Berbagi Rasa (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

“Kak Dika ngapain kita malem-malem ke SMA-ku dulu kak?”
“Turunlah nanti juga kamu tahu.”
Kita berjalan menuju tempat di mana dulu kita sering bertemu di pagi hari sebelum aku masuk sekolah dan sebelum Kak Dika berangkat kerja.

“Kamu masih ingat tempat ini Sya?”
“Iya Kak tentu masih ingat ini kan tempat pertama kali kita bertemu dan tempat dulu kita sering janjian, emang kenapa Kak?”
“Di tempat ini aku mau jujur sama kamu Sya, karena tempat inilah yang mempertemukan kita dulu.”
“Maksud Kakak apa? aku jadi bingung, perasaan tadi aku tanya tentang perayaan hari jadi Kakak dengan Gisty tapi kok jelasinnya ke tempat ini? Apa hubungannya Gis…”

Belum sempat ku lanjutkan perkataan ku tiba-tiba bibir Kak Dika sudah mendarat tepat di bibirku. Oh Tuhan jantungku seketika berhenti berdetak dan aku tak tahu apa yang sekarang sedang aku rasakan, selang beberapa menit kemudian akhirnya aku tersadar dan secepat mungkin mendorong Kak Dika menjauh dariku. Ku pegang bibirku seraya berkata.
“Kak Dika kenapa lakuin ini?”
“aku sayang sama kamu Sya.”
“Maksud Kakak?”
“Iya sejak pertama kali kita bertemu hatiku sudah yakin bahwa kamulah orang yang selama ini aku cari, orang yang unik, lucu, bawel bahkan orang termanis yang pernah ku temui yang selalu bisa membuatku tersenyum dan nyaman jika berada di dekatmu.”

“Kakak jangan konyol ya, Kakak pasti bercanda kan?”
“Tataplah mataku Sya, dan lihatlah apakah ada kebohongan di dalamnya?”
“Tapi Kak, ini semua nggak mungkin. Walaupun sebenarnya baru ku sadari kalau aku juga sayang sama Kakak tapi itu semua sudah terlambat.”
“Terlambat gimana Sya, apa sudah ada laki-laki lain di hati kamu sekarang?”
“Bukan itu, tapi terlambat karena kamu sudah dengan Gisty Kak. Sampai kapan pun aku nggak akan tega menyakiti hati Gisty, walau aku sendiri yang harus terluka aku nggak peduli.”
“Tapi Sya, aku dan Gisty hanya..”
“Udahlah Kak, lupain aja semua perasaan Kakak dan perasaanku sekarang.”

Ku putuskan untuk pergi meninggalkan Kak Dika akan tetapi langkahku terhenti ketika ku dapati Gisty sudah berada tepat di hadapanku.
“Gisty, maafkan aku ini semua nggak seperti yang Kamu lihat.” Jelasku pada Gisty dengan rasa bersalah.
“Udahlah Sya, jujur saja sama perasaan Kamu. Nggak usah Kamu bohongi lagi diri kamu sendiri dan kita semua yang ada di sini”
“Maksud Kamu apa Gisty? aku nggak bohong. Oke emang aku sempat ada rasa sama Kak Dika tapi aku yakin itu hanya rasa sayang antara adik dan Kakak nggak lebih.”
“Sekalipun rasa itu lebih juga nggak apa-apa kok Sya.”

“Nggak Gisty sampai kapan pun aku nggak akan nodai persahabatan kita dengan kekecewaan.”
“aku nggak bakal kecewa Sya.”
“Maksud Kamu? Kamu sudah nggak cinta lagi sama Kak Dika.”
“Bukan sudah nggak cinta lagi, tapi emang nggak pernah cinta Sya.”
“Bentar-bentar, kamu bilang tadi nggak pernah cinta? Terus selama ini?”

“Jadi selama ini aku dan Kak Dika hanya pura-pura aja Sya. Awalnya Kak Dika yang meminta tolong padaku untuk pura-pura suka sama dia dan bikin Kamu cemburu. Tapi nggak ada respon dari kamu dan kamu malah jauhin Kak Dika, akhirnya kita putusin untuk pura-pura jadian saja.” Pernyataan Gisty yang membuatku shock setengah hidup dan mati (hehehe koma dong).
“Jadi selama ini kalian berdua bohongin aku?”
“Bukan berdua sih tapi bertiga.” Jawab Gisty.

“Haa Bertiga?”
“Iya bertiga karena aku juga ikut Sya.” Suara dari kejauhan itu sepertinya aku kenal.
“Om Andre! Oh Jadi selama ini kalian bertiga sekongkol buat bohongin aku ya, kalian telah mempermainkan persaan dan komitmen aku tahu gak sih! aku benci sama kalian semua, mulai sekarang anggap kita nggak pernah kenal dan jangan pernah pergi mencari aku.”
Setelah puas mengeluarkan semua uneg-uneg akhirnya ku berlari secepat mungkin menghampiri taksi yang baru saja berhenti mengantarkan penumpangnya. Dari kejauhan ku dengar mereka bercengkerama.

“Sudah aku bilang kan Kak kalau Shasya itu paling anti yang namanya dibohongi apalagi sama orang yang dia sayang.” Tutur Gisty.
“Iya aku tahu, terus gimana semua sudah terjadi Gis.” Nada Kak Dika Kebingungan.
“Sudah kita pikirkan itu nanti, lebih baik sekarang kita kejar Shasya. Takutnya dia nekat lakuin yang aneh-aneh” Papar Om Andre. Mereka mengejarku namun terlambat taksi yang aku tumpangi sudah melaju jauh meninggalkan mereka.

Di dalam taksi ku tumpahkan semua air mataku, aku tak menyangka mereka tega mempermainkan perasaanku. Padahal mereka adalah orang-orang yang kusayangi tapi dengan teganya berbulan-bulan membuat hati dan perasaanku tersiksa dengan kebohongan yang selama ini mereka lakukan.
“Sumpah.. aku benci kaliaaaan!!” Reflek ku keluarkan semua kemarahanku di dalam taksi.
“Mbak jangan teriak-teriak di dalam mobil, nanti kalau ada polisi dikira polisi mbaknya saya culik,” Kata Pak Sopir taksi.
“Iya Pak maaf.” Kataku kemudian menangis.

Sesampai di rumah. Ku kemasi semua baju dan barang-barangku. Malam itu juga ku putuskan untuk pulang ke Malang. “aku harus cepat sebelum mereka datang.” Ku tinggalkan secarik kertas di atas meja kemudian ku tinggalkan rumah Om Andre yang penuh banyak kenangan tersimpan di rumah ini. Sejak masuk SMA aku sudah tinggal dengan Om Andre di Jakarta karena aku nggak tega lihat dia sendirian pasca meninggalnya Bibi dan Paman.

Tiga bulan telah berlalu, Hari ini adalah hari ulang tahun Om Andre aku sudah janji untuk datang ke acara ulang tahunnya apalagi perayaan ulang tahun ini adalah Hari pertunangan Om Andre juga. Aku baru sadar bahwa selama ini Om Andre dan Gisty sahabatku saling mencintai, ternyata aku terlalu lugu untuk mempercayai semua sandiwara mereka sehingga tak menyadari itu semua. Pagi ini aku berpamitan dengan bunda untuk kembali ke Jakarta, karena alasanku pulang adalah libur tengah semester dan sekarang udah 3 bulan lamanya aku berada di Malang meninggalkan Jakarta.

Sore ini juga aku sampai di jakarta, tepat pukul 18.00 aku sudah sampai di rumah Om Andre, nampak hingar bingar lampu menerangi rumah Om Andre, semua tamu undangan berlalu lalang datang ke pesta. Terlihat banyak teman-teman SMA-ku dulu juga datang ya maklumlah yang jadi calon tunangan Om Andre kan Gisty. Ku langkahkan kaki memasuki ruang pesta terlihat di depan ada dua pasangan yang sangat anggun dan menawan mereka tak lain adalah Om Andre dan Gisty, mereka memakai pakaian dengan warna dan motif yang sama.

Aku sendiri mengenakan gaun warna peace dengan style yang cukup elegan dengan high heels berwarna senada namun ada sedikit warna biru pada talinya dengan tata rambut yang sedikit aku blow. Ketika akan menghampiri om Andre dan Gisty langkah kakiku terhenti ketika ku dapati sosok yang selama ini membuatku susah tidur dan susah untuk melupakan kenangan bersamanya, dia terlihat tampan dengan setelan jas warna hitam disertai rambut yang tertata rapi bak sihir aku dihipnotisnya. Aku tersadar ketika ku rasakan ada yang mengoyak bahuku.

“Shasya.. Akhirnya kamu datang juga, kirain masih ngambek. Jangan lama-lama dong Sya kalau ngambek kan jadi kangen.” Sapa Gisty yang sudah berada tepat di sampingku.
“Oh ternyata ada yang kangen yah sama aku nih ceritanya.” Seraya tersenyum aku memeluk Gisty, betapa kangen rasanya 3 bulan tak bertemu dengannya, dulu tiap hari kita selalu ketemu nggak kampus ataupun di rumah.

“Ya iyalah sejak SMP kita kan selalu bersama kamu pergi 3 bulan terasa 1 tahun tahu.”
“Idiih berlebihan banget sih kamu, nggak mungkinlah Gis di hari bahagia kamu aku nggak datang.”
“aku emang udah bersumpah kalau kamu nggak datang, kamu nggak akan aku maafin seumur hidup aku.”
“Waoow sadis banget dengernya.”
Tiba-tiba datang sosok yang mengagetkanku dari belakang.

“Hey, keponakan aku yang super Unik. Udahan nih ngambeknya?”
“Hiii dasar Om Andre ngagetin aja untung jantung aku nggak copot, pede banget aku udah maafin Om Andre.”
“Lah terus kalau masih ngambek ngapain datang ke sini?”
“Ya suka-suka akulah, kan sahabat aku juga yang mau tunangan toh dulu aku udah janji juga kalau Om Andre Ulang tahun aku dateng.”
“Oh.. Yakin cuma mau datang karena itu aja nggak ada yang lain?”
“Maksud Om apa? Udah deh nggak usah berpikir yang aneh-aneh. Om, Gis aku ambil minum dulu ya haus dari tadi belum minum.”

Ku tinggalkan Om Andre dan Gisty karena aku sudah tebak kalau yang Om Andre maksud adalah Kak Dika, makanya aku males untuk lanjutin percakapan takut yang diomongin denger. Saat ku ambil satu gelas jus jeruk tak sengaja ku tabrak seseorang di sampingku sehingga tak air jus itu tumpah mengenainya.
“Aduuhh maaf ya Mas saya nggak sengaja.” Maafku pada orang tersebut.
“Iya, nggak apa-apa. Makanya jangan melamun kalau lagi jalan mbak.” Jawabnya.
“Mendengar suara orang tersebut sepertinya aku mengenali suara itu.” Ku dongakkan wajah dan memandangnya, tak lama kemudian orang tersebut juga menatapku. Oh Tuhan! ternyata dia adalah Kak Dika.

“Kenapa bengong gitu, aku manusia bukan hantu.”
“Haa nggak apa-apa, sekali lagi aku minta maaf ya.”
“Iya, udah aku maafin, kalau kamu sendiri?”
“Maksudnya?” tanyaku sedikit bingung dengan pertanyaan Kak Dika.
“Udah maafin aku belum?” aku terdiam untuk beberapa waktu.
“Menurut Kakak?”
“Kok malah balik tanya.” aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Kak Dika, nampak dia bingung melihat sifatku seperti itu.

Acara perayaan ulang tahun Om Andre dan pertungannya pun dimulai, nampak semua tamu undangan berkumpul untuk menyaksikan pertukaran cincin antara Om Andre dan Gisty. Mereka terlihat bahagia sekali, andai saja aku bisa sebahagia mereka bisa merasakan apa yang namanya berbagi rasa dengan orang yang sangat aku cintai dan mencintaiku Huuuft.. Terdengar sebuah lagu dari Yovie And Nuno Janji Suci yang dinyanyikan oleh seseorang di atas panggung, suaranya sangat merdu sekali dan terlihat kalau di sangat menghayati setiap bagian lirik lagu itu. Aku pun ikut terbawa bernyanyi olehnya.

Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan ku sampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Akulah yang terbaik untukmu..

Setelah lagu itu berakhir terdengar seorang pria mengucap sebuah ungkapan hatinya, “Lagu yang barusan aku nyanyikan adalah lagu persembahan dariku spesial untuk orang yang sangat aku cintai selama ini dia adalah Syasha Ayu dewi, dan lewat lagu tadi saya ungkapkan keinginan hatiku saat ini. Untuk Syasha bagaimana? Apakah kamu mau menerima lamaranku?”
OMG Hell Hell.. (Hahaha lebay ceritanya ekspresiku) sumpah aku nggak nyangka Kak Dika akan senekat itu ngungkapin perasaannya di depan banyak tamu undangan. Serasa mau pingsan mendengar pernyataan tersebut, aku bingung mau menjawab apa?

Terdengar semua teriak para tamu undangan, “Te-ri-ma.. Te-ri-ma..” membuatku semakin malu dibuatnya, rona pipiku sudah memerah seperti kepiting rebus dilihatin oleh semua tamu undangan. Tanpa pikir panjang ku putuskan untuk meninggalkan ruangan itu, aku belum siap menerima kenyataan ini. Ku hamburkan diriku menjauhi kerumunan orang namun langkah kakiku terhenti ketika ada seseorang yang menarik lenganku ke dalam pelukannya, orang itu tak lain adalah Kak Dika. Aku mencoba untuk melepaskan diri, tapi Kak Dika semakin mempererat pelukan. Dan akhirnya aku yang menyerah untuk memberontak, seketika itu juga ku tumpahkan semua air mata dan kegundahanku ke pundak Kak Dika.

“Sya, jangan terus menghindar dariku. Aku sangat menyayangimu sudah 5 tahun aku memendam rasa itu, namun tak pernah ku lihat kamu juga merasakan hal yang sama kepadaku. Sejak dulu kamu hanya menganggapku sebagai seorang Kakak, karena itu aku nekat meminta bantuan Gisti dan Andre untuk melihat apakah kamu juga mempunyai rasa yang sama seperti yang ku rasakan. Kamu sudah menghilang 3 bulan dan itu sangat membuatku tersiksa, jadi Please aku mohon kamu jangan pernah pergi lagi menjauh dariku.” Perkataan Kak Dika yang membuatku semakin menangis tersedu-sedu.

“Kenapa kamu menangis seperti ini, apa kamu benar-benar tak mencintaiku?” tanyanya kemudian didongakkanya wajahku menatap wajahnya.
“Nggak!” Jawabku lalu ku tundukkan lagi kepalaku.
“Baiklah kalau itu memang jawaban kamu, aku nggak akan pernah memaksakan kehendakku. Karena kebahagianmulah yang membuat aku bahagia aku nggak mau melihat kamu meneteskan air matamu lagi karenaku. Pergilah…” Ucap Kak Dika seraya melepaskan pelukannya.
Ku usap air mataku dan ku balas perkataan Kak Dika yang berlalu pergi menjauhiku.

“Kan aku belum nerusin kata-kata aku tadi kenapa kamu mau pergi? Yakin nggak mau dengerin kelanjutan kata-kataku?”
“Maksud aku.. aku Nggak nolak cinta kamu.” Teriakku seraya tersenyum. Mendengar perkataanku Kak Dika langsung berbalik dan memelukku kembali.
“Dasar anak lucu yang nakal, sukanya bikin gemes orang.”
“Biarin.. weeek” kuj ulurkan lidahku.

“Jadi kapan kita melangsungkan pertunangan?” tanya Kak Dika seraya melepaskan pelukannya.
“Loh emang tadi aku bilang nerima lamaran Kakak? kan tadi cuma bilang nggak nolak cinta Kakak aja.” Jawabku sambil tersenyum jahil.
“Syasha.. nggak lucu ya.” Jawab Kak Dika kemudian mencubit hidungku.
“Hehehe Iya Kak Dika, mau terima kok. Sekarang juga acara pertungannya sekalian sama Om Andre nggak apa-apa.”
“Eits mulai sekarang jangan panggil Kak Dika, Tapi Dika oke. Yakin Sekarang?”
“Iya Dika Sayang.”

Ia pun memelukku dengan sangat erat… tiba-tiba terdengar suara pria tertawa sangat keras di belakangku, ku palingkan wajahku, dan itu mas-mas SKSD! lalu siapa yang memelukku barusan? dan aku? masih berada di depan pintu gerbang sekolah dengan seragam lengkap. Ku lihat jam, pukul 05.40. Astaga, ternyata aku tak bisa menghentikan kebiasaan berkhayalku. Tapi mas-mas SKSD itu menertawaiku seperti yang baru saja ku bayangkan. Dari kejauhan terlihat Gisty menghampiriku.

“Helloo, lagi ngelamunin apa Sya? Ada pangeran ganteng lewatkah?”
Ah ini persis seperti yang ku khayalkan tadi.
“Yuk ah masuk kelas, biar dapet posisi duduk yang enak!” ajak Gisty sambil menarikku ke dalam gerbang. Aku memalingkan wajahku ke seseorang yang menertawaiku tadi, ia masih melihatku sambil tertawa kecil. Aku menghentikan jalanku. “Gisty, kamu duluan, aku ada perlu!” teriakku sambil berlari dan melempar kerlingan genit pada Gisty. Gadis cantik itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

Aku berlari menuju pria itu. Aku tak ingin melewatkan kesempatan mewujudkan khayalanku. Tidak dengan khayalan yang hanya terjadi dalam sinetron.
Pria itu sedikit terkejut melihat keberanianku menghampirinya. Ia tersenyum bingung, namun dengan cepat ku berikan tangan dan berkata, “Hai Kak Dika, aku Shasya. Salam kenal!” aku tersenyum sambil berlari menuju gerbang sekolah. Tak ku hiraukan ia yang berteriak memanggilku.
“Hei! hei! bagaimana kau bisa tahu namaku!”
Aku tersenyum dan mungkin akan selalu tersenyum nantinya.

Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Facebook: widagezy.wordpress.com

Cerpen Berbagi Rasa (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ingin Kumiliki

Oleh:
Alunan suara Stinky masih terdengar dari mini compo kesayanganku, kupandangi foto Iqbaal yang tersenyum kanis dalam pigura di atas meja belajarku. Senyum itu, senyum yang selalu ku suka, rasanya

Perjalanan Cinta Yang Sesungguhnya

Oleh:
Tring! Bel pertanda istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan ke luar dari kelasnya masing-masing. Ada yang menuju kantin, untuk mengisi perut mereka yang telah mengeluh semenjak tadi pagi, kebanyakan

Senyuman itu

Oleh:
“Panasnya lapangan hari ini” Ujarku. “Iya nih.” Lanjut seorang cowok di sampingku. Cowok sok tahu, dia adalah Vikron. “Apa sih? nyambung-nyambung aja lu.” Ucapku ketus. “Iya dah, Kha.” Jawabnya

Kisah Cinta Si Minky

Oleh:
Di tengah-tengah sebuah hutan, tinggallah seekor monyet bernama Minky. Suatu hari, Minky sedang berjalan-jalan di taman bunga dekat sungai. Di taman itu ia melihat seekor monyet betina yang menurut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Berbagi Rasa (Part 3)”

  1. Lusi says:

    Cerpennya keren banget :), seru dibacanya.. Terus berkarya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *