Bertempur (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 September 2017

“Broook!!!” “Khin, woy Khin!” suara gebrokan meja terdengar dan bergetar di telingaku seiring dengan suara lantang seseorang. “Apaan sih? Biarkan aku terbuai dalam mimpi-mimpiku dengan tenang!” ucapku yang merasa terusik. Namun, suara tersebut semakin lantang, “Khin bangun, Khin! Dasar pembual mimpi tingkat dewa, bangun sekarang atau kau akan rasakan akibatnya!”. Tunggu! Suara ini… sepertinya aku kenal suara gadis ini, aku mencoba mengingat. Aku sedikit bergerak dari bangkuku dan berusaha mengangkat kelopak mataku yang seberat truk kontainer, bahkan kurasa lebih berat. “Haaa fan? Ngapain kau ganggu orang tidur saja, husss aku mau lanjutin mimpi lagi, biar gak bersambung kayak sinetron!” ucapku sembari menguap dan kututupi dengan tangan dan kembali mengambil posisi nyaman untuk tidur.
“Demi ekor anak naga dragon ball! Tidur lagi nih bocah, gua tau lu ngantuk, kemarin lu begadang kan nungguin chat seseorang kan? Ehem ehem…” ucap Fanita menggoda. “Ih apaan sih? Enggaklah, gua kan belajar…” ucapku nyengir sambil tersipu malu. “Yaelah pake ngeles segala kayak bajaj jakarta, btw tadi ente dipanggil sama Bu Jihan di UKS!” gertak Fanita sambil memalingkan wajah sebalnya. “Loh eh! What? Eh biji korma! Kenape ente nggak bilang dari tadi. Mampus dah gua…” aku terkejut dan langsung berdiri dari bangku dan meminum beberapa teguk air mineral sembari menenangkan diri. “eh ubi Singkong! Gua udah teriak teriak, salah sendiri tidur kaya kebo abis macul sawah eh macul, bajak sawah maksudnya… susah lu ya kalo dibangunin… tuh dikau ditunggu eneng Ajeng di pintu…”. Langsung seketika panik mode on!!! Setelah beberapa detik aku mulai tenang, langsung dengan sigap ku berlari ke luar kelas sambil membawa kitabku, eh maksudku buku catatan andalanku. “Selamat berjuang nak! Ati-ati!” ucap Fanita lantang. “Siip mak!” sahutku.

Ada yang bertanya kenapa diriku berlari? Okay gini, Bu Jihan adalah guru yang paling DISIPLIN, TERTIB, AKTIF, dan PALING SEMANGAT, wakil kepala sekolah, dan masuk jajaran 3 besar GURU KILLER di sekolahku. Kebayang gak kalo gua telat kayak gini dimarahinnya kayak begimana? Telat 5 detik masuk kelas aja lapangan udah menunggu untuk dikelilingi 5 kali, apalagi aku yang seperti ini, mapus dah! Kelar idup gua!

Sayup-sayup angin menerpa daun daun rimbun pepohonan diiringin kicau burung mungil yang menyanyi ria di atas sana, menambah semarak suasana kental pedesaan di sekolah ini. Sesekali terdengar suara teriakan, obrolan, dan cekikikan gelak tawa para siswa. Aku yang sedang asyik berbincang ria dengan Ajeng sembari menyisiri dengan langkah cepat keramik demi keramik untuk menuju ke UKS yang letaknya memutar dari kelasku.

Saat kami melewati ruang guru, tiba-tiba “Gubraaak” aku menabrak seseorang. Ketika aku sayup sayup melihatnya, loh eh ini kok kayak kak… “Maaf kak, saya nggak sengaja…” “Iya maaf juga…” lalu iya memandangku dan tersenyum. Wajahku tiba-tiba memerah seperti lipstick emak-emak sosialita mau pergi arisan, aku berlagak sok gak tau dan memalingkan wajah. Langsung kuambil kitabku, menggandeng tangan Ajeng dan pergi meninggalkannya.

Sesampainya di lokasi kupandangi tak ada seorangpun di sini,
“Hey, kemana bu Jihan?” tanyaku keheranan, bukannya aku sudah telat.
“Oh mungkin lagi walking-walking keliling sekolah ngadain razia dadakan, hobby kan? Hahaha..” sahut Ajeng.
“Hahaha… maybe bener juga ente…” aku pun tertawa kecil.
“Eh eh… liat tuh, apaan tuh gerudukan di sana?” goda Ajeng menyenggol lengan kiriku.
“Lah, itu… jangan-jangan pasukan Bu jihan mau ngeroyok kita…” aku menggoda balik dengan menyenggol lengan kanannya.
“Nah, bisa jadi… kita dipanggil di sini buat dikeroyok dengan kesalahan pake sepatu masuk UKS… hahaha” sahut Ajeng cekikikan.
“Hah? Loh ehhh!”
Aku menatap ke bawah, memperhatikan dengan seksama. Kugerakan maju kakiku yang tertutup rok panjangku. Dan ternyata benar! Dengan sigap ku menarik tangan Ajeng dan menyuruhnya melepas sepatu segera.
“Etdah bener, cepetan buka sepatu sebelum diliat orang!” seruku lirih, berbisik.
“Iya-iya ini juga lagi otw buka….” sahutnya.

Akhirnya tepat setelah kami meletakkan sepatu di rak, Bu Jihan datang dengan gerombolan murid tadi. Aku mengenal mereka, tunggu mereka kan jajaran anak-anak berprestasi di sekolah. Wait wait wait, ada apa gerangan ini, kok perasaan gua gak enak, gumanku dalam hati. Lalu beliau menjelaskan tentang Jambore UKS, dan membagi lomba-lomba yang ada di dalamnya. Akhirnya aku dan Ajeng mendapatkan tugas menjadi tim untuk lomba Cipta Baca Puisi, aku yang mengarang dengan Bu Tyas nanti tinggal Ajeng yang baca.

“Tenang Khin, di sini kan ada penyair terhebat…” ucapnya penuh keyakinan.
“Penyair terhebat? Emang siapa?” tanyaku kebingungan.
“Pake nanya lagi! Ya elu lah Fransiska Khinara Abraham…” jawabnya sebal, geram.
“Oh si Khinara… ya ya ya ya… loh eh! Aku! Aku? Enggak! gua kalo puisi gak ahli, aku belom pernah pengalaman kayak beginian. Begimana ni?” aku bingung, panik.
“Gini aja kamu coba ngarang dikit-dikit tentang tema narkoba kita tadi, dan aku akan menemui Bu Tyas dulu, okay?” ujar Ajeng menenangkanku.
“Okay baiklah, I’ll try to make a poetry…” ucapku lirih, lemas lesu.

Aku membuka kitabku lembar per lembar, karena seingatku aku menulis banyak puisi di dalamnya jadi mungkin saja ada inspirasi. Saat kubuka, “Loh eh? Kok gini isinya? Ada gambar Naruto, anime kesukaanku… ada huruf Hiragana dan puisi-puisi sastra yang menakjubkan… ini punya siapa sih?”. Ketika kubuka halaman terakhir, Etdah! Ini ketuker sama punya kakak itu… kok bisa sama ya? Buku berukuran sedang dengan sampul tebal dari kulit sintetis warna hitam, isinya kertas berwarna putih tulang dengan gurat garis-garis berwarna gold dan juga ada pita coklat di sampul depan bagian pojok kanan atas… jangan-jangan punyaku juga kebawa kakak itu… oh tidak!!! Aku mulai berguman panjang lebar. Kebetulan kelasku jamkos dari jam ke-5 sampai pulang, sedangkan di ruang OSIS ada kesibukan mengurusi infaq. Mungkin sebaiknya aku pergi ke ruang OSIS, itung-itung cari suasana lain… gumanku dalam hati.

Aku berjalan menuju ke Ruang OSIS, tiba-tiba terdengar suara yang kukenal, “Ih… dini nyontek… huuuu”. Aku mengenal suara bocah laki-laki ini. Dia kan kak… aku berlagak seolah tak mendengar apa-apa. Aku melangkahkan kaki masuk ke ruangan,
“Assalamualaikum…” ucapku.
“Waalaikumsalam… eh Khinara, pas infaq gak keliatan ke mana?” tanya Yulia, temanku yang paling anggun mempesona, lemah lembut bagai putri Solo.
“ke mana aje lu? Jam terakhir gini baru nongol ke permukaan?” sahut Laiza, temanku yang paling aktif.
“Oh aku ta…”
“Dari tadi istirahat ni bocah tidur nyenyak, baru melek pas dipanggil Bu Jihan… hahaha…. dia ngantuk kemarin begadang, chattingan sama someone… ehem ehem…” jawab Fanita menggodaku.
“Eh! Jangan buka aib donk! Gampar mau?!” ketusku kesal.
“Etdah, dek Khinara insomnia kemarin, ehem ehem…” tiba-tiba Kak Dini menyahut.

Saat ku menoleh ternyata ada dua orang Kak Dini dan Kakak itu… ooh noooo!!! Ketika aku melihatnya ia tertawa kecil tersipu malu saat mendengar perkataan Fanita dan Kak Dini.
“Udah diem!!! Pening nih kepala? Harus bikin puisi yang bagus dan besok harus jadi, gimana kalo gak jadi? Pasti kena marah abis-abisan sama Bu Jihan…”
“Ya mending konsultasi sama kakak ituloh, kita kan angkat tangan kalo soal sastra… ya kan kak Dini? Kita keluar dulu ya bye… Lia bawa tuh uangnya itung di luar aja…” goda Fanita yang tertawa licik bersama kak Dini.
“Okay!” Kak Dini dan Yulia menyeringai licik.

“Temanya apa dek” tanya kakak itu penuh selidik.
“Temanya Narkoba kak… kakak bisa bantuin?” jawabku sedikit terkejut.
“Gedobraak!!!” suara bantingan pintu terdengar, tapi kami hanya menoleh dan mengacuhkan pintu kayu itu.
“Mungkin bisa… gini aja, selipin kata-kata “Dasar butiran racun pencabut nyawa!” jadi terkesan penuh emosi dalam majasnya… terus tambahin kata-kata kalo narkoba itu menghancurkan mimpi”
“Oh iya makasih kak, biar aku catat dulu..”
“Hobi kamu nyatet ya? Sampe buku catetan ini penuh dengan hal-hal yang penting gak penting.. hahaha…”
“Eh? Oh iya… ini tadi kan bukunya ketuker kan? Ini ada tulisan “I’m Diego Fi Datgi”… ini kak aku kembaliin, maaf tadi aku liatin isinya”

Yaap! Bener sekali buat kalian yang penasaran, nama kakak itu adalah Kak Diego. Anak laki-laki kece dan hitz di sekolah, dan juga punya banyak fans. Seorang penulis handal dan atlit sepakbola ataupun futsal. Karena dia penulis hebat, dia adalah siswa tersayang Bu Jihan. Bagaimana ia bisa tenar banget? Pertama faktor fisik, ya fisik. Tubuh tegap tinggi ideal idama para wanita, kulitnya memang tak terlalu putih tapi itu yang menambah pesona pada dirinya. Rambut sedikit berponi, wajah yang pas, dan mata coklat yang indah, itulah deskripsi dari siswi-siswi sekolahku. Walaupun menurutku kak Diego biasa aja.

“Eh iya… hehe ini dek… maaf tadi aku liatin satu satu isinya, puisi dan cerpenmu bagus-bagus…”
“Enggak kok kak? Masih Amazing punya kakak….”
“Enggak ah… biasa aja, eh dek denger tuh udah bel… ayook pulang. Nanti kalo kamu butuh sesuatu tentang puisimu kamu bisa chat kakak…”
“Iya kak makasih…”

Ketika ku mengayunkan engsel pintu pintunya tak bergerak, terkunci, ini terkuci dari luar! Oh gawat… gak mungkin aku di sini terus sama kakak ini. kudobrak dengan paksa pun sia-sia.
“Ahahaha.. cie berduaan cieee… ehem ehem…” aku mendengar suara kak Masdi. Beriringan dengan suara itu gerombolan kakak-kakak datang bersama Fanita dan Viana dengan tertawa licik.
“Eh woy! Tolongin! Bukain jangan malah ketawa gitu donk…” ujar kak Diego lantang.
“Kak kak… tolong bukain donk! Fan, Na bukaiiin….”

Setelah cukup lama, sekitar setengah jam aku terkunci, kami berdebat dan bernegosisai dengan para orang-orang yang ada di luar. Akhirnya mereka setuju untuk membuka kunci pintu. Dan aku langsung menuju kelas untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan OSIS, yaitu bersih-bersih TPA!!! Ya TPA, Tempat Pembuangan Akhir, di sini semua sampah organik akan kami kelola jadi kompos alami. Hingga akhirnya semua kegiatan selesai, aku pulang.

Petang baru saja terlewat, sang putri malam telah menempati singgasana di atas sana. Ingin kurebahkan tubuh ini, melepas penat diatas sebuah kasur besar nan empuk membelai. Namun, apa daya daku teringat akan sebukit tugas yang belum tersentuh tinta. “Ahh! Puisi ini!” aku geram, jengkel diiringi emosi. Otakku kehabisan ide, aku meloncat-loncat dan berguling-guling di atas spring bed-ku. Hingga tiba-tiba, “Gedebuuuk!!!” “Aduuuh! Sakiit, auuu pinggangku… encok dah ni badan eih…” badanku terpelanting jatuh ke lantai. Aku merintih kesakitan seraya memegangi pinggangku. Yaa lumayan keras hingga, “Khin, Suara apa itu tadi? Kayak lemari jatuh aja?” teriak mamaku dari arah ruang tengah. “Eng.. enggak apa-apa ma. Tadi tumpukan bukuku jatuh… hehe…” jawabku mencari alasan.

Aku memekik terkejut, ketika kulihat di depan mata ada sebuah flashdisk, flashdiskku yang hilang 2 minggu yang lalu! Oooh senangnyaa… aku menari-nari seperti orang india yang baru saja mendapat menantu. Ya, adegan yang baru saja ditonton Mama sore ini.

Aku menyalakan laptopku dan mengecek isi flashdisk ku. Aku menyipitkan mata, ketika kulihat sebuah file cerpen ciptaan Kak Diego ada di dalam benda kecil ini. Cerpen dengan Judul “Menuju Arah Pelangi” yang menjadi booming dan trend beberapa waktu ini, karena K A T A N Y A isinya luar biasa!, sampai-sampai cerpen ini selalu dipuji-puji oleh Bu Jihan. Kubaca perlahan, pahami isinya dan… seketika itu aku mendapat ide cemerlang, ide yang luar biasaaaah! M E N U R U T K U.
Akhirnya jadilah puisi berjudul “Pelangi Pudar” yang telah mengantarkan Ajeng menjadi Juara 3 dalam Jambore UKS tersebut, duuuh senangnya bakal dapat bonus nih… Aseeek!!!.

2 minggu telah berlalu sejak hari penat itu, aku iseng-iseng mencoba membuka kitabku. Dan aku menemukan sepucuk surat dengan amplop bewarna merah muda dengan sticker Naruto di depannya, sebenarnya gak cocok sama sekali sih. Dan saat kubaca, rasanya hatiku tersengat, meleleh rasanya… kata-kata puitis membuat wajahku merah merona kembali, bagaikan rambutan matang tanpa rambut. Oh Tuhan perasaan apa ini… intinya isi dari surat itu adalah pengutaraan hati seorang Diego kepadaku. Gilaaa!!! Amazing hampir pingsan aku dibuatnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Fara Yulindra Saan
Facebook: Fara Yulindra
Nama: Fara Yulindra Saan
siswi SMPN 1 Prambon, Nganjuk
pejuang UN :v
cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, termasuk sama kamu *upss* tapigak!
thanks^^

Cerpen Bertempur (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bye Bye Pacar Orang

Oleh:
Hay gue cika, gue mau curhat nih tentang perasaan gue sama seorang cowok yang udah ada pacar. “Apes banget deh” Senin adalah hari dimana kesibukan datang, upacara adalah salah

Senja di Pagi Hari

Oleh:
Siang itu, seperti biasa aku berkeliling pasar untuk melihat-lihat ikan di salah satu pasar hewan di kota Malang. Kebetulan sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. Satu-satunya kelas hari itu

After The Rain

Oleh:
Suara hujan berdesak-desakkan memenuhi telingaku, menghadirkan kenangan yang tengah kucoba hempaskan dari daya ingat. Tetesan hujan yang menabuh dahan-dahan di pekarangan rumah, perlahan membangkitkan kisah yang sudah tak ingin

Sebuah Ikatan

Oleh:
Moodku hilang. Berubah seketika ketika kau ucapkan hubungan kita tak akan berujung. Selama ini? Aku membuang waktuku denganmu. Menanti pagi, bermain dengan siang hingga senja, lantas berpisah ketika malam.

Pelangi

Oleh:
Di sebuah desa hiduplah seorang anak yang bernama Rayhan, ia hidup sendiri karena orangtuanya telah meninggal ketika Rayhan berusia 13 tahun. Rayhan adalah remaja yang sangat baik hati dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *