Bimbang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 March 2018

“kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa…” Lantunan penggalan syair Melly Goeslow mengalun pelan dari bibirku

Sudah satu jam lebih aku duduk di bangku taman ini. Tempat yang mengukir berjuta kisah manis. Sketsa wajahnya kembali terbayang di pelupuk mataku, “Rafqhi” nama itu selalu mengganggu pikiranku
Bagaimana tidak? Dulu dia memperlakukanku bagai seorang putri, memanjakanku walau hanya lewat pesan singkatnya. Aku bahagia. Sangat sangat bahagia. Hingga suatu hari saat aku tengah berbicara dengannya lewat telepon, dia berkata “Indah itu cantik ya sayang, pengen deh jadi pacarnya” ucapnya setengah bercanda.
“boleh aja sih sayang, tapi tunggu aku mati dulu ya” jawabku sambil tertawa.

Jujur sejak itu aku sedikit takut dia benar benar berpaling dariku. Aku takut kehilangannya. Egois memang. Aku hanya ingin dia jadi milikku seutuhnya, hanya itu. Tapi sudahlah. Sekarang dia sudah berubah, dia yang dulu selalu lembut dan perhatian, perlahan menjadi sosok yang kasar dan sering marah-marah jika aku sering bertanya.
Aku akui selama pacaran kami jarang bertemu. Hanya komunikasi media sosial yang aku andalkan, wajar aku merasa kesepian setiap harinya.

Suara adzan subuh berkumandang ke segala penjuru langit. Perlahan aku membuka mata dan menyapa dunia. Hari ini aku akan menerima nomor peserta ujian. Tak terasa tinggal 1 langkah lagi untuk mencapai kelas 3.

Terdengar suara ketukan dari luar. Ibu membangunkanku. “nadia, bangun nak. Ntar telat sekolahnya” ujar ibuku lembut. Selalu begitu.
“iya bu, nadia udah bangun kok” balasku.
Segera kurapikan tempat tidur dan bergegas mandi pagi. Setelah minum susu aku berangkat bersama abangku.

Di sekolah aku langsung berkumpul bersama teman-temanku.
“nanad ntar leo mau ke sini loh” rani membuka percakapan.
“udah tau kok ran. Kan aku yang nyuruh. Soalnya minggu kemaren kan dia nggak datang” sahutku. Leo adalah sahabatku. Sahabat yang dikagumi oleh rafqhi. sahabat yang terkadang membuatku takut rafqhi akan berpaling padanya. Memikirkan semua itu membuat moodku down lagi. Aku lelah sampai kapan harus begini?

Jika suatu saat ketakutan benar terjadi apakah aku sanggup melepas rafqhi?. Pertanyaan itu yang selau menggangguku.
Tanpa kusadari butiran bening itu kembali meluncur di pipiku. Perih rasanya mengingat semua itu.

Aku benar-bnar bimbang memilih antara cinta dan persahabatan. Tapi apabila esok semua akan terungkap, aku akan melepasnya untuk sahabatku. Aku hanya ingin rafqhi bahagia walau bukan denganku. Aku tak sanggup mendengarnya mengeluh setiap kali aku susah diajak bertemu. Bukannya tidak mau. Aku hanya takut dengan keluargaku. Entahlah. sudah terlalu sering aku Memikirkannya.

Cerpen Karangan: Ralona Edelweisa
Facebook: Nadia Ralona

Cerpen Bimbang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jingga di Ujung Senja

Oleh:
“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”

Tetesan Beku

Oleh:
Salju pertama sudah turun. Aku hanya duduk terdiam di sudut ruangan sambil menatap ke luar jendela dan meneguk secangkir cokelat hangat yang lezat buatan ibuku. “Irene, kamu tidak mau

Jas Hujan Untuk Mama

Oleh:
Seorang malaikat yang rupawan dengan sejuta tingkah yang membuatku berdecak kagum akan dirinya seolah mampu untuk meluluhkan hati ini kepadanya. Sosok Mifta yang memiliki wajah oval, bibir yang sensual

Cintaku Pergi Ke Jakarta

Oleh:
“tok… tok… Tok…” Ketukan pintu terdengar nyaring. “Siapa?” suara terdengar jelas dari dalam rumah itu. “Ini saya dedek buk” jawabnya. “Oh nak dedek, ada apa nak?” “Wahyu ada?” “Ooo

Untuk Mu Cinta

Oleh:
Pagi memang selalu menyuguhkan kehangatan di tengah embun meski matahari masih bersembunyi di peraduannya. Di sebuah ruangan bercat kuning dan hijau itu tubuh malasnya tampak enggan untuk bergerak. Bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *