Beyond The Limit (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

Semakin jauh Ed berjalan, hujan semakin mengecil. Hingga akhirnya ditemukanlah saat hujan reda yang membuat Ed melipat kembali payungnya. Langkah pria itu menimbulkan cipratan-cipratan kecil saat sepatunya menginjakkan kaki di atas genangan air yang menggenang di sekitar trotoar. Dan saat itu warna langit masih sama, tertutupi keabu-abuan yang gelap. Mungkin saja hujan hanya reda sebentar, kemudian turun lagi beberapa saat. Namun Ed lebih cepat, pria itu sudah sampai di depan tempat El bermukim sebelum hujan turun lagi.

Tok … tok … tok ….
Ed mengetuk pintu oak yang dilapisi cat putih di permukaannya dengan tangan yang mengepal. Ujung-ujung jari yang terlipat itu diketukkannya sekali lagi ke depan pintu itu sedikit lebih keras. Kali ini sambil memanggil-manggil nama pemilik rumah tersebut.
“El, apakah kau ada di dalam?” Ed setengah berteriak, khawatir gadis itu tidak akan mendengarnya. “Baiklah, aku masuk,” ucap Ed sekali lagi.
Pria itu mendorong pintu tersebut ke depan. Menggenggam kenopnya, berniat untuk membuka pintu. Namun ternyata pintu itu tidak dikunci, tetapi El sama sekali tidak menyahut. Sedikit merepotkan memang, membuat Ed merasa cemas dengan keadaan perempuan itu.

Begitu pintu terbuka, lampu-lampu di rumah El sudah padam. Ed mencoba untuk menyalakan kembali dan mencari saklar lampunya. Setelah benda-benda itu memberikan penerangan, Ed menemukan ruangan dan benda-benda di tempat itu tersusun dengan rapi dan bersih. Tampaknya El telah menata dan membersihkan rumahnya dengan baik. Dan hal ini sepertinya belum lama El kerjakan.

Keberadaan El masih belum ditemukan Ed. Pria itu masih memanggil-manggil nama perempuan tersebut supaya keluar dan menampakkan diri. Sebelumnya Ed memang pernah mengunjungi rumah itu, dan Ed juga tahu di mana letak kamar El. Hatinya sedikit bimbang, apakah dia harus pergi ke kamar El atau tidak, tetapi dirinya benar-benar cemas dan ingin cepat-cepat bertemu dengan El. Maka pria itu mengikuti nalurinya, menelisik setiap ruangan dan mencari pintu kamar El. Begitu dia temukan, Ed langsung membukanya perlahhan. Decitan yang ditimbulkan pintu tersebut terasa menggema di dalam rumah yang hening dan sepi. Ed membukanya dengan hati-hati, dan saat itu begitu terkejutlah pria itu sambil melepaskan pegangannya. Pintu itu terbuka dengan sendirinya.

“E-El?” Ed memalingkan pandangannya. Di depan pria itu berdirilah seorang gadis berambut coklat pendek yang menatapnya dengan pandangan tajam. Bola mata abu-abunya menembus mata Ed tatkala pria itu diam-diam mencuri pandangannya. Perempuan itu menggenggam gunting di tangan kanannya. Guting itu telah dipakainya.
“Apa yang kau lakukan, El?” Ed berkata dengan ragu, sangat jelas terdengar dari suaranya yang sedikit gugup. Rupanya pria itu tidak sanggup menatap El dengan rambut pendeknya yang dipotong sedikit tidak rapi. Mungkin memang tidak rapi, tetapi bagi Ed perempuan itu sangat lucu sekali. Ed terlalu kagum dengan penampilan El yang seperti itu.
“Apa yang lebih penting, impian atau harapan, Sir?” El berkata dengan nada datar, matanya masih menatap Ed dengan lekat. Akhirnya Ed memberanikan diri untuk menatap El. Namun begitu dia menyapu seisi kamar dengan pandangannya, Ed hanya sedikit menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal. Sedikit gugup dan tidak mengerti dengan sikap istimewa perempuan itu.
“Begini, El, kau harus mendengarkanku. Jangan memotong rambutmu sembarangan, kau itu cantik dan potongan itu jelek, oke? Jadi kau harus merapikannya nanti. Dan kamarmu, kau harus membersihkannya, menata ulang tempat itu seperti tempat-tempat lain di ruangan ini, itu akan lebih baik,” Nasihat Ed sambil sedikit menundukan badan, mencoba menyamai tinggi badan El. Kemudian pria itu menghela napas panjang, bersender di tembok sambil menatap ke arah El.
“Kenapa Anda masuk ke rumahku sembarangan, Sir? Anda pikir ini rumah Anda? Apalagi Anda melihat-lihat setiap sudutnya dengan teliti, benar-benar mencurigakan.”
Ed melipat kedua tangannya di atas dada, menyimpulkan bahwa El tampaknya tidak berang padanya. Terlihat seperti biasa saja, seperti El yang sering dia temui.
“Kenapa kau tidak menyahut, El. Aku khawatir dengan keadaanmu. Kau harusnya lebih memperhatikan diri sendiri, lihat matamu! Kau seharusnya banyak beristirahat, jangan memaksakan diri,” ungkap Ed tanpa menatap El. El memandang keramik lantai seperti biasanya, menunduk.
“Artinya aku tidak membiarkan Anda masuk. Dan lagi, Anda belum menjawab pertanyaan pertamaku.”
“Oh, kau mengutipnya dari orang yang menginspirasimu, bukan?”
Kata-kata itu terdengar begitu ringan dari mulut Ed, membuat El terdiam dan mendongak ke arah Ed. Pria itu menatapnya balik, dia mencoba untuk menyikapi El dengan cara yang berbeda.
“Lucu sekali, ya. Orang yang menginspirasi banyak manusia mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis, bunuh diri. Berusaha menyelamatkan orang lain dengan kata-katanya, tetapi ternyata orang itu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Ironis sekali,” ungkap Ed sambil menggeleng-gelengkan kepala. El semakin menunduk, rambut pendeknya menutupi sebagian wajah gadis itu.
“Apakah Anda berpikir bahwa aku ini sudah menyerah?” El berbisik, nada suaranya menyiratkan hal yang berbeda. Ed mencoba mencuri pandangannya, penasaran dengan raut wajah El yang tidak jelas tertutupi helai rambutnya yang lemah terjatuh ke depan.
“El …” Lagi-lagi pria itu luluh melihat perempuan itu tertunduk lemah. Bahunya bergerak-gerak sedikit ke atas, tampak seperti orang yang terisak. Baru kali ini Ed melihat sikap El yang seperti ini. Mungkin kali keduanya Ed melihat tangisan El setelah malam kemarin.
“Aku akan menyelamatkanmu, El!” Ed berkata seraya memeluk El dengan cepat agar perempuan itu tidak lagi menghindar. Namun kali ini berbeda, El malah terisak lebih keras dengan suara tangisannya yang menggema di sekitar ruangan. Dalam pelukan Edward. Apakah musim semi telah tiba?
“Apa kau pikir aku ini sudah putus asa?” El kembali bertanya di tengah tangisannya. Ed begitu mengerti bahwa beban yang telah dipikul gadis itu cukuplah berat. Terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Sebenarnya hal yang El butuhkan hanyalah orang yang tulus berada di sampingnya, menemaninya dan mampu menerima El apa adanya. Orang seperti itulah yang dia butuhkan. Namun El terlanjur sulit untuk mempercayai seseorang, semua karena takdir dan jejak yang telah dilewatinya.
“Aku akan menemukan pembunuh Thalita, El. Dan jika dia bunuh diri, aku akan menemukan motifnya untukmu, aku percaya bahwa perempuan itu tidak akan mengakhiri hidupnya begitu saja. Jadi mohon tunggulah, aku berjanji akan memecahkannya hanya untukmu saja,” ungkap Ed, seraya melepaskan pelukannya dan berlutut di hadapan El. Pria itu membelai lembut rambut El, sambil tersenyum menatapnya.
“Bodoh,” El bergumam pelan, masih dengan air mata yang jatuh di pipinya. “Kau tidak akan pernah bisa memecahkannya,” ucap El sambil mengalihkan pandangannya. Tidak ada hawa apapun dari tatapannya itu, tetapi Ed mulai merasakan kehangatannya itu.
“Aku berjanji padamu akan melakukan semuanya sampai batasku, karena aku … mencintaimu, El …” ungkap Ed, berdiri dan menatap mata Ed dengan serius.
El menunduk. Perempuan itu berjalan melewatinya. Namun beberapa saat dia terhenti, berdiri di antara dinding putih di rumah itu.
“Kalau begitu buktikanlah,” bisik El pelan. Namun Ed masih bisa mendengar suara yang lebih pelan dari itu.

Kabut yang tersisa setelah hujan memenuhi daerah pemakaman. Membuat tempat itu menimbulkan hawa yang lebih mencekam dari biasanya. Ed menyimpan seikat karangan bunga di atas makam orang yang belum lama ini kasusnya menjadi pembicaraan hangat media, Thalita Jordan. Ed berlutut di sana, mengunjungi makam itu sebelum akhirnya kembali menelusuri kasus dari awal.

“Apa yang sedang Anda lakukan, Tuan?” Sebuah suara kecil tiba-tiba melewati gendang telinga Ed. Begitu pria itu berbalik, berdirilah seorang gadis kecil dengan kuncir dua mengenakan dres putih selutut tanpa motif.
“Kenapa kau berani sekali berdiri di depan makam Ibuku?” Pandangannya mengintimidasi, Ed mengernyitkan dahi menatap gadis itu.
“Apakah dia adalah Ibumu? Thalita Jordan?”
“Sebenarnya aku ini adalah anak angkatnya, tapi sayang sekali bahwa dia meninggal begitu cepat, padahal usianya masih sangatlah muda untuk orang tua,” gadis kecil itu berjongkok, mengusap air yang mengenang di atas nisan makam itu. “Tapi tidak apa-apa, jika Ibu memang senang dengan hal itu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ibu karena beberapa hari ini aku ingin menginap di rumah temanku, aku menyesal tidak bisa mencegah Ibu melakukan hal ini,” Mata gadis itu melotot, tetapi seketika kembali seperti biasanya.
“Tetapi Tuan, apakah Anda adalah orang yang masih penasaran dengan kasus Ibuku? Aku hanya memohon kepadamu untuk berhenti saja. Para polisi dan orang-orang berjas yang mengintrogasi itu, semuanya sudah membuatku frustasi. Jadi Tuan kumohon, berhentilah!” Mata gadis itu menyorotkan tatapannya dengan penuh ancaman.

Suara dering telepon menderu berkali-kali, tapi gadis itu masih terdiam seraya menggenggam secarik kertas yang berisi tulisan sambung penuh di setiap garisnya.
Bip. Halo, El. Ini aku Ed. Aku ingin memberitahumu tentang kemajuan kasus ini. Sebenarnya ini hanya hipotesisku sementara, jadi biarkan aku memberitahumu. Aku baru saja mencari tahu soal Paula Ghanner, anak angkatnya Thalita. Kupikir anak itu sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, dia agak aneh dan menakutkan. Kupikir ini ada hubungannya dengan kematian Thalita. Wanita itu memang bunuh diri, tapi senjata yang digunakan itu telah dimusnahkan oleh Paula, begitulah pikirku. Dan aku menemukan salah satu alasannya, Paula itu jenius, dia ingin membunuh Thalita. Entah apa alasannya, tetapi Thalita pasti tau bahwa dia akan dibunuh. Maka dari itu Thalita bunuh diri karena suatu alasan, mungkin itulah hal yang tidak aku ketahui. Aku akan mencarikannya untukmu, walaupun semua yang kukatakakan hanya dugaan sementara, aku berhasil menganalisa karakter Paula yang ganjil itu. Kami bertemu di pemakaman umum di mana jasad Thalita dikebumikan. Dan karena hal itu, aku menemukan kemungkinannya pada diri Paula. Semoga kau paham, El. Sampai jumpa.
Suara itu berakhir begitu saja. Gadis itu berdiri dan menjatuhkan surat yang daritadi digenggamnya. Berjalan ke luar dengan langkah gontai, meninggalkan ruangan. Air matanya turun dibarengi dengan senyum kecil yang mungkin tidak pernah Ed lihat sebelumnya.
“Sudah cukup, Ed. Kau memang cukup berhasil …” bisik gadis itu pelan.

Angin sepoi mengembus, menerbangkan secarik kertas itu, tertebak angin dan terbukalah seluruh isinya.

13 Desember
Untuk Edelweis,
Apa kabarmu, El? Mungkin kau sangat sibuk dengan hari-harimu sehingga tidak bisa menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. Aku memakluminya.
Sebenarnya ada hal penting yang harus kuberitahukan padamu sebelum akhirnya terlambat. Aku akan segera pergi, maka kau harus menjaga hal ini dariku. Aku mengangkat seorang anak yang bernama Paula Ghanner. Dia jenius sepertimu dan berhasil meretas komputerku yang berisi data penting dan segala hal yang berhubunganku. Namun dia tidak sampai sejauh itu, maka sebelum itu terjadi aku harus menjaganya dengan nyawaku.
Ada sesuatu yang harus ditemukan oleh seseorang dari diriku sebelum orang lain tahu. Namun hal ini seperti aku yang memaksa dan membebanimu. Jadi aku tidak akan memaksakannya padamu karena suatu hari nanti segala misteri ini akan terungkap dengan sendirinya. Pilihanmu hanya dua, mencarinya atau tetap diam. Aku tak akan memaksamu. Dan jika kau bertanya mengapa aku menginginkan orang itu adalah kau, Edelweis Wilhelm, maka jawabannya karena kau adalah orang jenius yang murni, yang aku percaya tidak akan melakukan hal yang buruk. Jadi sebelum semuanya berakhir, aku akan memberitahunya kepadamu. Kuncinya ada padaku
Salam Hangat,
Thalita Jordan.
Kepada: Sir Edward

Kau harusnya tahu alasanku mengundurkan diri dari profesi ini.

Gadis itu berhenti. Menghapus ketikannya dengan jari jempol dan mulai menggantinya dengan kata-kata yang lain.
Maaf aku tidak bisa memberitahukan semuanya padamu. Sudah cukup, Ed. Jangan memaksakan batasmu. Terimakasih Untuk segalanya.

Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi

Cerpen Beyond The Limit (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Merah Darah

Oleh:
Seorang gadis berlari di lorong rumah sakit, seakan ada yang sedang mengikutinya. Dia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat mukanya pucat tak karuan. “Tolong!” “Tolong, aku!” Suara rintihan minta tolong

My Diamond

Oleh:
Waktu itu gue duduk di kelas 2 SMP, kenalin nama gue nirmala temen-temen biasa manggil gue mala. gue ikut berbagai kegiatan di sekolah contohnya aja kayak osis. Ekskul osis

Kereta Terakhir

Oleh:
Aku meminta Asep, salah satu petugas office boy di kantor untuk membuat pesanan lemburku seperti biasa. segelas kopi hitam small size dengan 2 sachet gula bebas kalori dan diberikan

Dear Rosi (Part 1)

Oleh:
“Rosi.. rosi.. bangun nak.. kamu udah baikan sayang?” Teriak ibuku dari balik pintu kamarku. Samar terdengar suaranya, pikiranku teringat kembali dengan kejadian semalam dimana aku melihat cowok yang menjalin

Rasa Dalam Jarak

Oleh:
Sore itu di bawah terali sakura yang menaungi gang kecil tempat kita bertemu, dengan semburat sinar dan semilir angin menyusup melalui celah ranting yang terkembang mekar, kau bilang bahwa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Beyond The Limit (Part 2)”

  1. Patrice Vani Hosana says:

    Maksudnya apa sih? Ada kelanjutannya nggak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *