Berpaling Pada Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 11 November 2012

Seluruh rasa antusiasku lenyap tak bersisa.Aku dililit luka.Segala mimpi-mimpi indah yang tadinya bermain di benakku luruh sudah bersamaan dengan remuknya pilar-pilar cintaku.
“Rin…..,”
“Yaa!”
Aku berusaha tegar.Kurasakan airmata memanas memenuhi mataku.Dadaku berdegub kencang.Bergemuruh tak berirama.
“Kau baik-baik saja!”Tanya Keisha.
Aku tak menjawab.Hanya tersenyum getir.Walau kutahu Keisha di seberang sana tak kan mampu melihat senyumku.
“Aku ke rumahmu sekarang!”
“Tak perlu.Aku gak pa-pa!”
“Tapi kau tak boleh sendirian?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku takut kau melakukan hal-hal bodoh!”
“Hal bodoh apa?”
“Contohnya melabrak Hans atau Ruby.Atau bunuh diri,”jawabnya hati-hati.
“Aku masih waras.Apa lagi melabrak mereka,aku masih punya harga diri>”
“Ah jadi tenang mendengarnya.”
“Memangnya aku sebodoh itu.”
“Yakin tak mau kutemani?”
“Yaa,tutup saja telfonnya.Aku banyak tugas.”
“Kalo butuh teman telfon aku!Jam berapapun aku pasti datang.”
“Thank,Sha!Aku ingin sendiri.”
“Take care,Rin!”
“Yaa.”
Klik.Sambungan terputus.

Kini hanya tinggal aku terbaring di ranjang.Menghalau luka.Ku tutup wajahku dengan bantal.Aku tak ingin seorangpun mendengar tangisku.
Aku tak ingin ada yang tahu betapa menyesalnya aku tak mendengarkan ucapan Keisha yang sering melihat Hans dan Rubi jalan bersama.Kupikir tak ada salahnya.Mereka kan teman kuliah.Atau Meri yang bersunggut-sunggut menghampiri karena bertemu Hans dan Rubi di bandara beberapa minggu yang lalu.
Semua salahku.Aku begitu naïf.Aku begitu percaya pada Hans.Tak pernah terpikirkan olehku jika cintanya tak sebesar cintaku padanya.Ah….betapa bodohnya aku!
Kututup mataku rapat-rapat.Aku menangis.Menangis sepuasnya.

***********

Kulangkahkan kakiku bergegas menyusuri koridor.Kulirik jam tangananku.Masih menunjuk angka 07.50.Ah…belum terlambat.
“Rin!”Keisha memburuku di depan pintu Kulihat kecemasan di wajahnya.
“Ada apa?”
“Kupikir kau tidak masuk!”
“Kau gila.Hari ini kan ada UTS!”
“Ya,aku tahu,tapi….,”dia mengantungkan kalimatnya.
“Life must go on,Sha!”kataku sok diplomatis.Keisha hanya melongo sambil manggut-manggut lalu mengekor masuk kelas.
“Rin!”Meri melambaikan tangan dari ujung kelas.
Tanpa menjawab aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Tadi Hans mencarimu!”katanya to the point.
“Lalu…,”jawabku dingin.
“Kok lalu,sih?”
“Memangnya aku harus bilang wow gitu?”
“Ih,nyebelin!”Meri merengut.Aku tergelak melihat ekspresinya.
“Dia bilang ingin bertemu denganmu.”
“Benarkah?”
“Kamu sih kabur terus.Ditelfon juga gak pernah dijawab!
“Memangnya aku buronan?”
“Susah ngomong sama kamu.”
“Bodo….,”
“Beri dia kepastian!”
“Kepastian apalagi?Bukankah semua sudah jelas?Dia sudah menentukan pilihan.”
“Tapi setidaknya dengarkan penjelasannya.”
“Non sen,”jawabku mendelik.
“Kau gak bisa mengambil keputusan sepihak tanpa konfirmasi.”
“Memangnya dia berunding dulu denganku saat memutuskan berselingkuh?Kayak mo rapat aja pake konfirmasi segala,”aku tak mau kalah.
“Terserah sajalah!”

Aku tersenyum kecut.Aku tak mau mendengar penjelasan apapun.Toh,pada akhirnya hanya akan membuatku semakin terluka.Aku tak tertarik untuk mengetahui detailnya.Putus ya putus.Cukup.
Aku yang begitu mengagungkan cinta.Begitu teguh memegang kesetiaan.Aku tahu,belum tentu juga aku menikah dengan Hans.Tapi tak ada dalam kamusku cinta gak 100%.Aku memang naïf.Aku kolot.Tapi aku berprinsip.Peduli apa kata orang.Merareka juga gak merasakan sakit hatiku.

***********
“Pagi,Rin!”sapa Roy sok akrab.
“Pagi!”jawabku asal.

Roy menghempaskan pantatnya tepat di sampingku.Dengan gaya pede luar biasa dan sok tebar pesona dia menyapa setiap orang.Kalo dipikir-pikir dia popular juga.Hampir semua mahkluk di kantin mengenalnya.

“Kamu udahan ya sama Hans?”tanyanya sambil mencobot sepotong chocolat cake.
“Memangnya kenapa?”
“Semalam aku baca status Hans ‘BROKEN HEART’.Pake huruf besar semua.”
“Trus?”kataku tak acuh sambil terus menguyah makananku.
“Tapi aku tak melihat ada yang aneh denganmu.Sama sekali gak ada sedih-sedihnya.”Dia meneliti dengan seksama.Aku jadi risih.
“Masalah buat lo!”Aku melotot terganggu.Roy hanya cengengesan.

Kecerna ucapan Roy.’BROKEN HEART.’Ah…sepertinya itu tak pantas untuk Hans.Aku yang diduakan.Aku yang patah hati.Jadi tak perlulah berlagak menderita.Makhluk lemah tak berdaya yang tersakiti oleh cinta.Fuih….tiba-tiba aku merasa jijik mengingatnya.

“Kok diem?”
“Berisik,”bentakku.

Roy menatapku lekat.Tatapannya yang tajam seolah menembus jantungku.Dan entah karena ada setan lewat atau apalah,untuk sejenak aku merasa Roy sangat berbeda.Bukan playboy tengil seperti yang selama ini ku kenal.Atau mungkin memang sudah bukan playboy.Kalo diingat-ingat sudah lama aku tak pernah melihatnya mengandeng cewek.Padahal waktu SMA dulu hampir tiap bulan ia ganti pacar.

“Kenapa?Terpesona denganku?”kataku cuek.Lagipula aku cuma asal bicara.Mana mungkin ia terpesona padaku.Masih ada puluhan cewek cantik didaftar tunggunya.
Kutarik tubuh dari kursi.
“Kemana?”
“Kuliah!Memangnya kamu bolos!”
Dia ikut bangkit menjajari langkahku,lalu dengan cueknya menarik tanganku.
“Lepas!Kau kesambet ya?”
“Iya,”jawabnya enteng.
“Roy!”aku meronta.

Dia menghentikan langkahnya.”Tidak bisakah sekali saja kau memandangku sebagai Roy Raditya,bukan playboy tengil julukan yang kau berikan padaku saat kita SMA dulu!”
Tatapannya serius.Aku menunduk.Aku speakless.Aku hanya menegekor berjalan di belakangnya.Tak peduli dengan tatapan heran berpasang-pasang mata yang melihat kami berjalan dengan bergandengan.

*************
Malamnya aku tak bisa tidur.Wajah Roy berkelebatan di benakku.Ada yang salah denganku.Atau penilaianku yang salah terhadapnya.Memangnya kenapa jadi playboy?Sepertinya itu lebih baik daripada sok alim dan setia,toh akhirnya ketahuan selingkuh juga.

Aku tak pantas membenci Roy hanya karena itu.Toh,ia tak pernah menyakitiku.Dia tetangga yang baik.Walau aku tak pernah benar-benar akur dengannya.Saat kakiku patah karena kecelakaan waktu awal SMA dulu,selama satu bulan penuh dia tak keberatan menumpangiku ke sekolah.Namun sejak ia jadi popular akulah yang menjauh darinya.Akulah yang begitu antipatif.

HPku berdering nyaring.
“Yaa,”suara Meri di seberang terdengar panik.
“Hans masuk rumah sakit!”
“Lalu?”
Aku mencoba menyembunyikan kekhawatiran yang menyeruak.
“Rin!”
“Tak ada hubungannya denganku!Seharusnya kau menelfon Rubi,bukan aku!”
“Ayolah,sekali ini saja!Anggap berbuat baik pada teman!”
“Seingatku aku tak pernah bilang Hans temanku.”
“Kenalan,”
“Aku gak mau mengenalnya dalam hidupku untuk yang kedua kali!”
“Arinda bisa gak sih sekali ini melunak,plis!”ucapnya dengan nada memelas.
“Hah,kau ini!Sejak kapan kau jadi suruhan Hans?”
“Hehehe….!”
“Aku gak ada kendaraan kesana,”elakku.
“Ikut Roy saja!Kalian kan tetangga.Dia bilang mau menbezuk Hans.”
“Haa….?”mataku melotot.
“Bye…!”
Klik.
Meri memutuskan sambungan sepihak.Terdengar suara klakson.Sepertinya dari halaman.Malas kulangkahkan kakiku ke jendela.Kutarik tirai jendela.Sial.Kutemukan Roy sedang melabai dan tersenyum dari balik kemudi.
“Ya,tunggu sebentar!”teriakku.
Kulihat dia tersenyum.Dan aku tak punya alasan lagi untuk menolak.

******
Kami hanya terdiam di sepanjang jalan.Tak ada topik menarik untuk dibicarakan.Aku terlalu sibuk menata hatiku.Mempersiapkan kekuatan.Ini adalah kali pertama aku bertemu kembali dengan Hans sejak aku mengetahui perselingkuhannya.Tak ada kata putus.Tapi bagiku semua lukayang kudapat sudah cukup jelas daripada formalitas sebuah kata PUTUS.
“Kau masih mencintai Hans?”Roy memecah keheningan.
Aku terkejut.
“Sok tahu!”kataku mendelik.
“Terlihat jelas kok.Masih gak mau mengaku.”
“Jangan sok jadi paranormal!”aku membela diri.
Roy tersenyum tipis.”Lihatlah dirimu!”
Kontan ku amati diriku sendiri.Tak ada yang salah.Tapi….
“Oh my good!”aku menepuk dahiku.
“Ini kebetulan saja,”elakku.
“Iyaa,percaya!”timpalnya cekikikan.
“Bisakah kita berhenti sejenak!”
“Tentu saja.Kau harus mengganti piyamamu dengan baju yang lebih layak,”katanya menahan senyum.
“Tapi….,”ucapanku terhenti.
“Ya,aku belikan.Aku tahu kau tidak membawa apapun selain HP saat masuk mobilku tadi.”
Aku menunduk malu.”Nanti ku ganti!”
“Iyaa.”
“Maaf merepotkan!”
“Hahahaha,”Roy tergelak.
“Apa?”bentakku
“Sekarang masih mau menyangkal?”
Aku diam tak menjawab.Aku tak bisa membela diri.Jika bukan karena khawatir aku tak mungkin lupa jika aku masih mengenakan piyama lengkap dengan sandal kesayanganku berkepla angry bird.
Jantungku bedegub tak beraturan saat Roy meraih gagang pintu.Ku tarik nafas dalam-dalam.Aku sedang mengumpulkan kekuatan.
“Kau baik-baik saja!”Tanya Roy.Aku hanya tersenyum.
“Setelah ini semua akan menjadi jelas,”katanya sambil menunjuk dadanya.
Aku mengerti yang Roy maksud.Perasaanku akan menjadi jelas setelah bertemu dengan Hans.

Kriiiiit…………….
Pintu terbuka.Kutemukan Hans terbaring lemah di ranjang.Selang infus nemembus lengan kanannya.Pipinya berubah tirus.Wajahnya kusam dengan kantung mata hitam terbentuk sempurna.Tak ada lagi sosok kuat dan maskulin dari Hans sang ketua MAPALA.Tak ada lagi senyum manis yang dulu mampu membuatku melambung tinggi sekaligus menghempaskanku dalam luka.Aku miris melihatnya.
Dua bulir air mataku menetes.Hanya sebulan aku tak melihatnya,kenapa begitu banyak perubahan yang kudapati?Kemana Hans yang dulu?Kenapa dia tak bisa menjaga dirinya sendiri.Mengapa tak hidup dengan baik?Bukankah itu jalan yang dia pilih?
“Rin!”panggilnya lemah saat menyadari kehadiranku.Bibirnya yang kering dipaksanya untuk tersenyum.
Aku menoleh pada Roy.Entah mengapa aku merasa perlu bertanya padanya.
Dia mengangguk.”Pergilah!Percayalah walau sulit,setelah ini semua akan menjadi jelas,”ulangnya.
Berat kulangkahkan kakiku mendekat.Ku paksa tersenyum.Kuambil posisi tepat disamping kiri.Kulihat Roy meninggalkan ruangan.Seakan memberikanku ruang.
Lima menit berlalu.Aku masih tetap membisu.
“Rin!”Hans mencairkan hening.
“Ya,”aku menunduk.Aku takut akan menangis jika melihat matanya.
“Terima kasih sudah datang!”
“Iyaa.”
Hans meraih tanganku.Menggenggamnya erat.Aku membiarkannya.
“Apa kau hidup dengan baik tanpaku?”
“Tidak terlalu baik,tapi tetap lebih baik darimu!”
“Ya,setidaknya kau tak perlu masuk rumah sakit.”
Aku kembali tersenyum menimpali guyonannya.
“Kau terlihat kurusan,Rin!”
“Aku sedang diet!”
“Benar,aku lupa kau sedang program diet!”
“Tadinya tidak terlalu sukes,tapi karenamu jadi lebih berhasil,”kataku asal.
Hans terdiam.”Maaf!”katanya.
Ku tarik tanganku.”Aku tak butuh kata maaf!”
“Kau berhak mendapatkannya.”
Aku tersenyum getir.”Memangnya maaf bisa mengganti luka yang terlanjur tertoreh?”
“Benar.Maafpun tak ada gunanya sekarang.”
Kami kembali terdiam.
“Kenapa kau menghilang tanpa sepatah kata pun?”
“Karena tak ada yang ingin kukatakan!”
“Setidaknya marahlah!Caci maki aku.Tampar juga boleh.Tapi jangan menganggapku tak ada!
“Karena Hans yang kucinta sudah mati bersama runtuhnya tembok maaf yang kusisakan untuknya!”
“Rin….,”Hans memelas.
“Kau sudah memilih,Hans.”
“Tidak bisakah kau memaafkaanku?”
Aku menggeleng.”Tak ada yang harus dimaafkan.”
“Lalu apa 3tahun kebersamaan kita tak ada artinya bagimu?”
“Benar.memang tak ada artinya.Kau sudah membuatnya tak berarti.”
“Rin…!”
“Jangan meminta apapun padaku!Karena semua telah habis.”
“Lalu kenapa kau ada disini?”
Aku menarik nafas dalam.
“Karena aku ingin tahu seperti apakah perasaanku padamu.”
“Lalu apa yang kau temukan?”
“Tak ada!”
Hans terdiam.Namun matanya menatapku tajam.Ku angkat wajahku.Membiarkannya menemukan kesungguhan.Aku tak mungkin menyerahkan hatiku pada pria berhati lemah.Berpaling lalu menghiba kembali.
Aku bangkit dari kursi.
“Kau harus bisa menjaga dirimu!Hiduplah dengan baik!”
Hans kembali meraih tanganku.Namun aku mundur selangkah hingga ia hanya menggenggam angin.
“Kau harus kuat,aku pun belajar untuk bertahan.”
“Tapi,Rin….,”
“Ada koensekuensi atas tiap pilihan dan keputusan,because eveything has a price.Belajarlah dewasa dan bertanggung jawab atasnya!”
“Aku tahu kau masih mencintaiku,”katanya emosional.
Aku hanya tersenyum.
“Mungkin.”jawabku.
“Kenapa tidak membuatnya menjadi lebih mudah,Rin?”
Aku kembali tersenyum.”Lebih mudah tak berarti lebih baik.Selamat tinggal,Hans!”kataku sebelum pergi.
Sempat kulihat wajahnya berubah keruh,namun itu tak merubah apapun.

Kutarik handle pintu.Hatiku terasa ringan.Kulihat Roy tersenyum menyambutku di ruang tunggu.
“Kupikir kau akan goyah dan memaafkannya!”ledeknya.
“Non sen,”kataku mendelik.
Roy tergelak melihat ekspresiku.Aku pun ikut tertawa.
“Btw thanks bajunya.Ntar aku ganti.”
“Gak perlu.Gratis!”
“Ogah…..”
“Kenapa?”
“Pasti ada udang di balik batu?”
“Pede bener.Siapa juga yang mau sama cewek jutek?””
Aku tertawa mendengarnya.”Iya,aku tahu,”aku manggut-manggut.
“Bukan gitu juga.Anggap saja kado patah hati.”dia tebahak.
“Sialan!”
“Mau kemana sekarang?”
“Jalan-jalan!”kataku mantap.
“Gak takut malam mingguan ma playboy tengil?”godanya.
“Enggak.”
“Ntar gimana kalau ada yang lihat trus jadi gossip?”
“Bodo…,”
“Yakin?”
Kutatap matanya lembut.”Karena aku mengenalmu sebagai Roy Raditya bukan playboy tengil.”
Roy tersenyum.”Terimakasih,Rin!”
Aku mengangguk.Aku tak tahu apa yang kurasakan.Mungkin perlahan hatiku mulai berpaling padanya?atau mungkin aku sedang jatuh cinta?Entahlah.Aku malas mekmaknainya.Pasti akan tiba waktu untukku kembali merajut cinta.Tapi bukan sekarang.
Aku lebih suka membiarkannya berjalan dan mengalir sebagaimana yang seharusnya.

Kusandarkan kepalaku di bahunya.Dari kaca kulihat Roy tersenyum tanpa berkata.Sepertinya Roy juga tak keberatan.Cinta memang begitu rumit.Terkadang juga sakit.Namun itu bukan alsan untukku berkelit.Apalagi berhenti.Karena entah kini atau nanti aku harap akan hadir cinta baru menyapa hidupku.Tentu setelah aku cukup kuat untuk bangkit dan memulai lagi.

Cerpen Karangan: Echa E.S
Facebook: echae n’cute

Cerpen Berpaling Pada Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love In A Coffee Cup

Oleh:
Kopi… siapa sih yang gak kenal sama kopi, setiap orang pasti tau apa itu kopi kecuali orang pedalaman hehehe… Kenalin gua cewek yang paling suka sama yang namanya kopi

Saranghae Appa (Part 2)

Oleh:
“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan

Realistis

Oleh:
“Maaf! Maafkan aku! Maafkan aku, Arka. Aku tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan.” “Kenapa, Felly?! Kenapa?! Bukankah kita saling mencintai?! Kenapa kau menolak orang yang kau cintai?! Apa

Cinta Anak Pramuka

Oleh:
Setetes peluh yang ku keluarkan hari ini mengiringi perpisahanku di tempat ini, di mana tempat ini adalah tempatku menimba ilmu. Yang mempelajari bagaimana kerja lapangan sebenarnya, namaku Safanti Ranah

Je T’aime (Part 2)

Oleh:
“Hai Chika… Dari tadi lo diem aja? Kenapa? Ada masalah ya? Cerita dong.. Gak biasanya lo kaya gini.. Hmm, lo lagi jatuh cinta ya? Cieeee.. buru cerita!!” .. Chika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *