Bertepuk Sebelah Tangan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

Malam minggu di sebuah caffe…
“Begini nasib jadi bujangan. Kemana-mana, asalkan suka. Tiada orang yang melarang. Hati senang walaupun tak punya uang, ooh. Hati senang walaupun tak punya uang,”

Bait-bait refren lagu, “Bujangan,” karya koes ploes yang dilantunkan secara life music begitu nyaring terdengar menghibur para pengunjung sebuah kafe. Malam itu cafe tersebut ramai dikunjungi para pelanggannya yang ingin menghabiskan malam minggu sambil menikmati suguhan kopi serta alunan musik. Di salah satu bangku cafe yang berada di balkon tampak salah satu pengunjung tengah menikmati hangatnya kopi yang baru saja dipesannya. Uap air masih tampak mengepul di atas cangkir kopinya. Ia tampak seorang diri malam itu, berbeda dengan bangku–bangku lainnya yang berisi pasangan muda-mudi. Pemuda tersebut tampak menghayati sekali setiap bait dari syair-syair lagu tersebut. Lagu tersebut dirasakannya begitu mewakili keadaan dirinya yang memang sampai saat itu ia tetap masih melajang.

Sesekali ia tersenyum kecil memikirkan nasibnya yang masih menjomblo. Sebagai mana syair lagu tersebut menyandang status lajang membuat dirinya bebas bepergian ke mana saja ia suka, tiada yang melarang. Namun ada satu hal yang membuat dirinya merasa kekurangan sebagai pria single yaitu tiada tempat untuk berbagi baik suka maupun duka. Selain itu kadang kala ia dihinggapi rasa kesepian seolah ia hidup sendiri di dunia ini. Kadangkala ia juga merasa iri melihat teman-teman lainnya yang sudah menikah dan memiliki momongan. Di usianya kini yang beranjak kepala tiga kekhawatiran itu tetap ada, mungkinkah ia akan selamanya hidup menjomblo.

Tapi ia yakin suatu saat ia pasti akan menemukan jodohnya karena ia yakin bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, dan wanita yang akan menjadi jodohnya adalah terbuat dari tulang rusuknya yang hilang. Pemuda tersebut bernama Bayu Megantara. Malam makin larut, embun malam mulai turun perlahan, satu per satu pengunjung cafe meninggalkan tempat hingga tinggal Bayu seorang diri yang masih tetap berada di cafe tersebut sambil memandang bintang gemintang di langit yang kebetulan malam itu langit cerah tiada berawan.

“Maaf Mas, sudah malam, cafe mau segera ditutup,” tegur pelayan cafe yang sedari tadi menunggui Bayu. Bayu seperti diingatkan, ia paham akan maksudnya, mengusir secara halus. Bayu pun segera membayar semua pesanannya dan memberikan sedikit tip untuk pelayan tersebut yang telah dengan sabar menungguinya, setelah itu ia pun segera pergi meninggalkan cafe tersebut menuju tempat parkir hendak pulang.

Perjalanan pulang. Sebuah mobil avanza meninggalkan area parkir cafe menuju jalan raya. Karena sudah larut jalan raya terlihat begitu lengang, hanya beberapa kendaraan saja yang lalu lalang, kebanyakan para petugas security dan karyawan yang kebagian jadwal shif tiga. Melewati kawasan taman kota yang rimbun dengan pepohonan tampak oleh Bayu satu dua, “Kupu-kupu malam,” tengah berdiri di bawah pohon menjajakkan diri dengan pakaian seronok tersorot lampu mobil mengundang perhatian mata para lelaki hidung belang laksana laba-laba yang menunggu mangsa, melambai-lambaikan tangan kepada setiap pengendara yang lewat. “Malam om, mampir dulu om,” sapa mereka dengan gaya menggoda. Bayu hanya sekilas memandangnya dan tidak mempedulikannya. Ia teringat tausiyah pak ustadz di pengajian bahwa wanita-wanita saleha adalah untuk laki-laki saleh, wanita-wanita jahat untuk laki-laki jahat pula.

Suatu ketika di rumah orangtua Bayu… “Bayu, semenjak kamu dan saudara-saudaramu beranjak dewasa dan satu per satu meninggalkan rumah ini, rumah ini terasa sepi, ingin rasanya seperti dulu dimana rumah ini diramaikan suara anak-anak yang bermain riang,” kata ibu Bayu.
“Maksud Ibu kita akan membuka paud atau panti asuhan anak yatim?” tanya Bayu menanggapi sambil berlagak pilon.
“Bukan itu, Ibu ingin segera menimang cucu,” kata ibu Bayu.
Mendengar perkataan ibunya, Bayu langsung terdiam. Ia tahu maksud ibunya tersebut adalah sindiran kepada dirinya supaya segera menikah.

“Kapan kamu akan memperkenalkan calon pendamping hidupmu kepada Ibumu Nak?” tanya ibu Bayu.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Bayu tampak terdiam sejenak, pertanyaan ini selalu membebani dirinya.
“Lihat teman-temanmu, si Romi udah punya dua anak, si Jamil kemarin sudah menikah, apa kamu tidak ingin seperti mereka?” tanya ibunya lagi.
“Bu, masalah jodoh, rejeki dan maut kan Tuhan yang ngatur,” sahut Bayu.
“Iya betul, tapi kan kita harus berusaha dan berdoa, jangan hanya menunggu nasib saja,” kata ibunya lagi.
“Ya sudah Bu, Bayu minta waktu, kan nggak sembarangan memilih calon buat menantu Ibu, kata ibu kan harus lihat bibit, bebet, dan bobot,” jawab Bayu.

“Bukannya apa-apa Ibu menanyakan hal ini, Ibumu ini kan makin lama makin tua, tidak selamanya bisa menemanimu, Ibu ingin agar segera ada yang mendampingimu dan mengurusimu kelak bila Ibumu ini sudah tiada,” Kilah ibu Bayu.
“Aduh jangan bilang begitu dong Bu, Bayu doakan Ibu selalu sehat dan panjang umur,” Bayu menanggapi. Tidak lama terdengar suara adzan ashar berkumandang, Bayu bergegas ke musala untuk memenuhi panggilannya. Ibu Bayu memandang anaknya dengan penuh kekaguman dan kekhawatiran. Kagum melihat anaknya taat beribadah terutama menjaga salat lima waktu, khawatir karena belum juga mendapatkan jodohnya.
“Semoga kau segera dapat jodoh yang saleha Nak,” doa ibunda Bayu.

“Tuhan kirimkanlah aku. Kekasih yang baik hati.. Yang mencintai aku.. Apa adanya…,” sebait lagu Ahmad Dani selalu disenandungkan oleh Bayu, seolah mewakili jeritan hatinya saat itu.

Bayu salat tahajjud…
“Ding…Ding…,” terdengar suara dentang jam dinding dua kali. Perlahan Bayu terbangun dari tidurnya. Sengaja Bayu bangun dini hari walaupun sambil menahan rasa kantuk yang luar biasa, karena ia berniat untuk salat tahajjud. Setelah mengambil wudu, Bayu akhirnya mendirikan salat tahajjud. Suasana terasa hening, membuat salat terasa khusyu. Setelah salat Bayu memanjatkan doa kehadirat illahi rabi. “Ya Allah, berikanlah hambammu ini jodoh, hamba percaya bahwa engkau menciptakan mahklukmu berpasang-pasangan,” setelah berdoa kemudian dilanjutkan dengan tadarus al-qur’an.

Di kantor, tempat Bayu bekerja.
“Tok, tok, tok,” Terdengar pintu ruang kerja Bayu diketuk.
“Silahkan masuk,” kata Bayu. Munculah seorang gadis kutilang alias kurus tinggi langsing sambil membawa beberapa berkas surat dan dokumen. Gadis tersebut bernama Mita, salah seorang staf sekretariat yang menangani sirkulasi surat dinas.

“Pak ini ada surat dari pusat tentang dana desa yang harus segera ditindaklanjuti, ini disposisi pimpinannya,” kata Mita. Sesaat Bayu seperti terkesima melihat Mita, suaranya terdengar begitu syahdu, padahal hampir setiap hari ia bertemu namun saat itu terasa ada yang berbeda, Mita terlihat lebih menarik, wajahnya bersih bercahaya, padahal dulu jerawat bertaburan di kening dan pipinya. Mungkinkah ia menggunakan susuk atau pelet pengasih pikir Bayu.

“Pak mohon ditandatangani tanda terima suratnya,” kata Mita membuyarkan lamunannya.
“Oiya, terima kasih ya,” jawab Bayu. Akhirnya Mita pun pergi meninggalkan Bayu yang masih tertegun memandangi Mita dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Mengapa aku baru sadar sekarang, ternyata di kantor ini ada bidadari yang masih menganggur, mengapa aku harus jauh-jauh mencarinya di tempat lain,” gumam Bayu.
Nampaknya Bayu sedang terkena panah asmara, terkena panah dewi amor.

Di parkir kantor. Ketika jam pulang kantor tiba, para pegawai di mana Bayu bekerja bergegas meninggalkan kantor. Tepat di gerbang kantor secara tidak sengaja Bayu bertemu dengan Mita yang sedang berjalan menuju jalan raya hendak menyetop angkot. Akhirnya Bayu menawarkan diri untuk mengajak Mita pulang bersama naik kendaraan Bayu.

“Mita, ayo ikut abang, kan rumahmu satu arah,” ajak Bayu.
“Nggak usah bang, nanti merepotkan,” jawab Mita.
“Sama sekali tidak, ayo naik, nanti abang antar sampai rumah,” tawar Bayu lagi. Karena hari mendung dan akan segera turun hujan, akhirnya Mita menuruti ajakan Bayu walaupun dengan agak malu-malu. Benar saja, tidak lama berselang hujan turun dengan derasnya. Bayu segera menyalakan wiper untuk membersihkan kaca sehingga pandangan tidak terganggu.

Berawal dari kejadian itu lama kelamaan hubungan Bayu dengan Mita semakin akrab, sepertinya Bayu sedang melakukan pdkt terhadap Mita. Bayu sering mengirimkan sms bernada romantis kepada Mita dan Mita meresponnya. Kadangkala di hari libur Bayu mengajak Mita berjalan-jalan, nonton bioskop dan shopping di mall, sekedar refresing. Bahkan di hari ulang tahun Mita, Bayu memberikan ucapan selamat dan kado spesial buat Mita. Setelah dirasa chemistry di antara keduanya ada kecocokan, Bayu memberanikan diri mengajak Mita untuk candle light dinner di sebuah kafe langganan Bayu.

Suatu senja di sebuah kafe, Bayu dan Mita duduk berhadap-hadapan di sebuah meja. Sengaja mereka memilih meja yang letaknya agak pojok agar tidak terganggu oleh pengunjung kafe lainnya. Sementara dari panggung kafe terdengar lantunan lagu yang dinyanyikan seorang biduan, terdengar merdu romantis dan syahdu. Hari itu Bayu sengaja mengajak Mita untuk makan malam di luar sambil menikmati malam minggu. Selain itu juga ada sesuatu hal penting yang angin ia sampaikan kepada Mita. Dengan senang hati Mita pun menerima ajakan tersebut, laksana seorang putri yang diajak pergi sang pangeran namun dalam hatinya bertanya-tanya apa gerangan yang ingin disampaikan Bayu padanya. Nampaknya segala sesuatunya sudah dipersiapkan Bayu dengan sempurna. Seorang pelayan kafe menghidangkan menu favorit ke meja mereka berdua serta tidak lupa menyalakan lilin. Suasana berubah menjadi romantis.

“Semua pesanan sudah saya hidangkan, kalau ada yang kurang atau mau pesan sesuatu bisa panggil saya, selamat menikmati,” kata pelayan itu dengan ramahnya.

Tidak lupa Bayu memberikan tips ke saku bajunya. Pelayan itu pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya mereka pun menyantap hidangan dengan penuh selera. Bayu maupun Mita menyantap hidangan dengan penuh kesopanan, masing-masing ingin menunjukkan bahwa mereka menjunjung tinggi adab etika ketika makan atau table manner. Tidak terdengar sruput ataupun dentingan sendok dan garpu maupun bunyi sendawa, semua berjalan penuh etika dan kesopanan. Bayu memandang wajah Mita dengan penuh perhatian. Merasa diperhatikan, Mita menjadi risih, wajahnya nanar salah tingkah, pipinya memerah sesekali ia memberikan senyuman manis untuk menutupi kegugupannya. Santap malam ditutup dengan hidangan penutup -apetizer- berupa es krim. Bayu memperhatikan Mita yang sedang menikmati es krim. Dengan lidahnya Mita menjilati es krim tersebut dengan lincahnya dan sesekali ia menghisap es krim dengan lembut. Entah apa yang terbayang di pikiran Bayu ketika memperhatikan kelakuan Mita tersebut.

“Mita, ada sesuatu yang ingin abang sampaikan sama kamu,” tiba-tiba saja Bayu berkata dengan penuh keseriusan di tengah Mita menikmati hidangan penutup. Kedua tangannya memegang jari jemari Mita dengan penuh kelembutan. Sejenak mata Mita yang bulat menatap Bayu dengan penuh penasaran, seolah menerka-nerka gerangan apa yang akan disampaikan Bayu kepadanya, membuat Bayu sedikit gugup.

“Abang ingin menjalin hubungan serius dengan kamu!” kata Bayu dengan tergagap-gagap. Mendengar ucapan yang disampaikan Bayu mendadak Mita menjadi tersedak, tangannya memegang leher seolah tercekik. Bayu cemas dan segera memberikan minum kepada Mita.
“Kamu gak apa-apa kan Mita?” tanya Bayu dengan penuh kekhawatiran sambil menepuk nepuk punggung Mita.
“Gak apa-apa,” jawab Mita setelah meminum air sehingga tenggorokannya terasa lancar kembali.
“Abang mau serius sama Mita?” tanya Mita seolah ingin kepastian.
“Serius Mita, abang bukan saatnya lagi buat main-main,” jawab Bayu.

Mita terdiam beberapa saat seolah sedang berpikir keras untuk menjawab keinginan dan niat baik Bayu. “Sebelumnya Mita mohon maaf bang, Mita udah punya calon pendamping pilihan Ayah,” jawab Mita. Mendengar jawaban Mita yang begitu lugas, hati Bayu luluh, ternyata selama ini ia hanya bertepuk sebelah tangan.
“Sekali lagi Mita minta maaf, Mita tidak bermaksud mengecewakan abang, tapi Mita tak kuasa menolak pilihan ayah,” kata Mita. Sesaat Bayu terdiam, jawaban Mita diluar perkiraannya, sebab selama ini sepertinya diantara mereka sudah tidak ada halangan, dan sudah ada kecocokan satu sama lain.

“Tak ada yang perlu dimaafkan Mita, semuanya sudah jelas, kamu berhak menentukan pilihan, dan Ayahmu lebih berhak menentukan pilihan jodohmu dan abang menerima keputusanmu, semoga dia menjadi pilihan yang tepat buat mendampingimu,” jawab Bayu dengan nada agak bergetar. Ada sedikit rasa kecewa di hati Bayu.
“Walaupun mungkin kita tidak bersatu, setidaknya ku harap kita tetap bisa bersahabat dan Mita ucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang telah bang Bayu berikan kepada Mita selama ini,” kata Mita menenangkan hati Bayu.

Malam itu langit berubah kelabu seolah menahan butiran-butiran air hujan.
“Sebaiknya kita pulang, hari sudah larut malam, dan nampaknya akan segera turun hujan,” ajak Bayu. Akhirnya setelah menyelesaikan pembayaran di kasir mereka pun beranjak pulang meninggalkan kafe tersebut. Bayu berjalan solah melayang, seperti layang-layang yang putus talinya. Semenjak kejadian di kafe tersebut hubungan keduanya kini menjadi dingin, keduanya seperti menjaga jarak, tidak ada lagi tegur sapa, hanya seulas senyum yang seolah dipaksakan. Hubungan keduanya hanya sebatas melaksanakan tugas dinas saja.

Di kantor tempat Bayu bekerja. Semenjak kejadian di kafe kini Bayu sering tampak murung, tidak bergairah dan lebih senang menyendiri di ruang kerjanya. Hal ini tentu saja membuat tanda tanya besar bagi rekan-rekan sekantornya. Salah satu teman Bayu yang melihat perubahan tersebut adalah Ssep. Ia penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan teman akrabnya tersebut hingga suatu ketika Asep menemui Bayu di ruang kerjanya.

“Hai bray, ke mana aja, ngendon aja di kantor, nanti netes loh telornya!” sapa Asep. Bayu hanya tersenyum kecil mendapat sapaan dan gurauan dari teman akrabnya tersebut.
“Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri bray, itu juga kalau kamu masih menganggap aku temanmu, mungkin aku bisa berbagi pengalaman,” desak Asep.
Kembali Bayu hanya tersenyum kecil.

“Aku nggak butuh senyummu bray, ngomong dong ngomong, sorry bukannya aku kepo, tapi aku nggak mau temanku ini terlihat murung setiap hari, nanti stres pula, ngomong-ngomong gimana hubunganmu dengan si Mita bray?” desak asep.
“Nah itu masalahnya bro, aku udah putus dengan dia,” jawab Bayu.
“What, kamu putus. Oh my god, diputusin apa kamu yang mutusin,”
“Diputusin,”
“Oalah bro, bro, ternyata temanku ini lagi broken heart toh, laki-laki diputusin sama cewek itu mah biasa bray, jangan diambil hati, dunia tidak selebar daun kelor, memangnya cuma dia aja cewek yang ada di muka bumi ini,” kata Asep membesarkan hati temannya sambil memijit-mijit pundak Bayu. Untuk sejenak Bayu merasa sedikit terhibur.

Bersambung

Cerpen Karangan: Asep
Saya penulis pemula yang lagi belajar nulis.

Cerpen Bertepuk Sebelah Tangan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamulah Duniaku

Oleh:
LDR? Yup, Long Distance Relationship. Begitulah hubungan yang dijalani oleh Luna dan Andrian 6 bulan terakhir ini. Andrian yang berprofesi sebagai seorang model menuntutnya untuk menjadi profesional. Andrian ditempatkan

Penyesalan Nara (Part 1)

Oleh:
“Mamahh… Aku jatuh cinta deh kayaknya hehee,” Ungkapan dua bulan lalu itu masih terbayang jelas di mataku, senyum merekah tergambar jelas di bibir anakku, binar matanya ikut membuktikan kebenaran

Cinta Harta Sang Perawan Tua

Oleh:
Mentari dipagi itu mulai bersinar. Cahaya indahnya menerobos setiap celah rerimbunan daun. Sepertinya, alam sangat mengerti dengan kegirangan hati Merry. Semalam, ia baru saja ditembak oleh seorang cowok yang

Menggenggam Cinta

Oleh:
Kata sederhana, tetapi mampu menghadirkan berjuta luka. Cinta. Tik tok tik tok tik tok Alya masih setia dengan posisinya, tidur terlentang sambil menatap detik jarum jam yang selalu berputar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *