamu.”

“Ya terserah, orang aku yang bikin julukan juga.”
“Nama aku Andika, kamu bisa panggil aku Kak Dika.”
“Idih Pede banget siapa juga yang tanya nama kamu, suruh panggil Kakak lagi. Panggil Om Dika aja yah hahaha.” Ledekku.
“Lah daripada kamu panggil Mas-Mas nggak jelas, ya aku kasih tahu nama aku saja. Kok Om sih emang tampang aku sudah kayak Om-Om ya?” jawabnya dengan nada santai.
“Ya nggak juga sih, tapi kalau dilihat-lihat sepertinya Mas ini sudah berumur 25, 26, 27 gitu.”

“Oh gitu, berarti wajah ku boros banget ya, padalah aku baru berumur 22 tahun loh.” Jawabnya masih dengan sikap yang sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal, bete, dan marah padahal dari tadi aku sengaja membuatnya tersinggung dan marah.
“Boros? Jadi bingung maksudnya apa?” Tanyaku polos.
“Haduuh, katanya tadi aku kelihatan seperti umur 25, 26, 27 padahal umur aku baru 22 tahun.” Jelasnya.
“Oh.. gitu yang jelas dong kalau ngomong. Kan aku gak tahu hehehe. Nggak kok aku cuma bercanda nggak kelihatan setua itu juga sih. Tapi memang sudah dewasa di atas umur aku.” Jawabku mulai serius.

“Emang umur kamu berapa sekarang?”
“16 tahun bulan depan.”
“Oh masih remaja banget ya, By the way kamu nungguin aku di sini ada perlu apa?”
Mendengar pertanyaannya aku baru ingat bahwa maksud dan tujuanku nungguin dia adalah ingin mempertanyakan omongannya tempo hari.

“Oh iya, sampai lupa. Aku mau tanya tentang omongan kamu tempo hari yang susah untuk menerima logika di sekitar, maksudnya apa ya?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Hahaha jadi kamu nungguin aku di sini cuma mau nanyain itu? Dasar anak lucu.” Jawabnya dengan nada mengejek.
“Nyebelin banget sih, kok malah diketawain memang apanya yang lucu?” Jawabku dengan bibir sedikit manyun.
“Ya nggak usah manyun juga, kelihatan tambah lucu loh. Eh sudah dulu ya, kapan-kapan kita lanjut lagi aku sudah hampir telat masuk kerja nih. Bye…” Sambil melihat jam tangan di tangannya.

“Loh, eh pertanyaan aku belum kamu jawab.” Jawabku seperti orang kebingungan.
“Nama aku Dika, bukan Eh. Kapan-kapan aku jelasin ke kamu ya, maaf hari ini aku nggak bisa lama-lama.” Jawabnya kemudian berlalu meninggalkanku.
“Oke, Kak Dika sampai jumpa lagi.” Akhirnya tanpa sadar ku ucap namanya.
“Apa? Aku nggak dengar.” Jawabnya dari kejauhan.
“Nggak apa-apa sampai ketemu lagi..” Huuft untung dia nggak denger aku panggil Kak Dika, kalau sampai denger bisa kegeeran nanti.

Hari demi hari berlalu dan aku semakin dekat dengan Kak Dika, oh iya sekarang aku juga sudah nggak canggung lagi untuk panggil dia Kakak loh. Kak Dika itu orangnya simple, baik hati, dan santai banget aku sampai heran. Berkat dia kebiasaanku yang katanya Om Andre sedikit lola sekarang sudah hilang aku dan dampaknya Om Andre gak akan ada alasan untuk menjudge aku lagi. Ternyata selama ini Kak Dika bukan mahasiswa seperti yang aku pikirkan sebelumnya, dia bercerita kalau dulu sempat berkuliah tapi baru 4 semester dia memutuskan untuk berhenti karena mendapatkan tawaran pekerjaan yang mengharuskannya untuk memilih antara kuliah dan pekerjaannya tersebut. Setelah berpikir cukup lama akhirnya dia memilih mengambil pekerjaan itu.

Sekarang 1 tahun sudah berlalu Kak Dika bulan kemarin dipindahtugaskan oleh kantornya ke luar kota, jadi selama 2 tahun aku nggak akan bisa ketemu dengannya. Sangat sedih sih, karena berasa seperti kehilangan sosok yang sangat penting di hidupku. Tapi kesedihan itu tidak membuatku terpuruk, karena Kak Dika masih memberiku semangat untuk belajar dan berubah menjadi lebih baik lagi setiap hari melalui surat-suratnya. Kini aku menginjak kelas 3 dan mau melaksanankan Ujian Nasional maka pikiranku lebih terfokus untuk persiapan Ujian Nasional nanti. Kenangan bersama Kak Dika pun semakin hari semakin memudar seiring dengan berjalannya waktu, bergantinya hari dan bulan, mungkin karena kesibukan kita masing-masing yang membuat kita lost of contact.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Blog: widagezy.wordpress.com

Cerpen Berbagi Rasa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Stop For It

Oleh:
“Ayo!,” bisik Bram. “Gue takut, dodol!,” kata Riska dengan berbisik.. “Lu sama ceweknya kan..,” ucap Billy dengan berbisik. “Kalian ngapain berdiri gerombolan di situ?,” tanya Felly saat ia menyadari

Klasik

Oleh:
“Sorry ya. Udah nunggu lama?” Cowok yang semula fokus pada jalanan di luar sana langsung menoleh ke arahku. “Enggak kok. Baru juga.” Senyumnya selalu bisa membuat jantungku berdegup dua

Semoga Bukan Hanya Rasaku Saja (Part 1)

Oleh:
Suasana kelas yang perlahan mulai penuh, dihiasi wajah–wajah ceria dan wangi khas pagi hari yang menyegarkan. Namun berbalik dengan itu semua, Ran, dengan raut muka gelisah, sesekali memandangi pintu,

Tangisan Tak Berarti

Oleh:
Januari 2014 Aku termenung dalam lamunan ku yang tak kunjung henti. Ada hal yang selalu buat ku tak lelap dalam tidur ku. Kenangan satu tahun silam yang masih menoreh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *