Bercerita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 April 2018

Sesak… buram… hampa. Dari ujung plano suatu deruan. Bising tak karuan. Suasana yang sangat mencekam. Tanpa tau arah tujuan. Berlari terus berlari. Tak pikir lagi darah di kakinya. Melihat mata terpana dari ujung samudera yang di mipinya. Terdiam… membisu… dan tersenyum.

“Pagi yang biasa. Hari yang biasa. Suasana yang biasa” kata demi kata terus di gumam dari mulutnya. Dan diakhiri dengan kata “aaah”. sang kakak yang bersandar di bawah pohon tanpa daun, berharap bisa mendapatkan buah. “aaah”. Lagi lagi dia menggumamkan kata yang sama. “kapan semua ini bisa selesai” berharap dapat menikah dengan pemuda tanpan dan kaya dari kota “aaah” mungkin hanya imajinasiku saja. Sang kakak yang lelah tak berdaya tidak bisa menggerakkan tubuhnya tidur tergeletak terlalut dalam kantuk yang berharap “mungkin ini hanya mimpi”.

Tok tok tok. “apa ada orang di rumah” sang kakak mengetuk pintu kayu tua di pinggiran kota. “owalah Emi kah sudah lama yah tidak ke sini” sahut suara dari dalam. Ruangan. “iya Bu dokter buru pulang dari bekerja” sahut Emilia. “pasti berat bagimu ya emi harus menjaga adik yang sakit sakitan”, kata Bu dokter dengan perasaan cemas. “eeehh tidak kok biasa aja. Lagi pula ini sudah menjadi keseharianku jadi tak perlu khawatir”. “apa hari ini seperti biasa”. kata Bu dokter “iya bu seperti biasa” sahut Emilia. Setelah berbincang bincang lama melepas rindu sejenak antara keduanya, akhirnya Emilia memutuskan untuk pulang. “eh sudah mau pulang” kata Bu dokter. “Iya bu sudah sore lagian aku harus menyiapkan makan malam untuk Rai” kata Emilia. “begitu ya kapan kapan ke sini lagi yah. Kau pasti kesepian sendiri di rumah” kata Bu dokter. Emilia tersenyum sambil meninggalkan bangunan tua itu, tanpa menjawab perkataan dokter itu.

Emilia berjalan pelan menyusuri kota. Berharap bisa menemukan takdir baru untuknya. Suara burung merpati terbang bersamaan. di damping sunset yang begitu indah. Termenung mendengar derungan ombak tepi pesisir pantai. Damai… tenang… nyaman “aaah aku harap kenyamanan ini bisa menjadi lebih realistik bagiku” … OH TIDAK!!!

“Hahahahahaaha… bagaimana keadan di kerajaan sebelah”. “Siap tuanku saat ini kondisi di kerajaan tetangga sudah porak poranda. Kobaran api di mana-mana saya yakin pasti tidak ada yang selamat”. “Hahahahahahaha… bagus terus lanjut kan operasi pembersihan itu. Aku tak akan pernah memaafkan kalian atas penghinaan yang kalian lakukan terhadapku. Hahahahahahahaha…”

OH TIDAK!!! “Aku lupa kalua langit sudah berganti menjadi ribuan kunang-kunang” Aku harus segera pulang ke rumah. Emilia berlari terengah-engah berusaha mengejar waktu dan jarak antar mereka. “Semoga aku bisa sampai di rumah tepat waktu” batin Emilia. Emilia terus berlari tanpa tau takdir yang akan menimpanya.

Butuh waktu lama untuk sampai di rumah. Ia terus menerus menatap sang bulan yang terlihat cemas di matanya. Belokan demi belokan, tanjakan maupun turunan ia lewati. Berlari terus berlari tanpa henti. Sampai sisa ujung nafasnya. Dan akhirnya ia sampai di sebuah rumah kecil yang ramah yang masih berdiri kokoh di pinggir sungai. Yap itulah Rumah Emilia. Emilia hidup berdua dengan adik nya yang sakit-sakitan. setiap hari dia bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka. Emilia terkenal sangat ramah di mata para tetangga. Ia juga dikenal sebagai seorang gadis Cantik pekerja keras dan tak pantang menyerah. Emilia biasanya sering mendapat lamarang untuk menikah dari kebanyakan pemuda desa. Tetapi semua lamaran itu ia tolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan adiknya sendiri. Emilia sering membantu para tengga dalam pekerjaan mereka. Yaa itulah sosok Emilia sekarang kita berganti ke adiknya Rai. Sejak kecil Rai memiliki tubuh yang lemah. Dia sering sakit-sakitan selama seharian penuh biasanya dia habiskan di tempat tidur. Rai jarang keluar rumah. Dia juga jarang bergaul dengan anak-anak seumuranya. Itulah Rai sosok pendiam dan penyindiri. Ohh ya jangan tanyakan mana orangtua mereka. Ibu mereka meninggal tepat setelah melahirkan Rai. Sang ayah yang tidak tahan hidup sendiri tanpa sang istri akhirnya menyalahkan semua pada kedua anaknya. Dia pun meninggalkan mereka berdua dan pergi entah kemana.

Kreeeeek… “Aku pulang”. “kamu terlambat kakak” adiknya rai menjawab dengan nada kesal. “maaf-maaf aku tadi pergi ke rumah bu dokter”. “bohong kau pasti pergi ke tempat pacarmu kan” Rai sekali lagi menjawab dengang nada kesal. “Eeeehh tidak kok, lagian aku juga tidak memiliki seorang kekasih”. “jangan bohong!!!” Rai berteriak dengan keras. “Aku tadi mendengar rumor di pasar bahwa kau sering pergi ke kota untuk menemui seseorang”. “Jadi, kau lebih percaya pada orang-orang di pasar daripada kakakmu sendiri” sahut Emilia.

Ruangan tiba-tiba senyap untuk beberapa menit. mereka berdua hanya diam terpaku tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. “lagian aku tidak punya waktu untuk hal yang begituan. Aku masih harus menjagamu bukan” Kata emilia memeca keheningan “jadi itu alasan yang kau berikan” Rai bergumam dalam hati “maaf ya untuk sebelumnya karena membuat suasana tidak nyaman” kata emilia “tidak apa aku juga minta maaf karena menuduh yang tidak-tidak” kata Rai dengan nada rendah “kalau begitu aku akan ke dapur menyapkan makan malam. Kau pasti lapar kan. Akan kubuatkan makanan kesukaanmu”. Emila tersenyum ke arah rei sambal perlahan meninggalkanya sendiri di ruang yang sunyi itu. “aku tau kak itu adalah senyuman palsu. Sebenarnya kau sangat ingin mengejar kebahagiaanmu bukan, tapi sayangnya kau harus terjebak di sini bersamaku” lagi-lagi Rai bergumam di dalam hatinya.

“Aaah dia menyadarinya ya sepertinya aku harus berhenti menemuinya besok” Emilia bergumam sendiri di dapur memikirkan apa yang harus dipilihnya kebahagiaankah atau takdir adiknya. Perlahan air mata pun mulai terjun membasahi pipinya. “eeehh kenapa aku menangis, sebaiknya aku tidak terlalu memikirkanya. Bukankah jawabanya sudah pasti mana yang harus kupulih di antara dua hal tersebut” Emilia pun tersenyum kembali sambil meneruskan masakanya. “besok aku akan menemuinya lagi aku ingin mengatakan sesuatu padanya” batin Emilia

“Taadaa ini aku masakkan makanan kesukaanmu” Emilia keluar dari dapur sambil membawa makanan kesukaanya Rai “waaahh terimakasih kak” “sama-sama, jangan lupa meminum obatmu ya”. “baiklah aku mengerti”. Emilia pun tersenyum kepada adiknya dan sekali lagi malam berakhir dengan kehangatan keluarga.

Pagi hari sekali Emilia pergi meninggalkan rumah meningglkan adiknya yang masih tertidur. “baiklah aku sudah membuatkan sarapan untuk Rai sebaiknya aku harus segera bergegas sebelum Rai terbangun” Emilia pun bergegas pergi ke kota.

“Aaah ternyaata kau sudah bangun ya” kata Emilia “memangnya kenapa”. “tidak, tidak apa-apa kok”. Tumben ya lia datang kemari pagi-pagi sekali. Apakah kau ada perlu denganku” “hhmmm… Bagaimana ya sebenarnya aku tidak begitu peduli padamu” kata Emilia dengan nada mengejek “eeehh bukan kah itu sedikit jahat” “bodo amat” sahut Emilia acuh.

“sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu” kata Emilia bergumam dengan pelan “hhhmm apa kau mengatakan sesuatu?” “aaahh tidak jadi aku ingin pergi ke pusat kota saja untuk pergi bekerja” Emilia membalikkan badanya segera mengambil langkah pertama untuk pergi “tunggu” matahari pun mulai menampakkan dirinya dan terlihatlah sosok pemuda tampan yang sedang memegang tanganya. “lepaskan!!! Sudah kubilang kan aku tidak jadi…” pemuda itu segera memeluk Emilia. “aku tau kok apa yang ingin kamu katakan, ini tentang hubungan kita kan”. “eh kenapa kau mengetahuinya?” kata Emilia “memangnya kau pikir siapa aku ini” kata pemuda tersebut. “tidak apa-apa kok sepertinya aku banyak menyusahkanmu ya” pemuda tampan itu tersenyum kepada emilia. Emilia yang tak kuasa menahan tangis tenggelam dalam pelukan pemuda tersebut. “hiiks… hiiiks… hiiks tapi Grann aku tak ingin mengahirinya dengan cara seperti ini” Kata Emilia sambil menangis tersedu sedu. “kenapa kamu menangis? Bukanya kamu sangat menyayangi adikmu” kata Grann sambil mungusap air mata dari wajah Emilia. “tapi Grann” sekali lagi Emilia tenggelam dalam pelukan kekasihnya Grann… Duuaaaarrrr!!!

Cling… suara lonceng pintu sebuah kafe di pusat kota. “selamat datang” terlihat sosok cantik dengan baju waitress siap untuk menerima pesanan, membuat hati yang kian gelisah menjadi riang kembali. “silahkan tuan mari ikuti saya” suara yang lemah lembut membuat hati menjadi sejuk dan nyaman saat berada di café. “tuan mau pesan apa”. Sang gadis manis tersebut memberikan daftar menu yang menampilkan berbagai macam hidangan dan minuman. Aku bingung dengan apa yang akan kupesan “ada apa tuan. tuan terlihat bingung, saya sarankan anda membeli secangkir kopi untuk menyegarkan pikiran”. Sambil tersenyum dan menjawab “baiklah expresso 1 yah”. “expresso 1 ya baiklah tunggu sebentar ya pesanan siap diantarkan”. tertawa kecil hatiku ketika memandanginya saat bertugas. Dia yang membalikkan punggungnya. Pergi untuk mengambilkan pesananku. Itulah pertemuan pertamaku dengan Emilia.

Sejak saat itu aku pun jadi sering mengunjungi café itu.hampir setiap hari aku berkunjung kesana hanya sekedar untuk meminum kopi dan melihat sosok cantik, manis dan anggun yang bekerja sebagai waitress di cafe itu. Wntah apa yang salah dengan hati ini tapi sepertinya itu cinta pada pandangan pertama. Setiap hari aku selalu duduk di bangku yang sama memesan pesanan yang sama dan memandangi wanita yang sama. Hampir setiap hari aku melakukan itu hihihi tertawa kecil hati ini tersenyum bibir ini memikirkan itu semua.

“ada apa tuan kok tertawa sendiri?”. “Eeehhh tidak kok hanya saja aku merasa bahagia bisa hidup di dunia ini dan bisa berbicara dengan gadis manis sepertimu”. Saat itu juga majah sang gadis mulai memerah dan terlihat salah tingkah. Aku pun hanya bisa tertawa melihat reaksinya “omomng-omong siapa namamu?”. “eeehhhh anu…em”. “tunggu dulu biar kutebak hmmmhmm Emilia kan?”. “haaaah dari mana kamu tau itu namaku?” Emilia bertanya dengan wajah memerah “ini kau menjatuhkannya saat kita pertama bertemu” lelaki itu menunjukan kartu nama milik Emilia kepadanya. Dan seketika sang gadis tersipu malu karena hal tersebut “ngomong ngomong namaku Grann salam kenal”.

Suara apa itu?. Entahlah aku tidak tau. Grann lihat itu. Terlihat kumpulan asap menutupi seluruh kota. “hahhh Rai!!!” Emilia teringat akan adiknya yang masih terbaring di kasur rumah. “Grann aku mohon bawa aku ke rumah sekarang” tanpa pikir panjang Grann memanggil kudanya yang sedang asik makan rumput dan segera bergegas menuju rumah Emilia …

(Suara buku tertutup) “sudah ayo cepat tidur sekarang sudah malam.” “Tapi kak aku masih ingin mendengar kelanjutan cerita tersebut” “apa yang selanjutnya terjadi terhadap emilia dan Grann?”. “entahlah kau bisa menebak sendiri bukan kelanjutan ceritanya”. “enggak aaahhh tugas sekolahku masih banyak, besok harus dikumpulkan” “baiklah kalau begitu kakak bisa bantu kamu bertugas lagian kakak juga senang membantu adik kecilku yang cantik dan manis ini” sambil mencubit pipi adiknya. “iiiih kakak ini aku kan sudah nggak kecil lagi” kata sang adik. Tapi bagi kakak kamu tetaplah adik kecil kakak”. “Ngomong-ngomong kak Rai terima kasih” kata sang adik “sama-sama” kata Rai dengan senyuman di wajahnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ricardo Uwapessy
Facebook: Uwa D’ Spriggan

Cerpen Bercerita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Petak Umpet

Oleh:
Hai bintang, gimana kabar lo? sorry yah malam ini, gue lagi-lagi nggak bisa nunjukkin siapa pacar gue. Seperti malam-malam sebelumnya, gue cuma doyan ngasih janji. Nama gue Riski, cowok

Lebih Indah dari Romeo Juliet

Oleh:
“Malam terlalu sunyi untuk berdiam diri, mengingatkan aku pada satu kisah nak! Izinkan si tua ini menceritakan satu kisah sekali lagi! Ini bukanlah kisah beberapa waktu lalu atau dahulu

Payung Merah (Part 2)

Oleh:
Adzan subuh dari masjid dekat rumah membangunkanku. Sambil merenggangkan badan dan menguap selebar-lebarnya aku duduk di pinggir ranjang guna mengumpulkan nyawaku. Setelah merasa sedikit segar, aku ambil handphoneku yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *