Between

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

7.07 AM. Pagi itu hujan. Saat kebanyakan orang mulai melakukan kegiatan di awal hari. Pagi yang ramai karena bukan hari libur. Tidak salah lagi, jika salah satu dari puluhan ibukota di Indonesia mengalami kemacetan lalu lintas. Ditambahnya lagi hujan yang belum berhenti. Sampai-sampai seorang gadis SMA ke luar dari mobil yang mengantarnya -yang terjebak macet, ia menerobos hujan dengan hanya memakai jaket lumayan tebal, menutupi kepalanya dengan topi di jaket itu. Kedua telapak tangannya ia masukkan di kedua saku di jaket itu. Kemudian berlari menyusuri trotoar menuju sekolahnya di ujung jalan tepat di perempatan jalan raya. Sambil menundukkan kepalanya menghindari air hujan yang bisa saja terkena wajahnya. Walaupun cara itu tidak terlalu berhasil, juga untuk melihat kakinya melangkah dengan benar agar tidak salah menginjak di jalan yang licin.

Tiba-tiba ada sepasang kaki yang menyamakan langkah dengannya, dan dapat ditebak dari model sepatu dan caranya melangkah bukanlah kaki seorang perempuan. Ia mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah seorang laki-laki sekelasnya. Laki-laki itu mengenakan jaket hitam dan topi di jaket itu menutupi kepalanya. Sama seperti Mayra, kedua telapak tangannya dia masukkan di kedua saku jaketnya.

“Prama?!!” Ucap Mayra sedikit terkejut.
“Hai,” jawab Prama santai, tangan yang satunya ia keluarkan dari saku jaket dan melambaikan ke arah Mayra. Kemudian ia berlari meninggalkan Mayra yang tiba-tiba juga berusaha mengejarnya. “Prama! Tunggu!!” Teriak Mayra sambil berusaha tetap hati-hati berjalan cepat di trotoar yang sedikit licin itu. Tetapi suaranya tenggelam oleh bunyi klakson kendaraan yang tiada hentinya karena kemacetan, dan suara hujan yang begitu keras jatuh ke bumi. Suaranya sampai ke telinga Prama pun kemungkinannya sangat kecil.

Prama mendengar teriakan yang memanggil namanya walaupun samar-samar. Tapi ia tidak menoleh ke belakang dan justru tetap berlari. Bukannya ia abaikan, tapi rasanya cuaca tidak menentukan untuk berbalik lagi. Sedangkan Mayra tetap berlari mengejar Prama walaupun ia tidak seperti berlari melainkan lebih seperti jalan yang cepat. Karena cuaca memang tidak menentukan ia akan berlari. Beberapa menit kemudian. Sampai keduanya bertemu di kelas, sikap mereka biasa saja. Menganggap waktu itu tidak pernah terjadi. Waktu yang memang sangat singkat, tetapi rasanya tidak mau sampai berakhir.

—-

Bagi Mayra itu adalah momen antara manis dan pahit yang menjadi satu. Terlalu bingung menentukan momen itu ke list momen manis atau list moment pahit. Bagi Prama itu momen yang… sulit dijelaskan. Kurang lebih seperti Mayra, antara manis dan pahit yang melebur menjadi satu. Mungkin kisah mereka berdua tidak jelas. Tidak tahu awalannya bagaimana. Lain kali akan aku ceritakan tentang awal cerita mereka berdua.

Cerpen Karangan: Ummi Haniefa. D
Facebook: Ummi Haniefaa
Halo.. ini cerpen keduaku yang dipublish di sini. Jika ada kritik atau saran yang membangun bisa hubungi di twitter @ummi_hnf atau langsung add id line ummihaniefa. Follow instagramku juga yaa @ummihnfaa Thank you. 😀

Cerpen Between merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dear Mantan

Oleh:
Kau tau? aku sangat merindukanmu malam ini, berharap kau pun begitu, merindukanku atau bahkan mengingatku sebagai tokoh dalam sejarah cintamu tahun lalu. Ahh.. bodohnya aku yang sangat sulit melupa

Stay With Me

Oleh:
Di suatu sore, terlihat seorang gadis duduk sendirian di sebuah kafe dengan ditemani secangkir kopi hangat sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan kafe tersebut. Sambil menyeruput kopinya, gadis

Kembali Tapi Tak Sama

Oleh:
Aku masih teringat akan temanku yang dulu pernah mengisi waktuku ya itu adalah si kecil Aji Larasati adalah siswa di salah satu sekolah, dia siswa yang aktif, fia mempunyai

Pandangan Pertama

Oleh:
“pagi Nan” sapa Disa di sekolah. “pagi Sa” sapaku balik. “lo bawa mobil?” tanya Disa. “bawa.. emang napa?” tanyaku heran. “nebeng dong” jawab Disa. “oke.. cuma nanti temenin gue

Kebaya Misterius

Oleh:
Malam itu hujan tak berhenti membasahi kota bandung, rintik air hujan semakin deras hingga suasana kota bandung yang memang selalu dingin tambah dingin dengan adanya hujan yang turun menemani

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *