Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

“Sudahlah bray, aku nggak mau kawanku ini sedih terus, lama-lama aku takut kau bunuh diri pula, besok kan hari minggu, gimana kalau ku ajak kau jalan-jalan ke puncak, hitung-hitung refresing lah,” ajak Asep. Bayu tampak ragu untuk menyetujuinya.
“Tenanglah, semuanya aku yang bayar, kita pakai motorku saja, kau tidak usah repot-repot, tinggal duduk saja di motorku, oke bray?”
“Oke bro,” jawab Bayu.
“Ah kau tuh maunya gratis saja,” gerutu Asep.
Bayu hanya bisa nyengir kuda. Akhirnya keduanya deal untuk piknik ke puncak esok hari.

Di puncak…
“Ayo kejar aku bro… Loyo kali kau!” seru asep kepada Bayu.

Saat itu mereka saling berkejaran menaiki puncak bukit. Mereka berlomba mencapai puncak bukit. Asep lebih dahulu sampai di atas bukit, disusul Bayu, akhirnya keduanya sampai di atas bukit. Keringat tampak menetes di wajah masing-masing. Keduanya merebahkan diri di atas rerumputan yang menghijau laksana permadani. Dari atas bukit mereka memandang sekelilingnya. Tampak gunung-gunung menjulang tinggi dihiasi pohon-pohon pinus yang tegak lurus menunjuk ke langit. Bayu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, terasa segar. Perlahan Bayu berdiri dan beranjak mendekati sisi tebing. Asep merasa was-was, jangan-jangan Bayu mau meloncat bunuh diri.

“Selamat tinggal masa lalu… Selamat tinggal Mitaaaa… Buat apa aku hidup tanpamu…Lebih baik aku mati…,” teriak Bayu dengan suara lantang hingga menggema terpantul dinding-dinding bukit, sepertinya Bayu bersiap-siap mau melompat ke bawah jurang, benar saja ia melompat ke bawah jurang yang dalam. Namun ternyata nyawa Bayu masih bisa diselamatkan. Karena dengan sigap Asep berhasil menahan tangannya hingga ia seperti bergelantungan di tepi jurang.

“Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Buat apa aku hidup?!” teriak Bayu.
“Jangan bodoh kamu,” kata asep sambil dengan sekuat tenaga menarik Bayu ke atas menjauhi tebing. Ditamparnya Bayu beberapa kali hingga memerah pipinya. Bayu meringis menahan pedih. “Sadar, sadar, jangan bertindak bodoh, jangan sia-siakan hidupmu, kau masih muda, masih banyak harapan di depan sana, ingat Ayah Ibumu, mereka sangat membutuhkan kehadiranmu, bunuh diri itu dosa tahu,” Asep menyadarkan.

“Aku kecewa denganmu, ternyata kau cengeng, baru diputus cinta saja kau mau bunuh diri, ingat jangan kau sia-siakan kesempatan hidup yang tuhan berikan kepada kita, aku sudah puluhan kali diputus cinta, tapi aku tetap tegar,” ucap Asep. “Menyesal aku mengajak kau ke sini, kita ke sini buat refreshing, bukan buat bunuh diri,” ujar Asep lagi. Bayu tampak menunduk.
“Jangan-jangan kau kesambet setan penunggu bukit ini, lebih baik kita pulang saja daripada kau kesambet lagi nanti aku juga yang repot,” ajak Asep. Akhirnya keduanya kembali menuruni bukit, Bayu mengikuti Asep dari belakang.

Suatu ketika di rumah orangtua Bayu.
“Akhir-akhir ini Ibu nggak lihat lagi kamu bawa Mita main ke mari,” kata ibu Bayu.
“Aku sudah putus sama dia Bu,” jawab Bayu ketus.
“Loh memangnya apa yang terjadi antara kamu dengan dia?” tanya ibu Bayu.
“Dia lebih memilih calon pilihan ayahnya daripada aku Bu,”sahut Bayu.
Sejenak ibu Bayu memandang Bayu penuh simpati.

“Sayang sekali, padahal sepertinya ia sudah cocok dengan kamu dan juga dia baik dengan Ibu,” ujar ibu Bayu.
“Ya itu masalahnya Bu, kenapa tiba-tiba ia memutuskan begitu saja hubungan yang sudah terjalin selama ini,” kata Bayu. “Ya sudah sabar aja, mungkin dia bukan jodohmu, bapaknya lebih berhak menentukan pilihan untuknya,” sahut ibu Bayu menenangkan hati Bayu. Di tengah percakapan antara Bayu dengan ibunya tiba-tiba datang seorang gadis berkerudung putih.

“Assalamualaikum Bu Sarah…,” kata gadis itu mengucapkan salam kepada ibu Bayu.
“Waalaikum salam. Eh Nak Siti, mari masuk Nak,” ajak ibu Bayu.
Kemudian keduanya berjabat tangan dan cipika-cipiki, sepertinya ia sudah akrab dengan ibu Bayu. Bayu memandang seperti terpana. “Bayu, ini Nak Siti, anaknya Pak Yanto, tetangga kita yang di RT 10,” kata ibu Bayu memperkenalkan Siti kepada Bayu.

Bayu berusaha menyodorkan tangan hendak bersalaman dan Siti menyambutnya namun ketika tangan mereka akan bersentuhan Siti menarik kembali tangannya sambil melemparkan senyum dan sedikit membungkukkan badan penuh takzim. Sesaat Bayu hanya melongo tak mengerti dengan apa yang terjadi, ada sedikit syak wasangka di hati Bayu bahwa Siti gadis sombong padahal itu adalah adab bersalaman antara wanita dan pria yang bukan muhrim, maklum Siti adalah anggota pengajian.

“Bu, Siti cuma mau menyampaikan undangan ini dari Bu Kokom buat Ibu,” kata Siti sambil memberikan undangan.
“Undangan apa ya Nak Siti?” tanya ibu Bayu.
“Undangan acara walimatussafar, Bu Kokom mau naik haji,” jawab Siti.
“Oh, terima kasih ya Nak Siti, insya allah Ibu hadir,”
“Sama-sama, Bu, Siti pamit dulu, masih banyak undangan yang harus Siti bagikan, mari bang, assalamualaikum,” kata Siti mohon pamit kepada bu Sarah dan Bayu.
“Waalaikum salam,” jawab mereka berdua.
Siti meninggalkan rumah bu Sarah, sementara Bayu memandang Siti dengan penuh decak kagum.

Bayu tertarik kepada Siti. “Bu, gadis tadi itu siapa Bu?” tanya Bayu.
“Dia namanya Siti, anaknya Pak Yanto yang tinggal di RT 10, kan udah Ibu kasih tahu tadi, memangnya kenapa?” sahut ibu Bayu sambil balik bertanya.
“Nggak apa-apa, cuma nanya aja,” kilah Bayu.
“Dia itu anaknya baik, rajin ke masjid, khususnya salat maghrib, isya, subuh dan dia juga sering ke pengajian serta suka mengajar anak-anak mengaji,” kata ibu Bayu memuji Siti.
“Memangnya dia lulusan pesantren?” tanya Bayu.
“Iya, dia dulu pernah tholab ilmu di pesantren al-muqorobin, asuhan ustadz zulkipli,” sahut ibu Bayu.
“Ooohh…,” sahut Bayu.

Bayu rajin ke masjid.
“Ashsholaatukhoirumminannauuum…,” Sayup-sayup terdengar adzan subuh, Bayu bergegas bangun, pergi ke kamar mandi hendak mengambil air wudu. Sebelum iqomat Bayu sudah meninggalkan rumah menuju masjid. Ibu Bayu terheran-heran melihat perubahan yang terjadi pada Bayu. Biasanya Bayu salat subuh di rumah, namun dalam hati ia mengucap syukur melihat anaknya sudah punya kesadaran melaksanakan kewajiban agamanya, apa pun alasannya, semoga niatnya semata-mata hanya karena Allah.

Di masjid. Sebelum Bilal mengumandangkan iqomat, Bayu sudah sampai di masjid. Ia terheran-heran ternyata banyak juga yang salat subuh berjamaah. Ada sedikit rasa risih di hati Bayu karena Bayu merasa menjadi pusat perhatian para jamaah yang hadir, seolah ada pendatang baru yang menyusup di antara mereka. Bayu berusaha menenangkan diri dengan menebar senyum dan salam. Sesekali ia melirik shaf wanita di belakang, mencari sosok wajah wanita yang bernama Siti, akhirnya Bayu menemukan wajah tersebut yang duduk di barisan terdepan dari shaf wanita. Hati Bayu mendadak gembira. Ternyata benar apa kata ibunya, Siti memang rajin salat di mesjid.

Bayu mengikuti pengajian. Sebulan sudah Bayu selalu salat berjamaah di masjid, sehingga sekarang ia sudah tidak sungkan-sungkan ataupun risih untuk datang ke masjid. Selain itu juga sekarang Bayu sudah mengenal dan hafal dengan para jamaah yang hadir dan merasa menjadi bagian dari mereka. Suatu ketika malam jumat, setelah salat magrib, biasanya para jamaah ada yang tidak pulang, karena ada pengajian rutin. Sesuai jadwal ustadz yang akan memberikan ceramah malam itu adalah ustadz qomar. Tema ceramah saat itu membahas tentang ikhlas. Dijelaskan bahwa ikhlas adalah melaksanakan amal sholeh semata-mata mencari keridhoan Allah, mardotillah, lillahi ta’ala. Bukan karena makhluk.

Bayu menolong Siti yang terluka digigit ular. Suatu ketika sepulang salat subuh…
“Siti digigit ular, Siti digigit ular,” terdengar teriakan para wanita yang baru saja pulang salat subuh, yang kebetulan melewati kebun salak milik salah seorang warga.

Bayu yang kebetulan berada di sana dengan sigap segera menghampiri Siti yang tengah meringis menahan sakit di bagian betisnya. Benar saja, ternyata ada bekas gigitan ular di betisnya. Bayu segera membopong Siti menjauhi tempat itu dan membawa Siti ke rumah salah seorang warga terdekat. Di sana Siti dibaringkan dan dinasihati agar tidak panik sebab kalau panik akan mempercepat tersebarnya racun ke arah jantung. Bayu berusaha membersihkan bekas gigitan ular tersebut dan mencoba menghisap luka sehingga darah yang mengandung bisa dapat tersedot ke luar. Dengan meminjam motor milik warga tersebut Bayu segera membawa Siti ke klinik terdekat. Setelah mendapat perawatan medis barulah Bayu merasa tenang.

“Bagaimana kondisinya dokter?” tanya Bayu menanyakan kondisi Siti.
“Alhamdulillah, Siti baik-baik saja, lukanya sudah kita obati, dan sudah kita kasih sabu (serum anti bisa ular), untung segera dibawa ke mari, karena kalau terlalu lama racunnya bisa menyebar ke jantung,” kata dokter menjelaskan.
“Alhamdulillah kalau begitu keadaannya,” sahut Bayu merasa tenang. Karena dirasa tidak terlalu parah maka hari itu juga Siti diperbolehkan pulang dengan dibekali obat. Dengan senang hati Bayu mengantarkan Siti pulang ke rumahnya.

Di rumah Siti. “Terima kasih ya Nak Bayu, untung ada Nak Bayu yang menolong, kalau tidak segera ditolong entah apa yang akan terjadi,” kata Pak Yanto -ayah Siti- mengucapkan terima kasih kepada Bayu.
“Sama-sama Om, saya cuma kebetulan saja berada di sana, dan sudah sewajarnya kita saling menolong, apalagi ini menyangkut keselamatan jiwa, menolong satu jiwa sama dengan menolong seluruh umat manusia,” jawab Bayu. Pak Yanto manggut-manggut mendengar jawaban Bayu.

“Ngomong-ngomong Nak Bayu sudah lama kenal dengan anak saya?” tanya Pak Yanto.
“Lumayan Om, kurang lebih tiga bulanan Om,” jawab Bayu.
“Bukan apa-apa Bapak menanyakan ini, karena Siti selalu bicara tentang kamu, memuji-muji kamu dan ternyata memang benar keadaannya,” ujar Pak Yanto.
“Terima kasih Om, Om bisa aja, saya kan cuma manusia biasa aja Om,” kilah Bayu sambil nyengir kuda.
“Nak Bayu kerja di mana?” tanya Pak Yanto lagi.
“Saya kerja di salah satu kantor SKPD pemerintah daerah Om,” sahut Bayu.

“Oh, bagus kalau begitu, masih muda udah punya pekerjaan, kerja di mana aja sama aja yang penting halal, ngomong-ngomomg Nak Bayu belum berniat cari pasangan?” tanya Pak Yanto memancing Bayu.
“Sudah ada niat Om, tapi belum kesampaian,” jawab Bayu sambil menundukan kepala.
“Ngomomg-ngomomg de Siti belum ada yang punya kan Om?” tanya Bayu malu-malu.
“Siti sudah ada yang punya,” jawab Pak Yanto tegas. Mendadak Bayu tertegun, seperti mendengar geledek di siang hari, jangan-jangan ia akan mengulangi kegagalan terdahulu.

“Kalau boleh tahu siapa orangnya Om?” tanya Bayu dengan suara lemah, kepala tertunduk tak kuasa menatap wajah Pak Yanto. “Orangnya gagah, ganteng dan mau menyayangi Siti dengan sepenuh hati dan mau menerima Siti apa adanya,” jawab Pak Yanto. Bayu kembali terdiam, seolah tidak akan ada lagi harapan untuk memiliki Siti, seakan ada dinding tebal yang menghalangi mereka.
“Kalau boleh tahu siapa lelaki yang telah beruntung mendapatkan Siti?” kembali Bayu bertanya dengan suara parau.
“Ya Bapaknya,” sahut Pak Yanto sambil tertawa terbahak-bahak. Hati Bayu kembali cair.

“Kamu kenapa nanya itu, naksir ya sama anak saya?” tanya Pak Yanto sambil tersenyum.
“Iya Om,” sahut Bayu malu-malu kucing.
“Ya sudah, kalau kamu mau serius sama anak saya, tak tunggu lamaran resmi kamu,” jawab Pak Yanto.
“Benar Om, serius Om?” tanya Bayu seakan tak percaya mendengar tawaran Pak Yanto.
“Iya Bapak serius, jangan lama-lama, nanti keburu dilamar orang,” tantang Pak Yanto sedikit berkelakar.
“Terima kasih Om,” jawab Bayu sambil langsung sungkeman, mencium tangan Pak Yanto penuh takzim.
Sementara Siti menyaksikan semua kejadian tadi dari balik jendela dengan hati berbunga-bunga.

Tamat

Cerpen Karangan: Asep
Saya penulis pemula yang lagi belajar nulis.

Cerpen Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sejarah Kembali Terulang

Oleh:
Namaku siska, aku berusia delapan belas tahun. saat ini aku sedang liburan sekolah dan ingin berkunjung ke cafe yang sudah menjadi langgananku sejak kecil yang berada di dekat rumahku.

Sedihku Musnah

Oleh:
Rintik air hujan mulai turun pukul 3 sore, membawa pesan dari matahari yang perlahan mulai tak nampak keberadaannya. Aku tidak tahu apa yang membuat hujan itu turun sore ini.

Mualaf

Oleh:
Keherananku seketika memuncak, tak kala truk yang kami tumpangi tak kunjung sampai. Waw,,,,,,,hatiku berteriak (auw…auw…g juga gini kok man). Sejauh ini kah lokasi penempatan kami, ya, kami berenam. Untungnya

Antipodes

Oleh:
“Kalian yakin, bakalan nunjuk Arka untuk memimpin rapat bareng itu kapten band?,” tanya Rio di tenah musyawarah seluruh anggota basket. “Dia kan kaptennya!,” jawab Rendy sebagai asisten Arka. “Kenapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *