Bidadari Sabtu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 29 June 2019

Aku merasa sudah lama duduk di sini, menunggu seseorang yang belum juga tampak tanda-tanda kedatangannya. Biasanya tak pernah telat begini, dia selalu datang 5 menit setelah aku memesan minuman. Bahkan seringkali kami masuk kedai ini bersama-sama, dalam waktu yang paling tepat. Apa jangan-jangan dia lupa kalau sekarang ini hari Sabtu? Batin pun mulai menduga-duga.

Kulirik jam di tangan, dan sedikit terkejut, ternyata aku tidak memakai jam. Aku menghela napas agak panjang, dan hampir saja lupa untuk menghembuskannya ketika kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 lewat 16. Sore hampir berakhir. Ah, sepertinya Rahma tidak akan datang hari ini. Dan aku putuskan, untuk menghabiskan minuman, lalu pulang.

Sungguh ini hari yang tidak biasa. Aku dan Rahma sudah begitu rutin mendatangi kedai ini setiap Sabtu sore. Tidak pernah ada Sabtu yang terlewat. Dan satu yang perlu kuberi tahu, gadis itu memang bukan pacarku, aku berteman dengannya sejak 6 bulan yang lalu, di tempat inilah, awal aku mengenalinya.

Ketika dalam perjalanan pulang kuliah, lalu tiba-tiba hujan turun dan menggiringku ke tempat itu. Kedai yang sedang penuh pengunjungnya. Aku yang sudah terlanjur meminta secangkir kopi, hampir tidak bisa memilih tempat duduk jika saja tidak ada orang yang sudah berbaik hati untuk mempersilahkanku menempati kursi di mejanya.

“Mau minum sambil berdiri aja?” Sindirnya, sambil menyuruhku duduk dengan matanya yang melirik ke kursi kosong di depannya.

Gadis itu sedang membaca buku, sepertinya novel. Aku mengucap terimakasih padanya. Setelah aku duduk, diapun menghentikan aktivitas membacanya. Dan wajah yang separuh tertutup oleh buku tadi, kini bisa kulihat dengan utuh. Cantik juga, batinku. Apalagi kalau tersenyum seperti itu.

“Kayaknya gemar baca novel?” Aku coba membuka percakapan, walau dengan basa-basi yang paling basi sekalipun. Sudah tahu sedang membaca buku novel, kalau bukan karena suka, ngapain?
“Iya. Kok tau?” Balasnya.
“Soalnya kelihatan”
“Kalau gitu kenapa nanya?”
Aku diam. Nah, kan? Sepertinya aku memang sudah salah pilih basa-basi. Jawabannya saja seketus itu. Tapi kenapa dia harus ketus ya? Padahal dia baik.

Seolah memahami arti diamku, gadis itu malah terkekeh.
“Kenapa diam? Aku cuma bercanda. Kamu suka baca juga?” Tuturnya kemudian.

Di sana, dia seakan membuatku -yang sedang numpang duduk itu- mulai tidak merasakan kaku. Gadis cantik itu, sudah baik, suka bercanda pula. Aku juga memang gemar membaca seperti dia, kukatakan padanya, bahwa aku tidak hanya membaca, tapi juga menulis cerita. Tepatnya, cerita pendek.
“Ah, masa sih?”
“Kamu meragukan aku?”
“Boleh kulihat tulisanmu?”
“O, tentu”

Kukeluarkan sebuah buku dari tas yang separuh basah itu, sudah untung isinya selamat dari rembesan air hujan. Bisa batal aku menunjukkan hasil coretan-coretan kecilku.

“Emm, lumayan…” komentar nya, setelah beberapa saat kubiarkan ia membaca “tapi kok kayak masih gantung gini ya?”
“Memang belum ending kok”
“Kalau gitu kenapa kamu tunjukkan ke aku?”
“Lah tadi minta?”
“Tapi bukan yang gantung”
“Habis yang kubawa sekarang cuma itu”
“Ya sudah” gadis itu menaruh jeda, seperti mencari kata yang akan ia ucap berikutnya “Emm, aku sudah terlanjur baca, jadi aku akan selesaikan endingnya juga”
“Oke, besok kamu sudah bisa membacanya”
“Haha… Siapa bilang besok kita akan ketemu lagi?”
“Kenapa tidak, kalau kita sudah janjian?” Timpalku.
Gadis itu terdiam lagi. Mungkin aku salah bicara? Sepertinya iya. Janjian. Kenal saja belum. Ah, kenapa dari tadi tidak terpikirkan?

“Boleh tahu namamu?” Tanyaku pada akhirnya.
“Boleh, setelah kamu sebutkan namamu”
“Aku Aditya” kuulurkan tangan di depannya.
“Rahma”
Kami berjabat tangan. Kemudian Rahma pun memberi alasan, bahwa besok ia tidak bisa datang. Ia hanya mampir ke kedai itu kalau hari Sabtu saja, selagi libur dari pekerjaannya di luar kota. Dan minggu siang, ia sudah harus pergi lagi ke kontrakannya. Aku merasa senang sudah bertemu gadis seperti dia. Dan minggu depan, kami akan bertemu lagi di tempat yang sama. Bahkan, aku menawarkan lebih banyak tulisanku padanya, jika ia bersedia, untuk selalu bertemu di setiap hari Sabtu. Untungnya, Rahma menyetujuinya.

Aku sudah bediri dan hampir saja memanggil pelayan ketika Rahma tiba-tiba sudah muncul di depanku.
“Mau pulang, ya?” Cetusnya.
Sebenarnya, iya. Tapi tentu saja harus kuurungkan. Untuk apa aku pulang kalau orang yang ditunggu dengan penuh harap sudah datang sekarang?
“Ah, tidak. Aku cuma mau ke kamar kecil” kilahku sedikit terbata.
“Ooh”

Rahma menarik kursi di depanku, kemudian mendudukinya. Dan aku, melakukan hal yang sama, dan gadis itu heran dibuatnya.
“Lho?” Kata Rahma.
“Hehe, tidak jadi. Nanti saja” alasanku.
“Hayo. Aku tau, kamu emang mau pulang, kan?”
“Abis kamu lama”
“Gak ikhlas, nunggu?”
“Kamu tuh, yang gak ikhlas dateng”
“Jadi kamu kesel?”
“Haha… Siapa bilang?”
“Ya sudah, mana setoran mingguanmu?” Tagih Rahma.
“Bilang dulu, kenapa kamu telat?”
Tidak ada jawaban. Rahma malah menatapku lekat-lekat, dan aku tidak mengetahui artinya. Dia lantas mengalihkan tatapan itu ke tempat di mana seorang pelayan sedang tersenyum-senyum dengan smartphonenya.
“Hay!!” Pekiknya.
Pelayan yang berhasil terkesiap itu menghampiri meja kami. Rahma menyebutkan pesanannya, dan kembali padaku dengan tatapan itu.

“Aku habis putus dengan Leo…” cetusnya.
Apa? Putus?
Entah aku harus berperasaan seperti apa menanggapinya. Yang jelas, aku sudah lama menyukai Rahma. Bukankah yang baru saja kudengar itu kabar gembira? Jahat.
“Kenapa?” Tanyaku, dengan ekspresi sok terkejut.
“Ya, pokoknya putus”
“Tidak ada alasan apapun?”
“Terlalu banyak, Dit. Haruskah aku jelaskan semuanya?”
“Setidaknya, salah satunya”
“Tidak cocok”
“Selain itu?”
“Tadi bilang salah satu?”

“Apa kamu mencintai pria lain?”
“Haha… Kamu ini ngomong apa sih?”
“Aku mencintaimu, Ma” pungkasku.
Rahma terdiam. Namun, kali ini aku tidak merasa salah bicara. Aku hanya menyatakan perasaanku yang jujur. Sudah lama aku menaruh hati pada Rahma. Dan di Sabtu ini, memang sudah niatku untuk menyampaikan itu padanya.

Pada bidadari Sabtuku, apa kau juga memiliki cinta untukku?

Senja berlalu… Malam segera menempati posisinya menggelapkan hari. Kami pulang, dari kedai kopi yang selalu kami rindu. Rahma telah menjawab perasaanku. Di sepanjang jalan menuju pulang, aku bisa merasakan hangat cintanya, dalam jemari yang kugenggam selalu.

End.

Cerpen Karangan: Aditya Ramadhan
Blog / Facebook: Aditya Ramadhan

Cerpen Bidadari Sabtu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebodohan Ku

Oleh:
“kau masih menyukainya, benar kan?” Suara itu membuyarkan lamunanku. “mungkin. Tapi rasa kecewa ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan rasa suka itu.” jawabku dengan wajah datar. Gadis berambut

Memutar Kenangan

Oleh:
Dua orang insan saling beradu pandang, mereka tengah duduk berdua di sebuah kafe kecil di dekat sebuah pantai. Kali ini adalah pertengahan bulan, tepat dimana bulan purnama sedang masyhur

Disaat Cinta Hadir Kembali

Oleh:
Di sebuah sekolah SMA Semarang, ada seorang murid yang bernama Dara. Dara adalah seorang gadis yang sederhana dan ceria. Dara lebih banyak teman cowok daripada cewek. Karena dia merasa

Senja Di Hatiku

Oleh:
Jingga mulai bersanding di samping senja untuk menambah pesona pantai karang jahe. Perkenalkan dulu, pantai karang jahe adalah salah satu pantai wisata di wilayah kabupaten rembang, sebuah kabupaten yang

Orentasi Study Asmara

Oleh:
Aku tergabung kembali dalam kegiatan ini, sudah tiga tahun berantai aku mengikutinya, ku tahu banyak kegiatan lain yang lebih menguntungkan bagiku, tapi buatku ini berbeda. Aku bahkan rela bangun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *