Boarding Love On (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 March 2017

Ini adalah langkah awal bagiku untuk kembali menata dan merancang masa depanku, dan ini adalah saatnya aku untuk menghabiskan masa remajaku dengan berjuta cerita yang akan menjadi memori terindah dalam hidupku. Ya di mana lagi kalau bukan di SMA. Tempat yang sangat aku idam-idamkan dari dulu, tempat dimana aku bisa pergi bareng sama teman-teman, pergi makan bersama dan yang pastinya pergi shoping bareng. Mmm jadi gak sabaran.

WELCOME TO PUTIH ABU-ABU…
Hari ini matahari bersinar dengan sangat terik lambaian angin pun datang menyejukkan pipi ini. Suasana rumah begitu sepi dan hening. Hari libur ini semua orang di rumah sibuk dengan urusan masing-masing. Aku hanya terpaku pada sebuah bolpoin dan binder kesayanganku. Mereka adalah sahabat tempat curhat yang selalu menemaniku, setelah Kevin Si Minion kuningku. Tapi tiba-tiba terdengar suara mama yang berteriak histeris setelah membuka gadgetnya.

“Pa… Papa… Papa,” ujar mama.
“Ada apa sih Ma. Papa lagi sibuk nih,”
“Pa lihat deh, pengumuman udah keluar dan anak kita diterima Pa.” Ujar mama dengan perasaan yang sangat senang
Karena penasaran aku pun keluar dari kamar dan menghampiri mama dan papa.
“Kak, Kakak berhasil Kak,” ujar mama sambil nangis, ketawa dan merangkulku.
“Apaaan sih Ma?”
“Ciee, anak papa yang akan jadi anak asrama,” rayu papa
“Hah? Asrama?”
“Iya, Kakak diterima di SMA unggul 2 Indonesia itu kak,” sambung mama
“Seriusan Ma?” balasku sambil senyum penuh dengan keraguan
“Iya, jadi besok kita harus pergi daftar ulang dan membeli semua perlengkapan untuk di sana.”
“Mmm, ya Ma, na ke kamar duluan ya Ma. Eh iya Ma, Nisa, Via Novi, Putri sama Ihsan gimana Ma?”
“Wait, mama search dulu,”

Setelah beberapa menit
“Hah.. Mereka juga lolos Kak,”
“Hahha bagus deh Ma, kan jadinya nggak sendirian,”
“iya ya, eh Mama tadi lagi masak, Mama ke dapur dulu ya.”
“iya ma.”

Asrama? Sekolah boarding? Kenapa harus diterima sih, sebenarnya aku sih malas sekolah berasrama tapi aku gak tega juga sih nolaknya, mama sama papa tu kelihatannya semangat banget pas tau kalau aku diterima di sana. Lagian temen-temen sekelasku di SMP juga banyak yang diterima di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap masuk di sana.

AWAL DARI SEGALANYA
Hari ini aku resmi menjadi anak asrama, aku diantar mama papa dan adek adekku ke asrama, sebelum sampai di asrama mama mengajakku ke rumah teman papa yaitu om Arif yang rumahnya lumayan dekat dari sekolahku, beliau adalah seorang dokter spesialis saraf, kata papa beliau dulunya adalah anak asrama juga.

“Hy Lana, udah besar ya, padahal kemaren ketemu Om masih setinggi lutut Om,” ujar om Arif
“Iya Om, Om juga udah tuaan sekarang padahal dulu ketemu Na masih ganteng. Hahaha,” candaku
“Emang sekarang om gak ganteng lagi?” balas tante Rina istrinya om Arif
“Masih kok Tan, tapi dikit, haha,”
“Dasar anak ini,” sambung mama
“Gimana perasaannya mau jadi anak asrama?”
“Biasa aja kok Om, rasanya gak ada yang menarik.”
“Masak? Eh asrama itu enak lo, apalagi ntar kalo udah ada yang ditaksir, beban asrama sama sekolah pasti hilang.” gurau om Arif
“Ih Om apaan sih,”
“Iya Om aja sama Tante bertemunya di asrama.”
“Emang iya? emangnya boleh di asrama tu pacaran Om?”
“Enggak sih, tapi kalau udah cinta mau gimana lagi, lagian nggak ketahuan kan.”
“Hahaha, berbakat om.”
“Eh asik banget tu ngobrolnya makan dulu yuk, Tante sama Mama udah masak ni.” Ujar tante Rina
“Ayo,” jawab kami secara serentak
“Yeeee, makan,” sambung adek-adekku
Setelah selesai makan, kami pun pamit sama om dan tante, karena kami akan berangkat ke sekolah baruku.

Sesampainya di gerbang asrama aku bertemu sama yang lain, ya siapa lagi kalau bukan alansa. Oh iya alansa itu nama kelasku waktu di smp.
“hy all,” sapa ku
“Hi,” balas mereka dengan serentak sambil menghampiri orangtuaku dan bersalaman
“Ih nggak nyangka ya, kita bisa keterima di sini, and jadi anak asrama,” sambung via
“Yoa, tapi sayangnya ihsan sendiri aja yang cowok,” balas ihsan
“Nggak papa kok, kan masih ada kami,” ujar nisa
“Ya lah tu,” balas ihsan
“Eh masuk yuk, kasihan lana, pasti berat megangin koper dari tadi,” sambung novi
“Eh nggak pa kok, ya udah yuk masuk, lagian kayaknya papa udah siap ngurus admnya,” jawabku
Aku pun menghampiri mama dan papa
“Yuk kak, ke kamar, kamar kakak di lantai dua no 205,” ujar papa
“Eee, kepencil deh lana di atas sendirian,” sambung putri
“Emangnya kalian di bawah semuanya?” balasku
“Iya, Via dan putri sebelahan, terus nisa sama novi juga sebelahan,” sambung ihsan
“Mmm, gak papa kok, yang penting kita kan masih satu atap, ya kan san. hehehe,” balas ku
“Yoi,”
“Eh yuk masuk,” ajak mama
“Yuk cusss, tante Lia yang cantik,” balas teman-teman ku
“Kalau gitu ihsan ke asrama ihsan ddulu ya om, tan,”
“Emangnya anak cowok gak boleh masuk?” tanya mama
“Nggak tan.”
“Ooo, ya lah San, kami masuk dulu ya,”

Sesampainya di kamar, ternyata teman sekamarku sudah datang ketiganya
“Eh udah pada datang ya,” tanya mama
“Udah tante, Varet tan,” jawab salah satu dari mereka
“Reni tan, dan ini Aisyi tan,” ujar mereka sambil bersalaman sama orangtuaku
“Eh iya, tante mamanya lana, dan ini anak tante, namanya Alana, panggil aja Lana,” ujar mama
“Hi,” sapaku
“Hy Lana,”

Setelah berkenalan pendek, mama membantuku merapikan barang-barangku dan menyusun baju ke dalam lemari, setelah selesai, mama pamitan untuk pulang karena hari sudah lumayan sore dan mama juga takut kena macet. Ketika mama keluar dari kamar, air mataku pun berderai jatuh ke lantai. Di sini aku baru merasakan batapa berharganya keluarga itu.
“Loh, kok nangis?” tanya mama
“Iya, na gak mau pisah sama mama,” balasku sambil nangis
“Eh, udah ah, kan udah SMA jadi gak boleh cengeng lagi. Kan enam bulan lagi akan bertemu lagi,”
“Tapi enam bulan itu kan lama ma,”
“Nggak akan lama kok, kalau kakak menikmatinya. Lagian kalau ingin sukses ya harus memiliki perjuangan yang keras.OK!”
“Terus gimana cara na komunikasi sama mama? kan gak ada hp,”
“Ya kan masih ada laptop, ntar kalau kangen kita skype aja,”
“Hahah, gak ada hp, nggak ada hp,” canda adek-adekku yang membuat aku tersenyum lagi

Tak terasa, ternyata kami sudah berada di depan mobil. Mama dan papa memelukku untuk terakhir kalinya untuk enam bulan ke depan. Setelah mobil mama keluar dari gerbang asrama, aku pun memasuki asrama dan menemui Novi, Putri, Via dan Nisa. Kami pun mempersiapakan peralatan untuk mopdb besok.

KEHADIRAN DIA MENGUBAH SEGALANYA
Kokokan ayam pun mulai memecahkan heningnya pagi, suara heboh pembina asrama pun mulai terdengar. Aku pun membuka mata dan bangkit dari tidurku, aku pun membuka jendela untuk melihat indahnya gunung yang menjulang tinggi di seberang asrama. Mata ku tertuju pada seseorang yang baru datang diantar orangtuanya. Ternyata dia adalah salah satu murid baru yang telat datang.

Setelah anak kamarku pada bangun, kami turun ke bawah, ke mushalla untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah, ketika sedang menghafal al-qur’an, pikiranku pun terganggu oleh bayangan cowok tadi. Tak terasa ternyata waktu menghafalnya pun selesai. Kami kembali ke kamar untuk siap-siap berangkat sekolah.

Hari ini adalah mopdb pertama kami, ketika babak game, siapa yang kalah akan dihukum ke depan. Ternyata cowok itu kalah, dan disuruh tampil ke depan dan memperkenalkan dirinya. Ternyata dia bernama Iqbal. Setelah perkenalan dia harus menampilkan bakatnya. Dia pun mengambil gitar yang sudah tersedia di depan, dia pun meminta seseorang untuk menemaninya main gitar, Nisa pun dengan sangat histeris menyorakkan namaku untuk bernyanyi bersama Iqbal itu, nama ku pun dipanggil oleh kakak senior, dan terpaksa aku berdiri ke depan.

“Hy, Lana,” sapa dia
“Hy, Bal,” balas ku dengan sedikit senyum
“Kita nyanyi apa?”
“Terserah kamu aja lah,”
“Mmm, kamu tau nggak lagu adera,” tanya dia
“Yang lebih indah itu,”
“Yop, hafal kan?”
“Mmm, rasanya sih hafal,”
“Ok, kita mulai yuk. 123,”

Ketika sedang nyanyi, Iqbal menatapku dengan senyuman manis yang dia miliki, seketika pipiku pun memerah dan teman-teman yang lainnya menyorakkan kami
“Cie, cie, cie,” ujar salah satu dari mereka
“Ada yang fall in love nih,” sambung yang lainnya
Aku pun hanya bisa tersenyum malu, tapi dia tertawa dan melihat ke arahku
“Pd aja, nggak usah didengerin mereka tu,” ujar Iqbal
“Hahah, iya,”
“Suara kamu bagus lana,” puji dia
“Kamu main gitarnya juga keren kok,”
“Makasih,”
“Ya, sama-sama,”
Setelah itu, kami pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Eeee, lana,” ujat Nisa
“Ih apaan sih,”
“Tu kan pipinya merah,”
“Biasa aja kok, udah ah, ntar kamu lo yang kena hukuman,”
“Ya, ya, ya,”

Setelah acara mopdb itu selesai, pembagian kelas pun diumumkan, kami pun segera menuju mading untuk melihatnya. Ternyata iqbal itu sekelas sama via. Sebenarnya aku sih pengen sekelas sama dia, tapi gak apa lah lagian kelas kami juga sebelahan kok.
Setelah itu kami kembali ke asrama untuk mempersiapkan peralatan untuk belajar besok.

Sesampainya di asrama, Nisa menghampiriku ke kamar
“Eh, na btw kamu suka ya sama iqbal tadi tu?”
“Ih, mu apaan sih nis, GJ deh,”
“Jujur aja napa sih Na, gak asik ah. Kamu nutupin dari aku,”
“Ih, kok jadi baperan gitu sih mu,”
“Kamu sih, ke aku nggak mau cerita. Janji aku nggak akan bilang sama siapa pun, promise,”
“Hahah, lebay deh. Mmm, rasanya sih iya,”
“Cieeee, kan bener dugaan aku, soalnya kalau kamu dekat sama orang yang kamu suka, pipi ke pink an kamu pasti merubah jadi merah,”
“Hah, jadi tadi tu pipiku merah kali ya?”
“That right, ee gak papa kok santai aja, lagian kelihatannya dia juga suka kok sama kamu.”
“Apaan sih, ngaco deh. Mana ada cowok ganteng kek gitu suka sama aku,”
“nggak ada salahnya kan, kamu kan cantik. Mantan model sependa jakpus lagi,”
“Itu kan dulu,”
“Terserah lah, perasaan kamu dari tadi ngerendah mulu deh,”
“Ya udah mungkin faktor ngantuk. Sekarang kita tidur yuk,”
“Ngusir nih ceritanya,”
“nggak ngusir juga keles, tapi nyuruh pergi wkwkwk,”
“Eh aku tidur disini aja ya Na,”
“Terserah deh, yang jelas aku mau tidur,”
“Ok, aku tidur di sini, geser dikit sana,”
“Ih dasar rempong,”
Kami pun terlelap.

Tanpa disadari suara alarm pun mulai mengganggu tidurku
Kring kring kring
“Na matiin tu alarmnya,” perintah Nisa
“Ya. Hah,” kaupun terbangun
“Napa sih,”
“Sekarang udah jam setengah enam,”
“What,”
“So, kita telat shalat,”
“Iiii, berarti pas apel nanti kita berdiri ke depan dong,”
“So pasti,”
“Ih malu banget ntar,”
“Mau gimana lagi, ngitung-ngitung nambah pengalaman,”
“Ya lah kita shalat di kamar aja yuk,”

Setelah bel keluar asrama berbunyi, kami pun melngkahkan kaki ke halaman asrama, dan apa yang kami takutkan pun terjadi. Nama kami berdua pun dipanggil ke depan. Dan yang lainnya pun bertepuk tangan sambil menyorakkan kami. Hufft gak sanggup deh nahan malunya, terlebih lagi si iqbal juga ikut ngetawain.

Sesampainya di sekolah, aku pun menuju kantin umtuk beli nasi goreng, karena aku tidak makan di asrama. Eh ternyata di situ ketemu lagi sama si iqbal
“Eh Lana,” sapa dia
“Ya Bal,”
“Boleh nggak aku duduk di sini,”
“Ya, boleh lah, emangnya ini punya nenek moyang na? enggak kan?”
“Hahah, iya ya. Oh ya btw kok sampai gak shalat subuh berjamaah tadi?”
“Iya soalnya gak kebangun,”
“Emangnya jam berapa sih na tidurnya,”
“nggak tau juga deh, tadi malam tu nisa tidur di kamar aku, dianya ngajak cerita terus, makannya telat tidur,”
“Mmm, pasti asik amat ceritanya.”
“Ya iya lah, kan ceritain kamu,”
“Hah,”
“Ups, nggak kok, cuma becanda,”
“Ooo, hufft aku pikir beneran,“
“Kalau beneran kenapa?”
“nggak kok. Eh kok makan di kantin?”
“Kamu kenapa juga makan di kantin?”
“Ya aku nggak suka aja menu pagi ini, kalau kamu?”
“Ya, begitulah. Ana juga nggak suka bubur kacang hijau itu.”
“Kok bisa sama ya?”
“Kebetulan aja kali,”
“Iya mungkin,”

Ketika lagi asik makan nasi goreng bel masuk pun berbunyi
“Udah yuk Na.”
“Yuk.”
“Buk uang yang tadi tu berdua sama punya lana.”
“Ih bal, biar Na aja yang bayar.”
“Ep. nggak boleh nolak niat baik orang lo,”
“Ya lah. Makasih”
“Iya”

Sesampainya di kelas, ternyata ada sepucuk surat dia atas mejaku. Aku pun membukanya dan ternyata hanya ucapan salam kenal dari yang namanya Ikhfi, dan ternyata dia adalah teman sekelasku yang duduk tepat di belakangku. Aku pun tersenyum kepadanya. Dari sebelah ku terdengar seseorang menyapaku dengan lembut
“Hy, Lana.”
“Eh, iya.”
“Kenalin gue dana,”
“Hy dana. Nama kita hampir mirip ya,”
“Hahah.. Hampir.”
“Kok kamu tau sih nama aku?”
“Ya iya lah siapa juga yang nggak tau nama kamu, orang yang suaranya bagus yang duet sama si gitaris keren Iqbal itu,”
“Wkwkwk, makasih. Biasa aja kok. Oh iya kamu kenal sama Iqbal itu?”
“Ya, kami teman satu smp,”
“Mmm,”
“Emang kenapa? Kamu suka ya sama si Iqbal?” gurau dana
“Ih apaan sih,” elakku

Tak lama kemudian wali kelas ku pun memasuki ruangan, seketika kelas yang tadinya heboh berubah menjadi sepi dan sunyi.wali kelas pun memperkenalkan dirinya, ternyata wali kelasku adalah seorang guru bahasa indonesia. Setelah selesai memperkenalkan dirinya, kami pun diminta one by one untuk memperkenalkan diri. Tak terasa ternyata waktu belajarpun selesai dan habis karena perkenalan diri, ibuk melda pun keluar dari kelas, dan suara hiruk pikuk pun kembali mewarnai kelas kami. Aku pun melanjutkan ceritaku bersama Dana.

Semenjak saat itu aku berteman baik sama dana. Aku pun mulai membuka ke dana kalau aku menyukai iqbal, begitupun Dana, dia juga bercerita kalau dia menyukai Nisa. Dana bilang kalau dia mau deketin aku sama Iqbal, aku sih suka-suka aja, tapi aku nggak mau bantuin dia untuk deket sama Nisa, karena nisa tu suka cowok yang gentle.

Cerpen Karangan: Ghina Harmy Artha Maevia
Facebook: Ghina Harmy Arthavia
Nama: Ghina Harmy Artha Maevia
Panggilan: Ana
Tanggal Lahir: 20 juli 2000
Hobi: Menulis dan Menyanyi

Cerpen Boarding Love On (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hello Cordoba (Part 2)

Oleh:
Setelah berkeliling memutari areal masjid, kemudian, Syabil selanjutnya mengajakku kembali menuju ke tempat sejarah yang kedua di Cordoba. Tempat tersebut, berlokasi di kota Zaragosa, dan bersebelahan dengan bukit sejuk

Konser Brad

Oleh:
Bradley, Bradley, Bradley. Nama itu yang selalu menggema di penjuru lapangan basket yang ramai. Lapangan itu dipenuhi oleh seluruh penghuni SMA Edelweis. Siang ini, pertandingan antara kelas XII-5 melawan

Kau Yang Pertama dan Aku Yang Terakhir

Oleh:
Mungkin kebahagiaan hanyalah impian yang tak pernah terwujud, kebahagiaan mungkin hanyalah harapan palsu yang datang tiba-tiba dan menghilang saat itu juga. Aku merasa di hidupku hanya ada kesunyian, kesepian

Langit Bumi

Oleh:
Hari ini tampak cerah. Deburan ombak yang terdengar gemuruh di tambah kicauan burung-burung yang seperti sedang bernyanyi. Suara bel sepeda pun terdengar dari luar. Riani segera membuka pintu dan

Kenapa Harus Mencuri?

Oleh:
“Assalamualaikum Bang Doni! Ini Maul, bang!” Maulana berteriak memanggil Bang Doni, pemilik counter pulsa yang berada di depan Rumah Sakit Harapan Indah. Counter pulsa itu buka 24 jam dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *