Bertempur (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 September 2017

Pagi hari telah menjelang, sepeda yang tadi kukayuh telah terparkir, dengan segera kulangkahkan kaki menuju kelas. Duh apa yang terjadi? Gak biasanya ada perasaan deg-degan gini pas berangkat sekolah… aneh! Gumanku dalam hati. Kala bel istirahat aku menceritakan hal ini pada Fanita dan Viana yang tiba-tiba datang, ya.. merekalah “MAK COMBLANG” ku dengannya. Mereka mendukungku, aaah.. campur aduk kayak gado-gado perasaaanku ini. Ditembak cowok? Jangan tanya, aku telah mengalaminya berulang kali, tapi entah kenapa yang kali ini beda, baru pertama kali rasanya aku ingin menjawab iya.

Bel pulang sekolah telah berbunyi kencang semua murid berhamburan ke luar kelasnya. Yaaa biasa aku dan teman-teman pulang lebih akhir, ada saja hal yang dilakukan. Ketika aku keluar dari ruang OSIS tak sengaja aku berjumpa dengan kak Diego, ia menanyakan tentang suratnya yang telah ia nanti selama 2 minggu. Badanku kaku mendadak, mulut ini terasa kelu saat ku ingin bicara, hatiku berkecamuk serasa ada gempa bumi VS tsunami di dalamnya. Ia hanya menatapku lekat, dengan sabar dan menutupi perasaan cemasnya menanti jawaban dari mulutku. “Emm, gimana ya… aku.. aku.. aku.. emm jawabanku…”. cukup lama aku berhenti, “Jawabanku ya!” langsung kukeluarkan kata-kata yang terlontar begitu saja tanpa kendali. Aku tersipu malu dengan wajah tomat, dan memalingkan wajah. Kulirik wajahnya berseri-seri dengan senyuman sumringah tersungging di wajahnya. Duuuh, ganting mode on… kenapa dia bisa terlihat semanis itu… “Makasih ya dek…” ucapnya halus. Baru kali ini kudengar seorang laki-laki, kakak kelas pula berkata sehalus ini, tampak penuh perasaan.
“Cieee!!! Ehem.. ehem… batuk nih. Abis keselek onta baper… ueeheem!!!” teriak Viana menggodaku.
“Eheeem! akhirnya jadian juga, Pj woi Pj!” tambah Fanita.
“Apaan sih! Enggak.. enggak.. udah udah ayook beli makanan, bukannya tadi kalian lapar ya… ayoook!!!” kutarik tangan mereka berdua dan kututup ruang OSIS dan segera meninggalkan tempat.
“Ya udah ya aku pulang, duluan ya dek… Atma! Ayo pulang….”
“Eh iya kak…” ucap kami bertiga serentak.

Hampir 3 bulan berlalu sejak hari yang dinamakan jadian itu, hari-hari indah nan mengasyikan kulalui tanpa kecurigaan sama sekali, yap tanpa K E C U R I G A A N ! hingga akhirnya semuanya muncul dengan sendirinya.
“Khin! Denger sini denger… gua dapat kabar baru dari kak Ikal ama kak Fida… kalo” belum sempat fanita melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba,
“Kalo si Laiza ternyata suka sama kak Diego dari sejak lama, dari kelas 7 semester 2!!!” sahut Viana yang tiba-tiba muncul di hadapan.
“Dan dia geram denganmu, dikarenakan kau dianggap tukang Nikung! PHO! Teman makan teman!” lanjutnya.
“HAH!!! Tap.. tapi kan aku… aku.. aku gak tau!!! Jadi bener yang dibilang Adi selama ini… dia bilang, “Khin, lu tau kenapa Laiza sekarang cuek dan selalu mengeluarkan kata-kata nikung, terutama di hadapan lu? Itu karena dia suka sama Kak Diego, dan dia menganggapmu Tukang Tikung!” tapi pas itu tiba-tiba Laiza muncul dan menampis semua perkataan Adi…” entah kenapa saat ku bercerita tadi, mata ini meneteskan air mata, ya walau tak sederas AIR TERJUN SEDUDO. Tapi ini sakit tauk! Fanita dan Viana panik dan segera menghiburku

Tiba-tiba…
“Eh Guys, lu tau gak OSIS ada peraturan bagi anggotanya untuk gak boleh pacaran. Bagi yang punya pacar diwajibkan putus! Dan nanti siang kita ada pertemuan sama kakak senior, dan mungkin akan membahas ini” ucap temanku Nanda anak pecinta sosmed yang kepengen banget hitzz kece gak ketulungan.

What? Hello! P U T U S? Masalah ama Laiza aja belum tahu kelanjutannya bagimana? Lah sekarang ada peraturan beginian… Oh my God! What must I do? Aku hanya bisa pasrah mengikuti arus nasib yang membawaku bersamanya, yap betul sekali! Nasib ngenes B U K A N takdir. Dan benar pertemuan siang ini membahas tentang peraturan dilarang pacaran. Dan kami diberi waktu 1 minggu untuk putus sebelum dilakukan tindak lanjut dan Sumpah Demi Allah. Waktu yang diberikan tinggal 1 hari ini, tapi rasanya aku tak bisa melakukan apa-apa?. Hingga,

“Dek! Aku didesak oleh senior OSIS! Dan di sini ada Dini, din kamu bisa jelasin kan…” aku dan Viana hanya bisa melongo menghadapi apa yang ada di depan kami.
“Dek, aku tahu aku kakak seniormu OSIS, tapi semua ini terserah kamu. Diego sahabat baikku, aku gak bisa memaksakan ini padanya… jadi menurutmu bagaimana?” jelas kak Dini.
Aku tetap diam, mematung. Hingga cukup lama semua perdebatan terjadi, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. “PUTUS!!!” kata-kata yang keluar tanpa kendali bersamaan dengan air mata ini. Pulang dari kejadian itu aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Entah apa yang kutangisi? Rasanya aku hanya bisa menangis. Tak mudah melupakan semuanya, semua kenangan masa lalu. Rasanya seperti, KESANDUNG MASA LALU. Berat rasanya mengahadapi hari esok, serasa seberat mengangkat palunya Thor, The Avengers. Bertemu Laiza, Kak Diego, dan akhirnya mengucap sumpah Demi Allah untuk tak pacaran sampai purna tugas… Aaah pening kepalaku! Hari-hari berat kulalui dengan bully-an dan olok-olok “Ciee” dan para KEPOERS yang sibuk bertanya ini itu. Aku berusaha dan mencoba untuk minta maaf pada Laiza, tapi selalu tak bisa!

4 hari berlalu, semenjak hari penyumpahan.
Ketika Fajar menyingsing, kala orang-orang masih nyenyak terlelap. Aku terusik oleh suara deru tangis sedu sedan. Aku terbangun dan segera mencari apa yang terjadi, ternyata… “Khin, Litta meninggal dunia tadi, tengah malam…” ucap mamaku lirih. Aku memekik terkejut, saudara sepupu terdekatku, teman masa kecilku sampai saat ini, harus pergi selamanya meninggalkanku karena suatu penyakit. Sedih rasanya, sakit… aku tak mau pergi sekolah hari ini. Aku ingin mengantarkan sahabat masa kecilku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tak hentinya aku menangis. Cobaan datang bertubi-tubi, mungkin kalian menganggapnya masalah sepele, tapi ini berat dihadapi. Saat ini aku tengah ada di medan perang, aku sedang B E R T E M P U R, bertempur MELAWAN musuh kebahagiaan, yakni KESEDIHAN.

Keesokan harinya, berat rasanya pergi ke sekolah udah susah move on, pengen minta maaf tak selalu gak bisa, ditambah rasa kehilangan yang teramat sangat. Sore hari aku pulang, kudapati mamaku duduk tertunduk lesu memegangi sebuah kertas merah jambu, lalu menatapku tajam penuh emosi.
“Khinara! Ini apa?” ucap mamaku menahan emosi. Menunjukan surat kak Diego
“a.. anu.. bukan apa-apa kok ma…” jawabku gugup.
“Khinara gak usah bohong sama Mama. Mama tahu ini apa Khin! Khinara, kamu itu masih SMP, masih labil, kamu belum bisa berpikir dewasa… kamu masih remaja yang belum waktunya bercinta… Mama gak ngelarang kamu suka sama orang lain, tapi rasa suka itu bisa kan dipendam? Gak harus pacaran, Khin… kalau kamu pengen pacaran selesaikan dulu sekolahmu, lalu punya karier yang bagus baru kamu Mama izinkan pacaran! Mama gak percaya Khin… Mama sama Papa kan pernah bilang gak usah pacaran, kamu gak inget? Mama gak tahu harus bagaimana…”
Mama tetap dengan wajah penuh kebijakan, menahan amarah dan air mata. Aku tahu Mama tak mau membuatku semakin sedih dan terpojok
“Maaa… maaf maaa… Khinara khilaf ma…. Maafin Khinara maa… hiks… hiks.. hikss”

Aku tak tahu harus mengeluarkan kata apa lagi selain maaf, aku tak dapat menahan bulir-bulir air mata yang jatuh menetes dari pipiku. Aku tak hentinya minta maaf, tak segan aku bersujud di kaki mamaku seraya menangis tersedu-sedu. Lalu, Mama mengangkat kepalaku dan berkata,
“Mama memaafkanmu, sayang. Dan Mama juga akan jelaskan baik-baik pada Papa. Tapi ingat! Ini yang terakhir, kalau sampai kamu ulangi lagi, mama gak segan-segan pindahin kamu sekolah ke Pesantren Lirboyo, yang jauh sekalian biar kamu ngerti! Kamu paham, sayang? Sekarang ceritakan semua yang terjadi, cerita sama mama…”
Aku hanya bisa mengangguk dan menjawab, “Iya Ma…” seraya sesenggukan menghapus air mata.

Lalu kuceritakan semua yang terjadi padaku, S E M U A… yap! Termasuk tentang Laiza. Mamaku tersenyum bijak mendengar celotehan panjang x lebar x tinggi = volume, eh salah, maksudnya celotehan Panjangku. Dan sebagai timbal baliknya Mama juga menasehatiku panjang lebar. Mendengar apa yang Mama katakan semangat dan mood sekolahku kembali. Melupakan masa lalu, minta maaf dan bersikap baik pada Laiza, dan mengikhlaskan yang sudah pergi? Siapa takut!?

Hari gelap telah kulewati dengan sebuah titik terang yang akan mengantarkanku ke puncak cahaya?. Minta Maaf? Haha… bukan hal yang sulit, ingin segera menyelesaikan masalah? Minta maaf lah segera. Memang minta maaf gak menyelesaikan semuanya, tapi minta maaf itu penting, untuk permulaan menyelesaikan semuanya! Gak harus malu untuk minta maaf duluan untuk menyelesikan masalah, justru itu kadang itu membuat kalian lebih terlihat dewasa. Jadi, entah dirimu salah atau gasalah minta maaflah duluan

Dan soal masa lalu? Hello! Masa lalu biarlah masa lalu jangan kau ungkit… *Plaaaak!!! (digampar orang) *Woi malah nyanyi! *Terusin quotesnya! *Etdah! terlanjur fokus! *authors: iya uda tau! refreshing bentar gak boleh? jahat amat sih!

Okay gini, sesuai lirik lagu tadi masa lalu ya biarlah berlalu gak usah diungkit kembali, yang akan kita hadapi itu masa depan, jadi yang harus dipikirkan itu masa depan. Jika hidup diibaratkan sebuah mobil, masa depan adalah kaca depan yang tak terbatas, luas. Sedangkan masa lalu hanya sebatas kaca spion. Kita juga membutuhkan kaca spion, melihat sebentar ke belakang untuk memastikan bisakah kita melaju ke depan. Untuk soal Move on? Hidup manusia itu M O V I N G, gak diem di suatu tempat aja kayak orang mati. Kalau kalian tetep begitu begitu aja gak mau Move, ya berarti kalian sama aja sama orang mati. Kunci Move on itu punya tekad kuat untuk berhenti mencari tahu, K E P O: Knowing Every Particular Object. Mantan? Hello… masih zaman mantan jadi musuh? Kayak anak kecil! itu orang yang pernah ada dalam hatimu, perlakukan mereka selayaknya temanmu, walau tak seperti saat pacaran, tapi tetaplah jalin komunikasi, itung-itung menjaga tali silahturahmi. Mengikhlaskan hal yang telah pergi? Jangan melupakan kenangan… tapi dengan cara meridhoi dan tersenyum saat dia pergi, kenang moment indah bersamanya dan tahan air mata saat kau akan menangis untuknya

P.S : biar akhirnya gak terlalu qoutes kayak Pak M*rio Teguh
Akhirnya masa-masa kelam telah terlewati, kayak buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Aku mulai menjalani hidupku seperti sedia kala, bahkan semua berjalan lebih dari yang kubayangkan. Penuh canda tawa, pengalaman berharga, kenangan indah. Ini semua lebih nikmat dari minum es jeruk manis dan segar pas adzan maghrib berkumandang… (buka puasa)

Cerpen Karangan: Fara Yulindra Saan
Facebook: Fara Yulindra
Nama: Fara Yulindra Saan
siswi SMPN 1 Prambon, Nganjuk
pejuang UN :v
cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, termasuk sama kamu *upss* tapigak!
thanks^^

Cerpen Bertempur (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampai Menutup Mata

Oleh:
Senja kini telah berganti malam dan aku masih saja memikirkan hal yang buta itu. Angin semilir sore berganti angin dinginnya malam tapi aku masih saja menyimpan hal yang semu

Dibalik Sebuah Kapal Besar

Oleh:
Aku mencarimu dibalik bayang-bayang yang tertawa dan kesepian yang menanti. Mungkin kapal raksasa berwarna biru, putih, kuning dan merah yang mewakilkan warna salah satu mini market Indonesia ini akan

Cinta Yang Terbalas

Oleh:
Tak terasa tiga tahun hampir berlalu, tapi perasaan Vee tidak pernah berubah. Masih sama seperti dulu, ketika Vee bertemu dengan John. John adalah seorang gitaris handal, mahir dalam bidang

l Had To Choose Who

Oleh:
Akhir-akhir ini si ganteng bersaudara, tak lain Justin Bieber dan adeknya Luke hemmings yang famous banget di Heatman University tempat aku menuntut ilmu sekaligus jalan untuk menyongsong masa depan

Gara Gara Baju Couple

Oleh:
Aku dan Bastian sudah 1 Tahun menjalani hubungan, tapi hubunganku selalu dipenuhi dengan pertengkaran. Bagaimana Tidak? Selama ini Bastian selalu dekat dengan cewek-cewek cantik yang menurutku populer dibanding diriku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *