Bintang 14 Hari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 January 2018

Dua hari lagi liburan kenaikan kelas usai. Semua berlalu tanpa terasa. Hari-hari yang kulewati bersamanya terasa begitu cepat. Bagaikan asap menantang angin, hilang tak tersisa. Bukan, bukan karena tak ada hal indah yang kuukir bersamanya. Tapi ini karena rasa nyaman yang menelusup tanpa permisi, sehingga membuat sang pemilik hati selalu bergembira hati.

Kata orang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan tak ada yang murni terjalin tanpa adanya rasa yang lebih. Begitu juga dengan kata teman-temanku yang juga teman-temannya. Itu kata mereka, tapi aku tak begitu menghiraukannya. Yang kutahu, kita bersahabat sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, tak lebih. Belum begitu lama, baru enam tahun berlalu.

Setiap ia pulang ke rumah, kita selalu menyempatkan waktu untuk sekedar pergi berdua, sebelum atau sesudah liburan keluarga masing-masing. Seperti yang kalian tebak, dia memang memilih menimba ilmu jauh di sana, jauh dariku, juga keluarga, tentunya. Ketika ia pulang, tak jarang kita melakukan perjalanan ke tempat wisata menggunakan sepeda motor, ya, bisa dikatakan kita hobi nge-trip, atau kita pergi hanya untuk berburu kuliner kesukaannya yang tak bisa ia nikmati saat berada di asrama, dan tak jarang juga ia datang ke rumahku hanya untuk menonton film ber-genre action-thriller atau comedy-romantic bersamaku.

Berbeda dengan liburan sebelumnya, kali ini ia libur selama dua minggu, dan kita habiskan waktu liburnya bersama. Tiga belas hari berlalu belum cukup untuk sekedar membalaskan rasa rindu yang ada dalam hati ini. Bayangkan saja, enam bulan lamanya tak berjumpa, tak ada komunikasi, sekalinya berjumpa hanya dalam waktu hitungan hari. Apa itu cukup bagi kalian? Kurasa tidak, benar?

Semalam, ia meneleponku dan mengajakku pergi keesokan harinya untuk membeli beberapa keperluan yang akan dibawanya kembali ke asrama, sekalian jalan-jalan, katanya. Tanpa pikir dua kali pun, aku mengiyakannya.

Hari ini hari ke empat belas, itu artinya ini hari terakhir bersamanya sebelum ia kembali ke asrama. Sekarang jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi ia sudah muncul saja di ruang tamu rumahku. Setelah selesai bersiap, kutawari ia untuk sarapan dulu, tapi ia menolaknya, sudah sarapan di rumah, katanya.

Sebenarnya aku tak tau akan dibawa ke mana olehnya, tapi aku diam saja, juga tak bertanya. Seakan ia mengerti apa yang kupikirkan, setelah aku mengenakan jaket dan helm, ia mengatakan Kebun Teh Jamus, tujuan kita kali ini. Aku hanya mengangguk saja dan segera menempati jok belakang sepeda motornya yang memang dipersilakan untukku.

Hampir dua jam perjalanan ditambah medan yang tak bisa dikatakan bagus, cukup membuat badan terasa pegal, selesai beristirahat sejenak, ia mengajakku naik ke puncak kebun teh ini. Seperti ala kadarnya anak muda kebanyakan, tak lupa kita bercanda juga berselfie ria disela-sela perjalanan kita naik ke puncak.

Lelah itu pasti, tapi semua terbayar oleh pemandangan indah yang terekspos secara bebas didepan kedua bola mataku ini. Nggak sia-sia deh capek-capek naik ke sini, pikirku.

“Capek, Ra?”, tanyanya.
“Pake nanya lagi, ya jelas lah. Tapi udah ilang kok, capeknya, tau nggak kenapa?”, jawabku bertanya balik.
“Enggak, emang kenapa?”, tanyanya balik.
“Soalnya ditemeninnya sama kamuuuu”, jawabku sambil memasang puppy-eyes.

“Euwhh.. Adik kecil belajar ngegombal dari siapa, sih?”, ejeknya.
“Ahahaha, enggak kok, boong. Hehe. Soalnya pemandangannya bagus sih, jadi capeknya ilang gitu aja”, jawabku yang membuatnya tergelak.

Suasana hening, yang terdengar hanya percakapan pelan antar pengunjung lainnya. Aku dan dia sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Angin berhembus kencang, terik matahari menjadi tak terasa karena hawa perkebunan yang sejuk. Lima menit berlalu, ia kembali bersuara.

“Mau minum nggak?”, tawarnya.
“Emang bawa?”, tanyaku balik.
“Hehehehe, enggak sih, kan tasnya aku titipin di pos parkir tadi”, jawabnya terkekeh.
“Bawa juga nggak, gitu kok nawarin”, sindirku.

“Ya udah, yuk turun, beli minum di bawah, terus lanjut jalan-jalan lagi”, ajaknya.
“Yeeee, enak aja ngajak turun. Masa mainnya di sini nggak sebanding sama perjalanannya ke sini? Udah jauh, jalannya nggak mulus, naiknya ke sini ngabisin 25 menit, baru juga duduk seperempat jam, eh diajak pulang lagi, huh!”, omelku.
“Nah, ini nih, calon ibu-ibu bawel mulai ngomel. Yaudah, terus sekarang maunya gimana?”, balasnya.

Aku cuma diam, menikmati kencangnya hembusan angin perkebunan teh di Ngawi, Jawa Timur ini. Suasana hening kembali, kulihat ia meraih handphonenya dari saku celana, memutar musik yang ada dalam playlistnya lalu menghubungkan dengan headset yang entah sejak kapan telah menyumpal di kedua daun kedua telinganya.

Setengah jam kemudian aku mengajaknya untuk turun, ia hanya menurut saja saat aku menarik pelan pergelangan tangannya. Sambil berjalan turun, ia mematikan musik lalu melepas headsetnya.

“De, gimana? Katanya akhir liburan lalu kamu nembak cewek? Udah belum?”, tanyaku mengawali percakapan.
“Udah sih, Ra. Tapi, ya, gitu”, jawabnya.
“Kenapa? Kamu ditolak ya? Hahaha ya udah pasti lah, siapa juga mau sama kamu”, ejekku.

“Kamu, Ra. Nyatanya, yang nunggu aku tiap hampir liburan ya kamu, kalo aku pulang, yang tiap hari aku juga kamu”, balasnya.
“Yeee, kita kan emang udah sahabatan dari dulu, dan selamanya juga akan begitu, De”, jawabku yang tanpa aku ketahui cukup menohoknya.

“Kamu bener, Ra. Aku ditolak sama dia”, jawabnya seadanya.
“Dia temenku sekolah, akhir libur semester kemarin kan aku nembak dia tuh. Tapi ya namanya boarding school yang menerapkan larangan buat bawa hp, akhirnya kita lost contact”, lanjutnya.

“Lah, gimana bisa lost contact, sih? Kan harusnya di sekolah masih bisa ketemu, walaupun jelas kalian beda asrama. Kamu putra, dia putri hehe”, jawabku main-main.
“Iya, Ra, dia pindah nggak lama setelah nolak aku. Dia kan sekolah di sana karena kakaknya dinas di sana. Kakaknya tentara, Ra. Tapi yang aku ngerti sih, kakaknya dipindah tugas ke daerah perbatasan, akhirnya dia pindah balik lagi ke Sleman, rumah orangtuanya. Padahal kalo menurutku juga, ngapain harus pindah? Di sana kan dia asrama, nggak tinggal sama kakaknya, jadi mau kakaknya pindah kek, enggak kek, juga sama aja, kan?”, jelasnya panjang lebar.

“Eh, iya juga, sih. Bener katamu, De. Terus? Waktu liburan ini gimana? Kamu kontakan lagi sama dia?”, aku mulai antusias.
“Waktu awal liburan aku kan baru aktifin hp tuh, aku mulai on sosmed lagi. Terus dia nge-whatsapp aku. Awalnya nanya kabar, gimana keadaan di sekolah, terus temen-temen di sana juga gimana. Ya kaya gitu aja, sih. Abis itu lama-lama dia nanyain Andrean, temen sekamar aku. Setelah cerita-cerita gitu, eh ternyata mereka udah pacaran dua minggu sebelum aku nembak dia. Gimana nggak sakit coba? Haha. Tapi nggak papa sih, soalnya aku udah bisa move on”, jelasnya lagi.

“Wah wah cemcem-an baru nih, cepet gih, ditembak, nanti keburu diambil orang lagi lo. Tapi jangan lupa, De, kalo udah jadian, jangan lupa traktir ya. Hehehe”, balasku setengah mengejek
“Kamu mah ya gitu, Ra. Yang dipikirin makan tidur mulu, gimana mau nggak jomblo, Neng?”, sindirnya yang kubalas dengan cubitan-cubitan di lengan kirinya.

Tak terasa kita telah sampai kembali di bawah. Sambil terkekeh pelan, ia berlari menuju pos parkir untuk mengambil tas yang dititipkannya. Tak lupa juga ia mengucap terima kasih setelahnya.
Ia segera menyamakan langkahnya untuk dapat sejajar denganku yang telah mendahuluiya untuk menuju ke sepeda motornya. Setelah langkah kita sama, kita melangkah secara perlahan. Pelan, tapi pasti.

Sesampainya di tempat parkir motornya, ia menyodorkan botol minumnya kepadaku untuk minum duluan. Kuraih botol transparan itu, ku buka tutupnya, dan kuteguk isinya. Sambil minum, dapat kulihat ia yang mulai bersandar ke motornya dengan wajah yang sedikit gusar.

“Kenapa, De? Kok gitu?”, tanyaku selesai minum.
“Enggak kok, Ra”, elaknya.

“Oiya, De, katanya udah move on? Sama siapa, nih? Kok nggak cerita ke aku ya?”, cibirku.
“Kamu mau tau, Ra? Bener?”, tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan mantap.
“Namanya Aira”, jawabnya singkat.

“Eh namanya sama deh kaya namaku”, jawabku polos.
“Claire Fadellannastasya”, jawabnya diperjelas.
“Aku? Kok bisa? Bercanda mulu dari tadi, huh!”, dapat kupastikan suaraku naik satu oktaf.

“Kenapa kamu? Ya nyatanya emang kamu, Ra. Enam tahun kita sahabatan, selama ini yang bisa ngertiin aku waktu aku lagi jauh, waktu aku nggak bisa kasih kamu kabar, waktu aku nggak dapet jatah libur gara-gara aku dapet hukuman, itu kamu, Ra. Kamu yang selalu nunggu aku pulang ke rumah, yang temenin aku tiap aku pengen jalan-jalan, yang mau aja aku jailin tiap kali lagi barengan. Bahkan aku sendiri nggak tau sejak kapan perasaan ini berubah, Ra. Yang aku tau, setelah liburan lalu, aku selalu pengen cepet dateng liburan lagi biar bisa ketemu kamu, kontakan sama kamu, intinya terus sama kamu. Aku tau, susah emang buat kita ngejalani nantinya, karena emang kalau pun status kita berubah, pasti semua udah nggak lagi sama. Tapi aku harap kamu tetep jadi Aira yang aku kenal selama ini”

Aku tau ia belum selesai berbicara. Masih dengan hati yang berdebar, aku hanya diam menatapnya. Ia sedikit menarik nafas dan kemudian melanjutkan kalimatnya.

“Ra, will you be mine?”, empat kata tersebut sukses membuatku melongo. Dengan sedikit salah tingkah, kucoba untuk terkekeh pelan.
“Hehehe, kamu apaan sih, De? Udah, yuk, pulang”, elakku.
“Aku serius”, katanya sambil menatap lekat kearah mataku.
“Aku capek, De. Aku mau pulang”, alibiku.

Suasana hening. Yang terdengar hanya deru mesin motor lelaki didepanku ini dan juga suara kendaraan pengunjung lainnya. Perjalanan pulang lebih terasa cepat. Hampir dua jam kuhabiskan melamun di atas motor yang digunakannya untuk memboncengku. Kata-katanya tadi masih terngiang jelas di telingaku. Bagaimana bisa?

Kurasakan laju motor yang kunaiki ini melambat dan akhirnyan berhenti. Benar, tak terasa aku sudah kembali ke rumahku. Segera mungkin aku turun dari motor dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah mengantarku pulang.
Baru selangkah maju setelah sebelumnya aku berbalik badan menghadap pagar rumahku, kurasakan sebuah telapak tangan dengan lembut menarik pergelangan tangan kananku. Sontak aku segera menoleh kepada pemilik telapak tangan itu.

“Gimana, Ra?”, tanyanya.
“Apanya, De?”, alibiku.
“Aira, May I be yours?”, tanyanya lagi.
“Maaf, De”, lirihku.

“Ah, ya, aku tau apa jawabmu”, ucapnya.
“Enggak, De, bukan gitu. Jujur, aku emang sayang kamu. Kamu sahabatku, De. Aku sayang kamu sebagai sahabat. Tapi maaf, aku nggak bisa nerima kamu, De. Kenapa? Karena aku takut yang kaya kamu bilang. Kalo status kita udah nggak sama, aku takut bukan lagi Aira yang betah nunggu seorang Dean buat pulang ke rumah. Aku takut bukan lagi Aira yang bisa terima nggak dikasih kabar oleh seorang Dean selama satu semester. Aku takut itu, De. Aku sayang kamu, kamu sayang aku, itu tetep, De. Bukankah selama ini kita seperti itu? Kita tetep sahabat, Dean, dan seperti yang pernah aku katakan, selamanya akan seperti itu”, jelasku.
Ia hanya mengangguk.

“Tadi malem waktu di telepon katanya mau beli keperluan juga buat dibawa balik besok? Nggak jadi, De?”, tanyaku menglihkan pembicaraan..
“Aslinya sih cuma alibi biar kamu nurut diajak jalan-jalan, nggak kebanyakan tanya. hehe”, ia nyengir.
Aku melotot dan mencubiti pinggangnya yang tertutup jaket.

“Oh iya, besok kamu balik ke asrama kan? Boleh aku ikut ke Malang? Ikut nganter kamu, De. Boleh ya? Ya ya ya?”, rayuku sambil memasang puppy-eyes.
Ia memutar bola matanya malas.
“Aira, kalo kamu kaya gini, gimana aku bisa nolak? Ya udah, besok pagi jam 7 dateng aja ke rumah”, jawabnya.
Setelahnya hanya kubalas dengan mengerlingkan sebelah kelopak mataku dan berlari masuk ke dalam rumah sambil terkekeh.

Dean Aditama. Bintang bersinar dalam liburanku empat belas hari semester ini. Ah, kurasa bukan hanya semester ini, tetapi enam tahun terakhir ini. Dean, kau sahabatku, dan selamanya akan seperti itu.

SELESAI

Cerpen Karangan: Rifaxx
Facebook: Ridha Fatimah
Untuk yang mau mengenal lebih jauh, sekedar sharing tentang pengalaman menulis, atau bahkan berminat untuk memberi ide saya untuk menulis, add id line saya Ridxx_. Salam pena!

Cerpen Bintang 14 Hari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Panggil Aku Chubby

Oleh:
Tepat pukul 06.59 aku tiba di sekolah. Aku memutuskan untuk berlari agar cepat sampai di gerbang sekolah karena takut pintu gerbang akan ditutup. Saking bersemangatnya aku tak mempedulikan keadaan

Secerah Mentari Seindah Embun Pagi

Oleh:
Rasa haru membungkus kalbu. Air mata telah berderai entah sejak kapan. Dua orang gadis saat ini sedang melepaskan seluruh rasa rindu mereka masing-masing. Takdir membawa mereka ke pertemuan indah

Sebuah Harapan

Oleh:
Namaku Dania Fyaniera. Biasa dipanggil Dania. Aku bersekolah di SMA favorit yang ada di kotaku. Tapi, bagiku sekolah favorit atau tidak bukan menjadi yang utama, hal yang paling penting

Nyata di Hatiku

Oleh:
“Stella…” Suara itu membangunkanku dari mimpiku yang begitu indah. Aku meregangkan tubuhku sejenak dan kulihat orang yang sedang memanggilku. Astaga betapa kagetnya aku setelah melihat orang yang ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *