Bisikku Pada Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 April 2017

Hujan mengguyur Banjarmasin sore ini, membasahi setiap jengkal tanah dan atap-atap rumah yang karatan. Hujan. Di mataku hujan adalah jembatan kenangan, membawa sejuta cerita. Ah, sialnya. Cerita yang dibawa hujan selalu indah. Jika hujan aku akan teringat seseorang yang paling bisa membuatku tertawa lebar, bahkan untuk waktu yang lama aku masih mengingat candaan renyahnya. seseorang yang paling mengerti aku. Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Aku pasti tidak akan bisa berhenti bicara.

Disaat hujan aku sering memikirkan hal-hal yang aneh. Bahkan yang sulit diterka nalar sekalipun. Membawaku pada imajinasi yang tabu. Aku memikirkan sebuah kenyataan yang terdengar tidak mungkin. Ya seperti sekarang ini. Aku ingin bertanya padamu sekali saja. Kenapa aku bisa sejauh ini jatuh cinta padamu?

Aku selalu menjadikanmu sebagai topik dalam cerita-ceritaku dengan hujan. Perbincanganku dengan hujan kadang tak seirama dengan apa yang aku ucapkan. Tapi, hujan selalu saja tau kebohonganku. Seakan-akan aku tidak akan pernah bisa memanipulasi perasaanku tentangmu. Aku memang tidak pernah bosan membicarakan sesuatu yang mustahil kan ada. Kau. Seseorang yang jauh di sana. Yang tidak diketahui keberadaannya. kali ini aku berkoar-koar lagi pada hujan. dan aku jamin, ini sesuai dengan perasaanku.

“Asik, malam ini bisa tidur nyenyak, hujan!” ucapku. Kau tahu kan aku adalah penderita insomnia, hujan membantuku untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas..
“Apanya yang asik, hujan bikin jaringan jadi jelek tau.” Jawabmu. Entahlah, sebuah kalimat yang rancu. Ya, jaringan memang menjadi masalah utama untuk hubungan ini. Terdengar aneh memang, tapi inilah kenyataannya.

Disini letak anehnya. Hanya lewat chatting, aku bisa sedalam ini menyukaimu, sejauh ini mencintaimu, dan aku tidak pernah bisa mengerti perasaanku sendiri soal ini.

Aku dikenal sebagai seorang wanita yang rasional, selalu berpikir menggunakan logikaku, aku akui, aku bersifat egois hampir maksimal. Tapi, entahlah. Saat bersamamu, aku menjadi seorang wanita yang alay, manja, dan aneh. Memalukan! Lupakan kalimat terakhir.

Untukmu lelaki yang tak pernah berhenti kupikirkan. Aku mencintaimu seperti apa adanya dirimu. Apa adanya. Sekali lagi, apa adanya.

Tapi hubungan ini menemui titik jenuhnya dalam bulan-bulan terakhir. Aku tahu kita sudah melalui berbagai macam masalah. Sejauh ini, kita masih bisa bertahan. Entah, hubungan ini memang tidak pernah diawali dengan sebuah komitmen. Jika ini pikirmu, hubungan ini memang sulit untuk direalisasikan.

Jarak kita memang jauh, antara pulau Kalimantan dan Jawa. Terhalang ruang dan waktu. Itu bukan hal mudah untuk dijalani, bukan?

Aku meyakini suatu hari nanti, kau dan aku. Jika ini memang telah tertulis di dalam takdir kita masing-masing. Lupakan tentang kemustahilan. Tuhan selalu punya kejutan, selalu punya ribuan keajaiban.

Tentang hubungan ini, jangan tanyakan lagi. Aku tidak pernah lelah meyakinkanmu. Aku tidak pernah berhenti mendoakanmu. Dan aku tidak pernah bosan mencintaimu.

Mungkin ini adalah bisikku pada hujan yang tokoh utamanya adalah dirimu untuk kesekian kalinya, kali ini aku berkata jujur tentangmu. Hujan Banjarmasin sore ini. Dan aku semakin mencintaimu.

Cerpen Karangan: Rhema Yuniar
Facebook: Rhema Yuniar

Cerpen Bisikku Pada Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Pasti Kembali

Oleh:
Dirinya terukir indah. Tak mengerti semenjak kapan. Namun, perlahan sosoknya menjadi pemeran penting dalam naskah alam pikirku ketika kedua bola mata terpaku akannya. Saat itu, seolah-olah bianglala tergelar di

Cintai Aku (Lagi)

Oleh:
Cinta itu unik. Kita tidak akan pernah tau kapan kita akan jatuh cinta. Tidak akan tau siapa yang akan meluluhkan hati kita. Dan tidak akan pernah tau apakah cinta

Malam di Ujung Lombok

Oleh:
Dari dek kapal kulihat birunya laut tak terbatas, sedang burung-burung terlihat berterbangan hilir mudik berpasang-pasangan. Mentari setia dengan selalu terangi keindahan siang. Angin berlomba untuk mengitari setiap lekuk yang

Diary ku Tersenyum

Oleh:
Senyum itu dan aku hanya menatap, terdiam dan betah serasa isyaratkan dan mengartikan bahasa di jiwa, mengertikan cinta yang ingin menjadi keharusan. Keharusan selalu berada di setiap detik berdenting,

Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *