Bincang di Bawah Bintang, Rembulan dan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 22 July 2016

Mega malam menghitam dan kian menghitam ketika hujan mengetuk pintu dan meminta masuk. Awan menggelayut manja terhempas laksana butir-butir beras bersama setitik demi setitik air mata yang jatuh dari langit. Tanpa peduli angin yang semakin bertiup syahdu, kemesraan sepasang teman tidak dapat dikalahkan oleh apapun dan siapapun.
“Selamat ulang tahun.”
“Selamat ulang tahun.”
“Pertanyaan pertama…”
“Biarkan aku bernapas dulu.”
“Sekarang sudah siap?”
“Ya.”
“Apa yang kamu rasakan saat ini?”
“Jatuh cinta. Giliranku. Pertanyaan pertama untukmu. Apa yang kamu rasakan saat ini?”
“Jangan dibiasakan plagiat. Jatuh cinta.”
“Kamu juga plagiat.”
Suara renyah tawa terdengar dari kedua orang itu. Yang satu memakai tuksedo warna abu-abu dengan sepatu armani hitam legam terpasang di kakinya. Yang satu memakai gaun rancangan Mary Katrantzou keluaran terbaru dengan sepatu channel berwarna pastel.
“Siapa orang yang berhak mendapatkan perasaan dari sang penakluk kamera?”
“Wanita cantik. Tentu saja. Seleraku selalu bagus.”
“Hahaha. Tidak cukup bagus.”
“Kenapa?”
“Jika itu bukan aku.”
“Grace, tentu saja dia bukan kamu.”
“Berarti benar kan. Seleramu tidak cukup bagus.”
“Ayolah.”
“Aku yang seharusnya berkata ayolah. Ayolah, ceritakan tentang dia.”
“Dia yang pertama kali memberi sinyal.”
“Hm hm.”
“Menyadarkanku dari sebuah keambiguan. Dia bergelayut manja. Mengirimkan suara cemprengnya ketika bernyanyi lewat WhatsApp. Bercerita tentang apa saja.”
“Tidak meyakinkan.”
“Tapi aku yakin.”
“Kalau dia tertarik denganmu?”
“Dan aku jatuh cinta kepadanya.”
“Sesederhana itu?”
“Ya.”
“Cinta memang bodoh.”
“Tapi dia cantik.”
“Cinta tidak dilihat dari kecantikan fisik. Taruhan, kecantikan yang kamu maksud memang karena dia memiliki paras yang elok bukan? Namanya juga fotografer.”
“Hahaha. Kamu benar, Grace.”
“Aku jarang salah.”
“Kemudian kenyamanan itu merasuki jiwaku. Memintaku untuk bertahan. Meyakinkanku tentang arti ketulusan.”
“Kamu mulai gila Nazef.”
“Cinta memang gila, bukan?”
“Berarti cinta itu bodoh dan gila.”
“Tidak selalu begitu.”
“Tapi itu terbukti.”
“Sekarang giliranmu.”
“Aku jatuh ketika dia tidak pernah berhenti menyemangatiku.”
“Hey, aku juga selalu begitu kepadamu.”
“Kamu bukan dia.”
“Gengsimu terkadang terlalu tinggi, Grace. Lanjutkan.”
“Dia meyakinkanku tentang arti sebuah keberhasilan. Hal yang akan aku hadapi sebentar lagi.”
“Semudah itu kamu jatuh cinta.”
“Cinta bisa datang dengan cara apapun.”
“Kamu gila.”
“Kamu juga.”
Senyuman kesenangan dari sepasang teman menantang hujan. Mereka mengeluarkan kado dari tas masing-masing. Setelah mengucap terima kasih dan menyesap anggur terakhir, keduanya beranjak. Yang satu menuju peraduan keindahan malam bersama alat pencetak keabadian dan menyampirkan tuksedo di jok belakang mobil kesayangan. Yang satu menuju landasan empuk sambil ditemani tumpukan halaman penuh tulisan sebelum menuntun jauh ke alam mimpi.

Malam, seperti malam-malam yang lain, selalu gelap. Tapi malam, terkadang menangis manja meminta kesenduan, terkadang tersenyum bergairah meminta penerangan, terkadang terlampau senang dengan pengabulan harapan. Sedangkan dua orang teman memiliki keabsahan pengertian tentang banyak hal, dan malam lebih setia menemani mereka ketimbang siang.

Malam yang lain menjelma di tengah pucuk-pucuk kerinduan terpendam. Bertanya tentang keinginan, namun menjawab tentang ketidak tahuan. Malam yang ini bulan tersenyum merayu. Mencoba menghibur siapa saja yang membutuhkan.
Mereka masih berada di kafe yang sama seperti kemarin. Nazef memakai polo shirt berwarna biru tua, sedangkan Grace mengenakan baju casual rancangan Alexander McQueen keluaran terbaru. Nikon keluaran terbaru baru saja menyentuh ujung tas sedangkan seri terbaru Bilangan Fu lanjutan dari Maya disingkirkan dari meja untuk sementara.
“Teman-temanku yang lain tahu.”
“Kurasa begitu. Kamu selalu tidak tahan untuk tidak cerita. Tidak sepertiku yang hanya bercerita kepadamu.”
“Mereka mendukungku untuk mendapatkannya.”
“Bagus kalau begitu.”
“Aku semakin jatuh cinta kepadanya.”
“Begitupun aku. Kepadanya.”
“Huh. Apalagi kesamaan yang terjadi di antara kita?”
“Selain tanggal lahir dan jatuh cinta?”
“Ya.”
“Mungkin anak-anak kita nanti akan menikah di hari yang sama.”
“Atau jangan-jangan anak aku akan menikah dengan anakmu. Aku menjadi mertua anakmu dan kamu menjadi mertua anakku.”
“Hahaha. Kamu gila Nazef.”
“Aku memang konsisten. Termasuk dalam kegilaan.”
“Jadi, dia memberikan respon yang berarti?”
“Setiap apa yang dia lakukan selalu berarti untukku.”
“Itu karena kamu sedang jatuh cinta.”
“Ya. Kamu juga kan?”
“Jatuh cinta terkadang memungkinkan segala kemungkinan yang bahkan tidak mungkin sekalipun. Asumsi terlalu banyak. Perasaan terlalu banyak. Terlalu banyak juga membenarkan.”
“Apakah itu salah?”
“Tidak. Cinta tidak pernah salah.”
“Tapi cinta menjerumuskan.”
“Seperti kamu.”
“Oh. Kita juga sama-sama gila.”
“Tentu saja.”
“Jadi kapan kamu akan menyatakannya kepada perempuan itu?”
“Sebenarnya, sudah.”
“Lalu jawabnya?”
“Dia nyaman denganku sebagai teman.”
“Sudah kuduga.”
“Maksudmu?”
“Kamu akan dia tolak.”
“Kamu menyebalkan.”
“Apakah kamu akan menyerah?”
“Tidak. Aku tidak gampang menyerah.”
“Bagus. Lalu apa langkah selanjutnya?”
“Aku akan mengevaluasi diriku dan membuatnya nyaman, lebih dari sekedar teman.”
“Caranya?”
“Sedang aku pikirkan.”
“Lalu kamu menjamin setelah itu dia akan menerimamu sebagai kekasih?”
“Seribu persen.”
“Kupegang kata-katamu.”
“Dan kamu?”
“Dia mengantarku pulang.”
“Aku juga sering melakukan itu padamu.”
“Tapi dia bukan kamu.”
“Lalu apa bedanya?”
“Dia ya dia. Kamu ya kamu, Nazef.”
“Oh ayolah. Apakah tidak ada yang lebih spesial dari mengantarkanmu pulang?”
“Dia berkata kepada ayahku, ‘Anak Om sudah saya kembalikan dengan selamat. Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Lain kali saya akan menjaganya lagi.’”
“Hahaha. Aku juga bisa berkata seperti itu.”
“Tapi ayahku sudah biasa melihatmu.”
“Harusnya ayahmu lebih percaya kepadaku timbang kepadanya.”
“Tapi aku maunya dia.”
“Terserah.”
“Mau tambah anggur lagi Tuan dan Nyonya?” seorang pelayan menghampiri sepasang teman itu.
“Ya, silahkan. Terima kasih. Omong-omong, aku masih nona,” jawab Grace.
“Baik. Maaf, Nona.”
Mereka kembali melanjutkan perbincangan.
“Ada anggota baru di kepengurusan kami. Dia sebagai penasihat umum. Alumni tahun 2007.”
“Lalu?”
“Kami menghormatinya, tentu saja. Jarak kami sekitar enam tahun. Namun dia cukup bersahabat. Kemudian dia menawarkan diri untuk membantuku untuk mendapatkan calon kekasihku itu.”
“Tunggu. Kau tahu kebodohan kita yang lain?”
“Apa?”
“Sampai sekarang, aku dan kamu bahkan tidak tahu kepada siapa masing-masing dari kita jatuh cinta.”
“Ave.”
“Sungguh? Ave?”
“Untuk apa aku bohong kepadamu?”
“Dia kan teman baikku. Kenapa kamu tidak menceritakan dari awal?”
“Kamu tidak bertanya dari awal.”
“Hahaha. Terserah. Lanjutkan. Orang itu ingin membantumu untuk mendapatkan Ave?”
“Ya. Di umurnya yang cukup matang, kurasa dia memiliki pengalaman yang lumayan banyak di bidang percintaan seperti ini.”
“Jangan mudah percaya dengan orang.”
“Terima kasih sarannya. Lalu, siapa nama orang yang membuatmu jatuh cinta?”
“Bisa jadi orang itu kenal dengan orang yang ingin membantumu, sebenarnya. Dia juga dari angkatan 2007. Namanya Ben.”
“Apakah dia orang yang sama? Senior itu juga bernama Ben.”
“Oh Tuhan. Ini fotonya,” Grace mengeluarkan telepon genggam dan menunjukkan kepada Nazef.
“Demi Tuhan. Ini Ben.”
“Tanggal lahir, jatuh cinta, gila, dan Ben.”

***
Ketika hujan menarik ulurannya, awalnya bintang muncul malu-malu. Kemudian secara perlahan, dia memancarkan cahayanya dengan benderang. Meskipun terkadang dia lupa, bahwa suatu saat dia bisa meledak.
“Katanya kamu ingin menceritakan rahasia.”
“Ya. Aku baru bercerita kepadamu, Grace.”
“Aku menunggu, Ave.”
“Aku memiliki kekasih.”
“Nazef?”
“Hahaha. Bukan.”
“Lalu siapa?”
“Ben.”
“Maksudmu, senior yang baru bergabung di tim kalian itu?”
“Ya. Benar.”
“Lalu ceritanya?” suara Grace tertahan. Pandangannya ditundukkan. Beruntung malam menyembunyikan. Dia tidak sanggup menghadap muka ke arah Ave. Padahal biasanya, Grace akan menatap mata setiap siapa saja yang diajak bicara
“Aku tahu Nazef menyukaiku. Aku nyaman dengannya. Kami bersahabat. Tidak bisa lebih dari itu. Maksudku, perasaanku tidak bisa melebihi dari seorang sahabat kepada Nazef. Aku tahu, ketika Ben datang, Ben ingin membantu Nazef untuk mendapatkanku. Tapi kurasa Ben juga tertarik kepadaku.
“Dan perasaanku, juga mengatakan yang sama. Mungkin jika teman-teman yang lain tahu, mereka akan sangat marah dengan Ben. Karena bisa dibilang Ben menikam Nazef dari belakang. Aku bisa jamin, Ben tidak bermaksud seperti itu. Kau tahu, perasaan tidak bisa dipaksa? Begitupun dengan kami,” Ave mengakhiri ceritanya.
“Sebenarnya aku dan Ben sedang membuat proyek bersama.”
“Ya. Ben juga cerita tentang itu.”
Sebenarnya, aku hampir bercerita kepadamu bahwa aku jatuh cinta dengan Ben, Ave.

Mungkin memendam lebih baik. Meski belum tentu lebih baik itu selalu baik. Karena bisa saja menikam. Seperti malam yang tenangnya mudah membunuh. Atau keriuhannya yang menciptakan kebahagiaan.
“Kamu sudah tahu tentang ini?”
“Persetan dengan Ben.”
“Aku tertikam. Rasanya sakit, Nazef.”
“Aku juga.”
“Apakah kita harus mengikhlaskan?”
“Entahlah.”
“Berapa kali kamu meminta Ave untuk menjadi kekasihmu?”
“Lima.”
“Ben?”
“Satu, mungkin.”
“Ave teman baikku.”
“Ben orang yang aku percaya.”
Tanggal lahir, jatuh cinta, gila, Ben, patah hati.

Malam tidak mengenal usia. Walau ada yang telah selesai bertemu tahun berulang-ulang, namun kepekatannya tetap menjadi andalan. Tetap konsisten dalam ketentraman dan kesunyian. Tetap menyangkal meski di dalamnya terdapat ribuan uraian cerita yang terkadang tidak pernah usai.

Pamulang, 3 April 2016

Cerpen Karangan: Laras Sekar Seruni
Facebook: Laras Sekar Seruni

Cerpen Bincang di Bawah Bintang, Rembulan dan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Atas Gitar

Oleh:
“Fel, lo nggak apa kan?,” tanya Riska dengan penuh perhatian. Felly hanya terdiam. Tatapan matanya begitu kosong. Dan, entah kemana. Hingga akhirnya, ia sadar saat pintu terbuka dengan kerasnya.

Cinta Buram

Oleh:
hari itu hawa di kelasku terasa panas sekali. Aku dan teman-temanku asyik mengipas-ngipas badan dengan buku mengusir hawa panas yang terus membakar tubuh. Gerah, letih, dahaga, semuanya mulai terasa.

Jatuh Cinta Sendirian

Oleh:
Sudah lama, aku mulai jenuh dengan situasi seperti ini. Keadaan menyebalkan yang tak pernah berubah. Kamu masih dengan dia, masih bahagia. Seseorang yang lain masih mengharapkanmu, menantimu menyudahi bahagia

Miss Night

Oleh:
Sounds of owls and howling dogs on the hills tease the eternal loneliness at to night. Momentary voice shouted to each other. Dogs or a owls, I don’t know

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *