Bersama Mengabadikan Kebahagiaan, Berkumpul Mengutarakan Peraasaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 29 October 2012

Waktu untuk mengunjungi hewan-hewan pun dianggap oleh Wati, sang ketua rombongan, telah usai. Ia segera menginstruksikan teman-temannya untuk mengadakan kegiatan sharing. Namun salah satu dari mereka mengusulkan untuk berfoto bersama dan mengambil tempat di sebuah tangga tanah buatan yang berbahan dasar adukan semen dan pasir. Wati pun mengiyakan dan mereka berkumpul serta mengatur posisinya masing-masing di tangga tersebut. Hamid tak tahu pasti siapa yang berada didepan dan dibelakangnya, ia hanya mengarahkan pandangannya ke depan, ke salah satu temannya yang bertugas mengambil gambar. Tak lupa, salah satu dari mereka mengambil peran tersebut secara bergantian agar tidak ada yang tidak masuk dalam jepretan kamera handphone.

Wati segera mengatur teman-temannya dan mengarahkan mereka ke suatu tempat yang sekiranya cocok dan bisa dijadikan tempat sharing. Tibalah mereka disebuah jalan aspal lengang namun teduh yang tak jauh dari tempat berfoto tadi. Mereka segera mengatur posisi, duduk melingkar. ‘Inilah acara puncaknya’ ujar batin Hamid seketika.

“Dalam acara sharing ini, dipersilahkan dengan sangat bagi teman-teman untuk mengutarakan apapun yang ada dihati, apapun yang tengah mengganjal, apapun yang ingin diungkapkan, dan ini berlaku untuk hal apa saja, baik yang bernada kebaikan, kemarahan, kekesalan, dengki, protes maupun usulan. Ungkapkan saja semuanya sesuka hati, tidak usah takut, asalkan jujur! Agar teman-teman bisa lega hatinya, tak terkecuali diantara teman-teman yang mungkin punya rasa suka kepada salah seorang di sini, ungkapkan saja!” ujar Wati, panjang lebar.

Hamid tersenyum tak tertahan saat mendengarnya, tak ada yang mengetahuinya. Teman-teman Hamid pun bergemuruh seakan-akan tahu apa yang akan dilakukan Hamid setelah ini. Mereka berdebat tentang siapa diantara mereka yang akan terlebih dahulu berbicara. Wati mengusulkan Habib sebagai siswa bernomor absen pertama untuk mengawalinya, namun ditentang teman-temannya karena alasan yang tidak jelas, tidak logis. Namanya juga remaja, mau menang sendiri. Lalu datanglah Sento, Dewi dan Siti yang sedari tadi entah kemana menghilangnya. Terutama saat mereka menyadari bahwa mereka tidak melihat ketiganya ketika bermain ayunan, mengunjungi satwa dan berfoto bersama di sebuah tangga.

Di saat debat itu berlangsung, Hamid lebih memilih untuk kembali mengambilalih perekaman sebuah handphone dengan tujuan yang sama seperti saat ia meminjam handphone milik Harto, namun sekarang milik Sefrud, kendati ia menyesal diakhirnya karena ia terlupa memencet tombol “Rekam” di handphone tersebut sebelum menggunakannya. Ia baru tersadar saat hendak memasuki mobil, saat akan pulang. Ketika telah memegang handphone tersebut, Hamid kembali diingatkan pada salah satu tujuannya berada di sini. Saat keputusan mereka mengarah pada diberlakukannya sebuah undian menggunakan sebotol air mineral, ia sangat berharap akan mendapatkan undian tersebut lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk mengucapkan sepatah dua patah kata yang sarat makna.

Sebenarnya sejak sebulan lalu, ia telah merancang kata-kata yang hendak ia ucapkan didepan teman-temannya pada saat-saat seperti ini, untaian-untaian kalimat yang berisikan perasaan seorang insan kepada gadis yang dikaguminya. Sungguh, ia sangat berharap apa yang akan ia ucapkan tersebut bisa dijadikan pelajaran bagi teman-temannya, disamping tidak bisa diingkari bahwa ia juga berharap sang gadis akan berkata “Ya” kepadanya. Sempat juga terbesit kekhawatiran dalam dirinya bahwa akan ada seseorang atau siapapun itu yang tidak menyukainya melakukan hal tersebut. Ataupun andai sang gadis berkata “Ya”, Hamid khawatir kemungkinan tersebut justru akan mengundang kedengkian diantara teman-temannya sendiri. Kendati diantara mereka, mungkin ada yang telah menunggu detik-detik seperti ini, setelah sekian lama mencium gelagat tersebut pada diri Hamid dan mungkin juga sang gadis, serta menantikan terwujudnya tindakan nyata semacam ini.

Undian pun dilaksanakan. Orang yang pertama ‘beruntung’ itu adalah Habib, tepat seperti yang disarankan Wati tadi. Dan Habib mulai mengutarakan uneg-uneg-nya yang memenuhi relung hatinya selama ini. Satu demi satu ia bongkar, kendati tak semuanya. Ia mencoba untuk jujur kali ini.

“Aku minta maaf jika terdapat kesalahan, kekeliruan, keegoisan dan kemarahanku yang selama ini tidak disukai teman-teman. Semua orang tidak ada yang sempurna, maka dari itu sudilah kiranya jika teman-teman bersedia memaafkanku. Terima kasih.”

Seperti itulah salah satu petikan kalimat yang meluncur dari bibir Habib, diiringi dengan tepuk tangan teman-temannya. Ia memang manusia biasa, dan sepatutnya manusia biasa itu senantiasa mengoreksi dan minta dikoreksi kesalahan dan kekhilafannya, mau mengakui kekurangan dan kelemahannya, serta selalu memberanikan diri untuk meminta maaf kepada siapa saja yang ia rasa pernah disakitinya.

Undian kedua dilakukan, tak diduga pilihan jatuh kepada ketua rombongan mereka sendiri, Wati. Mereka bersorak kegirangan dan merasa puas karena sesuatu yang telah Wati ingini untuk teman-temannya, justru jatuh pada dirinya sendiri. Istilahnya, Senjata Makan Tuan. Mau tak mau ia harus melakukannya karena ia harus membuktikan kata-katanya sendiri di awal sesi tadi.

Ya, seperti yang dipesankannya sendiri sebelumnya, ia mulai mengutarakan kata demi kata yang mewakili segenap rasa dalam hatinya. Dengan spontan, ia berbicara apa adanya kepada mereka sesuai dengan kenyataan. Ia memang pandai bertutur kata, kendati tadi situasinya mendesaknya agar segera berbicara. Meskipun begitu, ia tetap tak canggung dan bisa kembali menguasai keadaan dimana ia selalu menjadi pusat perhatian dikala ia berbicara. Satu per satu ia utarakan kepada masing-masing temannya, tak terkecuali Hamid.

“Untuk Hamid. Kalau memang suka, ya tembak saja!” ujar Wati.

Sontak, teman-teman Hamid pun bergemuruh seketika tatkala mendengar kalimat tersebut. Ada diantara mereka yang menyebut nama seorang gadis di situ, tetapi sungguh ini tidak sesuai dengan yang Hamid maksud. Berbagai pendapat dari mereka banyak yang mengatakan bahwa Hamid menyukai seorang gadis yang disebut namanya tersebut, kendati ia sendiri mengelaknya. Ia sendiri sangat terkejut mendengarnya dan kembali teringat pada gadis pujaannya, juga akan waktu dan kesempatannya yang sudah sedemikian dekat ini. ‘Haruskah ku melakukannya sekarang atau paling tidak setelah ini?’ ujar batin Hamid.

Cerpen Karangan: Arya Al Jauhariyah
Facebook: Harry Mj

Cerpen Bersama Mengabadikan Kebahagiaan, Berkumpul Mengutarakan Peraasaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ohh My Best Friend

Oleh:
Hari ini adalah hari pertamaku di SMP (Sekolah Menengah Pertama) di sana aku sangat merasa tak percaya diri dan takut. Sampai-sampai di bangku milikku aku hanya sendiri, banyak teman

Kado Terindah

Oleh:
Sepiring roti isi selai dan segelas susu hangat menemani sarapan pagi Ninda. Seperti biasanya, Ia harus sarapan sendiri lagi karena Ayah dan ibunya ada tugas ke luar kota. Ya,

Angka, Wanita Dan Kebahagiaan

Oleh:
Tampak jingga-jingga senja terpancar dari sudut barat. Berbagai kesibukan berhenti pada sore itu, mulai dari kuli, penjual cireng, tukang jajanan, maupun pekerja-pekerja kelas kakap lainnya. Begitu juga dengan salah

Amnesia

Oleh:
Libur panjang akan dimulai. Thalia sedih karena akan jarang bertemu dengan sahabatnya, Stefani. “Aku akan berlibur ke Jambi” ucap Stefani sambil memegang pundak Thalia.. “Hati hati ya!” kata Thalia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *