Berhenti Untukmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2012

No there is no other one
I can’t have any other one
Thought I would
Now I never could with one

-Weezer-

Aku terlalut dalam lagu weezer yang mengalun lembut.Begitulah kiranya yang terjadi padaku.Cintaku begitu buta.Aku begitu naïf dan bodoh.Berulang kali terluka,namun masih tetap bertahan denganmu.Selalu ada maaf yang ku sisakan untukmu.

Breem….brem….brem

Suara deru motormu meraung di halaman.Membuatku kaget setengah mati.Berlari aku menghampirimu.Meski aku tinggal sendirian,tak berarti aku tak punya tetangga.Mereka bisa datang dan melabrakku karena raungan motormu.Kulihat kau nangkring di atas motor dengan dandanan lengkap.Mirip pembalap yang mau turun ke sirkuit.

“Ada apa?”Aku sewot.
“Temani aku makan!”jawabmu enteng.
“Aku tak bisa,”kataku menggeleng.
“Ayolah!”
“Aku ada midtest.”
“Cuma sebentar,Nat!”
Aku kembali menggeleng.Aku tak percaya dengan sebentar yang kau ucapkan.
“Ah,payah!”
“Aku harus belajar.”
“Halah sogok saja dosenmu!Kenapa harus repot.”
Aku hanya bisa mengelus dada.Aku bukan kau Richy.Aku bukan putra pemilik yayasan.Walau tak bisa disebut miskin,aku sama sekali tak ingin sepertimu.Aku terlalu kuno dan kolot sehingga tak berminat dengan trik sogok-menyogok.
“Kok malah bengong.Ayo!Sekalian coba motor baruku.”
Aku kembali menggeleng.
“Ya,sudah.Tapi jangan menyesal jika kamu bukan orang pertama yang duduk di sini!”katamu bangga sambil menepuk jok di belakangmu.
“Yaa!”
Kau hanya nyegir,sebelum lenyap bersama deru motor gedemu di ujung tikungan.Gontai ku langkahkan kakiku.Ya,Tuhan beri hamba kesabaran.

————
Pagi ini kampus ribut dengan motor baru Richy.Maklumlah,hanya segenlintir orang yang mampu membeli motor pabrikan Italy itu.Selain harganya yang selangit.Prosedur dan dokumen pembeliaan juga tak kalah ribet.Belum lagi pajak.yang harus dibayar tiap bulannya.Cukup buat bayar kuliah beberapa semester.Lebih baik buat beli mobil aja.Gak kepanasan.Gak kehujanan.
Kuhempaskan tubuhku malas di bangku paling pojok.Menghindari riuh suara mahasiswa yang sedang bergosip.Aku suka keheningan.Aku bukan mahasiswa popular.Satu-satunya yang membuat mereka mengenalku karena aku pacar Richy.Pacar yang statusnya jelas di akui Richy.Walau aku tahu masih ada banyak gadis lain yang sering Richy kencani.Namun yang tak kumengerti kenapa aku bisa bertahan denganmu.Richy Hermawan.Putra pemilik yayasan.Mahasiswa terpopuler.

“Kamu udahan sama Richy?”bersungut-sungut Ria menghampiriku.
Kuangkat wajahku,”Kenapa?”
“Seantero jagat sedang membicarakan Richy!”
“Bukannya sudah biasa dia bikin heboh!”
“Aku tahu.Tapi ini lain?”
“Maksudmu?”
“Ada yang melihat Richy membonceng cewek dengan motor barunya semalam.Dan aku yakin itu bukan dirimu Nat,”terangnya hati-hati.
“Bisa saja saudara atau temannya,kan?”
“Tapi…,”Ria mengantung kalimatnya.
“Tapi apa?”kejarku.
“Lihat saja!”katanya ragu sembari menunjukkan beberapa lembar foto yang dia dapat entah dari siapa.

Aku terdiam.Ya,memang bukan aku.Gadis sintal di foto itu sama sekali tak mirip denganku.Dan background di belakangnya aku mampu melihatnya dengan jelas.Green Palace Hotel.Ada tulisan besar berwarna hijau terang disana yang mampu dibaca dengan sangat gamblang.Dan sialannya foto selanjutnya diambil saat mereka berciuman di depan pintu bertuliskan ‘suite room’.Dengan tangan kanananmu yang menarik kunci dari pintu yang setengah terbuka.
“Nat…,”
“Aku tak mau membahasnya.Toh,dia pasti kembali padaku.”
Ria mendelik.”Dan kamu akan memaafkannya?”
Aku hanya menggangguk lemah.
“Lalu menerimanya lagi!”
Aku kembali mengangguk.
“Dan membiarkan dia melukaimu untuk yang kesekian kali?”katanya berapi-api.
Kali ini aku hanya diam.Tak mengiyakannya.Ria benar.Aku memaafkanmu bukan untuk kembali terluka.Tapi nyatanya kau terus saja begitu.Sesuka hatimu.Tak pedulikanku.
“Come on,Nat!Cinta selalu setia pada hati,namun ada saat dimana kamu harus menggunakan logika agar hatimu tak terus terluka.”
Aku tetap diam.Aku tak ingin membela diri.Aku tahu Ria benar.Namun hatiku tak bisa berpaling.
“Kamu mungkin cukup berbaik hati untuk memaafkannya,tapi kamu harus cukup pintar untuk tak mempercayainya kembali.”
Aku tersenyum tipis.Lalu menggenggam tangannya.
“Terimakasih,Ri!”
“Kita sahabat,Nat!jangan pernah lupa itu!”
“Ya.”
“Sahabat bukan seseorang yang menghilangkan masalahmu,tapi seseorang yang tak kan hilang saat kamu mendapat masalah,”kata kami bebarengan lalu tertawa.
Dan aku percaya kau memang sahabatku.Tak peduli seperti apa pun kau selalu bisa membuatku tertawa.Saat aku merasa sendiri kau selalu ada untukku.

———————–

Sudah hampir sebulan aku tak bertemu denganmu.Ada rindu menggelitik hatiku.Namun kutepis.Aku sengaja menghindarimu.Aku ingin menata hatiku.Mempersiapkan diri untuk keadaan yang sulit.Aku sedang bersiap mengambil keputusan besar untuk hidupku.
Ada berpuluh-puluh panggilan tak terjawab darimu.Kalaupun kujawab hanya dengan kata ‘aku sibuk’,’ngantuk’,’capek’,’banyak tugas’,dan sebagainya.Bahkan kau mulai enggan menelfonku dan mulai sibuk dengan Nina,Risty,Dea,Nadine,atau entah siapa lagi.Bahkan tak ada lagi email,BBM,atau sekedar SMS darimu sejak dua hari yang lalu.Dan aku mulai terbiasa tanpamu.
Braak…..
Aku menabrak seseorang.Buku-buku di tanganku berpindah ke lantai.Sepertinya aku terlalu sibuk dengan pikiranku.Hingga aku lupa memperhatikan jalan.
“Kalo jalan pake mata!”umpat sosok di hadapanku.Aku kenal betul suaranya.
Perlahan kuangkat kepalaku.Dan benar,kau berdiri di depanku bersama gadis yang tak ku kenal namanya bergelanjut manja di lenganmu.Mungkin mahasiswa baru.Aku berdiri tegak,sejenak ku tatap matamu.
“Maaf!”kataku datar.Menyembunyikan deburan rasa di dadaku.
“Nat!”katamu terbata.Wajahmu terlihat bingung.
Sebegitukah aku bagimu,hingga sekedar mengenaliku kau pun tak mampu.Kutahan airmata yang memanas.Aku memang gadis menyedihkan.
“Aku duluan!”
Kau berusaha meraih tanganku.Namun aku segera berpaling,sehingga kau hanya menggegam udara.Aku tak ingin membuat keributan.Aku sudah cukup menyedihkan dengan terus mencintaimu.Dan aku tak ingin menambahnya menjadi memalukan karena bertengkar denganmu di muka umum.
“Tunggu!”teriakmu
Aku tak menoleh.Aku terus berjalan.Bahkan semakin cepat.Namun….
Blaaaaaaaas…………………………….
Kau berlari dan berhasil meraih pergelangan tanganku.Membalik paksa tubuhku hingga membuatku nyaris terpelanting.
“Lepas!”kataku setengah berontak.
“Tidak bisa.kita harus bicara!”
Aku mendelik,”Tidak ada yang ingin kukatakan.”
Kau tak menjawab.”Ikut aku!”katamu menarikku menjauh.Meninggalkan gadis yang tadi bersamamu tanpa sepatah kata pun.Seolah cuma ada kau dan aku disana.Dia hanya terbengong tanpa sempat berkata-kata.
“Masuk!”perintahmu sembari membuka pintu.
Hari ini kau tidak membawa motor kebanggaanmu.Dan aku sama sekali tidak tertarik untuk membahasnya.
Kau mendorongku masuk sebelum akhirnya menghempaskanku ke kursi depan.
“Aku masih ada kelas!”
Kau tak menjawab.Malah berlari masuk lalu menstater mobil dengan kasar.Bahkan sedikit mengumpat.
“Berhenti!”
Kau masih tetap diam.
“Kubilang berhenti!”aku berteriak.
“Diam!”bentakmu menatapku tajam.
Aku tersentak.Tidak pernah aku melihatmu begini.Kau seperti kesetanan.Belum lagi cara menyetirmu yang ugal-ugalan membuatku semakin ngeri.Aku memilih diam.Jauh lebih aman bagiku jika diam.

Mobil berbelok ke kanan perlahan lalu berhenti di parkiran.Sepertinya kau sudah lebih tenang.Kau turun dari mobil.Aku masih terdiam mengamatimu.Ada yang berubah darimu.Rambutmu yang biasanya rapi terlihat agak berantakan.Wajahmu juga ditumbuhi sebaris kumis tipis.Sepertinya kau belum sempat bercukur satu bulan ini.Dan kantung hitam di bawah matamu seolah menunjukkan betapa lelahnya dirimu.
“Apa kau tak ingin turun!”katanya sembari membuka pintu depan.
Aku menurut.Dia terus berjalan menuju pantai.Aku hanya mengekor di belakang tanpa berbicara sepatahkatapun.
“Kenapa menghindariku?”katanya setelah sampai di bibir pantai.
“Aku sibuk.”
Kudaratkan pantatku ke pasir.Membiarkan air laut menjilati kakiku.Kau ikut duduk di sampingku.
“Apa terlalu sibuk untuk sekedar bertemu?”
Aku tak menjawab.
“Aku tak suka dibohongi,Nat!Jadi jangan berbohong padaku!”
“Tak ada orang yang suka dibohongi.Begitu juga denganku!”gumamku lirih.
“Apa maksudmu?”nada suaramu tiba-tiba meninggi.
Kutatap matamu.”Sepertinya kau lebih tahu,”lanjutku.
Kulemparkan foto-foto yang Ria berikan ke pangkuanmu.Sejak Ria memberikannya padaku,foto itu tak pernah keluar dari tasku.
“Hah bulsyeet…!”katamu setelah melihatnya sejenak.Sebelum akhirnya menyobeknya jadi potongan-potongn kecil dan menghamburkannya ke udara.
Aku diam.Enggan berdebat denganmu.
“Sebenarnya apa maumu?”nada suaramu masih tinggi.
Aku tak menjawab.
“Nat!”bentakmu.
“Aku lelah!”kataku dengan suara tak kalah tinggi.
“Lelah?”
“Iya,lelah.Cinta ini membuatku sangat lelah.”
Kau menatapku penuh selidik.Ku tarik napas panjang dan dalam.
“Berapa lama kita pacaran?”
“Sudah lama.Kenapa?”
“Lalu berapa kali kamu selingkuh?”
“Kenapa mengungkit hal yang lalu?Bukannya kau sudah memaafkannya?”
“Benar.”
“Lalu?”
“Aku menyesal sudah memaafkannya!”kataku tegas.
Kau terkejut.”Tapi akhirnya aku sadar kau adalah yang terbaik,”kau membela diri.Kata-kata yang sama seperti biasanya yang selalu kau gunakan saat kau bosan dengan cewek barumu
“Apa itu setimpal dengan sakit yang kurasakan?”kataku sembari menepuk dadaku.
“Aku melakukannya untuk memastikan hanya kaulah yang mengerti aku.”
sekali lagi aku menarik panjang dan lelah.
“Jika aku berharga untukmu,kau tak perlu mencari orang lain.Apalagi hanya untuk membadingkannya denganku!”
“Kenapa kau jadi ribut begini?”
Aku menatapmu tajam.Ya Tuhan,betapa bodohnya aku sudah bertahan pada cintamu.Cinta yang abu-abu.Harusnya sekalipun aku tak perlu memaafkanmu.
“Lalu apa maumu?”lanjutmu.
“Kita akhiri saja!”kalimat itu meluncur begitu mulusnya dari mulutku.Dan entah kenapa aku jadi lega setelah mengatakannya.
“Putus?”
“Yaa…”
“Kau gila ya?”
“Tidak.Justru sekarang aku sangat waras.”
“Ini gak lucu.”
“Apa aku terlihat seperti badut bagimu?”
“Cukup,Nat!”sekali lagi kau membentakku.
Aku tersenyum kecut,”Ya,memang sudah cukup!Kita sudahi saja!”
“Nat!”kau meraih tanganku.
“Aku ingin sendiri.”kutarik tanganku pelan.
“Tapi,Nat?”
“Kita butuh waktu untuk merenungkan semua ini sebelum melangkah semakin jauh.”
“Tapi sampai kapan?Berapa lama?”
Aku menggeleng.”Entahlah!”
“Ini gak masuk akal?”katamu memelas.Aku tak berkomentar.
“Aku duluan!”aku beranjak dari dudukku lalu menyapu pasir yang menempel pada jeansku.
“Nat!”panggilmu sembari meraih pergelanganku.
Aku menggeleng lagi.Kau melepaskan cengkeramanmu.
“Lalu bagaimana dengan kita?”
Sekali lagi aku menggeleng.”Kita lihat saja esok hari!”kataku gamang.
“Esok hari?”
Kau menatapku nanar.Wajahmu berubah keruh.Aku segera berbalik dan mempercepat langkahku.Aku juga tak tahu kapan esok hari itu.Entah datang dengan cepat .Entah butuh waktu lama.Atau mungkin tak pernah ada.Namun akan lebih baik jika kamu kembali pada gadis-gadismu dan melupakanku seperti biasanya.

Ponselku bergetar.Sejenak kulihat nama yang muncul disana.
“Aku segera kesana!”
“Ya,”terdengar suara kakakku di seberang.

Kupacu langkahku.Semakin cepat.Ku stop sebuah taksi yang melintas.
“Ke bandara,Pak!”
Sopir itu hanya mengangguk mengerti.

Tak perlu menunggu Richy,karena munkin aku tak akan kembali.Akan lebih mudah jika kita jauh.Agar aku bisa belajar tanpamu.Kuputuskan untuk menerbangkan tubuhku menemui keluargaku.Tak ada alasan aku tetap bertahan disini.
“Selamat tinggal,Richy!Aku harap kau lebih bahagia tanpaku!Sepertiku yang sedang belajar bahagia tanpamu.”gumamku lirih.

—————end—————–

Cerpen Karangan: Echa E.S
Facebook: echae n’cute

Cerpen Berhenti Untukmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengkhianatan

Oleh:
“Bisa gak kita berhenti melakukan ini?” Dua gadis berstatus pelajar duduk di meja masing-masing. Salah satu gadis asyik sekali menggambar di kertas sketsanya, sedangkan gadis yang lainnya berwajah kusut

Berakhir Kata

Oleh:
Seperti sebuah kata yang bergantung pada kata-kata selanjutnya, seperti itu pula aku bergantungan padamu. Selalu ingin di sampingmu, meski aku tak pernah tahu tentang kejelasan perasaanmu terhadapku. Masih mengambang

Last Love

Oleh:
Entah apa yang dirasa saat aku pertama kali mengenalnya, seseorang yang menyebalkan, keterlaluan dan selalu bertingkah berlebihan. Sosok itu semakin sering aku temui karena dia satu jurusan denganku saat

Mimpi Merajut Misteri

Oleh:
Gontai kuberjalan. Galau hati tak menentu. Keramaian saat itu di sekeliling, mulai hilang satu per satu. Kulayangkan pandang pada sebuah tangga berbahan bambu. Kupegang tangga itu lalu kujadikan tempat

Pelajaran Pertama

Oleh:
Namaku Iel, pelajar SMPS RAYA di Riau. Dan sekarang aku harus pindah ke Banten, dikarenakan aku memiliki penyakit keras dan ayah percaya pengobatan di sana, karena itu aku harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Berhenti Untukmu”

  1. Satria says:

    crta ynk bgus

  2. ifa says:

    suka suka.. crta.nya bguss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *