Bintang Antaris

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 April 2017

Bintang itu besar atau kecil? Apakah dia berada di langit yang paling tinggi? Atau ada di angkasa sana? Apakah aku mampu untuk menggapainya? mungkin tidak. Bintang itu tidak akan pernah tersentuh ia sangat jauh dan tidak akan pernah tergapai.

Bintang..
Aku tahu, akulah yang kecil. Sangat kecil jika dibandingkan denganmu. Aku bukanlah bintang yang indah. Tidak sepertimu yang banyak dikagumi banyak orang, aku hanyalah sebuah titik kecil di sini. Tidak pernah terlihat, tidak banyak disukai, selalu terabaikan. Selalu sendirian.

Monolog Ari
Bintang..
Apakah kau melihatku seperti aku melihatmu?? Apakah kau memperhatikanku? Apa kau tahu aku? Aku juga bintang, namun terlampau kecil untuk menjadi indah, aku ini bintang, bintang yang nyata adanya namun tak pernah dilihat oleh bintang sepertimu. Karena kau adalah bintang yang sangat dikagumi, indah, selalu menjadi perhatian, sangat besar dan juga terlalu tinggi. Itu adalah kau. Bintang. Bukan aku. Aku hanyalah sebuah titik yang tak terlihat. Terlalu kecil untuk dapat dilihat.

“Hei!” aku tersentak. Seseorang menepuk pundaku, ternyata Ari.
“Sudah lama? Mana Rio??” dia melihat sekeliling ruangan.
“Biasalah, sibuk” Ini adalah akhir minggu. Hari dimana seharusnya aku, Ari dan Rio menghabiskan waktu bersama di Coffe Shop. Tapi sekarang kami jarang bersama lagi karena sibuk dengan pekerjaan kami. Yang paling mencolok di antara kami adalah Rio. Dia adalah seorang penyanyi terkenal sekarang. Dulu kami selalu berkumpul di kafe tempat Rio menyanyi, tapi sekarang sangat sulit bahkan untuk duduk bersama dengannya. Selain karena jadwalnya yang padat, kami selalu dikerubungi para fans dari Rio. Dan itu membuatku tidak nyaman.

“Coffee creamy latte?”
“Ya. Seperti biasa. Kamu tidak pesan Ri?” tanyaku heran. Biasanya Ari langsung memesan kopi hitam. Dan sekarang dia hanya memandangiku.
“Aku mau jalan. Bosen di sini terus.”
“Oh? Oke. Ayo” Aku berdiri untuk merapikan pakaianku dan mengambil tas yang ada di bangku.
“Kopi kamu belum habis lho Bi.” Ari menatapku heran. Ahh ya kopiku, aku sampai melupakannya, karena ajakan pergi Ari juga karena aku risi dipandangi begitu intens oleh Ari, itu membuatku tidak fokus.
“Ehh, tidak pa-pa kok. Lagian aku juga bosan.” aku tersenyum meyakinkannya. “Ya sudah, ayo” Ari meraih tanganku sambil lalu. Tidak biasanya. Apa aku terlalu lamban sehingga harus digandeng?

“Wow” seruku takjub. Ari membawaku ke sebuah taman. Taman yang sama indahnya meski sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah kudatangi lagi. Tempat favorit kami berdua semasa SMA.
“Suka?” Tanya Ari
“Kamu masih ingat?” aku sungguh terpukau. Aku bahkan sudah tidak pernah ke sini lagi, tapi bukan berarti aku lupa. Ari berjalan ke tepi danau. “Aku tidak akan pernah melupakannya Bi. Tempat ini terlalu indah.” Ari bergumam sendiri. Aku berdiri menjajari dirinya. Masih sama rasanya, seperti dulu. Berdiri bersamanya di tepi danau dalam diam.

Hembus angin semilir menyejukkan. Menghadirkan suasana yang tenang. Hanya suara burung dan beberapa orang yang berlalu lalang. Sepertinya Ari sangat menikmati suasana ini karena dia hanya diam dengan mata yang terpejam. Aku tersenyum. Rasanya masih sama, aku yang berdiri di samping Ari untuk menunggunya berbicara lebih dulu.
“Rio sudah menjadi bintang besar” Ari mulai bicara dengan mata yang masih terpejam.
“Ya. Bintang besar. Sampai tidak punya waktu untuk kita.” aku menatapnya, dia terlihat tidak tertarik jika membicarakan tentang Rio. Aneh. Padahal dia yang menanyakannya. Ari hanya mengela nafas lalu membuka matanya. “Dari dulu, Rio sudah jadi bintang Bi.”
“Yaah, dari kita SMA. Dia selalu menjadi bintang kan? Dia itu idola semua anak di sekolah kita”
“Termasuk dirimu.”
“Siapa yang tidak menyukainya? Dia itu penyanyi berbakat Ri”
“Apa kamu masih menyukainya?”
“Ehh? Emmm ya. Sampai kapanpun”
Hening sejenak.

“Namaku Antaris Saputra” tentu saja aku tau. Kenapa dia mengatakannya? Mungkin dia sedang bercanda.
“Namaku Bintang Aurora” aku menahan bibirku agar tidak tertawa ataupun tersenyum. Hening. Aku bingung kenapa Ari hari ini?
“Antaris. Aku Antaris Bi. Kamu tau artinya?” aku diam. Ari memang sedang aneh. Tidak biasanya dia banyak bicara. Lalu hening lagi. Aku sedang mencoba mencari jawaban tentang keadaan Ari saat dia mulai bicara lagi. “Antaris itu nama lain dari Antares.” Ari terdiam lagi. Seperti sedang ragu-ragu. “Antares itu bintang besar berwarna merah yang paling terang di gugusan bintang Scorpio.” Aku bingung, mengapa Ari mengatakannya?
“Kamu tau artinya?” Aku diam, masih sibuk mencerna keadaan ini.
“Antaris berarti bintang Bi. Aku ini bintang.” aku mengerjapkan mataku.
“Ari…” Dia memegang pundaku kuat, membuatku berhadapan penuh dengannya.
“Kamu tau? seberapa inginnya aku bilang sama kamu kalau aku juga bintang? Kamu tau? Seberapa inginnya aku agar bisa menjadi bintang yang nyata? Supaya bisa kamu liat? Aku lelah Bi. Lelah.. Lelah karena harus menjadi bintang yang tersembunyi. Dan yang membuatku sedih, karena kamu tidak menyadarinya.”
“Ari, aku..”
“Kamu nggak tau Bi.” Ari terlihat sangat kecewa, aku menghela nafas berat.
“Lebih dari kamu. Aku sedih Ri.” Ari menatapku dalam dalam menunjukan perasaan kecewa. Sorot mata ini, sorot mata yang tidak pernah dia tunjukan sebelumnya.

Ari yang aku kenal adalah Ari yang tidak banyak bicara tapi selalu memperhatikan teman-temannya, yang selalu memperhatikan setiap hal kecil yang tidak pernah disadari orang lain. Kulepaskan tangannya dari pundakku. Aku tidak bisa jika ditatap seperti ini. Ku alihkan pandanganku pada danau di depan kami.
“Aku selalu berada di tempat yang paling dekat dengan bintang yang paling terang Ri. Tapi karena terlalu terang, aku menjadi redup. Aku tidak pernah disadari keberadaannya” Aku menunduk. Ari mendesah kecewa.
“Seharusnya aku tau Bi. Kamu masih mengharapkan Rio.” Aku tergagap “Untuk apa..”
“Untuk apa? Jelas agar aku tidak sakit hati Bi!” Aku menggelengkan kepala dengan lemah. Ari salah. Dia tidak tau.
“Untuk apa aku mengharapkan Rio? Untuk apa aku mengharapkannya saat aku ingin kamu menyadarinya Ri??” Mataku mulai berkaca-kaca.
“Maksud kamu?” Ari terlihat bingung.
“Aku memang bodoh Ri. Aku selalu berharap agar kamu sadar, kalau kamu adalah bintang yang aku inginkan Ri. Kamu bintangnya. Bukan Rio.” lepas sudah. Air mataku tak tertahan lagi. Aku menangis. Tidak tahu mengapa rasanya sangat menyesakkan hingga membuatku terisak. Ari memegang pipiku pelan hingga membuatku menoleh menatapnya.
“Liat aku Bi! Aku tau kamu suka Rio dari dulu bahkan sampai sekarang. Kamu baru bilang tadi Bi.” Ari mengacak rambutnya. Kucoba menarik nafas panjang agar tidak terisak. “Aku memang menyukai Rio”
Ari tersenyum sinis. “Aku tau itu. Lalu untuk apa perkataanmu tadi?”
“Aku menyukai Rio dari dulu, dan aku masih menyukainya samapai sekarang” Aku menarik nafas mencoba mengumpulkan kekuatan. “Tapi aku menyukainya hanya karena dia seorang bintang. Penyanyi. Dan seorang teman Ri. Tidak lebih.” Ari menatapku tidak percaya. Aku menunduk.
“Aku tau kamu bintang sama sepertiku. Aku.. Aku tidak tau sejak kapan aku merasa utuh. Kamu melengkapi sisi bintangku yang hilang Ri.” Aku merasakan tubuhku ditarik ke dalam pelukannya.
“Bintang… Kamu tidak tau seberapa aku ingin selalu berada denganmu lebih dari seorang sahabat. Kamu yang telah menjadi sebagian dari sisi bintangku yang lainnya.” Aku terpukau tidak menyangka Ari akan memelukku sedekat dan seerat ini. Ari melepaskan pelukannya.
“Aku sayang kamu Bi, dari dulu. Sejak kita SMA. Sejak aku mengajakmu kemari.” Aku tersenyum senang.
“Kamu tau? Aku pernah putus asa karena hanya menjadi bintang yang semu.” aku menggeleng “Kamu nyata Ri. Aku selalu menyadari keberadaan kamu.” Senyum Ari mengembang, dia kembali memelukku.
“Sekarang dua bintang akan berdiri bersama. Bukan hanya ada Bintang ataupun Antaris. Tapi Bintang Antaris. Kita Bintang Antaris, bintang bintang yang bersinar paling terang. Kita berdua Bi.” Ari mengatakannya sambil tersenyum, aku bisa merasakannya. Kubalas pelukannya. Tidak lama kemudian Ari melepaskan pelukan kami. Aku tersenyum lembut dan dia membalasnya sambil mengaitkan jemarinya padaku kami bergandeng tangan menikmati keheningan yang rasanya sangat damai.

Sangat menyenangkan bisa menikmati waktu bersama seseorang yang berarti meskipun dalam diam. Kami menatap langit senja yang bercorak jingga di tepi danau. Hanya kami berdua. Bintang Antaris.

Cerpen Karangan: Yurika
Facebook: Yurika

Cerpen Bintang Antaris merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peri Kecil

Oleh:
Sawah–sawah nan hijau menari–nari dengan tersenyum hangat menyambut hari baru dan burung-burung berterbangan di angkasa dengan kicauan membentuk pola yang memikat hati seorang anak kecil dengan wajah imut yang

Sahabatku Berubah

Oleh:
hay.. Nama aku aisyah zahra.. Aku duduk di kelas satu sekolah menengah pertama, tepatnya di smp 16 jakarta. Aku sangat senang bisa bersekolah di sekolah itu, karena aku mempunyai

Persembahan Terakhir

Oleh:
Persahabatan bukan hanya sekedar kata, yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, yang ditoreh di atas dua hati, ditulis dengan tinta kasih sayang,

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *