Between Us (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 30 May 2019

Keesokan harinya, teror kembali datang menghampiri Cadie. Kali ini, tepat di dalam loker Cadie, terdapat sebuah bingkai foto dirinya dengan kaca yang sengaja di retak dan sebuah cutter di sebelahnya.
Tidak hanya itu saja, ada sebuah CD yang bertuliskan “nice memory” dengan warna tulisan merah gelap.

“Oh, tidak,” gumam Cadie dengan suara yang bergemetar.

Diselimuti rasa penasaran, Cadie segera membuka laptop di kelas dan membongkar isi CD itu. Beruntung saat itu jam istirahat dan kelas masih sepi.

Isi video tersebut adalah sebuah ruangan gelap yang berlangsung selama 30 detik, kemudian dilanjutkan dengan lampu yang hidup mati dengan buku yang berjatuhan. Kemudian, di menit pertama muncul seorang laki-laki dengan jaket hitam yang menutupi seluruh wajahnya dan mendekatkan wajahnya yang tertutup ke arah kamera. Bip! Kamera langsung mati dan muncul beberapa kalimat: “Apa kau ketakutan? Tunggu terorku selanjutnya. Kuharap kau menikmatinya, Cadie Fransesca^^”
Kalimat yang sama muncul namun kali ini disertai dengan nama asli Cadie.
Cadie kembali ketakutan dan mengeluarkan CD-nya. Sekarang, Cadie menjadi seorang yang sangat ketakutan.

“Siapa laki-laki itu? Lokasi tadi juga adalah perpustakaan sekolah. Apa laki-laki itu berada di sana sekarang?” Cadie menyimpan laptopnya dan berlari menuju perpustakaan. Otaknya diselimuti rasa penasaran.

Seperti yang ia duga, perpustakaan sangat sepi karena para siswa berlarian ke arah kantin. Walau jantung Cadie berdebar kencang, ia tetap mencari orang itu. Siapa tau ia mendapat informasi.

“Ooh, Cadie. Sudah lama kamu tidak ke sini,” sapa Miss Rena, penjaga perpustakaan.
“I.. iya, Miss. Ehm, Cadie boleh nanya sesuatu?”
“Mau nanya apa, Cadie?”
“Apa ada seorang laki-laki yang membuat video di sini?” tanya Cadie yang membuat suasana menjadi serius.
“Oh, kemarin ada! Dia mengenakan jaket hitam dan sempat menyapa saya. Tapi, saya tidak tahu namanya karena baru pertama kali saya lihat dia,” jawab Miss Rena panjang lebar.
Cadie tersentak kaget. “Apa Miss tahu ciri-ciri wajahnya?”
“Kalau itu saya tidak tahu karena ia mengenakan masker. Mungkin dia flu,” jawab beliau.

Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Cadie. Cadie kaget dan menoleh ke belakang. Rupanya itu Varel.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Varel.
“Hanya ingin mencari informasi saja,” jawab Cadie kemudian berpamitan pada Miss Rena dan mengajak Varel keluar.
Mereka berjalan menuju taman sekolah yang letaknya di belakang gedung sekolah. Tapi, ada sesuatu yang janggal pada Varel dan itu dirasakan oleh Cadie.

Uhuk! Uhuk! Varel terbatuk dan kemudian sempat terjatuh. Cadie membopong Varel untuk dibawa ke UKS, tapi Varel menolaknya.
“Ayolah, kamu juga pernah seperti ini saat kita kelas 1 SMP. Kau selalu saja menolak,” Cadie tetap memaksa.
“Tidakk.. aku mohon, jangan bawa aku ke UKS atau pun rumah sakit, please, uhuk! Uhuk!” Batuk Varel makin parah dan ia mulai memegangi dadanya sambile merintih kesakitan.
“Tuh, kan! Ayo kita ke UKS!” paksa Cadie memegang erat kedua tangan Varel.
“Sudah kubilang aku tidak mau!” bentak Varel kemudian menghempaskan kedua tangan Cadie. Saat itu juga, angin berhembus kencang dan Varel kabur entah kemana.
“Varel!” seru Cadie sambil mencari sosok Varel.

Kejadian ini sering Cadie alami. Varel begitu aneh. Dia tidak ingin dibawa ke UKS ketika dia sakit, angin berhembus kencang ketika ia marah, dan pernah sekali, Cadie melihat Varel melayangkan sebuah buku dengan tangan kosongnya. Namun Cadie menganggap itu hanya halusinasinya.

Dua hari setelah itu, Varel tidak pernah kelihatan dan teror sepeti berhenti menghampiri Cadie. Cadie merasa senang sekaligus sedih karena tidak bisa melihat Varel.

Sabtu sore, dimana saat itu Cadie pulang telat karena harus menghadiri rapat OSIS yang begitu panjang. Saat ia menghampiri lokernya, alangkah terkejut nya Cadie saat melihat sebuah boneka dengan tampilan seram dan sebuah cutter lagi di sebelahnya. Ternyata teror belum berakhir.
Tidak ketinggalan, ada sebuah surat yang isinya: “Sekarang? Apa kau menyerah? Apa kau penasaran dengan sosokku yang sesungguhnya? Ku harap kau menikmatinya^^”
Kalimat yang agak membuat Cadie sedikit lega. Ya, tidak ada tulisan “tunggu terorku selanjutnya.”

Puk!
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Cadie.
“Varel?” Kini posisi Cadie menghadap ke arah Varel.
“Iya, ini aku. Sebelumnya, aku minta maaf karena membentakku saat itu,” tutur Varel dengan suara yang agak serak.
“Kau tahu? Aku merindukanmu,” ucao Cadie riang kemudian memeluk Varel. Varel tersentak kaget dan membalas pelukan Cadie.
“Mungkin ini akan menjadi pelukan pertama dan terakhirku, di antara kita,” gumam Varel dalam hati.
Cadie melepas pelukannya dan mengajak Varel pulang bersama. Tapi saat Cadie menarik tangan Varel, Varel tidak bergerak sedikit pun.
“Varel?” Cadie mengguncang sedikit tubuh Varel.

Perlahan-lahan tatapan Varel mengarah ke Cadie. Wajahnya pucat, mata elangnya menatap Cadie dengan lembut, dan perlahan tangan kanan Varel mengusap kepala Cadie.
Jantung Cadie mendadak berdebar kencang. Sebelumnya, Varel tidak pernah bersikap seperti itu padanya.
Dalam hatinya, ia sangat menyukai Varel. Tapi ia tidak berani untuk mengungkapkannya.

“Apa kau menyukaiku?” tanya Varel yang sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Cadie.
“Hee? A..apa? Aku? Me..nyukaimu?” Cadie spontan kaget mendengar pertanyaan itu.

Tiba-tiba saja suasana mendadak hening. Di sore itu, di detik itu, Cadie merasa jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Cadie menundukan kepalanya dari Varel yang lebih tinggi darinya.

“Kau tahu? Aku menyukaimu Cadie,” jawab Varel. Cadie mengangkat kepalanya dan saat itu juga Varel jatuh pingsan.
“Varel!”

Beberapa saat kemudian, Varel tersadar, kondisinya tidak baik dam wajahnya semakin pucat dari sebelumnya.
“Cadie…,” lirih Varel pelan.
“Varel. Kau baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Cadie bertubi-tubi dengan wajah cemas.
“Cadie, maafin aku ya!”
“Maaf? Maaf untuk apa?” tanya Cadie tidak mengerti.
“Akulah yang menerormu selama ini,” jawab Varel yang membuat Cadie kaget.

“Dengar, aku menerormu bukan sembarangan meneror. Aku… merasa kesepian sejak kecil. Karena… aku memiliki kemampuan yang aneh. Entah mengapa, aku bisa menembus dinding dan melayangkan sesuatu dengan tangan kosong. Terlebih lagi, ketika aku marah angin berhembus kencang,” terang Varel yang melayangkan pandangannya ke langit-langit ruangan.
Cadie yang duduk di sebelahnya terlihat serius mendengarkan. Ia seperti tidak peduli terhadap teror yang dilakukan Varel kepadanya.

“Dan karena kemampuan itu, aku jadi mudah sakit. Aku beralasan tidak ingin ke UKS mau pun rumah sakit, karena aku tidak mau identitasku terbongkar saat pemeriksaan. Aku.. benar-benar merasa terjatuh dan merasa seperti orang asing di dunia ini.” Varel mengalihkan pandangannya ke arah Cadie.
“Saat itu aku sadar, penyakitku tambah parah dan semakin sering aku menggunakan kemampuanku, aku semakin frustasi dan pingsan. Aku sadar bahwa sebentar lagi aku akan mati, haha,” tutur Varel yang disertai cengiran khasnya.

Cadie terdiam dan masih menatap Varel dari atas sampai bawah. Tenaganya mulai melemah. Terbesit rasa khawatir di dalamnya.

“Aku menerormu karena aku ingin mati bersamamu. Aku bodoh, kan?”

Deg!
Jawaban Varel yang itu mampu membuat Cadie membuka mulutnya.

“Varel! Kenapa kamu berbicara seolah ingin cepat mati? Tidak ada yang tahu kapan seseorang mati dan aku…,” Cadie mulai menangis “tidak ingin kehilangan kau.”
Varel tersenyum lebar dan memegang erat jari-jemari Cadie. “Aku juga tidak ingin meninggalkanmu. Dan satu hal lagi, bisakah kau tetap di sini? Menemaniku?” pinta Varel.
“Aku akan menemanimu,” jawab Cadie.
Varel mengusap rambut Cadie dan menyeka air matanya.

“Aku mencintaimu, Cadie.”
Walau kaget, tapi Cadie senang mendengar kalimat itu. Cadie terdiam.

“Katakan sesuatu, dong! Kamu tidak bisa memaafkanku, ya?” Varel memasang wajah cemberut.
Seketika saja, Cadie tertawa. “Aku maafin kamu, kok! Dan… Aku juga mencintaimu, Varel.”
Mereka berdua tertawa dan merasakan sebuah momen yang sangat berarti. Di antara mereka, ada teror dan cinta.

Namun, Cadie merasakan bahwa Varel terlalu lama tidur setelah Mereka bercanda bersama. Ia memanggil dokter dan kesedihan kembali menyelimuti Cadie. Varel sudah tiada dan itu membuat Cadie merasa sangat terpukul.
Meski begitu, Cadie tetap masih bisa tersenyum karena Varel akan selalu ada di hatinya.

“Aku mencintaimu, Varel Agatha.”

Yang masih terbesit di pikiran Cadie adalah, siapa yang memotret Varel dari belakang saat akan mendorong Cadie? Apakah mereka bersekongkol? Atau itu tak sengaja. Karena setelah kematian Cadie, teror masih berlangsung selama tiga hari. Peneror tersebut berjenis kelamin perempuan dengan jaket hitam yang menutupinya.

Cerpen Karangan: Inne Gracea D. C.

Cerpen Between Us (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Novel Misterius

Oleh:
Namaku Doni, aku berumur 29 tahun. Aku tinggal bersama ayah, ibu, kakak dan adikku pergi meninggal. Di kamarku ada novel dengan kategori misteri. Aku sangat senang membacanya, novel itu

Ball, I Wish…

Oleh:
Kamu terdiam perlahan, melihat sesuatu yang menurutmu aneh di meja belajarmu. Sebuah kotak? Kenapa ada sebuah kotak aneh di meja belajarmu? Sebuah kotak merah berukuran kecil, dengan garis-garis warna-warni

Hutan Misterius

Oleh:
Aku dan temanku, kami ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh warga setempat. Yaitu masuk ke dalam hutan misterius. Kenapa namanya hutan misterius? Entahlah, tapi menurut salah seorang

Jam Istirahat

Oleh:
Jam istirahat sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu, dan kelas ini pun sudah mulai kosong akibat ditinggal oleh penghuninya yang pergi menikmati jam istirahatnya. Hanya menyisakan rizki dan

Alphaterrania (Part 1)

Oleh:
Bag. 1 Kenyataan Aku terbangun dari mimpi indahku, di mimpi itu, aku berada di hutan yang sangat indah, hutan yang memiliki bunga-bunga berwarna-warni, serangga yang beraneka ragam jenisnya, bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *