Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 2 June 2018

02.00 WITA
Mata gadis itu masih saja menjelajah langit kosong. Ia terus bertanya ke mana perginya bintang-bintang yang dulu begitu disukainya. Neneknya pernah bercerita tentang bintang yang jatuh cinta pada burung kecil hingga mereka berpisah karena si burung mati. Burung itu terkubur tanah dan membusuk, sedang bintang tak seterang dulu. Mereka begitu jauh. Apa kisah yang sama juga dialami oleh bintang-bintang lain? pikirnya.

Semua orang butuh bintang, walaupun dia tahu para peramal itu hanya omong kosong. Bintang tak pernah bisa meramalkan hidup. Bintang hanya menceritakan kisah yang sudah lama dilupakan. Tapi cahaya itu, manusia akan selalu merindukannya. Bukan, bukan soal terangnya. Tapi ketulusan dan kelembutan sinarnya. Itulah yang tak dimiliki matahari. Setidaknya menurut si gadis.

“Gimana rasanya jadi bintang?” bisiknya pada Pisces, ikan cupang kesayangannya, dari luar toples.
“Seenggaknya aku bisa lebih dekat sama kakak” Ia menoleh ke arah foto dia dan kakaknya yang sedang memegang bola basket. Senyuman hampa itu terlukis lagi. Teringat operasi jahanam yang dipaksakan pada mereka berdua dengan iming-iming bak mimpi, tapi tak pernah terjadi.

Kini Avell hanya ditemani lansia-lansia di Panti Jompo Kasih Abadi. Sudah 5 tahun dia bekerja di situ dan menjadi pendengar setia nenek dan kakek yang mungkin juga kesepian. Terkadang dia merasa aneh sendiri. Lansia adalah umur di mana kau kehilangan banyak memori, tapi mereka masih bisa dengan lancar menceritakan kisah cinta di berbagai jaman. Menceritakan kisah yang dilupakan orang. Mereka seperti bintang. Bintang jatuh. Turun untuk mencari burung kekasihnya. Mungkin dulunya mereka menjelma sebagai peri-peri kecil dan mengembara mencari di mana kekasihnya. Setelah lelah dan termakan umur, sayap hijau tosca itu meredup dan terlepas. Beginilah keadaan mereka sekarang. Itu sebabnya langit Bali ini kosong dan gelap. Mereka tak tahu caranya kembali ke langit. Seperti Nawang Wulan, mereka akhirnya memutuskan untuk menikahi bumi karena burung sudah menyatu dengan bumi.

Airmatanya menetes setitik. Avell tak tahu kenapa. Mungkin dia iba atau sejenisnya. Ada getar dalam hatinya. Getar yang sama saat dia melihat peti mati kakaknya.
“Apa aku juga harus menikahi langit? Aku gak punya sayap..” Dia menangis. Makin keras.
Jun, begitu ia akrab memanggil Arjuna, kakaknya, memang bukan sekedar kakak. Ia adalah cinta sejati bagi Avell. Sejak ibunya meninggal saat melahirkan mereka, Avell hanya memiliki Jun. Jun adalah pemberian Tuhan yang sangat berarti. Jun adalah orang yang Avell peluk saat ia lahir. Mereka adalah kembar siam dempet perut dengan hanya memiliki 3 ginjal. Setelah lulus SMA mereka bertemu dengan seorang dokter yang memberi janji pada mereka untuk melakukan operasi pemisahan tanpa biaya apapun asal mereka mau menjadi model promosi bagi dokter itu. Dokter itu juga berkata walaupun hanya dengan 1 ginjal, Jun tetap bisa hidup normal. Mereka kira operasi pemisahan gratis adalah kabar baik. Nyatanya, Jun mengalami infeksi ginjal dan meninggal di usia 22 tahun. Tepat 4 tahun setelah operasi itu.

Tak banyak orang tahu seberapa berarti Jun bagi Avell, terutama dokter itu. Mungkin menurut orang lain, Jun tak ubahnya sebagai pengganggu hidup Avell. Seandainya tak ada Jun, mungkin Avell bisa menjalani hidup dengan jauh lebih mudah. Yah, seperti sekarang. NOL BESAR.
Benar kata ibu Lidya, salah seorang lansia yang ia rawat, perpisahan memang bukan hanya soal kehilangan dan menjadi sendirian. Ejekan yang kerap terlontar dari teman-temannya dulu di sekolah ternyata hanya gelintiran kecil rasa sakit tak berarti. Avell dan Jun memang bukan dua, tapi satu. Tak ada laki-laki yang bisa seperti Jun.

Jun selalu melindungi Avell dari panas, hujan dan gangguan orang lain. Jun membuat Avell mudah melakukan banyak hal. Jun yang menghibur Avell saat merindukan sosok orangtua. Bahkan Jun pula yang pertama menenangkannya saat menstruasi dan mengajari cara memakai pembalut. Bagaimana mungkin Avell tak jatuh cinta pada laki-laki seperti Arjuna? Avell lupa bahwa darah mereka adalah darah yang sama. Avell tak pernah berusaha jatuh cinta pada orang lain. Tentu saja. Ia tahu diri, cinta memang bukan barang yang didapatkan oleh orang-orang seperti Avell dan Jun. Mereka berusaha mencukupkan diri satu sama lain. Mereka salah tentang operasi itu. Salah besar.

Apa ini masih wajar? Apa ini adalah rasa cinta yang tak seharusnya dimiliki oleh saudara kandung? Entahlah.. Avell belum sempat mencari tahu. Avell sangat mencintai Arjuna. Tak ada nama lain selain Jun di hatinya. Kalaupun ia, Tuhan tak akan menghukum Avell. Toh Arjuna sudah tak ada di sini. Avell tak akan berdosa karena mencintai saudara kandungnya yang sudah meninggal. Tapi apakah cinta benar-benar butuh jantung yang berdetak?

Jun tak mati. Jun bukan burung yang mati lalu lenyap mengikuti arah angin. Jun hidup dan mendengar isak Avell. Kalau begitu, dosakah dia? Ia tak peduli. Ia tak bersenang-senang dengan dosa itu. Ini bukan saat yang tepat untuk bicara dosa. Avell hanya ingin punya sayap dan menikahi langit karena Jun tlah menyatu dengannya.
05.17 WITA. Langit mulai sedikit bercahaya.
Avell menutup sepi dalam dingin.

Cerpen Karangan: Apink
Blog / Facebook: Tifany Frinka Serrano

Cerpen Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Sendiri Karenamu

Oleh:
“Felly! Ini berkas-berkas surat izin dari Kepala Sekolah sebelum kita berangkat tugas,” ucap Riska dengan senyuman manisnya. “Sejak kapan lo meminta berkas beginian?” “Udah dari kemarin! Tapi, beruhubung gue

Temani Aku

Oleh:
Girls, sebagai perempuan rada terlalu risih kalau ke mana-mana cerita tentang cinta. Loves exist while breathing. Mungkin iya untuk perempuan hobi hang out, nongkrong, dsb. Artinya sebut saja kisah

Sekarang Aku Kembalikan Jaketmu

Oleh:
Malam ini hujan deras mengguyur di kota Oase. Jika malam hujan terjadi di kota ini, maka kota ini bagaikan kota mati. Semua lampu mati di tengah derasnya hujan. Tak

Cinta Dalam Hening

Oleh:
Hai… Ketemu lagi sama gue yang super duper unyu-unyu… Haha… #ditimpok batako… Eh.. Balon. Buat para remaja remaji… Pasti tau, pernah, pasti faham kan gimana rasanya jatuh cinta? Nah..

Candrasengkala Cinta

Oleh:
Semburat cahaya lembayung memperindah langit sore itu. Dengan awan merah bercampur orange, serta kabut putih seperti lukisan pigmen di atas kanvas. Semua warga di sekolah itu sibuk mempersipakan untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *