Boarding Love On (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 March 2017

Setelah jam pelajaran selesai kami berkumpul di taman sekolah untuk menceritakan kejadian yang terjadi sehari tadi di sekolah. Aku pun bercerita bersama Nisa sedangkan Via dan Novi pun juga menceritakan pengalaman mereka berdua, kalau Ihsan dan Putri, mereka masih ada kelas tambahan bahasa jepang.

Ketika Novi dan Via lagi bercerita, nisa nggak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ternyata Via menyukai ketua kelasnya, ya siapa lagi kalau bukan si Iqbal. Aku pun merasa kaget dan takut untuk menyukai Iqbal. Setelah selesai bercerita putri pun datang dan mengajak kami untuk pulang.

Hari-hari di sini pun kami lewati dengan penuh keceriaan tapi sedikit kekecewaan sedang mengganggu keceriannku. Perasaan cemas kalau seandainya Via tau kalau aku juga suka sama Iqbal pun juga ikut meracuni otakku, ditambah lagi kalau si ikhfi teman sekelasku itu ternyata juga suka sama aku. Hal ini membuat bebanku terasa begitu komplit. Dan aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat sama iqbal dan mencoba menjauh darinya.

Ketika aku di perpustakaan tanpa di sadari ternyata iqbal sudah berada di sebelahku
“Lana? Kok kamu kek gini sih?”
“Apaan sih Bal, aku nggak ngerti aku pergi dulu ya,”
“Tunggu Lana, aku mau nanya?”
“Apaan lagi sih Bal?”
“Kamu kok menjauh sekarang? Emangnya aku ada salah ya sama kamu?”
“nggak kok, lagian siapa yang menjauh?”
“Tapi sikap kamu udah mulai dingin sama aku,”
“nggak kok mungkin perasaan kamu aja kali,”

Tak lama kemudian Dana pun datang
“Ana, kamu dipanggil buk Mel,”
“Ngapain dan,”
“Katanya sih ibuk mau mintak uang kas untuk beli alas meja,”
“Oh gitu, makasih ya,”
“Yop, cepetan sana,”
“Iya, aku pergi dulu ya Bal?”
Aku pun meninggalkan mereka berdua, tapi dari kejauhan mereka masih terlihat sedang bicara

“Eh dan, lo tau nggak kenapa lana jauhin gue?”
“Mana gue tau,”
“Lo kan temen baiknya di kelas,”
“Ya, yang gue tau sih dia tu suka sama elo,”
“Tapi ngapain dia ngejauh dari gue,”
“Kalau soal itu sih dia belum ada cerita sama gue,”
“Gue minta tolong sama lo ya, lo tanyain ya kenapa dia ngejauh dari gue,”
“Gue mau sih, asal kan lo bilang sama nisa kalau gue nitip salam,”
“Hah, lo suka sama Nisa, temannya lana itu kan?”
“Ya, begitulah,”

Neoooo, neooooo… Bel masuk pun berbunyi
“Gue ke kelas dulu ya,”
“Yop. Gue di sini aja, soalnya guru fisika nggak datang,”
“Oke. Gue duluan,”
“Eh jangan lupa ya tanya sama Lana,”
“pasti bro,”
Aku pun bergegas dari kantor ke kelas karena ada info yang harus aku sampein sama temen-temen.

Ketika sampai di kelas ternyata di bawah laciku terdapat sepucuk surat serta bunga yang diikat sama cokelat. Aku pun bertanya kepada dana
“Eh dan, kamu tau nggak siapa yang ngasih ini?”
“nggak, lagian gue baru pulang dari perpus,”
“Oh iya ya,”
“Kamu bukak aja sana. Cepaten keburu guru datang lo,”
“Ok,”
Ketika kau membuka surat itu, ternyata itu surat dari si ikhfi lagi yang ternyata dia nyatain perasaannya sama aku, aku nggak tau mau jawab apaan. Aku pun melihatkan surat itu kepada Dana
“Hah, kamu ditembak si Ikhfi?”
“Ya,”
“Berani juga ya dia,”
“Terus aku mau jawab apaan?”
“Kamu suka nggak sama dia,”
“Ya enggak lah, dasar curut kamu kan tau aku suka ya sama siapa,”
“Iya, gue becanda kok,”
“Terus gimana nih,”
“Ya tinggal tolak aja, apa susahnya sih?”
“Ya aku nggak tau gimana cara nolaknya,”
“Biar gue yang buat balasin suratnya ntar, tapi mu harus ngasih gue gaji, haha,”
“Ni aku punya coklat dikasih si Ikhfi,”
“Hahha gue becanda kali, tapi karena mu maksa gue makan aja deh, emangnya mu gak suka coklat, suka sih tapi dikit. Lagian aku malas makan coklat yang dia kasih, ni bunga juga ada kalau mu mau,”
“Eh mu baik banget sih, mending coklat sama bunganya gue kasih ke Nisa ya,”
“Kurang asam mu. Ngasih sisa aku ke sahabatku,”
“Kan belum di sentuh,”
“Serah deh. Emangnya kamu juga mau nembak Nisa?”
“Rencananya sih iya,”
“Ya lah ganbatte ya Dan,”
“Semuanya, kembali ke tempat duduk masing-masing. Ibuk Okta akan masuk ke kelas,” ujar ketua kelas
“Ya lah, gue bikinin dulu ya balasan surat untuk Ikhfi tu,”
“Yop makasih,”
“Tapi mu harus nolong kasihin surat gue sama nisa ya,”
“Iya.”

Bu Okta pun memulai pelajaran sejarahnya, para siswa pun sudah mulai bergantian ke wc untuk mencuci muka karena ngantuk dengan dongeng yang bu okta berikan. Tak terasa jam belajar bersama bu okta pun berakhir dan kami pun pulang ke asrama
“Lana, makasih ya atas jawabannya,” ujar Ikhfi
“Kamu nggak marah kan Fi,”
“nggak lh ngapain juga gue marah, lagian cinta itu nggak bisa dipaksa kan?”
“Iya sih, kita temenen aja ya Fi”
“Iya, nggak papa kok,”
“Oh ya lah Na pergi dulu ya,”
“Iya,”
Aku pun beranjak meninggalkan Ikhfi.

Dari kejauhan terdengar suara Nisa memanggil namaku
“Lana,”
“Iya, kamu kenapa sih kayak orang di kejar setan aja,”
“Ini masalahnya nggak di kejar setan lagi tapi, ini masalahnya di kejar masalah tau,”
“Emangnya masalah apa sih?”
“Tadi tu novi nanya sama aku, ada hubungan apa Lana sama Iqbal?”
“Trus kamu jawab apa?”
“Ya aku bilang aja kalian nggak ada hubungan apa-apa,”
“Terus gimana responnya? Soalnya novi itu nggak suka kayaknya kalau aku deket sama Iqbal, soalnya dia nggak mau via terluka dan persahabatan kita hancur hanya gara-gara aku,”
“Ih, gj banget sih tu orang, masak dia hanya mikirin perasaan Via aja, dan nggak mikirin perasaan kamu Na?”
“Ah, nggak usah pikirin itu dulu, ni ada coklat plus bunga and surat dari si Dana,”
“Hah, seriusan?”
“Iya. Buka dong, penasaran ni a?”
“Mmm..wait wait,”
“Apaan sih,”
“Hahhhh, dia nembak aku Lan,”
“Serius?”
“Iya, terus gimana ni lan? Terima atau nggak ni?”
“Terserah kamu aja lah, kan yang mau jalaninnya kamu?”
“Tapi kan kamu lebih kenal dia dari pada aku?”
“Menurut aku sih bagusan terima aja, dia kan orangnya baik pinter lagi,”
“Iya ni?”
“Iya,”
“Oke lah, ntar temenin aku ya lan ngasih balasannya,”
“Iya,”
Kami pun melanjutkan perjalanan ke asrama.

Sesampainya di asrama kami langsung shalat ashar berjamaah. setelah shalat, kami pun bersalaman satu sama lain, waktu aku bersalaman sama Via, Via menghapus tangannya yang sudah bersalaman sama aku. Aku pun heran dan menunggunya di depan tangga
“Via? Kamu kenapa sih?”
“Aku nggak nyangka ya ternyata kamu nusuk, tampangnya aja yang ramah, eh taunya nusuk,”
“Kamu ngomong apaan sih,”
“Pikir aja ndiri,”
Dia pun berlalu meninggalkanku. Aku pun heran dan bertanya-tanya kenapa dia seperti itu. Lalu aku pun menemui Novi dan menceritakan semuanya, eh malahan Novinya malah sewot dan marah-marah sama aku.

Aku pun pergi dari kamar Novi dan menceritakan semuanya kepada Nisa
“Ca, gimana ya, mereka tu udah dingin gitu sama Na,”
“Biarin aja lah,”
“Ya terus gimana sama persahabatan kita?” ’
“Kalau mereka masih mikirin persahabatan, nggak mungkin mereka seperti itu,”
“Ya ana nggak mau kalau persahabatan kita hancur hanya gara-gara masalah ini,”
“Atau nggak bilang aja sama Iqbal tu, nggak usah terlalu dekat-dekat sama kamu,”
“Ya gimana ngomongnya?”
“Minta tolong aja sama Dana,”
“Mmm, mentang ya baru jadian, nyebut-nyebut nama Dana terus,”
“Ya itu kan satu-satunya jalan,”
“Tapi kalau Iqbalnya nanti benci sama aku gimana?”
“Ya mau gimana lagi, sekarang keputusan ada di kamu Lan, kalau aku sih ngusulnya mending kamu pertahanin perasaan kamu deh, dari pada pertahanin persahabatan kita, mereka aja nggak mau pertahanin, ogah deh sahabatan sama mereka,”
“Kamu kok gitu sih ngomongnya,”
“Ya terserah kamu,”
“Oke aku akan pertahanin persahabatan kita, dan aku akan minta tolong sama Dana untuk bilang ke Iqbal untuk tidak deket lagi sama aku,”
“Terserah kamu lah Lan, kalau hasilnya mengecewakan kamu harus sanggup ya nanggungnya,”
“Ya,”
Aku pun kembali ke kamar dan beristirahat.

Tiba-tiba seorang temanku memanggilku dan mengatakan bahwasanya dana mencariku
“Eh Lan, pr kimia kita tu gimana?”
“Ya ntar aku siapin,”
“Serius ni?”
“Iya. Eh dan boleh nggak aku minta tolong?”
“Apaan? Ngomong aja kali, kamu kayak ngomong sama presiden aja, sok malu-malu gitu,”
“Gini, tolong ya bilang sama Iqbal untuk tidak terlalu deket lagi sama Ana”
“Emangnya kenapa?”
“Ya Via, temen ana juga suka sama Iqbal. Dan sekarang tu dia udah nggak mau lagi temenan sama ana gara-gara dia tau kalau ana juga suka sama Iqbal,”
“Iya, gue ngerti kok,”
“Maksih ya Dan. Oh iya congrate ya atas hubunganmu sama Nisa, jangan lupa PJnya,”
“Oke, sama-sama, tapi traktirannya miggu depan ya, pas bokap gue ke sini,”
“Siip,”

Waktu pun berlalu begitu cepat, semenjak aku mengatakan hal itu ke Dana, semenjak itu pula iqbal tidak pernah lagi menegurku, bahkan dia pergi kalau aku ada di dekatnya. Aku sangat sedih, tapi ini resiko yang harus aku tanggung, sekarang Iqbal sudah pergi jauh dari hidupku, tapi via dan novi juga masih tidak mau temenan denganku. Aku merasa serba salah, benar kata Nisa, lebih baik aku ngikutin kata hatiku dari pada menentangnya.
“Ca, gimana ni. Iqbal udah benci sama aku. Sedangkan Via juga masih nggak mau temenan sama kita?”
“Terus aku harus gimana?”
“Ca, bantuin aku Ca,”
“Ya ntar aku pikirin dulu ya gimana caranya,”
“Ya lah. Aku ke kamar dulu ya,”
“Iya, sekarang kamu istirahat ya nggak usah mikirin masalah ini ntar sakit lo,”
“Iya,”
Aku kembali ke kamar, dan di batas suci Dana dan Nisa pun berbicara berduaan, aku sangat iri dengan mereka, tapi mau gimana lagi semua ini memang salahku.

“Dan, boleh nggak aku minta tolong sama kamu?”
“Boleh, untuk kamu apa sih yang ngak, emangnya apaan?”
“Gini, aku nggak tega ngeliat lana kayak gini, terus gimana ya cara bantuin dia?”
“Iya sama, aku juga nggak tega liat dia apalagi liat Iqbal, dia kayaknya tersiksa banget ngejauh dari Alana,”
“Iya terus gimana cara damai in mereka lagi?”
“Gini aja, mereka tu waktu tu pernah minta PJ sama aku, terus aku sih janjinya minggu sekarang sama mereka,”
“Ha, pas itu aja kita temuin mereka, terus kita biarin aja mereka bicara berdua,”
“Jenius, tambah sayang aku sama kamu,”
“Iii, lebay, udahan ya dan, aku mau nyetrika nih,”
“Iya calon ibu rumah tangga,”
“Ih apaan tu,”
“Wkwkwk, pergilah nyetrika lagi,”
“Ok,”
Nisa pun berlalu meninggalkan Dana dan pergi menemuiku

“Hy Lan”
“Apaan lagi sih,”
“Ih kamu kok sensi gitu sih,”
“Ya aku lagi pusing nih,”
“Eh aku mau bilang ini aja, kalau besok tu aku sama Dana mau ntraktir kamu,”
“Serius? Yeeee asikk, makan gratis,”
“Ih kamu kalau ke yang gratis kenceng,”
“Iya lah,”
“Ya lah, istirahat lah lagi, aku ke kamar dulu ya,”

Keesokan harinya ketika jam istirahat, nisa menjemputku ke kelas dan mengajak ke kantin, begitupun dengan dana, dia menjemput Iqbal ke kelas dan mengajaknya ke kantin. Sesampainya di kantin aku bertemu dengan Iqbal, tapi dia malah berpaling dan mencari alasan untuk tidak ikut makan bersama

“Eh dan, sorry ya gue ada janji sama pak yas,”
“Tapi tadi lo bilang lo nggak ada kegiatan apa pun,”
“Sorry gue lupa,”
“Pokoknya lo harus ikut, kalau ngak, berarti lo nggak ngehargain gue lagi sebagai temen lo,”
“Iya lah, ini demi lo ya,”
“Udah lo duduk di sini,”
“Enak aja lo, gue mau duduk di sebelah lo,”
“Enak aja lo, gue mau duduk di dekat cewek gue,”
“Terserah lo deh,”

Aku pun memakan mie instan yang di traktir dana dengan perasaan yang tak karuan, di satu sisi aku senang bisa di dekat iqbal, tapi di sisi lain aku juga kecewa sama Iqbal yang segitu bencinya sama aku

“Ehemm, kok diam-diam aja sih,” ujar Nisa
“Ya mau ngomongin apa emangnya,” balas ku
“Apaan kek,” ujar Nisa
“Oo, mungkin mereka pengen bicara empat mata kali Ca,” sambung Dana
“Iya ya, kita pindah aja yuk,”
“Eh sini aja,” jawab ku dan Iqbal secara serentak
“Cieee, yuk kita pindah,”
Nisa dan Dana pun meninggalkanku berdua bersama Iqbal, aku tidak tau mau ngomong apaan sama Iqbal, dan Iqbal pun hanya diam seperti patung, tanpa berpikir panjang aku pun memulai pembicaraan

“Bal, marah ya sama Ana,”
“Tau deh,”
“Bal Na minta maaf ya,”
“Mmm,”
“Bal segitunya ya benci sama Na, sampai-sampai bal nggak mau lihat wajah na sedikitpun,”
“Na, Bal harus gimana lagi sama Na, bal nggak mau hanya gara-gara Bal, persahabatan kalian hancur. Tapi jujur Bal kecewa sama Na karena Na segitu mudahnya menyerah, Bal tau niat na itu baik untuk pertahanin persahabatan Na tapi Na juga harus mikirin perasaan Bal dong”
“Ya tapi Bal, nggak harus perlakuin na kayak giini juga kan,”
“Bal minta maaf Na,”
“Na juga minta maaf Bal,”
“Ya nggak usah nangis lagi ya,”
“Iya,”
“Ya udah berhentilah nangisnya ntar nggak cantik lagi lo,”
“Ih, gombal deh,”
“Jujur Na, Bal suka sama Na, semenjak kita nyanyi bersama di mopdb,”
“Terus gimana sama Via?”
“Sekarang Na nggak usah mikirin Via dulu, yang Bal mau tau na mau nggak jadi pacar Bal”
“Terus na mau jawab apa?”
“Itu terserah sama Na, tapi bal berharap jawaban ini memang murni kata hati Na, Bal siap kok ditolak asalkan itu benar-benar penolakan dari hati Na,”
“Bal, jujur Na juga suka sama Bal, tapi Ana nggak tau mau bilang apa, Na takut Via tambah benci sama Na”
“Untuk apa na mikirin orang yang nggak mikirin perasaan Na, lagian Via juga udah jadian kok sama Araf”
“Serius?”
“Iya, terus gimana, jawaban untuk Bal apaa?”
“Mmm, gimana ya?”
“Bal nggak juga maksa jawabnya sekarang kok,”
“Mmm, iya deh,”
“Serius? Makasih ya Na. Bal janji nggak bakal buat air mata Na netes lagi,”
“Iya, Na juga janji untuk tetap buat Bal tersenyum dan nggak galau lagi,”
“Janji” sambung Dana dan Nisa dari belakang yang ternyata menguping pembicaraan kami dari tadi
“Ciee yang baru jadian,” ujar Nisa
“Horee, berarti kita nggak jadi deh ntraktir mereka, dan sebaliknya kita di traktir mereka,” balas Dana
“Ih dasar pelit,” sambung Nisa
“Udah biar semuanya gue yang bayar,” balas Iqbal
“Ha, tu liat tu Iqbal nggak pelit, nggak sama kayak kamu,” balas Nisa sambil cibirin Dana
“Biarin wekkk,” balas Dana

Kami pun kembali ke kelas masing-masing. di perjalanan menuju ke kelas dana terus membuliku, dan menyorakkan ke penduduk kelasku bahwasanya aku sama Iqbal udah jadian, teman-teman ku mengucapkan selamat termasuk Ikhfi dan Furfa yang pernah menyatakan perasaannya kepadaku.

Kami pun merapikan kelas dan menempelkan nomor ujian, karena hari seninnya kami akan melaksanakan ujian semester. Sesudah membersihkan kelas kami pun kembali ke asrama.

Malam ini adalah malam untuk kami mempersiapkan diri untuk ujian besok, dan untuk tujuh hari ke depan aku akan menghabiskan hari-hari ku bersama buku, dan menjadi guru bagi dana dan iqbal. Kami belajar bertiga setiap malamnya, karena nisa tidak bisa belajar ramai-ramai, jadi kami hanya bertiga dengan kata lain dana harus menjadi obat nyamuk bagi aku dan iqbal.

Tak terasa ujian pun sudah berakhir, dan ini adalah saatnya class meeting, aku di utus kelas untuk menjadi model di acara fashion show, begitupun dengan iqbal, dia juga utusan kelasnya untuk acara tersebut
Setelah pengumuman juara, ternyata Iqbal menjadi juara pertama model putra dan aku mendapatkan peringkat kedua model putri. Dan kami juara satu sampai tiga di utus mewakili sekolah sebagai abang none jakarta.

Hari ini adalah hari pembagian raport, aku nggak nyangka ternyata aku mendapat peringkat ke tiga di kelas, nggak hanya itu Nisa, Via, Novi dan Putri pun mendapatkan peringkat, tapi sayangnya Ihsan hanya mendapatkan sepuluh besar. Pada saat pemberian hadiah, Via memelukku dan meminta maaf kepadaku. Dari kejauhan Iqbal mengedipku dan memberikan jempolnya kepadaku.

“Ciee, yang udah baikan,” canda Iqbal
“Alhamdulillah, ini kan juga berkat kamu,”
“Iya selamat juga ya atas prestasinya, ibu guru cantik,”
“Ih apaan sih, besok-besok tu kamu lagi yang harus dapet juara, kalu kamu dapet juara ntar aku kasih deh hadiah,”
“Iya aman tu, tapi malas belajarnya,”
“Ha tu kan, kamu aja malas-malas belajarnya, gimana mau sukses tu. Trus jangan sering-sering mikirin aku dalam belajar, tapi kalau lagi malas sama gurunya supaya nggak bosan baru mikirin aku dan nganggap guru itu adalah aku, jadi semangat lagi deh belajarnya,”
“Iya guruku,”
“Pinter anak ibu,”
“Eh kami ganggu ya,” tanya Via
“nggak kok Via, emang ada apaan ya?”
“Lana,” kata Via sambil nangis dan meluk aku
“Eh Via, nggak papa kok,”
“Maafin aku ya Lan,”
“Iya Via nggak papa kok,”
“Aku juga ya Lan,” sambung Novi
“Iya kalian udah na maafin kok, yang penting sekarang tu kita harus cari cara gimana mempertahanin persahabatan kita. Ok.”
“Ha tu kan bagus, kalau udah temenan lagi,” sambung Nisa
“Hahhaha, kayak baru ketemu aja,” ulas Putri
“and now” tambah Putri
“berpelukan” sambung Novi
Kami pun berpelukan tanpa disadari ternyata, Ihsan, Dana dan Iqbal pun juga berpelukan bertiga.
“Iiii, cowok alay,” ujar Novi
“Okay sekarang untuk ngerayain keberhasilan bidadari-bidadari ini dan untuk persahabatan kalian kita makan bareng di kantin dengan bayar sendiri-sendiri” sambung Dana

Kami berangkat ke kantin dan memulai suasana dengan lelucuan si hsan. Dan semenjak saat itu persahabatan kamipun menjadi lebih erat dari pada sebelumnya, hubunganku sama Iqbal pun baik-baik saja, and begitupun dengan Nisa dan Dana dan juga Via with Araf pastinya. Ternyata persahabatan dan hati itu bisa berjalan bersamaan.

THE END

Cerpen Karangan: Ghina Harmy Artha Maevia
Facebook: Ghina Harmy Arthavia
Nama: Ghina Harmy Artha Maevia
Panggilan: Ana
Tanggal Lahir: 20 juli 2000
Hobi: Menulis dan Menyanyi

Cerpen Boarding Love On (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ditengah Derasnya Hujan

Oleh:
“itu orangnya?” bisik ziara menggebu. aku mengangguk pelan. “sudah berapa lama suka?” “dua tahun” “dari lo SMA?” “dari gue SMA sampe kuliah” “elo emang gila banget risya” aku menunduk.

My Love is Eternal

Oleh:
Aku menyesap hangatnya susu coklat di gelas putihku sambil menatap lekat-lekat setiap gerakan dan tindakan laki-laki di depanku. kutegaskan lagi, setiap gerakan dan tindakan. tidak terkecuali wajahnya yang terlihat

Sunday Less

Oleh:
“Kringgg… Kringgg… Kringgg…”, jam weker berbunyi. “Hujan… Malasnya ane bangun…”, kata Vania sambil tetap menarik selimutnya. Hari ini hari Kamis. Sebenarnya bukan hujan yang membuat Vania malas move on

Aku Pasti Mendapatkanmu

Oleh:
Aku berjalan agak malas di lorong kantor, mengingat semalam aku begadang karena menemani sepupuku yang datang dari tanah karo beberapa minggu lalu telah pulang tadi pagi, aku menemaninya ke

Cinta Dan Romantis itu Seperti Apa

Oleh:
Tampak seorang lelaki berdiri di pinggiran reruntuhan tembok benteng yang mengingatkan kenangan pahit penjajahan bangsa belanda, Berhembus angin dari pantai yang tepat berhadapan dengan reruntuhan benteng, lelaki itu coba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *