Bidadari Jilbab Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

Pagi itu mentari datang seperti biasa, hanya ada sedikit perbedaan yang tidak begitu mencolok. Langit terlihat begitu biru, hanya ada sedikit awan putih di beberapa sudutnya. Tapi suasana pagi itu terasa sekali ada yang berbeda, entah apa yang membuat berbeda. Ada yang menggelitik dadaku, seakan menyuruhku untuk tersenyum tapi tak tahu senyum kenapa dan pada siapa. Ah… kenapa ya… hari ini ada yang terasa aneh bagiku.

Secangkir kopi panas dan sebatang rok*k filter menjadi awal pagiku. Keanehan yang indah pagi ini tak begitu kuhiraukan, mungkin hanya efek dari cerahnya pagi.

Seperti hari-hari kemarin, setelah mandi dan rapi aku berangkat kerja tanpa sarapan. Berjalan menyusuri jalan desa yang aspalnya sudah tinggal separuh. aku tinggal di sebuah desa yang agak jauh dari keramaian kota. Sebuah desa yang masih asri dengan pepohonan yang rindang dan keramahan masyarakatnya. Terletak di selatan gunung Sumbing, desa yang merupakan lintas batas tiga kabupaten Magelang-Purworejo-Wonosobo. Setelah lulus sekolah SMP, aku langsung bekerja untuk menyambung hidupku setelah kedua orangtuaku meninggal. Menjadi anak tunggal dan yatim piatu bukanlah masa kecil yang ringan buatku, tapi itu semua menjadikanku tahan banting dan tidak cengeng menghadapi hidup. Aku bekerja di sebuah percetakan sebagai desainer grafis. Penghasilanku memang tak banyak, tapi sudah cukup untuk biaya hidupku sehari-hari dan menabung. Oh iya, umurku 25 tahun, pria lajang dengan umur setua ini di desaku sudah hampir punah, tinggallah aku fosil hidup dari bujang lapuk desaku.

Sembilan tahun aku hidup dengan penghasilanku sendiri, baik dari gaji kerjaku ataupun dari sawah dan ladang peninggalan orangtuaku. Rasanya lama juga aku hidup sendiri, rasanya lelah juga setiap hari harus nyuci, masak, tidur bahkan memecahkan masalah sendiri. Huhhhh… tapi siapa juga yang mau bujang tua ini. Aku terlalu sibuk bekerja hingga tidak terfikir untukku berpacaran. Tapi aku yakin, suatu saat nanti jodohku pasti akan datang padaku.

Dulu waktu masih kanak-kanak, aku pernah punya sahabat namanya Nilam Sari. Dia anak bude Ningsih istri dari almarhum mantan kepala desa. Bude Ningsih orangnya baik, ramah, tapi kadang juga galak. Dia adalah teman sekelasku mulai dari waktu SD sampai lulus SMP. Setelah lulus SMP dia melanjutkan sekolahnya di SMA 1 Wonosobo. Otaknya memang jauh tinggi di atasku, dia tidak pernah absen dari peringkat satu bahkan sampai lulus SMA. Satu tahun dari kelulusannya dari SMA, Nilam menikah dengan seorang sarjana ekonomi yang bekerja di sebuah bank swasta di Wonosobo. Tak lama dari pernikahannya suami Nilam dipindah tugaskan ke Jakarta. Nilam bersama suaminya pindah ke jakarta dan tinggal di sana, hanya pulang beberapa kali dalam setahun. Sayangnya waktu anak perempuan satu-satunya umur 2 tahun suaminya meninggal karena sakit jantung. Kini gadis kecil yang bernama Adelia itu sudah 4 tahun. Nilam yang aku kenal hatinya terbuat dari baja meteor, ketabahannya sering membuatku salut dan malu pada diriku sendiri. Meskipun sendirian dia tetap berjuang untuk melanjutkan hidup. Usaha tokonya tetap ia jalankan walau tanpa suaminya. Akan tetapi karena ibunya sudah sepuh dan tinggal sendiri, dia memutuskan menjual seluruh asetnya yang ada di jakarta dan memulai hidup baru di desa bersama bude Ningsih. Tiga hari yang lalu saat aku beli rok*k di warung dekat rumahku, aku bertemu dengan bude Ningsih.

“Nak Dwi… tadi pagi Nilam sudah pulang dari Jakarta. Sekarang dia mau menetap di sini sama ibu dan usaha di sini” kata bude Ningsih sambil berbelanja kebutuhan dapur di warung yang sama denganku. aku cuma mengangguk-ngangguk dan mendengarkan panjang lebar ceritanya. Rasa lapar yang tadinya sempat hinggap ke perutku entah pergi ke mana. “Ya mbok dolan ke rumah…! nggak kangen po? dulu kan tiap hari mainnya bareng terus sama Nilam.” Sambil menepuk pundakku dan tersenyum. “Iya bu… nanti kalau sudah sempat tak main. Sudah lama juga nggak ketemu si Nilam yang bawel itu.” kataku disambut tawa bude yang renyah sambil berlalu. “Beneran lho, nanti tak sayurke ongseng kacang panjang dan sambel trasi kesukaanmu”.

Pagi ini aku sengaja berangkat agak siangan, siapa tahu aku bisa menyapanya walaupun hanya sebentar. Sambil sesekali menghisap rok*k, aku berjalan sambil mengenang masa kecilku bersama cewek tomboi yang bawel itu. Sampai-sampai karena larut dalam lamunanku, aku tak menyadari ada yang memperhatikanku dari depan.
“He… cowok cengeng…!!! jalan yang bener donk, jangan sambil ngalamun.” Seluruh lamunanku buyar, dan aku dikejutkan paras cantik berjilbab biru dengan senyum ketusnya. Sejenak kupandangi tanpa kata wajah itu.
“Mas Dwi… apa kabar? udah ngelamunnya nanti dilanjutkan lagi.” Katanya sambil melambaikan tangan seakan mau memukul wajahku.
“Nilam… kabarku baik, sehat, cuma agak kurusan. Kamu sendiri gimana kabrnya?” kataku sambil setengah malu.
“Alhamdulillah baik, mas. Sekarang aku menetap di sini lagi. Kasihan ibu, sendirian di rumah. Sekarang sombong ya, aku dah di rumah tiga hari, nongol aja nggak”. Kata Nilam masih bernada ketus.
“Maklum… namanya juga bujangan. Semuanya serba sendiri. Hehehe…” kataku sambil menggaruk kepala yang nggak gatal.
“Tumben jalan kaki, mas? perasaan kemarin aku lihat njenengan naik motor.” tanya Nilam
“Motorku di bengkel, kemarin rusak. Jadinya hari ini aku naik angkot. Maklum motor tua.” Jawabku sambil nyengir.
“Ya udah hati-hati jalannya jangan sambil ngelamun lagi, entar ketabrak mobil” Kata Nilam sambil melanjutkan jalannya menuju warung.
“Siap, bu…” jawabku sambil berlalu meninggalkan percakapan kami.
Belum jauh aku berjalan Nilam yang kembali aku lamunkan memanggilku.
“Mas… nanti ke rumah ya…! TV ibu kumat lagi, gambarnya ilang semua. Kata ibu, biasanya mas Dwi yang benerin”
“Oh ya, nanti pulang kerja aku mampir.” kataku sambil tetap melamunkan masa kecil kami.

Hari ini pekerjaan tak terlalu banyak, waktuku terasa lebih panjang dari biasanya. Di sela-sela pekerjaanku sesekali aku terbengong dan senyum-senyum sendiri. Kebetulan bosku juga nggak datang, jadi hari semakin panjang saja rasanya. Setelah sholat ashar aku pulang dengan naik angkot dan turun di pertigaan jalan menuju desaku. Setelah sepuluh menit berjalan kaki, sampai juga di depan rumah kayu mewah berarsitektur jawa yang masih tetap terawat walaupun sudah lebih dari satu abad umurnya. Tak ada kesan angker ataupun rapuh, karena rajinnya bude Ningsih merawat penginggalan kakeknya itu.

“Masuk mas, udah ditunggu dari tadi sama ibu.” Sapa Nilam.
“Ya… maaf tadi pulangnya agak lambat, soalnya angkotnya kelamaan ngetem di terminal tadi” jawabku.

Setelah masuk dan duduk di ruang tamu dan di suguhi teh manis kental khas orang jawa dulu, aku disuruh makan dulu dengan ongseng kacang panjang dan sambel trasi yang dimasak bude Ningsih. Memang semenjak orangtuaku meninggal bude Ningsih sangat perhatian padaku. Sering kali aku disuruh ke rumahnya hanya untuk dimasakkan ongseng kacang panjang dan sambel trasi. Aku merasa kasih sayang bude Ningsih padaku sama seperti pada anaknya.

“Ini spesial buatan ibu lho, mas. Katanya khusus buat mas untuk upah mbenerin tv. Karena kata ibu mas nggak pernah mau kalau dikasih uang.” Katanya sambil menemaniku makan.
“Aku tuh sampai ngiri, aku yang anaknya aja nggak pernah dispesialin kayak gini” Aku cuma mendengarkan obrolannya sampai selesai makan. Sesekali Adelia berlarian bermain bola di sekitar kami. “Setomboi ibunya” kataku dalam hati.

“Oh nak Dwi. Dah dari tadi? maaf bude barusan dari masjid. Tadi memang bude pesen sama Nilam agar nak Dwi biar makan dulu, baru mbenerin tvnya.” Kata bude Ningsih sambil membawa mukena dan sajadah ke kamarnya.
“Biasanya sebelum ahsar dah sampai rumah, tumben kok sampai sore banget pulangnya?” tanya bude Ningsih sambil duduk di kursi ruang keluarga.
“Itu motornya lagi ngambek, masih di bengkel” sahut Nilam sebelum aku sempat menjawabnya.
“Mbok ya itu motor bude dipakai dulu, lha wong motor ada dua. Semenjak Angga pergi ke Sumatra di tinggal di sana, motornya banyak nganggur. Daripada nanti malah rusak karena nggak pernah dipakai.” Tukas bude Ningsih.
“Makasih, bude. Besok juga dah jadi kok” jawabku sambil membongkar booster tv yang kabelnya lepas milik bude Ningsih.
Setelah selesai memperbaili tv yang ternyata hanya kabelnya yang lepas karena kendor, aku masih melanjutkan obrolan dengan Nilam, sedangkan bude asyik menemani cucunya bermain di ruang yang sama. Sesaat sebelum maghrib aku pamitan pulang karena lampu-lampu rumahku belum kunyalakan dan ada pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan. Aku pun pulang ke rumah dengan membawa bahagia. Aku merasa seperti kembali mempunyai keluarga yang utuh, karena keramahan dan kehangatan mereka.

Beberapa hari sekali sepulang kerja aku selalu disuruh ke rumah bude, entah mbenerin kompor gas, mbenerin laptopnya Nilam, HP, genteng bocor, dan hal-hal semacam itu. Aku semakin akrab dengan Nilam dan Adelia anaknya. Entah kapan mulainya, tapi aku merasakan perlahan-lahan mulai menyayangi mereka. Aku tak tahu apakah Nilam juga merasakan hal yang sama atau tidak. Seandainya iya pun, rasa itu mungkin hanya sebatas rasa sayang seorang sahabat karib.

Suatu saat tempatku bekerja telilit hutang yang banyak dan jalan satu-satunya adalah menjual semua aset. Maka terjadilah, tempatku bekerja bangkrut dan tutup. Walaupun aku kehilangan pekerjaanku, tapi tak ada kata nganggur buatku. Aku alihkan kegiatanku mengurusi sawah dan ladang peninggalan orangtuaku yang sebelumnya aku serahkan ke pamanku untuk digarapnya. Sesekali ada aja orang yang memintaku untuk mengantarkan rombongan ke luar kota. Karena keahlianku menyetir, satu-satunya aset Nilam yang tidak dijual di Jakarta adalah mobil APVnya dipinjamkan kepadaku jika ada rombongan yang menggunakan jasaku.

Suatu saat bude sekeluarga mau pergi ke magelang berkunjung ke saudaranya yang hajatan. Aku yang diminta menjadi sopir untuk mengantarkannya. Tak pelak karena acara hajatan pernikahan aku juga diminta berdandan rapi dan ikut menghadiri pernikahan itu. Tidak seperti sopir biasanya yang hanya menunggu di parkiran. Saat memasuki acara tersebut banyak mata yang rasanya memperhatikanku, karena Adelia minta bopong padaku. Disamping sifat manjanya padaku, di mobil Adelia tidur. Mungkin masih ngantuk dan malas untuk jalan sendiri. Aku pura-pura tak tahu dan tak kuhiraukan. Sedang bude dan Nilam berjalan di depan kami sambil sesekali bersalaman dan bertegur sapa dengan saudara-saudaranya.

“Alhamdulillah mbakyu, akhirnya datang juga. Harusnya itu dari kemarin njenengan sampai sini, masa ponakane nikah kok ra ditunggoni” Sapa seorang ibu yang kemungkinan besar ibu dari mempelai.
“Maaf dik, sedianya mau berangkat kemarin, tapi kemarin Nilam habis dari Wonosobo ngurus KK dan KTPnya” Jawab bude sambil masih bersalaman dengan ibu itu.
“Jadi nak Nilam akhirnya menetap di Wonosobo lagi?. Ya syukur, jadi mbakyu sekarang tinggal santai, kan dah ada Nilam.” Kata ibu itu di sambut anggukan dan senyum Nilam.
Aku hanya seperti kambing congek yang hanya bisa tersenyum malu karena tak seorang pun ada yang aku kenal.
“Lho mas ganteng ini siapa mbakyu, aku kok kayaknya belum pernah ketemu.” tanya ibu itu pada bude sambil meraih tanganku untuk bersalaman. Aku agak sedikit kerepotan menerima tangannya karena menggendong Adelia.
“Ini anakku juga, namanya Dwi. Dia putera dari pak almarhum Jahid dan almarhumah bu Sumi. Dari ayahnya Nilam masih terhitung plunan. Kakeknya Nilam dari bapak itu kakak adik dengan kakekknya nak Dwi. Tapi aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri” kata bude. Mendengar itu hatiku terharu seakan air mataku meronta ingin keluar, tetapi aku tahan dan aku samarkan dengan senyumanku yang mungkin terlihat agak kaku.

Dalam perjalanan pulang aku masih terngiang kata-kata bude tadi. Bude dan Adelia duduk di bangku belakang, sedang Nilam berada di sampingku. Mungkin karena kelelahan semua terlelap, hanya aku yang berjuang menahan kantukku. Sesekali aku pandangi wajah ayu Nilam yang tersandar di kaca pintu mobil. Sesekali kunikmati wajahnya sesaat, dan rasa kantukku pun terkalahkan. Seandainya saja wanita berjilbab biru ini adalah istriku.
“Mas… nyetirnya yang konsen…!” kata Nilam sambil masih menutup matanya. Aku terperanjat, dalam hatiku takut jangan-jangan dia tau kalau sesekali aku memandang wajahnya.
“Siap… bu.” jawabku dengan wajah agak pucat, karena takut ketahuan.
“Aku tuh nggak tidur mas, capek sih. Tapi nggak bisa tidur” kata Nilam sambil beranjak meluruskan duduknya.
“Mas Dwi belum kepikiran nikah po? ingat umur, mas.” ejeknya sambil meraih minuman di dashboard.
“Bukannya nggak mikir nikah, tapi masih belum nemu yang sreg di hati aja.” Jawabku sambil menghisap rok*k.
“Emang mau nyari yang kayak apa? yang cantik banyak, yang pinter juga banyak” katanya sambil ngutak-atik smartphonenya.
“Iya sih, tapi bukan itu yang aku cari, aku pingin yang nanti jadi istriku itu benar-benar bisa mengerti keadaanku, ekonomiku yang pas-pasan dan banyak lagi kekuranganku” kataku tetap sambil melihat ke depan.
“Terus… yang cocok dengan kriteria seperti itu siapa, mas? Emang temen-temen sekantor mas dulu nggak ada?” tanyanya.
“Temen sekantor mana ada yang cocok, temen sekantorku itu cowok semua. Ada satu cewek pun anaknya bos udah nikah lagi.” jawabku ketus.
“Nasib-nasib… salahmu sendiri sih mas. Aturan Njenengan itu kerjanya yang banyak ceweknya” ejeknya sambil terbahak menertawakanku.
“Emang selama ini nggak pernah pacaran?” tanyanya masih sambil tertawa.
“Bukannya nggak mau pacaran, cuma nggak ada yang mau.” katau sambil tertawa.
“Kalu suka seseorang pernah kan?” tanyanya masih sambil menyisakan tawa.
“Pernah sih, ada seseorang. Tapi… sudahlah, mikirin nikah malah nambah pusing aja. Hehe” sambil kuhembuskan asap rok*k yang barusan memenuhi paru-paruku, mungkin saja penat di dadku juga bisa ikut terbuang.
“Udah… mas. Nggak usah pikir panjang lagi, langsung nikah aja. Kelamaan keburu kiamat.” Katanya memecah desahan penatku.
“Nikah…nikah…!? nikah ama siapa? pacar aja nggak punya. Cewek yang aku kenal deket cuma kamu. Nikah sama kamu…?!!!” Jawabku sedikit ketus.
“Iya, mas. Nikah sama aku aja, daripada nggak laku…” katanya sambil tertawa lebih terbahak-bahak. Kami pun tertawa lepas tanpa beban, sampai keluar air mata. Tapi tiba-tiba dia sedikit meredakan tawanya sambil menatap jauh entah kemana. Kani berdua terdiam, saling terpaku dalam keheningan.

Tak lama kami sampai di rumah bude dan setelah semua turun aku langsung memarkir mobil di samping rumah. Sedianya aku mau langsung cuci mobilnya, akan tetapi bude mencegahku. Besok saja katanya, kasihan kamu dah kecapaian. Sejurus aku langsung pulang dan kurebahkan badanku di sofa ruang tvku. Masih terngiang tawa tawa dan senyum Nilam tadi, seakan tak mau pergi dari benakku. Wajah ayu dengan jilbab biru. Selama ini aku selalu melihatnya memakai jilbab dengan warna biru. Kadang biru polos, kadang tosca, kadang bunga-bunga, tapi selalu biru. Hanya beberapa kali aku melihatnya mengenakan jilbab selain warna biru, itupun warna ungu dan hijau yang mendekati biru. Memang warna kesukaannya biru, dari kecil beli barang apapun selalu biru.

Malam itu aku terlelap entah jam berapa di sofa itu, setahuku adzan shubuh musholla yang tidak jauh dari rumahku memanggilku dari alam mimpi. Karena tak ada acara lain, pagi ini aku langsung menuju rumah bude untuk memandikan si ganteng APV. Selesai nyuci mobil, bude sudah membuatkan kopi panas disandingkan singkong goreng, tak lupa sebungkus rok*k 76 filter. Setiap aku mengantarkan bude memang aku selalu menolak jika akan diberi upah, Jadi inisiatif bude selalu memberikan rok*k 1 bungkus untukkusebagai imbal jasa.

“Nak… diminum dulu kopinya mumpung masih panas.” sambil menemaniku duduk di teras rumah.
“Iya… bude.” Jawabku seraya meraih cangkir kopi yang masih panas.
“Adelia mana, bude? kok nggak kelihatan.” tanyaku sambil menyulut sebatang rok*k.
“Dia lagi didaftarin PAUD sama ibunya. Sekarang kan sudah 4 tahun.” jawab bude Ningsih sambil menyodorkan singkong goreng yang segera kuraih.
“Ooooh, pantesan. Biasanya kalau saya datang pasti langsung minta gendong ngajak jalan-jalan.” Kataku sambil menikmati singkong goreng hangat yang gurih.
“Nak Dwi, belum pingin nikah po? Yang sepantaran kan dah pada punya anak semua. Si Nilam aja yang sekolahnya satu kelas anaknya sudah 4 tahun.” Tanya bude sambil tersenyum.
“Belum ketemu jodohnya kali, bude.” Jawabku klise setiap bude bertanya seperti itu.
“Nak…” kata-kata bude terputus sebentar. Dengan nada lirih dan agak serius dia meneruskan kata-katanya, aku pun sedikit memelankan kunyahanku dan memperhatikan kata-kata bude dengan serius. Dia jarang sekali berbicara seserius ini.
“Seandainya saja… ini cuma seandainya lho. Jika tidak berkenan jangan diambil hati”. kata bude, aku semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan bude dan kutelan semua sisa kunyahan singkong di mulutku.
“Sekali lagi ini seandainya, bude kan sudah nganggep nak Dwi seperti anak sendiri. Jika seandainya bude minta nak Dwi benar-benar menjadi anak bude gimana?” kata bude sambil menatap tajam kepadaku. Aku tertegun dan bingung apa maksud perkataan bude itu.
“Maksud bude gimana?” tanyaku dengan nada yang sama sekali tak faham apa yang dimaksudnya.
“Gini, nak… Nilam kan sudah dua tahun membesarkan Adelia seorang diri. Bude merasa setegar-tegarnya Nilam, dia tetap butuh seorang pendamping hidup. Sosok seorang ayah juga sangat dibutuhkan Adelia. Sekali lagi ini seandainya, mengingat status Nilam yang janda, maaf sekali lagi ini juga jika nak Dwi berkenan dan tidak keberatan.” jelas bude. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan dan bingung mau jawab apa. Sejenak aku terdiam tak tahu mau jawab dengan bahasa apa. Seakan bahasa sehari-hari pun hilang dari lidahku. Belum sempat aku menjawab, bude kembali menyambung kata-katanya.
“Maaf nak, jika kata-kata bude menyinggung nak Dwi.” katanya dengan nada menyesal.
“Bukan itu maksud saya, bude.” Jawabku agak terburu dan terbata.
“Sebenarnya saya juga punya niat melamar Nilam, jujur sebenarnya kedekatan saya dengan Nilam dan Adelia terasa berbeda buat saya. Saya menyayangi Nilam dan Adelia, tapi saya masih perlu waktu untuk berbicara dengan Nilam. Dan saya takut perasaan saya ini malah akan merusak persahabatan kami.” sambungku.
“Alhamdulillah… syukurlah kalau begitu. Tak sengaja kemarin bude mendengar candaan kalian di mobil. Pikir bude kenapa tidak diseriuskan candaan kemarin. Bude juga sudah ngobrol sama Nilam dan dia juga suka sama nak Dwi. Tapi karena statusnya yang janda itu menjadikan dia tidak percaya diri.” kata bude dengan nada yang sudah berbeda. Terlihat dimatanya rasa bahagia yang juga aku rasakan. Debar jantungku belum sepenuhnya teratur. Beberapa saat kami melanjutkan perbincangan kami dengan nada yang sudah mulai mencair setelah beberapa saat terksan serius dan agak canggung.

Sepulang dari rumah bude, tanpa pulang ke rumah aku langsung ke rumah pamannku yang jaraknya sedikit agak jauh. Aku menceritakan semuanya ke pamanku, karena karakternya yang tegas dia segera akan melamar Nilam secara resmi keesokan harinya. Karena dia juga pingin keponakan satu-satunya ini segera menikah.
“Ya udah besok sore kamu siap-siap dan kabari calon istrimu itu, kita mau datang melamar”. perintah pamanku.
“Tapi… paman. Aku kan belum siap apa-apa untuk menikah.” jawabku gelagapan.
“Itu dipikir nanti, yang jelas kita datang melamar dulu. Masalah waktunya kapan kita bicarakan saat acara lamaran nanti” tukas pamanku. Hari ini kamu harus ketemu Nilam dulu dan bicara tentang ini.

Bakda dzuhur aku datang ke rumah bude untuk ketemu Nilam. Terang saja aku disambut dengan senyum sipu dari bidadari yang berjilbab biru itu. Kali ini Nilam terlihat berbeda dari biasanya. Nada bicara yang ketus dan tatapan matanya yang tajam tak terlihat lagi. Dia hanya menunduk dan sesekali mencuri pandang padaku. Kami berdua hanya saling terdiam. Lidahku kelu kali ini, padahal biasanya kami selalu ngobrol dan bercanda. Aku mencari seribu jurus hanya untuk membuka pembicaraan.
“Adelia mana, kok sepi gini?” tanyaku basa-basi untuk memecah keheningan.
“Anu… ikut ibu ke pengajian di masjid” jawab Nilam sambil masih menunduk tanpa melihatku.
“Gini… sebenarnya… eeee… sebenarnya … eeee” kataku sambil grogi seperti anak SD diuruh maju di depan kelas untuk menghafalkan pancasila.
“Eeee… aku mau bilang sesuatu sama kamu.” kata-kataku masih terbata-bata.
“Iya mas. mau ngomong apa?” jawabnya singkat. Aku terdiam sejenak merangkai huruf untuk kukatakan.
“Sebenarnya… sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi…” Kata-kataku kuputus dengan menghela nafas panjang.
“Kita kenal dan bersahabat kan sudah dari kecil. Kita sudah tahu kekurangan dan kejelekan masing-masing. Seandainya kamu berkenan aku ingin melamarmu untuk jadi istriku. Sebenarnya dari dulu aku sudah menyayangi kamu, tapi karena keadaanku aku tak berani mengungkapkannya. Saat kamu menikah dulu aku memang kecewa karena tak bisa menjadi orang yang bersanding di sisimu saat di pelaminan. Tapi aku tak sepenuhnya kelhilanganmu, kamu masih tetap menjadi sahabatku walaupun kita ketemu paling setahun hanya dua tiga kali. Aku tetap bahagia melihatmu bahagia. Tapi jika kamu tidak berkenan aku minta maaf dan aku mohon kita tetap menjaga hubungan persahabatan kita.” kataku sambil sedikit tertunduk.
“Mas… seharusnya mas berpikir kembali. Aku ini janda anak satu, sedangkan mas bujang. Masih banyak gadis yang lebih pantas mendampingi hidup mas.” Jawabnya dengan sendu sambil masih tertunduk.
“Dik… aku sudah berpikir dan berbulat tekad ingin mengarungi sisa hidupku denganmu, jika kamu berkenan. Aku tak pernah melihat seseorang dari statusnya, tapi dari sifat dan sikapnya kepadaku.” sambungku.
“Jika mas memang sudah mantap dengan keputusan mas dan sudah memikirkan segala resikonya, saya terima pinangan mas dengan hati bahagia. Sebenarnya aku juga menyayangi mas dari dulu. Tapi karena teman sebangku dulu waktu di SMP juga menyukai mas, jadi kuurungkan niatku dan kukubur dalam-dalam perasaanku. Tapi semenjak kepulanganku dari Jakarta, diam-diam perasaan itu tumbuh lagi seiring keakraban kita semakin dekat akhir-akhir ini. Tapi aku sadar dengan posisiku yang sudah tidak seperti dulu lagi.” Jawabnya.

Perasaanku meledak-ledak rasanya, seperti kembang api di malam lebaran. Esok sorenya keluargaku datang melamar dan pernikahan kami disepakati satu minggu setelahnya. Katanya lebih cepat lebih baik. Akupun sepakat dengan keputusan keluarga kami. Bulan Sya’ban ini kami menikah, jadi puasa tahun ini sahur dan bukaku tidak sendiri lagi, akan ada Nilam yang membangunkanku.

Kami pun menikah dengan acara yang sederhana, kami hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga dengan acara pengajian dari Pak kyai pondok pesantren desa sebelah. Kami tinggal serumah dengan ibu mertuaku. Sedangkan rumahku kami jadikan tempat usaha kecil-kecilan. Kami membuka toko obat-obat dan alat Pertanian, mengingat desaku yang agak jauh dari kota menurut kami usaha itu yang paling tepat. Tahun ini adalah tahun pertamaku puasa dan lebaran bersama anak dan istriku. Setelah enam tahun terkubur perasaanku ternyata Tuhan menumbuhkan kebahagiaan di antara kami saat ini.

Terimakasih Nilam dan Adelia.

Cerpen Karangan: Ardhie Ardhana
Blog: awietch.blogspot.com
Bukan seorang penulis, hanya sedang belajar menulis.

Cerpen Bidadari Jilbab Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Love

Oleh:
Hari ini cuaca kurang bersahabat, sepertinya hujan dari semalam enggan untuk berhenti turun. Rasanya malas sekali untuk bangun pagi ini. Ku putuskan untuk tarik selimut lagi dan tidur sampai

Katakan Ada Rasa Yang Sama

Oleh:
Pagi itu Ria pergi ke warnet 24 jam. Dia akan membuat akun facebook. Dia ingin mencari facebook seseorang yang lama telah menghilang. usai log in dia ketik satu nama

Berakhir Tanpa Harus Diawali

Oleh:
Aku menghidupkan si merah kesayanganku (sepeda motor.. donk) dan meninggalkan orang yang berdiri disana.. aku akan memilih pergi dari hadapanmu dan teman2mu.. tapi dengan satu syarat ;, apa ituh

Tak Kunjung Datang

Oleh:
Cinta yang tlah lalu membuat ku terusik kembali. Terngiang-ngiang di telinga ku saat ia mengucapkan janjinya padaku itu. Dulu saat masih bersama. “aku janji, meskipun kita pisah tapi kita

Hadiahnya Sepatu Sebelah

Oleh:
Namanya Shimeka Minamato. lahir di Hokkaido, Jepang. ia mempunyai seorang kakak perempuan bernama Ruzima. sekarang, Shimeka dan keluarga tinggal di Jakarta, Indonesia. hari ini, hari ulang tahun Shime yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *