Bersatunya Hati Yang Patah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Semula semua baik-baik saja. Kebahagiaan menjadi hal utama dalam kehidupan mereka. Kasih sayang menjadi perekat dalam istana mereka. Menghabiskan waktu di rumah tanpa sedikit pun rasa bosan. Terlukis dengan jelas bahwa mereka adalah keluarga yang beruntung. Namun, cerita tetaplah cerita, masa lalu tetaplah masa lalu, hari ini tetaplah hari ini dengan segala kenyataannya. Mereka hanya bisa mengulang kebahagiaan yang dulu pernah ada lewat sebuah cerita, selebihnya hanya seberkas memori yang dengan sendirinya terulang-ulang kembali.

Seberkas kenangan yang sangat enggan dilupakan atau memang sengaja mereka pertahankan. Tapi kenyataan tidak pernah bisa diingkari. Perpisahan membuat kebahagiaan hanya menjadi kenangan dan obsesi. Tiada bedanya dengan selembar kertas yang berisi kata-kata indah yang di kemudian hari akan lusuh karena tergantikan oleh lembaran-lembaran baru yang lebih indah. Begitu pula pada mereka yang tergantikan oleh kenangan-kenangan baru.

Jelita sangat bersedih karena Ayah yang selama ini menyayanginya berpaling hati dan memilih orang lain untuk menyenangkan segala kegundahannya. Memang awalnya mereka adalah orang kaya dan terpandang. Tetapi, kekayaannya hanya sementara. Karena Ayah Jelita terlanjur membuka hati untuk kehidupan yang baru di luar rumah sehingga perlahan membuat mereka kehilangan segalanya. Begitu permulaannya hingga menjalar dan menjadi racun untuk keluarga mereka. Pelan-pelan dan akhirnya berubah. Suasana yang penuh kasih sayang berbalik menjadi penuh penderitaan. Rumah yang semula bak istana dan surga berubah jadi neraka yang membakar mereka dengan segala kebinasaannya.

Ibunya hanya bisa menangis dan terus berusaha memperjuangkan nasib mereka yang masih bersekolah. Apa daya Jelita, dia hanya sulung yang tak berdaya. Kadang air matanya beriring dengan sesuap nasi. Kerumitan demi kerumitan, kekacauan satu persatu bergilir untuk menghantam mereka. Ayahnya sudah buta hati untuk menyadari bahwa biaya hidup dan sekolah tidak sedikit dan murah. Dari mana mereka mendapatkan semua keperluan kalau tidak berjuang mati-matian. Apalagi mereka terbiasa dimanja. Jelita terus memikirkan dan selalu berakhir dengan tangisan.

Aku adalah orang yang selalu mendengarkannya dan aku adalah orang yang selalu dan selamanya begitu, menatapnya sampai selesai menangisi penderitaannya. Selalu aku katakan padanya, “Biar tidak ada Ayah di sisimu, asal jangan tidak ada Allah di hatimu.” Aku bersyukur karena pernah membaca kata-kata mutiara itu di internet, lalu dia tenang sesaat dan tersenyum padaku. Aku pun senang bila dia melakukannya, tersenyum untukku.

Setiap hari dia berkhayal tentang keinginannya. Begitu pun aku, setiap hari selalu berjanji untuk memenuhi keinginannya. Kadang saat dia tenang dan lupa dengan sedihnya, lenganku jadi tempat tidur yang mungkin nyaman baginya. Sebenarnya aku merasa sakit, tapi tak ada yang lebih sakit dari hatinya. Jadi aku biarkan dengan segenap kerelaan tanganku menjadi merah atau biru karena tekanan tubuhnya yang lumayan berat bertopang pada lenganku. Asal dia tersenyum aku berjanji akan selalu mewujudkan keinginannya dan selalu melakukan hal yang sama setiap hari padanya. Aku selalu meminta hatiku agar sabar menghadapinya karena perubahan sikapnya sangat drastis, persekian menit bahkan detik. Hanya sisi dewasaku berbisik, “Hidup itu keras. Selembut apapun hatimu tetap akan dapat kekerasan.” Mungkin itu yang membuat aku sedikit kuat.

Semua menjadi sangat-sangat berubah. Jelita tak lagi seperti anak kecil yang selalu minta dimanja. Sekarang dia terlalu tua sebelum waktunya. Kasihan, tapi dia tidak pernah minta belas kasihan dan sangat benci dikasihani. Aku hanya bisa membantunya lewat doa, sesekali aku membantunya dengan cara lain. Hari demi hari, kegundahan makin menjadi. Derita seperti makanan sehari-hari. Air mata yang mengering. Ibunya hanyalah seorang wanita walaupun kuat dan hebat terkadang sesekali menunjukkan sisi lemahnya. Menangis dan pergi mencari kesenangannya sendiri. Lagi, lagi-lagi Jelita yang harus menanggung keluh kesah di rumahnya. Air matanya bahkan tak bisa lagi ke luar. Yang ada hanya kebencian, amarah, dan dendam. Gadis manjaku jadi macan sekarang. Tapi aku belajar darinya tentang ketegaran dan tentang arti bertahan. Caranya hidup membuat aku mengerti bahwa dalam kehidupan ini yang diperlukan adalah perjuangan untuk suatu kebahagiaan.

Setiap hari dan berulang-ulang kali tanpa tahu di mana ujung dari penderitaan mereka. Aku hanya jadi penonton setia. Sesekali mungkin jadi pemeran pembantu dalam drama kehidupan mereka. Sang Ayah benar-benar tak jelas maunya. Semua yang mereka miliki terancam keberadaannya. Semua aset berharga bahkan masuk daftar penjualan. Semakin Jelita terpukul dengan keputusan sepihak Ayahnya. Hanya suara tanpa air mata yang ku dengar darinya. Rintihan penderitaan, aku hanya mampu menggenggam tangannya tanpa berniat melepaskannya bahkan sebentar. Belum lagi Ayah Ibunya bertengkar di hadapan mereka. Terpukul bahkan terhempas rasanya. Tapi apa daya, Jelita hanya si sulung yang akan mematuhi keputusan orangtuanya saja.

Sampai pada suatu hari. Giliran aku yang merasakan patah hati yang sangat dahsyat. Seakan melebur, patahan-patahannya terbang menjadi puing yang hilang. Bahkan aku tak merasa bahwa aku dan Jelita berpisah, mungkin karena sakitnya sudah merenggut sadarku, terlalu dalam sedih yang aku pendam di balik senyum yang mengembang. Bukan pamrih yang aku harap dari setiap kesetiaanku padanya. Tapi aku kehilangan orang yang membuat aku mampu memaknai hidupku. Sebelum hari duka ini terjadi kami berjanji untuk terus dan tetap saling bersama. Tapi apa daya, saat mataku terbuka dan mentari menyapa. Ibunya bilang Jelita sudah pergi ke benua yang mungkin sulit bagiku menemukannya. Ayahnya membuat aku kehilangan mimpi dan semangatku.

Pertama kali dalam hidupku melihat nasi seperti tumpukan batu ketika di sampingku tak ada lagi Jelita. Jangankan memakannya menyentuh pun asam lambungku langsung naik. Tidak ada yang spesial dari hubungan kami. Tidak ada rutinitas yang lebih dari ngobrol dalam hari-hari kami. Tapi rasanya aku seperti terhempas di tumpukan jarum. Mengenang caranya bicara, mengenang saat dia minta dimanja, mengenang saat dia tersenyum untukku. Harus aku akui, bahwa kebodohan terbesar dalam hidupku adalah mengalami fase ini.

Tapi jujur, jantungku berdegup lebih cepat hanya ketika ada Jelita di sampingku. Terlalu berartinya dia dalam hidupku sehingga organ dalam tubuhku bereaksi abnormal dari seharusnya ketika di dekatnya. Saat ini tak ada lagi cita-cita yang lebih mulia selain membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terdekat. Aku selalu berusaha merubah diri menjadi aku sebelum ada dia di hidupku. Tapi apa? yang aku dapat hanyalah kesedihan. Semakin aku belajar melupakannya semakin aku belajar untuk tetap mempertahankannya.

Beberapa waktu di kemudian hari. Malam itu, di antara pekatnya awan dan terang bulan yang berpadu pada satu langit yang sama. Ibunya datang padaku tepat sebelum akhirnya bulan ditelan awan yang menjadikan mereka hujan. Sepucuk surat itu mewakili setiap pembicaraan dari pertemuan singkat kami. Ibunya pulang dan aku penuh tanda tanya, ada apa gerangan? Awalnya aku menolak untuk membacanya tapi setelah aku menerima pesan singkat itu, aku mulai mempertimbangkan. “Ibu menemukannya di meja kamar!”

Perlu persiapan yang cukup matang untuk memindahkan ujung kertas, dari satu sisi ke sisi lainnya. Dan sedikit kekuatan untuk mempertahankan pijakan. Pelan-pelan dan penuh kehati-hatian. Tinta hitam yang melambangkan hatinya pun sudah bisa aku pastikan bahwa yang tertulis pastilah tentang kesedihan. Sebenarnya aku sangat benci tapi inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Dengan penuh keterpaksaan.

“Malam itu aku berusaha menghubungimu tapi aku ragu. Aku takut mengganggu. Aku tahu kamu lelah menungguiku selesai menangis sore itu. Tapi aku yakin kamu pasti akan mencariku. Makanya surat ini ku tulis, agar kamu tak perlu mencari. Karena jawabannya jelas, aku dibawa pergi Ayah ke tempat yang membuat kita harus berpisah. Kemungkinan terburuk yang aku bayangkan kamu akan membenciku tapi keputusan ini aku ambil untuk merebut kembali hati Ayah dan menyatukan keluargaku lagi seperti dulu. Aku tahu kamu akan mengatakannya, tapi sebelum lisanmu mengucapkannya, tolong maafkan karena aku tak sempat membuatmu bahagia sedikit pun.”

“Maafkan aku! Katakanlah sekarang, aku akan menerima segala kebencianmu. Keegoisanku tak lebih hanya ingin menyatukan keluargaku. Tapi jujur, suatu saat, saat kita bertemu lagi dan kamu mempertanyakan hal yang sering kamu pertanyakan padaku. Aku selalu ingat aku harus menjawab apa! Iya, aku sangat mencintaimu. Lebih dari satu,” aku mengusap air mataku, ketakutan membuat aku menjadi cengeng dan lemah untuk membaca lanjutan isi suratnya. Tapi aku berjanji akan melakukan hal yang sama padanya sampai kapan pun. Dengan linangan air mata, pelan-pelan keberanianku pulih dan kembali untuk surat itu.

“Kenangan bersamamu tak cukup aku tulis hanya dalam dua lembar kertas ini. Tapi setidaknya ia mewakili setiap perasaanku malam ini. Aku takut mengakui kenyataan ini. Berpisah denganmu adalah lebih menyakitkan dari berpisah dengan Ayahku. Tapi aku tidak mau jadi durhaka dan menjadi penghuni neraka hanya karena cinta. Aku harap kamu bisa memaknainya sendiri. Terus terang, aku tak bisa berhenti menangis bila ingat caramu membuatku tertawa saat aku menangis. Terus terang, aku tak bisa berhenti membuka mata bila ingat caramu membuatku tertidur saat kelelahan menangisi penderitaan keluargaku.”

“Tapi satu hal darimu yang membuatku belajar dan bisa sedikit tenang untuk pergi, ‘aku harus menjadi seorang yang kuat agar bisa melindungi Adik-adikku dan aku harus menjadi yang hebat agar tetap cerdik dalam menyikapi kehidupan dengan segala permasalahannya’ tak ada yang bisa membuatku paham tentang itu selain kamu dan tak ada yang membuatku merasa kuat di saat lemah selain kamu. Aku tahu Tuhan sayang padaku, lewat kamu, aku merasa Tuhan sangat menyayangiku. Terima kasih karena cintamu sampai ke hatiku. Dan terima kasih karena kesetiaanmu aku merasa jadi ratu di istana kita, hatimu dan hatiku.”
Untuk kali ini aku tak lagi menangisinya. Aku hanya menghela napas lega, kesyukuran atas kedewasaannya yang membuatku merasa dia akan kembali padaku dalam keadaan baik-baik saja.

Empat tahun kemudian.

Tepat di antara sinar mentari yang temaram. Penuh akan kesejukan. Angin yang berusaha mengetuk jendela kamarku. Mereka adalah bagian penting dari setiap pagiku. Karena hari minggu dengan suasana begitu adalah bagian kesukaanku. Penuh ketenangan, sempurna rasanya uring-uringanku. Tak lama aroma kopi mengganggu hidungku yang peka. Aku penggilanya, mata yang terpejam menjadi bukti betapa aku menikmati hidupku pagi ini. Semua kenikmatan terkumpul jadi satu di pagiku. Mempesona dan menghipnotisku untuk tidak bangun dan beraktivitas. Tapi belai lembut itu membuatku jauh lebih nyaman di antara semua yang aku rasa nyaman.

Aku tergoda untuk bangun tapi tak berani melepas kenikmatan yang lainnya. Jadi aku bertahan sejenak untuk tidak egois dengan pilihanku. Aku membiarkan yang membelai itu tetap pada keadaan yang sama. Tapi naluriku berkata untuk segera membuka mata dan melihat siapa pemilik belai lembut itu. Sebelum aku memergokinya, tangannya erat menutup mataku, dan aku berusaha untuk memaksa agar bisa melihat pemiliknya. Dia mengalah dan mengizinkan aku melihatnya.

Yang aku tahu tentang kesabaran adalah sesuatu yang menyakitkan permulaan tapi akan membuat ribuan kali kebahagiaan pada akhirnya. Yang aku tahu tentang perjuangan adalah sesuatu yang pahit pada mulanya tapi manis pada akhirnya. Iya.. Jelita… Pemilik belai ternyaman di dunia, duniaku. Pagi itu dia datang padaku dan menceritakan tentang kebahagiaannya karena keluarganya kembali jadi satu. Dan pagi itu dia datang padaku untuk menagih janjiku. Aku menepatinya. Dan kami menikah dengan penuh kebahagiaan.

Cerpen Karangan: Fahrial Jauvan Tajwardhani
Facebook: Fahrial Jauvan Tajwardhani

Cerpen Bersatunya Hati Yang Patah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Please Remember

Oleh:
Semilir angin sore membuat seorang gadis cantik betah untuk berdiam diri di taman sebuah rumah sakit. Berulang kali bibir tipis dan nampak pucat itu tersenyum saat melihat beberapa anak

Kenangan

Oleh:
MENGENANG. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Ya, aku masih saja ingat dimana cinta pertamaku berasal, dari sebuah TK swasta. “Hei, sini aku bantuin ya…” begitulah bibir

Dilema Cinta (Part 1)

Oleh:
Jreng.. Jreng.. Alunan gitar yang membawa ku terhanyut dalam kesedihan mendalam. Ditemani dengan rintikan air hujan yang sengaja mengajakku bercanda pada malam yang sunyi ini. Ku petik senar gitar

Tuan, Lala Rindu

Oleh:
Berteriak kearah langit, masih tak terima dengan takdir Tuhan. Mengacak rambut yang nampak kusut, menatap kosong kedepan. Tatapan gadis itu tampak nanar kearah sebuah nisan. Membayangkan wajah sosok yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *