Bisa Lebih Dari Sahabat?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 February 2019

Teng…Teng…
Waktunya pulang sekolah. Aku berjalan ke arah kantin. Aku ingin membeli astor yang disediakan disana. Saat berjalan disana, aku bertemu dengan seseorang yang spesial bagiku, dia adalah Ryan. Aku memang agak senang saat bertemu dengannya. Aku langsung saja membeli beberapa astor di kantin dan segera pura-pura mengejeknya. “Halo, Renatya!” sapaku. Kenapa kusebut dia Renatya? Karena dari beberapa sumber, dia menyukai seseorang di kelasnya yang bernama Renatya. Kusapa dia dengan senyumku. Biasanya, dia langsung membalas dengan ejekan akrabnya yaitu ‘Bryan’. Itu karena beredar gosip bahwa aku suka dengan Bryan, padahal aku tidak menyukainya dan hanya menganggap Bryan temanku saja.

Aku merasa aneh dengan sikapnya. Ada apa dengannya? Apa dia sedang badmood? Aku membayar uang astorku. Kulihat dia juga sedang membayar belanjaannya. Langsung saja, dia mendekatiku. Karena dia agak tinggi dariku, dia menundukkan kepalanya dekat dengan kepalaku.

“Kau ke sini apa karena kita sudah ditetapkan bertemu atau kau bermaksud mendekatiku?” katanya. Aku terkejut. Apa? Maksudnya, dia menuduhku dengan niat mendekatinya. Apa dia tidak salah?
“Maksudmu? Jadi, kau mengira aku ini genit? Jangan geer!” seruku. Kulempar astorku didekatnya.
“Lalu, kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya.
“Aku ke sini tujuannya buat beli astor, bukan buat deketin kau! Kau terlalu geer!”
“Aku bukan geer! Aku hanya agak risih karena selalu bertemu dengan kau!”

Mendengarnya, aku langsung sakit. Segera, aku meninggalkan dia di kantin. Sebegitunya dia geer kepadaku. Aku ini bukan cewek genit! Aku juga tidak tahu kita ditemukan oleh siapa? Aku menyesal karena telah menyukaimu, bodoh! Tanpa sadar, aku meneteskan air mata. Aku berlari ke tempat yang agak sepi. Tempatnya agak seperti bebukitan dan jarang ada kesana, kecuali saat pelajaran musik.

“AKU INI BUKAN WANITA GENIT!!! KAU TAHU, AKU MENYESAL KARENA TELAH MENYUKAIMU!!!!” aku meneriakkan kata-kata itu. Kalian boleh menganggapku bodoh atau apa, terserah. Tapi, jujur jika kalian sepertiku, kalian pasti akan sakit hati. Apa aku benar?

Aku segera menghapus air mataku. Bodoh, kenapa aku jadi seperti ini gara-gara anak satu itu? Aku segera pulang ke rumah dan tersenyum seperti biasanya.

Ryan Pov
Sebentar, kata-kataku sepertinya menyakitinya. Aku memandang ke arah Sani. “Hei, kau telah menyakiti hati perempuan dengan katamu yang tajam itu,” kata Sani. Aku terkejut.
“Itu lebih baik. Aku tidak ingin dia mendekatiku karena aku ini merasa sangat bodoh di depannya. Aku tidak bisa sebebas dia. Dan, sebentar lagi, aku akan ke Eropa untuk kompetisi piano. Jika gagal, aku akan mempermalukannya,” jawabku.
“Justru itu, kau sangat salah besar. Kau juga menyukainya kan, bung? Dia terlihat sangat mendukungmu, padahal dia tidak tahu kalau kau mengikuti kompetisi itu. Dia memamg pantas untuk dimiliki, bukan untuk disakiti,” ujar Sani.
“Aku…,”
“Sudahlah. Minta maafnya nanti saja. Sekarang, kau fokus dulu dengan kompetisimu,”
Dari itu, aku sadar bahwa dialah yang sebenarnya mendukungku. Bahkan, jika aku kalah dari kompetisi itu. Aku ingin melihat pancaran mata kehangatannya saat dia tersenyum.
Ryan Pov end

Keesokan harinya….
Saat itu, aku bertemu dengan sahabatku, Dasy. Rasanya, aku ingin menceritakan semuanya dengannya.

“Das, kau masih ingat dia kan?” tanyaku. Ini masih pembukanya.
“Dia?” Dasy tampak berpikir. “Oh, aku mengerti,” sambungnya. Aku tersenyum.
“Apa aku terlihat seperti cewek genit di depannya? Mengingat kami selalu bertemu, apa aku terlihat seperti cewek genit? Jawab Das!” seruku.
Dasy tampak terkejut. Seperti aku yang lain. “Hei, apa kau sehat? Tumben saja kau berubah seperti ini,” ujar Dasy.
“Aku menyesal karena telah menyukainya. Aku sangat menyesal karena telah dipertemukan dengannya. Bahkan aku sangat menyesal, karena aku dan dia harus menjalani semua ini. Rasanya…rasanya… ” perlahan-lahan, air mataku menetes. Di saat itulah, sebuah tangan merangkulku. Aku menghapus air mataku.
“Tak usah menangis. Sekarang itu, zamannya cinta monyet. Bisa saja kau ngalami hal itu kan?” aku menatap dalam matanya. “Kalau perlu, kau cukup tinggalkan dia aja. Daripada kau harus menahan sakit dan penyesalan,” sambungnya. Aku mencerna baik-baik kata-kata Dasy. Benar juga. Aku harus meninggalkan semua tentangnya dan lebih baik aku fokus ke pelajaran saja.
“Baiklah. Kalau begitu, kita sama-sama jomblo dong!” kataku dengan senyum.
“Jomblo apaan? Single tahuuu…,” protesnya. Kami tertawa kecil. Benar ya, persahabatan lebih indah dari apapun.

Setelah curhat ria bersama Dasy, aku langsung naik ke kelasku yang berada di lantai 2. Aku berdiri di sekitar teras dan melihat murid-murid yang sedang berjalan masuk ke kelas sendirian ataupun bersama teman. Sekali-kali, aku bertemu dengan teman lamaku ataupun teman sekelasku yang sekarang. Dan, kira-kira saat jam setengah tujuh, aku melihat Sani, Berly, dan Delia datang bersama dengan Ryan. Aku cukup kaget melihatnya. Tapi, anggap aja itu adalah pertemuan terakhir diantara kita. Aku melihatnya dari lantai 2. Saat itu, Sani, Berly dan Delia jalan duluan melewati Ryan dan Ryan berjalan paling belakang. Sontak, Ryan langsung menghadap ke atas. Aku tersentak. Sebentar, tatapan matanya seperti memintaku untuk menatapnya. Kupandang matanya dan dia tersenyum kearahku.

DEG!
Apa? Se-senyum itu. Tanpa kusadari, aku membalas senyumnya. Lalu, dengan cepat dia berlari ke atas menghampiri Sani, Berly, dan Delia. Saat di anak tangga, aku bertemu dengannya lagi. Sekali lagi! Tapi, kali ini tanpa senyuman tadi. Entah kenapa, kali ini aku akan membatalkan niatku untuk melupakannya.

Ryan Pov
Pagi ini, rencananya aku ingin meminta maaf ke Gaby. Aku menyesal karena telah menuduhnya yang tidak-tidak. Aku berangkat bersama dengan Sani yang menungguku. Kulihat Sani yang sudah siap dengan sepedanya. Aku langsung menaiki sepedanya. Saat sampai di sekolah, aku bertemu dengan Berly dan Delia. Sial! Bisa-bisa rencanaku bisa gagal. Dan, sepertinya Berly dan Delia memang benar-benar mengejarku daripada Gaby yang tidak sengaja bertemu. Memang, terkadang kita harus lebih percaya murid dari kelas lain daripada kelas sendiri. Saat berjalan menuju kelas, kulihat Sani yang menengadahkan kepalanya diatas, dan mengajak Berly dan Delia jalan duluan. Ada apa dengannya? Karena penasaran, aku pun ikut menengadahkan kepala ke atas. Gaby? Dia sedang apa? Apa dia menungguku? Tidak..tidak.. setelah kutancap dia dengan kata-kata tajamku, tidak mungkin dia akan memaafkanku. Tapi, dia masih tetap menatapku. Apa aku harus memberikan kode untuknya? Baiklah, berlaku lembut adalah salah satu tipsnya. Aku tersenyum dan dia membalasnya. Benar-benar anak yang baik. Tidak salah lagi, ucapan Sani benar. Maafkan aku Gaby, aku telah menyakitimu.
Ryan Pov end

Sepulang sekolah, aku diajak oleh Berly ketaman. Katanya, dia memintaku untuk mengajar MTK. Baiklah, aku terima saja. Saat sampai di taman, kami duduk di salah satu bangku disana.

“Gab, aku mau ke toilet, nih! Kamu tunggu bentar ya?” katanya. Aku mengangguk. Dan, tinggallah aku sendirian di taman. Saat aku sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba ada yang menutup mataku dengan kain. Aku terkejut.
“AAAHHH!! KALIAN SIAPA??!!!” seruku. Mataku tertutup kain dan mulutku diselotip oleh seseorang. Kaki tanganku juga diikat. Apa yang akan terjadi denganku?

Saat itu, aku mendengar latunan suara piano. Apa ini? Niatnya mau menculik atau dinner sih. Dentingan piano mengingatkanku dengan Ryan. Ah, pasti bukan dia. Dia sudah tidak mau dekat denganku, buat apa dia melakukan hal serepot ini. Dan, terdengarlah suara nyanyian. Lagu Alika, Aku Pergi terdengar di telingaku. Sebentar, ini kan suara Ryan. Kenapa bisa? Ahh!! Aku ini cuma mimpi, tapi buat apa tadi kan aku sudah bangun pagi dan ini mimpi atau tidak sih?

Perlahan-lahan, ikatanku dibuka. Hanya mataku yang ditutup. Aku masih diam menikmati alunan piano yang sangat enak didengar. Alunan itu mengingatkanku dengan Ryan. Tapi, jika itu adalah dia, aku mohon biarkan dia mengerti kenapa kami bisa dipertemukan.

Alunan itu selesai tepat saat sang penyanyi selesai. Seseorang membuka ikatan di mataku. Yang pertama kulihat adalah….

“Surprise!!!!”
Aku terkejut. Hari ini bukan ulang tahunku. Dan, Ryan kenapa ada di depanku?

“Ryan,”
“Ya,” jawabnya.
“Kenapa kau melakukan hal serepot ini? Aku juga tidak ada gunanya untukmu,”
“Kau berguna untukku,”
“Lalu, untuk apa kau menyakitiku dengan kata-katamu yang kemarin? Kamu tahu, aku sangat membeci kata-kata itu. Aku bukan seseorang yang mengejar-ngejarmu dengan semurah itu. Aku hanya ingin mengejarmu dalam hal akademik itu aja!” ujarku. Suasana menjadi hening.
“Maafkan aku. Aku memang merasa jika menjauhkanmu dariku, itulah yang bisa membuatmu tidak dipermalukan,” jawabnya. Aku terkejut. Dipermalukan dalam rangka apa?
“Maksudmu? Kau tidak pernah mempermalukan aku. Bahkan, kaulah yang membuatku lebih bersemangat untuk belajar. Aku tahu, kau mengikuti kompetisi piano di Eropa kan? Makanya sejak saat itu, aku jadi ingin belajar bermain piano di tempat les. Meskipun baru piano forte 3,” ujarku. Aku memang sudah tahu sejak kemarin, karena di berita sudah banyak terdengar.
“Kau tidak usah begitu. Mau kalah, mau menang, aku tetap mendukungmu. Dan, aku juga tidak merasa dipermalukan,” sambungku.
“Maafkan aku. Aku baru sadar, ternyata selama ini aku salah. Aku juga…..menyukaimu,” katanya sambil malu. Kulihat, pipinya merah. Ya Tuhan, dia tahu dari mana?
“A-aku juga,” ujarku.

Semuanya bertepuk tangan. Aku dan Ryan saling bertatapan sebentar. Ryan mengulurkan kelingkingnya dan aku mengaitkan kelingkingku.

“You complete me,” ujar kami bersama-sama. Aku benar-benar menarik kata-kataku selama ini. Aku tidak menyesal menyukainya, malahan aku bersyukur karena telah menyukainya sebagai sahabat ataupun lebih dari sahabat.

Ryan Pov
Ternyata dugaan Sani benar. Aku salah karena sudah memikirkan macam-macam. Malahan, aku sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan seorang gadis yang baik hati. Semoga saja perasaan ini bukan hanya sebagai sahabat, namun lebih dari sahabat.
Ryan Pov end

Tamat

Cerpen Karangan: Ariki_Taruka
Blog / Facebook: Silvia Anggelina
So, seorang otaku plus K-Drama lovers. Pecinta IPS dan lebih senang mendengarkan musik mellow-mellow gitu. Seorang yang sangat gampang mendapat ide dari musik, ataupun realita sehari-hari. Moto : Jalani hidup seperti biasa, jika ada istimewa jangan cepat puas, nikmatilah. Jika gagal, berjuanglah hingga hasil yang maksimal.

Cerpen Bisa Lebih Dari Sahabat? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kembalinya Senyum Yang Hilang (Part 1)

Oleh:
Hari Pertama Memasuki SMA 20 Hari senin, Pukul 06:30. adalah Hari pertama seorang Zahra Agnesia menginjakkan kakinya di SMA 20 Jakarta, sekolah yang memang sudah menjadi tujuan Seorang Zahra

Sahabat Pertama dan Terakhirku

Oleh:
Hai kenalin nama aku Eka. Kali ini aku mau bercerita tentang persahabatanku bersama teman-temanku. Aku punya sahabat yang sangat menyayangiku, mereka adalah Iluh, Candra dan Vian. Kami berjanji untuk

“Aku”

Oleh:
aku adalh aku, aku tidak bisa seperti kamu dia atau pun mereka, karena inilah aku inilah driku dn inilah kehidupanku, itu lah kata yg sering ku dengar dari mulutnya,

My Bestfriend, My True Love

Oleh:
Sebelumnya, aku tidak pernah tahu makna cinta, karena menurutku yang lebih indah dari semua itu adalah persahabatan. Persahabatan lebih dari apapun, karena mencari sahabat sejati begitu susahnya, seperti mencari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *