Berbagi Rasa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

2 Tahun Kemudian.

2 tahun telah berlalu kini aku sudah menjadi seorang mahasiswi, tak ku sangka waktu begitu cepat berlalu dan tak ku duga juga akhirnya aku bertemu dengan Kak Dika kembali. Dia kuliah di Universitas yang sama denganku, dan anehnya kita sama-sama mendaftarkan diri di fakultas yang sama juga padahal sudah lama kita tidak pernah memberi kabar satu sama lain. Sekarang Kak Dika terlihat semakin dewasa dan semakin tampan saja, parahnya lagi baru ku sadari bahwa Kak Dika ternyata mempunyai garis wajah bak orang timur tengah. Yang mana alis matanya begitu hitam tebal, matanya yang menyorotkan cahaya ketenteraman ketika orang melihatnya.

Hidungnya yang benar-benar sangat mancung seperti Arjuna dan belahan dagu yang membuatnya semakin mempesona. Oh Tuhan sangat sempurna sekali lelaki yang Engkau ciptakan ini, aku pun bagaikan tersihir olehnya benar-benar di luar logikaku sekarang. Aku sendiri sekarang juga sudah lebih dewasa karena sekarang sudah tak ku kuncir lagi rambutku, ku biarkan rambut hitam panjangku terurai dan dengan sedikit sentuhan make up di wajah membuatku terlihat seperti wanita yang sesungguhnya (Emang sebelumnya wanita jadi-jadian? Hehehe).

Awal pertama ketika kita masuk kuliah kita hampir saja tak mengenali 1 sama lain akan tetapi setelah menginjak semester 4 kita baru sadar bahwa kita dulu saling mengenal (OMG telat banget ya nyadarnya). Dan sekarang kita sudah menginjak semester 6 yang dimana kita hampir tiap hari berada dalam 1 kelas yang sama namun sepertinya dewi fortuna tidak bersamaku karena belakangan ini hubunganku dan Kak Dika semakin merenggang hal ini aku lakukan karena aku mengetahui bahwa Gisty sahabat karibku menaruh hati pada Kak Dika. Karena nggak mau menimbulkan prasangka buruk ataupun fitnah (cieleh hahaha) maka aku putuskan untuk sedikit menjaga jarak dengan Kak Dika. Walaupun sebenarnya memang hubunganku dan Kak Dika hanya sebatas adik dan Kakak, karena sejak awal aku sudah mengangap Kak Dika sebagai Kakakku sendiri.

Sore ini aku, Gisty dan Kak Dika berencana nonton bioskop bareng tapi tahukah kalian film apa yang kami tonton? Pasti kalian semua tercengan mendengarnya, karena film yang kita tonton adalah FROZEN hehehe.. Eits jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya guys, karena kami setuju untuk menonton Frozen itu ada maksud dan tujuannya lohh. Kami ada proyek (cieleh bahasanya) yang bahan bakunya itu film Frozen, kita harus menganalisis film frozen tersebut mengapa bisa menjadi film kartun terbaik saat ini.

Yang mana banyak sekali mendapatkan penghargaan dan lagi booming di kalangan anak-anak bahkan sampai remaja di hampir seluruh penjuru dunia (Oke jadi seperti itu). Usai menonton frozen kita lanjut ke sebuah kafe terdekat untuk mendiskusikan hasil analisis yang telah kita dapatkan, akhirnya kami putuskan untuk duduk di meja paling pojok yang menurut kita cukup tenang untuk berdiskusi. Waiters kafe menghampiri kita dan memberikan menu makanan dan minuman.

“Seperti biasa ya mbak Ice Cream Strawberry With Waffle.”
“kalau aku Ice Cream cokelat Vanila mbak.” Kata Gisty.
“kalau kamu apa Kak Dika?” Tanyaku pada Kak Dika yang dari tadi sibuk dengan bukunya, mungkin lagi buat analisis film frozen tadi.
“Seperti biasa aja Sya.” Jawabnya singkat.
“Oh.. Oke, mbak tambah 1 Moccacino hangat Less Sugar ya.”

“Saya ulang ya mbak pesenannya 1 Ice Cream Strawberry With Waffle, 1 Ice Cream cokelat Vanila, sama 1 Moccacino hangat Less Sugar. Benar ya mbak.” Kata waiters lestoran tersebut.
“Oke mbak Siip.” Jawabku lantas tersenyum ramah pada waiterss tersebut yang akhirnya berlalu meninggalkan kita.
“Eh kalian sering ke sini ya?” tanya Gisty tiba-tiba.
Kak Dika hanya diam, masih sibuk dengan bukunya.

“Haa.. apa Gis?” Tanyaku yang baru tersadar kalau Gisty melempar pertanyaan ke aku dan Kak Dika.
“Apa kalian berdua sering datang ke kafe ini?” ulang Gisty. Mendengar pertanyaan Gisty hampir saja jantungku copot dari tempatnya. Dengan sedikit menahan gugup akhirnya ku jawab pertanyaan Gisty.
“Ehmm Nggak juga kok emang kenapa Gis?”
“Yah Feeling aja, soalnya sama waitersnya kamu kayak udah saling kenal gitu terus sampai hafal minuman kesukaan apa yang kalian pesan kalau lagi ke sini.” Jawab Gisty dengan nada sedikit cemburu.

Aku bingung mau jawab apa, nggak mungkin aku tiba-tiba bilang kalau dulu waktu SMA aku dan Kak Dika sering ngafe di sini. Karena sejak dulu aku nggak pernah cerita-cerita tentang Kak Dika sama dia, dia hanya tahu kalau aku dan Kak Dika kenal waktu semester 3 lalu. Cukup lama terdiam dan akhirnya aku putusnya untuk menjawab pertanyaan Gisty tersebut.

“Oh aku nggak pernah kasih tahu ya, kalau aku sering ke sini sama Om Andre Gis. Kalau soal minuman dulu Kak Dika sempet bilang kalau dia suka sama moccacino yang less sugar. Iya kan kak?” dengan bahasa isyarat aku meminta persetujuan Kak Dika. Kak Dika yang dari tadi asik dengan bukunya hanya mengiyakan.
“Ya begitulah.” Singkat padat dan jelas itulah jawaban Kak Dika.

Mendengar jawabanku dan Kak Dika, Gisty akhirnya terdiam dan tidak mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan lagi. Pesanan kita pun akhirnya datang, kami minum dan melanjutkan berdiskusi tentang analisis film frozen tadi. Setelah hampir 2 jam berdiskusi akhirnya tiba waktunya kita untuk kembali ke kandang masing-masing alias pulang. Berhubung rumah yang paling jauh adalah rumahku akhirnya Kak Dika memutuskan untuk mengantarkan Gisty pulang terlebih dahulu, setelah itu lanjut ke rumahku karena aku dan Gisty memang nebeng mobilnya Kak Dika kami hanya setuju-setuju saja dengan keputusannya. Di tengah sunyinya malam akhirnya suara Kak Dika memecahkan keheningan dan kebisuan kita sejak tadi.

“Sya..”
“Iya Ka, ada apa?”
“Kenapa tadi kamu berbohong sama Gisty?”
Mendengar pertanyaan Kak Dika aku sedikit takut untuk berkata jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun sampai kapan aku sembunyikan hal ini dari Kak Dika? Mungkin ini saatnya aku mengatakan semuanya. “Ehm sebenarnya ada yang belum Kakak ketahui tentang Gisty.” Akhirnya aku mulai membuka apa yang selama ini ku sembunyikan.

“Maksud kamu Sya?” jawab Kak Dika yang mulai bingung dengan pernyataanku.
“Selama ini Gisty itu suka sama Kakak, jadi aku nggak mau membuat dia berpikir aneh-aneh tentang kita dan aku juga nggak mau membuat dia kecewa karena dia adalah sahabat aku kak.”
“Jadi itu sebabnya kamu beberapa bulan ini bersikap aneh denganku?”
“Ehmm Iyaa kak.” Jawabku sedikit merasa bersalah.
“Hmm Shasya dari dulu kamu masih sama ya, jadi anak itu lucu banget.” Jawab Kak Dika sembari tersenyum.

“Kok gitu, apa hubungannya coba?”
“Oke, mungkin sekarang juga saatnya aku kasih tahu kamu apa maksud aku dulu bilang sama kamu tentang ‘mengapa kamu susah menerima logika di sekitar kamu’ maksudnya kamu itu selalu terbawa oleh drama-drama dalam sinetron maupun film apalagi korea yang pernah kamu tonton sehingga kamu susah untuk berpikir rasional karena kamu selalu menyangkut-pautkan kejadian-kedian di sekitar kamu sama drama-drama tersebut, Mengerti!”
“Oh gitu, terus apa hubungan hal itu sama penjelasan aku tadi tentang Gisty?”
“Tentu saja ada, intinya kamu nggak usah berpikir dengan kita sudah lama kenal dan deket terus Gisty itu bakal berpikir yang aneh-aneh. Kecuali kalau kamu memang yang berpikir aneh-aneh sendiri?”

“Maksud Kakak apa?” tanyaku masih kurang mengerti dengan penjelasan Kak Dika.
“Ya kalau kamu yang mengangap kedekatan kita itu lebih atau mungkin kamu mulai suka ya sama Kakak?” dengan nada serius Kak Dika mulai menatap aku.
Melihat dan mendengar jawab Kak Dika hatiku langsung membeku untuk beberapa saat seperti ada guncangan hebat di pikiranku yang membuatku susah untuk berpikir jernih. Akhirnya aku tersadar dan ku palingkan muka dari tatapan Kak Dika.

“Idiih pede maksimal banget sih Kakak, nggak yah. Kan Kakak udah aku anggap sebagai Kakak aku sendiri.” Jawabku dengan suara sedikit parau.
“Oh gitu Sya, Yakin..?” tanya Kak Dika untuk meyakinkanku kembali.
“Iihh apaan sih, ya yakinlah!” Jawabku agak sedikit sewot.
Percakapan kita akhirnya terhenti karena aku sudah sampai tepat di depan rumahku.
“Makasih Ya Kak. Sampai jumpa besok.” Ucapku.
“Oke!” Jawab Kak Dika kemudian menyalakan mesin mobilnya.

Dan mobil Kak Dika pun berlalu menjauhi perkarangan rumahku, di tengah bayangan mobil Kak Dika yang diterangi cahaya bulan purnama aku mulai mencerna kembali setiap kata-kata yang Kak Dika ucapkan tadi. Apa benar aku hanya mengangap kan Dika sebagai Kakak nggak lebih? Tapi kenapa tadi jantungku berdegup kencang ketika Kak Dika dengan serius menatapku. Aduuh aku semakin bingung dengan semua ini! Sesampai di kamar langsung ku rebahkan tubuhku di atas kasur untuk menghilangkan semua penat yang aku rasakan hari ini, lama ku bergulat dengan pikiran yang bekecamuk tentang perasaanku yang sebenarnya dengan Kak Dika.

“Apakah benar aku hanya menganggapnya seorang Kakak atau bahkan lebih dari itu? Kenapa perasaan ragu ini datang di saat sahabatku juga menyukainya? Apa yang harus aku lakukan? Hmm mungkin ini hanya perasaan sementara, aku yakin nanti juga hilang.” dan akhirnya mata ini pun terlelap.

Keesokan harinya seperti biasa setelah selesai membersihkan rumah, mandi, dan sarapan aku langsung meluncur ke kampus, setibanya di kampus aku disambut dengan senyuman Gisty yang merekah seperti bunga yang bermekaran karena sang kumbang.
“Hey Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Nggak lagi kesambet kan Gis?” Tanyaku penasaran.
“Hehehe emang aku lagi kesambet. Kesambet sama Kak Dika.” Kelakarnya.
“Maksud Kamu? Kak Dika hantu gitu, jadi bisa bikin Kamu kesambet seperti ini.” Jawabku asal.
“Ngaco Kamu Sya.” Jawabnya sambil manyun kemudian tersenyum sendiri lagi.

“Hahaha habisnya aku tanya apa, kamu jawabnya apa. Haduuh.” Jawabku sambil menepuk jidad (bener-bener kesambet ini anak) pikirku.
“Loh emang iya tahu, tadi malam sepulang nganterin kamu Kak Dika telepon aku. Dia tanya kenapa tadi sikap aku aneh waktu di kafe.”
“Oh, Terus?” Tanyaku sok ingin tahu.
“Ya akhirnya aku jujur kalau aku ada rasa sama dia, dan kamu tahu apa?” Jawabnya dengan antusias.
“Ya nggaklah, kan kamu belum cerita. Emang aku Cucunya Mama Lorenz yang tahu segala sesuatu sebelum kamu mengatakannya?” Jawabku sedikit sewot
Sambil tertawa Gisty berkata, “Dia bilang kalau.. kita jalanin semuanya dulu saja soalnya di juga merasa cukup nyaman kalau berada di dekatku.”

“Jadi, Kalian sudah resmi jadian?” Seperti ada petir yang menyambar hatiku napasku tiba-tiba sedikit sesak mendengar pernyataan itu.
“Ya begitulah Sya, bukan hanya jadian tapi kalau kita sudah benar-benar siap satu sama lain kita mau melanjutkan hubungan ini ke tahap yang lebih serius.” Jawab Gisty kemudian.
“Apa? Maksud kamu, kalian mau Merried?” Jawabku sontak dengan mata melotot kaget.
“Nggak merried sya, tapi tunangan dulu. Kalau sudah selesai wisuda baru kita merried.” Terang Gisty.

“Hee yang bener saja kamu Gisty, kalian baru saja tadi malem jadian sudah berpikir sejauh itu. Iya kalau kalian jodoh kalau nggak?” Reflek ku berkata sedikit kasar dengan Gisty.
“Kok Kamu doainnya gitu sih Sya, seharusnya sebagai sahabatku kamu bahagia mendengar kabar ini. Itu pertanda kalau Kak Dika memang serius denganku.” Jawab Gisty dengan nada sedikit kecewa.
“Bukannya doain tapi cuma mau mastiin aja kalau kamu nggak bakal salah ambil keputusan nanti.”
“Nggak kok, aku rasa keputusanku sudah benar. Aku percaya banget dengan Kak Dika, dia tipe cowok setia yang sangat sempurna sekali di mataku.”
“Oke, Fine. Kalau itu keputusan kamu. Aku pergi dulu ya, soalnya ada kelas nih udah mau telat juga.” Jawabku kemudian berjalan meninggalkan Gisty.

Seminggu berlalu dan sepertinya perjalanan cinta antara Gisty dan Kak Dika baik-baik saja atau malah semakin kelihatan mesra dari hari-hari sebelumnya, awalnya aku mencoba biasa saja dalam menanggapi semua kenyataan ini. Namun semakin hari melihat kemesraan mereka entah mengapa aku merasa sesak untuk bernapas, semakin hari sesak itu semakin buat aku tersiksa. “apa mungkin aku cemburu?” Aahh ini semua tidak mungkin, aku rasa aku sedikit iri saja melihat perhatian Kak Dika yang sekarang telah beralih kepada Gisty.

Ini mungkin masalah waktu dan aku yakin semakin lama nanti perasaan sesak ini akan hilang dengan sendirinya. Namun kini aku merasa seperti ada luka yang menganga di hatiku, aku tak tahu kenapa tiba-tiba perasaanku jadi begini, apa sebenarnya yang terjadi padaku? Seharusnya aku bahagia bahwa Kak Dika dan Gisty teman baikku sudah bahagia bukan malah sedih seperti ini! Tiga bulan telah berlalu dan hari ini adalah hari jadi mereka, tapi menurut Gisty Kak Dika sedang berada di bandung untuk menghadiri perayaan pernikahan saudaranya selama beberapa hari jadi mungkin acara perayaannya akan ditunda sampai besok.

Berhubung Gisty ketika diajak pergi bersama Kak Dika tidak mau maka sekarang Gisty berencana menyusulnya ke sana dengan mengajakku untuk memberikan kejutan pada Kak Dika, namun aku menolaknya dengan alasan sedang tidak enak badan. Awalnya Gisty tetap memaksa tapi setelah bilang kalau aku benar-benar tidak mampu untuk melakukan perjalanan jauh saat ini maka akhirnya dia menyerah juga. Sampai akhirnya dia mengabariku kalau dia berangkat bersama saudaranya ke bandung, ya syukurlah dia tidak sendirian ke sananya pikirku.

Di pikiranku tiba-tiba terbesit pikiran Hmm pasti kejutan dan perayaan hari jadi mereka sangat romantis. Ingin sekali aku juga mengucapkan selamat pada Kak Dika namun egoku menolak untuk melakukannya, aku bukanlah siapa-siapa lagi buat Kak Dika jadi walaupun aku tidak mengucapkan selamat kepadanya dia tidak akan merasa kecewa. Iya kan? Huuft.. Berdiam dan berpikir cukup lama sampai akhirnya lamunanku buyar ketika ku dengar Hp-ku berdering itu pertanda ada telepon yang masuk, ku lihat di layar Hp nama Kak Dika yang memanggil.

“Haa ngapain Kak Dika telepon aku malem-malem gini bukannya dia harusnya sedang merayakan hari jadinya atas kejutan dari dengan Gisty? Apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi? Oh tidak!” Tanpa pikir panjang langsung ku angkat telepon Kak Dika.

“Iya halo Kak Dika ada apa? Oh ya, Gisty nyusul Kak Dika di bandung buat kasih kejutan loh. Apa dia sudah nyampe sana? Dia sampai dengan selamat kan? Kalian sudah ketemu juga kan?” tanyaku panjang kali lebar dengan rasa panik yang berlebihan.
“Udah ngomongnya? Belum juga aku jawab satu pertanyaan kamu, eh udah nyerocos aja kamu kayak kereta api. Dasar sifat bawel kamu dari dulu nggak berkurang ya?” Omel Kak Dika dari sebrang sana.
“Loh kok malah bercanda sih Kak? aku tanyanya sungguhan tahu!” jawabku bete.

“aku mau ketemu kamu sekarang, urgent!” Jawabnya dengan nada serius.
“Haa.. Ketemu sekarang? Ada Apa Kak?”
“Sudah nggak usah banyak tanya, aku sudah nunggu kamu di bawah!”
“What? tapi bukannya Kak Dika lagi ada di…” Tut, Tut, Tut belum sempat ku lanjutkan perkataanku tiba-tiba suara telepon telah terputus.
Maksud Kak Dika apa, aku semakin cemas dan bingung dibuatnya.

Oh No, bagaimana bisa Kak Dika tahu kalau aku lagi di rumah padahal tadi aku sudah bilang sama Om Andre kalau ada orang yang nyari aku bilang aku gak ada. Terus kalau sekarang dia ada di bawah, gimana dengan kejutannya Gisty dan acara perayaan hari jadi mereka? Wah ini nggak beres. Ternyata dugaan aku selama ini benar kalau Kak Dika hanya mempermainkan hatinya Gisty. Oh minta diberi pelajaran ternyata dia ya, berani nyakitin hatinya sahabat baikku. Tapi kira-kira pelajaran apa yang cocok buat dia ya, matematika, bahasa inggris, kimia apa fisika? Aduuuh malah ngaco nih otak lama-lama, ya udah mending sekarang aku turun ke bawah untuk mastiin kebenarannya. Ku langkahkan kakiku menuruni anak tangga sesampai di lantai bawah ternyata benar Kak Dika sudah duduk manis di kursi bersama Om Andre.

“Eh Kak Dika ada apa ya malem-malem ke sini? Padahal aku sama Om Andre bentar lagi mau pergi tuh. Iya kan Om?” Ku cubit pinggang Om Andre yang telah melanggar janji kita.
“Udahlah Sya, ikut Dika aja. Om Andre sudah terlanjur cerita semua sama Dika.”
“Maksud Om Apa? Nggak jadi kita ke mallnya, wah sayang banget padahal aku lagi berbaik hati nemenin tapi Om nggak mau, ya udah.” Karena bete, aku berlalu meninggalkan Om Andre dan menarik lengan Kak Dika.
“Ayo Kak, kita mau ke mana?” Akhirnya aku dan Kak Dika pergi mengendarai mobil Kak Dika ke suatu tempat yang aku nggak tahu itu.

“Sebenarnya kita mau ke mana sih Kak? Terus sekarang di mana Gisty? Apa yang terjadi?”
“Sya, kamu bisa diam sampai kita tiba di tempat tujuan nggak?!” Nada Kak Dika sedikit membentak dan itu membuatku takut, karena selama ini tak pernah sedikit pun dia mengeluarkan kata-kata kasar kepaku. Aku jadi berpikir kalau ada masalah yang serius telah terjadi antara mereka. Diam-diam aku sms Gisty menanyakan masalah apa yang terjadi, namun smsku tak dijawab oleh Gisty. Aku jadi semakin bingung, dan munculah pemikiran-pemikiran yang aneh di benakku. Tapi semua pikiran itu hilang seketika ketika suara Kak Dika memecahkan keheningan.

“Sudah nggak usah berpikir yang aneh-aneh, ingat apa yang pernah aku katakan padamu nggak usah terlalu banyak nonton serial drama.” Mendengar perkataan itu nggak tahu kenapa aku malah bikin tambah bete. Salah siapa coba, nggak kasih penjelasan asal bawa orang aja, siapa juga yang nggak bakal berpikir aneh-aneh.
“Nggak usah ngedumel dan cemberut gitu tambah jelek tahu.” Lah kok dia tahu kalau aku ngedumel. Hmm Kak Dika memang orang yang susah ditebak.

“Biarin aja tambah jelek, bodoh amat.”
“Ngaco kamu Sya, ahmat itu nggak bodoh. Buktinya ahmat temen aku SMA dulu sering juara 1.”
“Iiih Kak Dika nyebelin banget sih, siapa juga yang bilang Ahmad.”
“kalau lagi ngambek gitu kamu lucu tahu nggak sih.”
“Orang ngambek dibilang lucu aneh!”

“Loh nggak percaya? Lihat aja wajah kamu waktu lagi ngambek di cermin pasti lucu” dan dengan polosnya aku turutin apa perkataan Kak Dika, aku ngaca di depan cermin mobil. Ternyata benar kalau aku lagi ngambek lucu banget muka aku, akhirnya muncul secercah senyuman dari wajahku. Dan ternyata Kak Dika menyadari itu semua.
“Gitu dong senyum, kan lebih terlihat manis.”

Mendengar penyataan itu aku hanya diam dan tak menoleh sedikit pun ke arah Kak Dika, entah rasa malu atau apa tiba-tiba pipiku memerah saat itu juga. Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang akhirnya sampai juga kita di tempat tujuan Kak Dika, ku lihat di sekeliling sepertinya aku mengenali tempat ini walaupun malam hari tapi ingatanku masih sempurna untuk mengingat jalan dekat SMA-ku dulu. 3 Tahun aku tak pernah lagi ke sini dan ternyata tidak banyak perubahan yang terjadi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Facebook: widagezy.wordpress.com

Cerpen Berbagi Rasa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Woles Aja Pren!

Oleh:
Ini cerita tentang anto kawan lamaku yang sekarang jadi tetanggaku. Dulu aku dan dia sama-sama sekolah di stm harapan, dalam cerita ini terpaksa harus ku sebut diriku rian si

Te Amorr, Nai! – Senandung Cinta

Oleh:
Siang itu Nara sedang melepas lelah di kamar kozannya. Rita nampaknya masih di kampus dan sibuk dengan tugas jurnalistiknya. Maklum lah, dia memang mahasiswi fakultas Dakwah dan Komunikasi, jadi

Kepada Gadis Yang Aku Kagumi

Oleh:
Jakarta, 2015 Bukan sesuatu yang mengejutkan jika aku, Narendra Wijaya menjadi laki-laki idaman para gadis-gadis di sekolahku. Menjadi kapten basket, ketua organisasi siswa, menjadi murid kelas unggulan, dan pasti

Toko Buku

Oleh:
Hujan turun dengan lebat memaksaku untuk berteduh di depan sebuah toko buku kecil di pinggir jalan, angin dingin mulai kurasakan, tetesan air mulai membasahi tubuhku “aku ke dalam saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *