Bertemu Putri Nyale (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 8 June 2021

Mungkin sudah jadi nasib permanenku yang menjomlo. Sejak zaman SMA, aku tidak pernah merasakan yang namanya berpacaran. Tidak dimungkiri kalau sebenarnya aku ingin seperti teman-temanku yang lain. Tiap malam minggu jalan-jalan ke mana pun, tiap pagi hari dibangunkan—berfungsi sebagai alarm, atau tiap mau makan juga diingatkan. Sayangnya, aku tidak punya kenalan cewek yang bisa kuajak pendekatan.

Aku adalah Zahroni, putra kelahiran Lombok, tepatnya di daerah Lombok Tengah. Aku saat ini sedang menduduki bangku kuliah di Mataram semester dua dengan jurusan Teknologi Informasi. Ya, bisa dibilang laptop adalah kekasihku. Aku punya sebuah keinginan di dunia ini, yang mungkin tidak akan pernah terwujud sampai kapan pun. Keinginan itu adalah bertemu seorang putri raja yang begitu luar biasa cantik, dikenal di masa ini sebagai Putri Nyale.

Sebentar, aku belum selesai menjelaskan. Putri Nyale yang aku maksud ini versi manusianya, bukan versi cacing, ya. Oke, mungkin sebagian dari kalian belum tahu kalau di Lombok itu punya sebuah budaya yang unik. Yaitu tidak lain adalah menangkap Nyale (cacing) di setiap bulan Februari ketika cahaya bulan sepenuhnya terlihat. Kita biasa menyebutnya bulan purnama.

Nyale atau cacing yang ditangkap masyarakat Lombok bukan sekadar cacing, tetapi cacing jelmaan Putri Nyale yang begitu cantik dan memesona semasa hidupnya.

Putri Nyale dikisahkan sebagai anak seorang raja. Dia terkenal sangat cantik hingga puluhan pangeran di jagat Lombok ingin mempersuntingnya. Akan tetapi, karena Putri Nyale atau Putri Mandalika tidak ingin melihat perpecahan antara kerajaan, maka dia bersumpah kepada dirinya sendiri serta meminta kepada Tuhan untuk dijadikan sebagai sesuatu yang bisa dinikmati semua orang. Putri Nyale akhirnya melompat dari tebing ke lautan sehingga dipercaya kini menjelma menjadi cacing panjang berwarna-warni yang bisa dinikmati semua orang serta memiliki banyak sekali manfaat. Itu hanya sejarah singkat tentang Putri Nyale atau Mandalika yang kutahu.

Semenjak kecil, aku sangat ingin bertemu sang putri, sebab penasaran dengan cantik dan keanggunannya yang diceritakan dalam legenda Sasak.

Ada suatu peristiwa yang ingin kuceritakan lebih dulu pada kalian. Setiap acara Bau Nyale atau tangkap Nyale diadakan, aku selalu menyempatkan diri pulang ke kampung halamanku dan mengikuti acara yang diadakan setahun sekali. Akan tetapi, setiap kali menghadiri acaranya, aku selalu melihat bayangan aneh di pantai Kuta. Ketika orang-orang tengah sibuk menangkap dan mengumpulkan Nyale di sebuah wadah, aku malah penasaran dengan bayangan yang selalu aku lihat ini. Aku merasa kalau sosok Putri Nyale itu tengah mengawasi kami. Ya, tentu saja semua orang khususnya masyarakat Lombok mempercayai legenda Putri Nyale itu benar adanya. Bahkan itu tertulis di sebuah buku kuno, diceritakan panjang lebar tentang kehidupan sang putri.

Terakhir kali aku merasakan keberadaan makhluk asing di acara itu adalah tahun lalu. Karena penasaran, aku selalu menjauh dari keramaian serta mencoba menangkap sosok itu dengan mata telanjang.

Namun, usaha itu sia-sia tanpa hasil. Aku tetap tak bisa melihatnya. Bahkan, kerap kali aku bermimpi tentangnya, tetapi aneh, di dalam mimpi itu aku tidak begitu melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Yang jelas, pakaian yang dia kenakan mirip dayang-dayang atau legenda-legenda bidadari yang aku tonton di film-film.

Nah, di tahun ini, aku berencana untuk mengulangi aktivitas itu. Rasa penasaran di benakku sudah tidak bisa terbendung lagi. Bersama Andi—temanku di kampus—aku membuat janji mengikuti acara Bau Nyale yang beberapa hari lagi akan berlangsung di Pantai Kuta, Lombok Tengah.

“Gimana persiapannya, Ndi? Udah beres?” tanyaku pada Andi yang baru saja selesai mengemas barang dan makanan ke dalam tas.
“Udah siap, Bos. Berangkat kapan?”
“Sekarang ajalah. Nanti sampai sana sebelum mulai, kan, bisa santai-santai dulu,” ucapku.
“Oke.”

Akhirnya, pada pukul delapan malam, kami berdua berangkat dari Mataram menuju Pantai Kuta yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah.

Di acara Bau Nyale, ada satu hal yang disayangkan karena perkembangan zaman ini, yaitu muda-mudi yang berpacaran di lokasi serta orang-orang yang tidak peduli dengan kebersihan, membuang sampah secara sembarangan. Aku pikir hal seperti itu sebenarnya tidak pantas, karena kita harus menjunjung tinggi serta melestarikan budaya kita dengan penuh ketulusan.

Memang ramai ketika acara berlangsung, tetapi kebanyakan tidak ikut serta Bau Nyale. Mereka hanya senang datang, kemudian duduk berduaan di tempat sepi. Inilah yang merusak generasi di zaman sekarang ini. Apalagi orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan kebersihan, membuang sampah sembarangan di area akan menyebabkan terkontaminasinya ekosistem di pantai tersebut.

Oke, ini bukan berarti aku iri dengan mereka yang punya kekasih sedangkan aku seorang jomlo yang bertahun-tahun tidak pernah merasakan bagaimana menjalin sebuah hubungan percintaan. Aku peduli dengan adat dan budaya kita khususnya di Indonesia ini. Jika bukan kita generasi di zaman ini, lalu siapa lagi?

Dua jam mengendarai sepeda motor, kami tiba di Pantai Kuta. Di lokasi sudah banyak orang yang datang dan menangkap Nyale. Nah, sebenarnya aku mengikuti acara ini bukan hanya untuk menangkap Nyale yang lalu dimasak dan diolah menjadi makanan lezat. Atau menangkap Nyale untuk dimakan mentah-mentah. Aku juga datang untuk mengungkap siapa bayangan yang sering aku lihat di pantai ini. Aku sudah cukup mempelajari bagaimana untuk bisa melihat dengan jelas makhluk tak kasat mata. Aku juga sudah berkonsultasi ke banyak orang, khususnya pemuka-pemuka adat di berbagai desa yang tidak asing dengan dunia makhluk gaib.

Setelah memarkirkan sepeda motor di tempat yang sudah disediakan, aku dan Andi melangkah menuju bibir pantai. Nyale sudah banyak sekali terlihat. Ada yang berwarna hijau, ada yang berwarna kuning, merah, dan sebagainya. Juga ada orang-orang yang langsung makan secara mentah dan ada yang mengumpulkannya pada satu wadah untuk dibawa pulang.

“Andi. Kamu sana gabung sama emak-emak nangkap Nyalenya. Nanti aku nyusul.”
“Mau ke mana, sih, kamu? Masa mau ninggalin aku sendiri?”
“Yah, kan nggak sendiri. Tuh, banyak orang. Emak-emak itu banyak.”
“Ya, sudah. Tapi, serius nanti cari aku di sini.”
“Iya, oke. Aku cari kamu, kok. Lagi pula, acara resminya ‘kan dimulai pas subuh.”
“Sip.”

Sementara Andi ke lokasi penangkapan Nyale, aku menuju arah barat, tepatnya di tempat yang tidak terlalu ramai untuk sekadar memantau. Aku mengempaskan pantat, duduk beberapa meter dari jangkauan ombak yang menerpa pelan. Dalam hati, aku selalu memokuskan diri untuk bisa bertemu atau paling tidak melihat sosok yang selama ini mengawasi kami, yang aku pikir adalah Putri Mandalika.

Beberapa menit berlalu, belum ada yang terasa. Suasana seperti kerap kali aku rasakan saat ada di acara ini belum terasa. Namun, aku masih kuat menanti sampai acara usai.
Angin kurasakan setiap menit bertambah kencang menyibak tirai-tirai beku. Malam semakin larut, sunyi, beberapa orang sudah mulai pulang meninggalkan lokasi Bau Nyale.

Ada yang aneh dengan pemandangan di sekitarku. Awalnya aku melihat orang-orang antusias menangkap Nyale, tetapi kini aku hanya melihat ombak yang menggulung, angin yang mendesau, dan Andi yang telah … hilang.
Aku pun sadar, beranjak bangun dari duduk. Menatap sekeliling dengan heran. Ke mana orang-orang pergi? Di mana Andi? Dan ada di mana aku sekarang?

Memang benar, aku tak lagi ada di pantai, aku kini ada di sebuah tebing tinggi yang di bawahnya curam, laut lepas yang membentang. Jika aku jatuh, aku mungkin tidak akan pernah selamat, dalam hal ini adalah mati.
Dadaku menggebu, berontak dalam sepi. Mataku membulat, napasku menderu desau melawan angin yang kian kencang. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin bertanya dengan lantang, tetapi siapa yang bisa aku tanyai? Di sini sepi, gelap, dan dingin.

“Hei!” Aku berteriak sekencang mungkin sambil memutar-mutar badanku ke sana kemari, mataku mengedar ke seluruh penjuru, tetapi tidak dapat mengenali tempatku berada.
Berulang kali, aku memekik lantang. Sunyi pecah, menggema suaraku kembali terdengar di telinga sendiri. Tidak ada jalan lain, aku melangkah tak tentu arah, menjauhi curam di depan mata. Sekelilingku hanya tanah luas yang gersang. Tidak ada rumah-rumah warga yang tampak, pohon-pohon pun tidak terlihat.

Tidak dimungkiri, aku takut, bahkan gemetar tubuh ini menahan setiap rasa yang hadir menikam angan. “Tolong, siapa aja,” kataku dengan lirih, “Di mana aku?”

Entah sudah berapa lama berjalan, aku menemukan sebuah bangunan yang begitu khas arsitektur suku Sasak Lombok. Akan tetapi, bangunan itu sangat megah, yang mana di bagian depan ada gerbang besar, tinggi menjulang dan dijaga dua orang mengenakan pakaian adat Lombok. Serta mereka membawa tombak yang sama tinggi dengan tubuh mereka di tangan kanan, lalu sebuah perisai berwarna merah berbentuk lingkaran di tangan kiri.

Aku ragu untuk melanjutkan langkah, tetapi aku tidak mungkin kembali. Jika kembali, siapa yang bisa membantuku? Ya, orang-orang di bangunan itulah yang menjadi satu-satunya harapan. Aku pun menjejak, serta menyapa kedua penjaga yang mengenakan ikat kepala bercorak bunga-bunga berwarna cokelat.

“Pak, maaf, saya boleh bertanya?”
“Siapa Anda?” tanya kedua penjaga dengan waspada. Sebenarnya, mereka berbicara dengan bahasa Sasak halus yang sebelumnya tidak kumengerti, tetapi mengapa di sini aku paham dengan yang mereka katakan? Ini benar-benar aneh.
“S-saya, Zahroni. Saya mau minta bantuan, Pak.”
Kedua penjaga saling tatap, penjaga di sebelah kanan mengedipkan mata, mungkin sebuah sinyal untuk melakukan sesuatu.

“Anda kami tangkap!” ujar keduanya sambil menyilangkan tombak di hadapanku.
“Apa? S-saya ditangkap?! Ada apa ini?! Kalian siapa? Saya di mana sebenarnya?!” cecarku bervolume tinggi.
Namun, kedua penjaga tidak memedulikanku, mereka meringkus dan membawaku ke dalam bangunan yang lebih tepat jika kita sebut sebagai istana.

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog: ahochord.blogspot.com
Momoy, penulis buku Bintang Tak Lagi Menanti Senja, Paradoks Waktu, Last Affection, DÉJÀ VU: Unforgettable Moments dan masih banyak karyanya yang telah terbit dalam bentuk digital di berbagai platform dan google playbook. Sekarang bekerja sebagai Ghost Writer.
Untuk mengenal penulis lebih dekat, Anda bisa menghubunginya melalui:
Facebook: Momoy
Instagram: @momoy_official_
Wattpad: @mariondrossi

Cerpen Bertemu Putri Nyale (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Shonichi (Hari Pertama)

Oleh:
Tanggal 10-10-10 tepat aku pertama bersekolah, sekolah yang aku impikan disaat aku smp, sekarang aku di sma terkenal di daerahku. Hati ini senang sekali, itu semua berkat doa orangtua

Ketika Hati Yang Memilih

Oleh:
Apakah kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya saja? Apa ada yang salah ketika orang yang kita cintai itu memiliki kekurangan? Bukankah di dunia ini manusia tidak ada

Antar Aku Dengan Senyuman

Oleh:
“iya bun.. bunda juga jaga kesehatan ya..!! daaah bunda.. assalamualikum..” ku tutup telpon dari bunda dan segera kurebahkan tubuhku diatas sebuah sofa. Hari ini matahari sangat terik, lumayan juga

Kotak Musik Pengungkap Cinta

Oleh:
Sebelumnya aku tidak mengenal dia. Tapi sepertinya takdir berkehendak lain dan menuntutku untuk harus mengenalnya. Aku tak tau pasti kenapa perasaanku selalu tidak karuan jika melihatnya. Perasaan ini berbeda,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *