Bisikan dari Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 2 December 2017

Pepohonan rindang nan tinggi tampak menyeramkan di malam hari. Namun terlihat kokoh nan indah disaat pagi, siang, dan sore hari. Menjelang libur semester Tari menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan daerah Bengkayang. Tampak pria bertubuh gagah nan tampan bagai pangeran di hadapannya, sedang berdiri di sekitar rak buku yang terletak di sudut sebelah kanan dari tempat ia berdiri. Itu adalah seorang penjaga perpustakaan. Tari sedang sibuk mencari buku cerita fiksi yang menjadi favoritenya. Yaitu, buku-buku fiksi terbaru. Namun, sekitar sepuluh menit membolak-balikkan buku yang tersusun rapi, Tari masih belum menemukan buku fiksi terbaru, yang ada hanyalah susunan buku yang sudah lama.

“Mas, ada buku fiksi baru gak?” tanya Tari pada penjaga perpus, sembari tersenyum menampakkan gigi rapinya nan putih.
“Ada, mba. Di sini.” jawab penjaga perpus, sambil menunjuk rak buku di hadapannya.

‘REKAMAN MISTERI DARI SURGA’ itulah judul novel yang Tari temukan. Ia segera meminjamnya.
“Mas, tolong dicatet. Saya pinjam novel ini, yah” ujar Tari, sembari menyodorkan novel yang ia pinjam.
“Oke, mba. Silahkan tanda tangan di sini.”

“Wah akhirnya dapat juga ni novel, dari judulnya saja sudah membuatku penasaran ingin cepat membacanya hingga tuntas,” Celoteh Tari sembari keluar meninggalkan perpustakaan. Ia langsung mengendarai sepeda motornya untuk segera pulang.

Tiba-tiba saja, ‘Gubrakkk!’ suara motor bertabrakan tepat di depannya, untungnya ia tak terkena imbas dari kecelakaan itu. Sontak Tari terkejut dan segera memparkirkan motornya di tepi trotoar. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera menolong salah satu pihak yang cidera, yaitu pihak perempuan saja. Sedangkan pihak yang menabrak adalah lelaki yang kira-kira seumuran dengan Tari, banyak yang melihat namun tak ada yang mau menolong lelaki malang itu. Tari akhirnya memilih untuk menolong lelaki tersebut, ia segera menghubungi ambulan dan mengatakan keberadaan posisinya saat ini. Sekitar lima menit ambulan sudah tiba di tempat, mereka segera menuju rumah sakit terdekat.

“Di mana aku?” terdengar suara dari tempat pembaringan. Tari yang sedang membaca novel akhirnya menengok ke arah sumber suara.
“Ternyata kamu sudah siuman, syukurlah,” ujar Tari, sembari menghampiri lelaki itu.

Tiba-tiba novel yang ia baca tadi terjatuh dari atas meja. Ia terkejut dan bingung, sambil menoleh ke arah belakang.
“Bukankah aku meletakkannya tepat di tengah meja, kenapa bisa jatuh? Apakah angin menerpanya? sepertinya tak ada angin yang melintas,” gumam Tari, dalam benaknya.

“Nona, aku di mana sekarang?” suara itu menyadarkan Tari dari lamunannya.
“kamu dirawat di RS. Tadi aku melihatmu kecelakaan tepat di depanku, sehingga aku membawamu ke sini,” jawab Tari, diikuti senyum manisnya.
“Oh ya, aku sedikit ingat dengan kejadian sebelum itu, ada bayangan putih yang menutupi pandanganku, saat sedang melaju dan remku terasa tak berfungsi. Bagaimana keadaan yang kutabrak? Apakah aku menabrak tiang, hewan, atau.. manusia?” volume suaranya semakin pelan diakhir,
Perkataan lelaki itu membuatnya berpikir sejenak. “Bayangan? Apakah hantu?” pikir Tari, dalam benaknya.

“Hei, Nona. Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?” ujar lelaki itu dengan ekspresi menaikkan alis sebelah kanannya.
“Ehh iya, aku tak tau keadaan wanita yang kau tabrak, orang-orang dengan segera memberinya pertolongan” jawab Tari, gugup akibat berpikir.
“Hm, syukurlah. Semoga saja dia tak terluka parah. Siapa namamu, nona?” tanyanya.
“Namaku, Tari. Siapa namamu?” Tari bertanya balik.
“Namaku, Rais. Bisakah kau menolongku mengambilkan handphoneku, nona? Aku ingin menghubungi ibuku.

Tari segera menuju meja tempat hp itu tergeletak.
“Hallo.. nak, kamu di mana sekarang? Kenapa belum pulang juga, ibu khawatir padamu nak” terdengar jelas suara kecemasan dari ibunda Rais.
“Maaf, bu. Rais kecelakaan, sekarang Rais bersama nona cantik yang telah menolong, dan membawa Rais ke RS terdekat” begitulah jawaban Rais kepada ibunya yang sangat mengkhawatirkannya.
“Apa?? Ibu akan segera ke sana, nak” terdengar isakan tangis dari ibunda Rais.

Usai menelepon ibundanya, Rais akhirnya istirahat sejenak untuk melelapkan mata yang tampak merah menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sedangkan, Tari kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan membaca novel sembari menunggu kedatangan ibunda Rais.
“Novel ini sangat menarik, baru 15 halaman saja sudah membuatku penasaran banget, dan ingin cepet tau endingnya seperti apa.” Ia bersuara dalam benaknya.

“Raisssss” teriakan itu mengejutkan Tari, sekaligus membangunkan
Rais dari lelapnya. “ibuu” sahut, Rais.
Ibunda Rais tampak cemas, terlukis raut wajahnya yang begitu sayu melihat anaknya sedang terbaring lemah dengan banyak balutan luka di kepala dan kaki, tentu tak bisa dipungkiri kesedihan yang terpancar dari linangan air mata seorang ibu. Rais menceritakan kejadian yang ia alami ke ibunya, ternyata ia lupa membaca do’a ketika akan mengendarai sepeda motor.

“Nona, siapa namamu? Terima kasih atas pertolonganmu, nona manis” ujar, ibunda Rais.
“Perkenalkan, nama saya Tari Kumala Dewi, bu. Senang bisa membantu anak ibu,” jawab Tari sembari menebar senyum keikhlasannya.
“Ini kartu nama saya, barang kali nona cantik perlu bantuan, bisa menghubungi ibu. jangan sungkan-sungkan, yah” Ibunda Rais memberikan kartu nama dan langsung diterima oleh Tari.
“Baik, bu. Terima kasih, saya pamit pulang dulu, mau lanjutin tugas kuliah yang belum kelar, bu” Tari pamit dan segera keluar meninggalkan rumah sakit itu setelah ibunda Rais mempersilahkannya.

Lima hari kemudian. Suasana telah hening, langit malam ditemani spektrum bintang yang indah, hanya terdengar suara kerikan jangkrik yang bersahut-sahutan. Tandanya ia harus segera tidur agar tak kesiangan untuk bangun dipagi hari, agar ia dapat menyaksikan suasana fajar yang sejuk, dan tentunya suasana ini sangat dinantikan oleh Tari setiap harinya.

“Tari! lanjutkan membaca novelku, ada pesan yang ingin aku sampaikan padamu, pesan yang menjadi harapan terbesarku. Kau harus segera mengetahuinya,” Terisak bisikan-bisikan itu di telinganya.
“Mengapa? mengapa kau memaksaku membacanya disaat tengah malam begini, pesan apa yang ingin kau sampaikan? Kenapa kau sangat ingin agar aku segera mengetahui pesan itu? Apakah kau mengenali diriku? Tari berbicara dengan sosok wanita yang begitu cantik, dengan mengenakan gaun putih yang mewah dan membawa novel yang ia kenali itu.
Wanita itu tersenyum lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan yang Tari lontarkan padanya.

Alarm tiba-tiba berdering, ‘krining krining krining’ “aduh cepat amat alarm berbunyi, aku masih sangat lelah, jam berapa sekarang? Rasanya.. aku baru terlelap selama satu jam.” Tari bangun dan terkejut melihat jam,
“Ya. tidak salah lagi, ini masih pukul dua dini hari, bahkan sang surya pun masih terlelap di ufuk barat, kenapa alarm itu sudah berdenting? Lalu, siapa wanita cantik yang menghampiriku tadi? Sungguh seperti nyata, mungkin.
‘aww sakit’ ternyata memang benar aku sedang di dunia nyata saat ini, sedangkan satu jam yang lalu? Hahh ternyata aku hanya bermimpi didatangi wanita itu, dan… novell!!! apa-apaan ini? Mataku ini salah lihat atau tidak? Mengapa novel ini bisa berada di samping kepalaku, semalam aku sangat ingat menyimpannya di laci buku, lalu kenapa bisa ada di sini? apakah ada seseorang yang memasuki kamarku semalam?”
Seribu pertanyaan itu sangat betah terparkir di dalam ‘brainnya’. Ia bingung dengun semua yang terjadi beberapa hari ini.

Pagi yang begitu cerah, tumpukan embun di dedaunan mulai sembunyi tersipu malu, tampak awan-awan muda di puncak gunung semakin meninggi, sang surya pun semakin berani menampakkan diri. Tari sedang membereskan kamarnya dipagi itu, hinggaplah seekor burung merpati membawa sepucuk surat menuju jendela kamarnya, kemudian kembali terbang meninggalkan pesan. Saat ia memandang ke arah jendela, ia melihat ada segulung kertas putih yang diikat pita merah tergeletak di tepi jendela, ia pun segera beranjak menuju posisi kertas itu berada, ia segera mengambilnya, dan ternyata berisi sebuah pesan.

Dear Tari
Hei.. apa kabar, nona? Kuharap baik-baik saja. Ini Rais, aku ingin bertemu denganmu malam ini, apa kau bisa? Aku sangat berharap kau bersedia menemuiku malam ini, ada hal penting yang ingin aku ceritakan padamu.

Salam dariku
Rais

Tari bingung, bagaimana cara ia membalas surat itu, Sedangkan ia tak tahu tempat untuk bertemu itu di mana. Lama memikirkan cara, akhirnya Tari teringat oleh kartu nama yang pernah ia terima. Diambilnya kartu nama yang belum ia ketahui nama pemiliknya itu, Tari menuju laci bukunya untuk mencari, alhasil ketemu juga. ‘Yati‘ itulah nama yang tertera di kartu nama tersebut. Ia pun langsung menghubung nomor tersebut.

“Hallo.. dengan saya, Yati. ini siapa?” terdengar jawaban sekaligus pertanyaan dari ibunya Rais.
“Ini Tari, bu. Apakah saya bisa minta nomor hp Rais, bu? Tadi saya mendapat kiriman surat darinya, tetapi saya bingung cara membalasnya, bu” jelas Tari.
“Oh. baik nak, nanti ibu kirimkan melalui pesan singkat, ya” jawaban ramah dari bu Yati.
“Iya bu, terima kasih atas waktunya, bu.” pembicaraan antara Tari dan ibunya Rais diakhiri.

Tak lama kemudian ada pesan singkat yang masuk: 08953358***** itulah nomor ponsel Rais. Segera ia hubungi melalui pesan singkat.
“Kabar baik dariku, semoga kamu baik juga ya. Oya, emang mau ketemu di mana?” Ituah pesan singkat yang diluncurkan olehnya,
“Hehe, syukurlah, aku juga baik, di cafe Misbar, mau?” balasan dari Rais.
“Oke, aku mau. Sekitar jam 7, ya” balas, Tari.
“Sip, ditunggu” jawab, Rais.

Pukul 10:00 tiba, tandanya ia harus segera menuju kampus, dalam benaknya selalu dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang terkadang membuatnya terlamun. Usai 30 menit perjalanan, akhirnya ia tiba di kampusnya yaitu, Akmen-BS. Pukul 14.00 siang, jam kuliah Tari telah Usai, ia bertemu dengan temannya yang bernama Siska. Siska merupakan tipe orang yang penakut dan manja, mendengar cerita dari Tari, bulu kuduknya langsung merinding,

“Idih. serem amat sih, Tar. Gue takut nih,” cetus Siska. Setelah panjang lebar bercerita, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 15.05, dan Tari segera pamit pada Siska untuk pulang ke rumah. Tak lama kemudian Tari tiba di rumah, ia langsung rebahan di kasur empuknya untuk menghilangkan penat yang ia rasakan, sembari membaca novel yang membuatnya penasaran itu. Setiap membaca halaman demi halaman, Tari selalu menyimpan pertanyaan tentang kisah yang diceritakan dalam novel tersebut.

Tak terasa 2 jam telah berlalu dan Tari mendapati pesan itu sontak terkejut tak habis pikir. “benar novel ini menyimpan pesan, tetapi kenapa pesannya aneh begini ya” ujar, Tari.

*Suatu ketika aku mengharapkan ada seorang wanita yang baik dan tulus hatinya yang akan menggantikan posisiku untuknya, tak perlu berwajah cantik, namun sifat harus baik, dan hatinya harus tulus mencintai Rais. Aku sangat mengharapkan wanita itu bersedia menikah dengan Rais. Tuhan berkata padaku dari surga: ‘Jodoh Rais adalah Tari’.
Engkau lah orangnya, Tari. Salam dariku, Vira Santika, untukmu Tari Kumala Dewi.*

Airmatanya berlinang, hingga membasahi bantal empuk yang menjadi penopang dagunya sejak tadi. Tari tak sanggup membendung kesedihan ini, walau sebagian pertanyaan itu sudah terjawab, namun berganti rasa aneh yang mengganjal dan memunculkan pertanyaan baru.

“Siapa, Vira sebenarnya? Apakah putri dari surga?” Tari menutup novel tersebut untuk melihat nama penulis novel itu. Ternyata.. Vira Santika. Ini hari ke enam novel itu berada di tangan Tari, tandanya esok hari ia harus mengembalikan novel itu ke perpustakaan.

Malam begitu sejuk, terdengar hiruk-piruk dedaunan yang saling bersentuhan karena lantunan angin sepoi yang menari. Malam ini terlihat sangat indah, langit kelam yang dihiasi oleh ribuan bintang yang gemerlapan membuat suasana yang begitu menenangkan. Inilah suasana yang sangat Tari ingin rasakan. Tibalah Tari di cafe Misbar pukul 19.00, tampak di pojok kanan sudah ada lelaki tampan nan gagah yang sedang menunggunya.

“Tari, sini.” Rais memanggil sembari melampai-lambaikan tangan kanannya. Ia menghampiri Rais kemudian duduk tepat di depannya. Tiba-tiba saja ia berkata “ada hal penting yang ingin aku sampaikan” ujar Tari.
“Silahkan, jangan ragu mengatakannya, sebab ada hal penting juga yang akan kusampaikan padamu” sahut Rais.
“Aku mendapat pesan dari novel yang kubaca, pesannya aneh dan membuatku malu untuk mengatakannya padamu, tetapi kali ini aku punya cukup keberanian untuk menceritakan kejadian yang aku alami, ada pesan yang bertuliskan; ‘JODOH RAIS ADALAH TARI’ dan silahkan kau lihat sendiri. Tari memberikan novel itu kepada Rais sebagai bukti agar Rais tak menertawakannya.
Rais tersenyum membacanya sambil berkata “Sudah kuduga, ini benar darinya, sesungguhnya aku bermimpi” ucap Rais sembari menatatap tajam mata Tari.
“Apa sebenarnya maksudmu tentang mimpi? Aku tak mengerti,” Ia merasa bingung mendengar ucapan Rais. Hingga akhirnya, Rais menjelaskan semuanya kepada Tari.

“Dengar dan pahamilah penjelasanku, Tari. Kau tau siapa penulis novel ini bukan? Rais bicara dengan sorot mata yang berkaca-kaca; Penulisnya adalah Vira Santika, dia kekasih lamaku. Kini.. dia telah tiada, ia meninggalkanku dalam pelukanku setelah sekian lama berjuang melawan sakit Kanker yang ia derita, satu tahun yang lalu kami menjalin hubungan berstatatus pacaran, dan hanya berjalan selama 6 bulan, hingga akhirnya Vira menghembuskan nafas terakhirnya tepat di pundakku. Saat kami berada di bawah pohon yang begitu rindang, letaknya tak jauh dari lokasi aku kecelakaan beberapa hari yang lalu, aku tak dapat membayangkan betapa terpuruknya aku saat Vira pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Namun, sekarang aku telah mengikhlaskan kepergiannya. Tiga hari yang lalu aku bermimpi, Vira mendatangiku dan memberiku sebuah pesan yang tertabuh di gendang telingaku. “TUHAN BERKATA PADAKU DARI SURGA, JODOH RAIS ADALAH TARI; harapanku, engkau bahagia bersamanya. Sehingga, aku akan merasakan kebahagiaan itu pula.” Itulah yang ingin aku sampaikan padamu, Tari.”

Air matanya terus mengalir, ia tak menyangka akan ada kisah seperti ini di kehidupannya, ia tak tau apakah harus bahagia karena telah menemukan jodohnya, ataukah merasa sedih mengingat mimpinya. Yang ia tau saat ini adalah, ia harus bahagia agar Vira pun merasakan kebahagiaan pula. Rais pun menghapus bulir-bulir keharuan yang terus menetes dari sumber kebeningan mata Tari. Ia memasangkan cincin di jari Tari, dan Tari hanya terdiam kaku.

Keesokan harinya, Siang yang begitu menyengat hawa panas, membuat kening Tari berkeringat. Hari ini tepat tujuh hari ia meminjam novel penuh misteri itu, dan tandanya ia harus mengembalikannya hari ini, ketika Tari membuka laci bukunya untuk mengambil novel tersebut, namun novel tersebut telah lenyap.

Tamat

Cerpen Karangan: Fitri Cahya Lestari
Facebook: Fitri Cahaya Lestary
Fitri Cahya Lestari, lahir di kota Bengkayang, Kalimantan Barat. Pada tanggal 19 Januari 1999. Ia adalah seorang pelajar di SMA Negeri 3 Bengkayang, saat ini ia menduduki bangku kelas 3 SMA, tercatat sebagai siswi yang masuk jurusan IPA. Anak yang lahir dari sepasang suami istri bernama bapak Mutadi Pragesta dan Ibu Erna. Ia lulusan dari SD Negeri 03 Bengkayang, dan SMP Negeri 01 Bengkayang.
Selain bercita-cita sebagai penulis terkenal, ia juga seorang Atlet beladiri Tarung Derajat dari kabupaten Bengkayang, ia pernah bertanding di ajang bergengsi yaitu , PORPROV XI Se-Kalimantan Barat, pada tahun 2014.

Cerpen Bisikan dari Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja di Pantai Gandoriah

Oleh:
Aku memang mengagumi salah satu belahan dari Pulau Sumatera ini. Sumatera Barat. Beruntung Bibiku (adik ibu) bersuamikan orang Minang. Dan secara otomatis Bibiku pun ikut tinggal di kampung halaman

Remember

Oleh:
“Apa kau masih mengingat daun maple yang berguguran diwaktu senja?” Pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di otakku. Apa aku masih mengingat itu semua? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Untuk sekarang

Kado Akhir Tahun

Oleh:
Disaat sedang mengumpulkan sisa – sisa pikiran, di saat kepala masih pening, di saat pagi yang dingin. yang sebenarnya enggan untuk bangkit menuju kamar mandi, enggan terkena air. Tapi

My Name Is Angel Part 2

Oleh:
Sekarang Angel telah berdiri didepan gerbang sekolah barunya, dengan langkah tegap dan senyum manis yang menghiasi wajahnya, dia telah siap memulai hari disekolah barunya. Dilihat nya sekolah barunya secara

Grup Detektif VAR

Oleh:
Namaku Muhammad Vito Pratama sebenarnya aku tidak tertarik dengan dunia detektif sampai suatu ketika aku ditawari temanku. Seperti biasa aku menghabiskan waktu untuk membaca buku, lalu selang beberapa menit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *