Bila Engkau Bersamaku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 August 2017

“Terus intinya apa coba?” ucap Amel itu sambil melirik ke arah Mavis. Ucapan amel dengan nada keras itu membuat Mavis menatap Amel. “Ya intinya I love you.” bisik Mavis “apa sih gaje banget sih” Celetuk Amel seraya ia pergi meninggalkan Mavis.

Amel pun pergi dengan rasa sebal sampai sampai ia menendang gumpalan kertas yang ada di depannya “Awww..!! Siapa sih yang ngelempar gue kertas!!” ucap Nadia sebal, “Eh, elo ya, Amel. Ngapain sih lo lempar gue kertas segala, lo masih dendam ya sama gue soal masalah kemarin..,” ucapnya dengan nada tegas dan membentak “maaf, Nadia. Aku enggak sengaja ini gak ada hubungannya soal masalah kemaren tapi emang aku enggak sengaja kok” ucap amel dengan wajah memelas. Mata amel menjadi berkaca kaca
“cengeng banget sih jadi orang” ucap Mavis yang menekan kata ‘cengeng’. “Eh, apa lo bilang” “jlebbbb..!!” pukulan Amel melayang ke perut Mavis. Tanpa ia sadari ia telah mendongak “Aaarrrrgggg..!!” terteriak Mavis, ia terjatuh matanya pun menyipit.
Mavis berjuang bangkit namun ia terjatuh lagi tangannya pun melingkar di perutnya. “Maviiiisssss…!!” seru Nadia panik! Nadia pun berlari menghampiri Mavis.
Ia membelakangi Mavis. Ia meraih lengannya, mencoba melingkarkanya di lehernya dengan begitu Mavis bisa berdiri. Tangan kiri Mavis masih melingkar di perutnya, ia sedang paruh berdiri. “Hha, sakit kan..!!? Makan tuh sakit…!! Hahaha” Tawa Amel kegirangan. Nadia langsung menatap Amel dengan pandangan dingin, rahangnya pun mengeras mungkin ia benar benar kesal atau malah jengkel terhadap Amel.

Nadia melepas tangan Mavis lalu berlari ke arah Amel. “Brukkk…,” “arrrggg…!!!” Mavis terjatuh. “Cewek macam apa sih lo, lo gak punya hati ya..!!” Nadila mendorong tubuh Amel. “Apa sih lo dorong dorong gue, emang Mavis tuh siapa lo sih kok lo bela belain terus.” ucap Amel sambil membalas dorongan Nadia.
Nadia menatapnya dengan geram “Emang kenapa? Lo gak suka. Gitu..!!”
Entah siapa yang mulai duluan hingga mereka saling menjambak. “Awas loo..!!!” “Sialan..!!” “hey, sakit!!!” “Sialan..!!”

Ruang kelas itu menjadi berisik sampai sampai bel yang berbunyi tak terdengar oleh siswa yang ada di dalam kelas.
Tiba tiba guru bahasa inggris datang dengan sebuah tas yang hitam nan besar yang bewarna Hitam. Mavis yang terkapar dan juga Amel dengan Nadia yang masih saling menjambak, mereka tak sadar bahwa guru killer itu sudah masuk kelas.
“Brukkkkk..!!!” guru itu menjatuhkan buku tebalnya. Serentak pandangan Amel dan Nadila tertuju ke arah suara itu, dengan cepat mereka berdua melepaskan jambak-annya lalu menuju bangku masing masing. “Where the other disciple?”
“assalamualaikum mr.”
“They partly in the canteen and partly in the library mr.” Ucap Ridwan meyakinkan.
“Eh, lo sok inggris hhheee.. Arrrg..,” Ucap mavis sambil mendongakkan kepalanya ke arah Ridwan. “Jhiahaha.., lo kenapa Vis kok terkapar gitu.. Gak punya gairah hidup apa yak wkwkwk” tawa Ridwan. “udah lo bantuin gue, bawa gue ke bangku gue” pinta Mavis. “Okke okke.., ayo ayo gue bantu”
“Okke, anak anak pelajaran akan kita mulai dan yang belum masuk biarkan saja.” ucap guru bahasa inggris itu setelah ia melihat Mavis sudah duduk di bangkunya.

“Aduh, kenapa perut gue sakit banget ya.” Mavis berhenti sejenak di jalan. Ia melepaskan helmnya. Ia memandang samping kanannya dengan wajah melas “Duh kenapa nih, penglihatan gue kok kabur gini” batin Mavis. “Brukkk..” Mavis terjatuh bersama motornya.
Mavis tergeletak tak berdaya. Jalan di situ memang sepi dan lagi lagi tak ada yang lewat.
Matahari terlihat tergelincir di cakrawala. Cahaya oren itu menyinari wajah Mavis dengan kelembutannya. Mavis terkapar tanpa kekuatan. Tubuhnya yang kian lama terlihat pucat sampai sampai bibirnya mengering. Bahan bakar motornya pun menetes dengan pelan tapi pasti baunya pun mulai membuat binatang binatang menjauh. Entah kenapa hari ini tak ada satu pun orang yang lewat jalan itu setelah kejadian itu menimpa Mavis.

“Mavis..,” sentak Amel terbangun dari tidurnya. “huft.., cuma mimpi..” Ucap Amel setelah ia menghembuskan nafas panjangnya. Ia pun kembali membanting tubuhnya di kasur. “Duh gimana ya keadaannya sekarang? kenapa dia tadi gak bisa bangun ya saat udah gue pukul? duh apa mungkin pukulan gue terlalu keras ya apa jangan jangan ada organ tubuhnya yang bocor setelah gue pukul? Ini gue kok jadi gak enak gini ya., aduh jadi ngerasa bersalah nih..” tanpa ia sadari air matanya telah meleleh.
“mungkin emang gue jahat kaliya, gue juga pernah buat dia kecewa sama gue gara gara gue tolak cintanya yang tulus itu.” ceracau Amel. Ia pun mencoba mengingat derai cerita masa lalunya ketika Mavis menginginkannya.

“I love you, Amel.” “lo mau kan jadi pacar gue..,” ucap Mavis sambil menyodorkan Sebuah bunga yang harum nan indah
“heh lo cinta gue emang lo punya apa” ucap Amel manyun. “gue punya cinta untuk kamu, Amel” ucap Mavis menepuk pundak Amel.
“celeng is your life” gertak Amel. Amel pun membuang muka dari tatapan Mavis “apa? Lo ngehina gue!! Kalo enggak suka ya lo tolak aja.., gak usah pake ngehina segala” celetuk Mavis. Mavis pun pergi meninggalkan Amel untuk menuju motornya lalu menancap gasnya.
Amel memasang wajah kosong “gile lo Vis.., gue pulang sama siapa coba” ia menelan ludah dalam dalam.

Amel tersadar dari lamunan. Ia berdiri untuk mengambil hpnya. Ibu jarinya bergerak gerak dengan cepat. “duh, gue telpon kagak ya..?” ucap Amel sedikit cemas. Ia tak sadar telah menggigit bibir bawahnya. Bola matanya berputar putar. “gila ni bocah, bikin gue cemas aja.., yah ya udah lah gue telfon aja” ia pun menekan tombol call
“maaf pulsa anda tidak.. tutt …tu t…. tut..” “gile, gue lupa kalo pulsa gue habis” ia pun menertawakan dirinya sendiri.

“Tok.. Tok… Tok…,
“masuk aja, pintunya enggak aku kunci” ucap Nadia yang masih fokus dengan hpnya. Ia tengkurap dengan guling yang menahan dadanya. Wajahnya pun kadang memunculkan senyumnya. Ya begitulah anak abg yang sering baper.
“ceklek…” pintu pun terbuka namun hanya selebar kepala kak Satria
“Eh, Nadia ayo kita joging bareng mumpung hari minggu nih” Ucap kak Satria sambil memandangi bokong Nadia. “ah males kak, kakak aja sana.,” ucap Nadia tanpa memandang kak Satria.
“glieennnkk..!!” kak Satria lari berdunyut dunyut
“apa sih kak..!!” sentak Nadia setelah ia mendengan pintu kamarnya dibuka lebar lebar sehingga pintunya mengenai dinding kamarnya. Nadila pun mematikan hpnya dan pergi mengejar kak Satria. “Ayo kejar kakak kalo bisa, Nadia.” ucap Kak Satria dalam tawanya.
“okke.., awas ya kalo ketangkep gue tendang pantat lo” ancam Nadia. Kak satria pun berlari sedangkan Nadia mengejarnya. “uhhh heh eh he he” Nadia berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya yang tak kunjung normal. “Ah, kok berhenti sih..,” ledek kak Satria. “Kakak pun juga ikut ikuta berhenti.., he..eh..he…eh” Ucap Nadia sambil menjulurkan lidahnya. “oh, okkey, kakak akan lari lagi. Kak Satria pun berlari.
“Nadia, coba sini deh, tolongin kakak” Teriak kak Satria. Nadia hanya berjalan pelan namun setelah ia melihatnya ia pun berlari. “Mavis.., Kak! ini temen sekolahku kak..!” seru Nadia panik “ayo kak kita bawa pulang ke rumah aja” pinta Nadia. “ayo..,” ucap kak Satria sambil menyetater motor Mavis. “Eh, elo yang depan ya. Biar kakak yang belakang..,” “okke kak..” “berangkatt!!” ucap Nadia.

Mereka pun menuju ke rumah Nadia. Di perjalanan dagu mavis menempel di pundak Nadia. Dig dag dug. Jantung nadia berdetak tak semestinya. “eh kenapa nih jantung gue.., ” batin Nadia. “eh eh eh kok berhenti..!!” “Duh bensinnya habis lagi.., ini pasti karena tumpah semalam” tebak Nadia. “ya udah, kita jalan aja, lo dorong motornya biar gue yang gendong dia tinggal beberapa meter aja udah sampai..”
“Okke kak..” sahut Nadia.

Di dalam rumah
“Kita tidurin disini ajak kak” kak Satria pun meletakkan Mavis dengan posisi telentang. “kakak tinggal ke dapur ambil minum dulu ya..,” kak Satria pun melangkah ke dapur “okke kak” jawab Nadia.
Nadila pun memandangi Mavis. “gile, tampan banget lo vis.., Mavis.” ucap Nadila sambil tangannya mulai menggerayangi leher Mavis. “cup” ia mengecup kening Mavis. “Door.. Gile nih adek gue” “ahh, maaf kak, cuma cium doang kok” mata Nadia berkaca kaca.
“ok.. Ok.. Kakak paham, kakak juga pernah ngelakuin itu kok” ucap Kak satria. “sama siapa emang?” tanya Nadia “Sama adek aku dong hahaha” ledek kak Satria. Nadia memasang wajah kosong.

Cerpen Karangan: Melinda Kartika Putri
Facebook: Melinda Kartika Putri

Cerpen Bila Engkau Bersamaku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudut Dalam Antara

Oleh:
Hujan terus mengguyur kawasan kota. Embun dan tetesan air, mengihiasi jendela ruangan itu. Yah.. sebuah ruangan yang telah menjadi sahabat bagi gadis berusia tujuh belas tahun. Remaja belia dengan

Ketulusan Cinta Putri Si Cewek Jutek

Oleh:
Bulan kini berganti dengan mentari yang menerangi bumi, burung-burung bernyanyi di pagi hari, di sebuah kamar ada seseorang perempuan cantik sedang bersiap diri berangkat ke sekolah, di balik pintu

Papper and Friendship

Oleh:
“Bung, kamu lihat kertas putih di mejaku nggak?” Tanya Dinda, sahabatku saat pulang sekolah, aku hanya menggeleng tanda tidak tau “duh, dimana sih tu kertas?” Dinda masih mencari-cari kertas

Green Tea Latte

Oleh:
Secangkir green tea latte dan dua buah donat dengan topping green tea pun menemani sudut kesendirianku yang mengingatkan aku pada dirimu. Terik cuaca di luar terasa begitu menyengat. Aku

Moon In The Sun

Oleh:
Karena bulan dan matahari saling melengkapi meski tidak bersama Hari ini, keadaan cukup mendukung untuk melakukan aktivitas. Banyak orang yang berlalu lalang kian kemari seakan tidak ada hari esok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *