Boku wa Shiranaikedo (I Don’t Know)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 28 August 2015

Namaku Emishiro Yusha, 16 tahun, siswa tahun kedua SMA Minami Utara. Aku memiliki seorang teman sejak kecil, sekarang pun dia menjadi teman sekelasku. Namanya adalah Miyamoto Ruri. Ruri adalah tetanggaku, kami sering bermain bersama sejak kecil. Ruri sangat menyukai lari, dia sudah ikut klub lari sejak SMP, walaupun dia belum pernah menjuarai lomba apapun, tapi dia selalu semangat dan bertekad kuat untuk menjadi seorang atlet lari nasional. Semangatnya inilah yang aku kagumi darinya, atau mungkin sesuatu yang lain.

Suatu pagi di perjalanan menuju sekolah.

“Yuu-kun, ohayou..” berlari sambil melambaikan tangan.
“Oh Ruri, Ohayou gozaimasu.”
“Dasar,” kamu ini tiap hari berangkat duluan ninggalin aku. Kita ini satu sekolah lo, kenapa kamu gak mau berangkat bareng aku?”
“Walaupun aku tinggalin kamu, tetap aja kan kamu bisa nyusul aku.”
“Hehe. Iya sih, tapi kan tetap aja kalau berangkat bareng itu lebih asyik.”
“Kalau gitu ya kamu harus berangkat lebih pagi sesuai jadwalku.”
“Yokai Yuu-kun.” mengusap kepala Yusha.
“Udah aku bilang kan jangan usap kepalaku sambil panggil aku kayak gitu, aku bukan adik kecilmu! Kamu cuma lebih tua 4 bulan dariku”

Walaupun aku berkata seperti itu, tapi terkadang aku menikmati saat-saat dia bertingkah seperti kakakku, aku merasa diperhatikan olehnya dan itu membuatku senang.
Di waktu istirahat Ruri biasanya berlatih jadi aku pergi ke sisi lapangan untuk memakan bekalku sambil memperhatikannya.

Duduk di bawah pohon di sisi lapangan.
“Benar-benar Ruri itu, dia selalu berlatih keras, aku jadi heran kenapa dia tidak pernah menang lomba?”

Ruri yang baru selesai dari pemanasannya melihatku dan memanggilku dengan senyum manis di wajahnya.

“Oh Yu-chan…” melambaikan tangan lalu berlari ke arah Yusha.
“Yuu-kun, apa kau kemari untuk melihatku berlatih?”
“Bodoh, untuk apa aku lakuin hal sia-sia kayak gitu?”
“Hee. Yuu-kun jahat banget, padahal kan aku seneng kalau kamu ke sini buat lihat aku latihan.”
“Aku ke sini karena tempat ini nyaman buat makan siang”
“Iya deh iya. Yuu-kun sebentar lagi ada lomba lari antar sekolah seprovinsi, aku minta dukungannya ya” Tersenyum lalu berlari kembali ke lapangan.
“Dasar. Gak perlu kamu minta aku selalu dukung kamu dari dulu.”

Aku kembali memakan bekalku sambil melihat Ruri lari sekuat tenaga, tanpa terasa jam makan siang pun berakhir. Tim lari pun berhenti berlatih dan kembali ke kelas masing-masing begitu pula denganku.

Kelas Bahasa Inggris, seperti biasa penjelasan Matsuda-sensei membuat kami para siswanya mengantuk, aku tidak mengerti kenapa tapi memang begitulah nyatanya. Begitu pula dengan Ruri. Bahkan dia sampai tertidur pulas seperti anak bayi, mungkin dia lelah setelah latihan tadi. Jika diperhatikan Ruri manis juga jika sedang tidur.
“Hei hei Emishiro..”

Teman sebangku Hirako Matsutaka memanggilku sambil menarik-narik lengan bajuku.
“Apa yang kamu lihat sambil senyum-senyum gitu?”
“Ummm… Bukan apa-apa kok, aku cuma lagi membayangkan kalau aku jadi orang kaya.”
“hahaha mimpi gituan siang-siang gini, kamu lagi sakit ya?”
“Matsutaka apa yang kamu tertawakan?”

Tiba-tiba Matsuda sensei berteriak. Dengan spontan Matsutaka berdiri tegap dan menjawab
“Ha, Hai Emishiro. Emishiro mimpi jadi orang kaya sensei.”

Sontak seisi kelas tertawa, hingga Ruri pun terbangun dari mimpinya, dan tentunya hukuman berdiri di koridor untuk kita berdua.
“Ini semua salahmu, ngomong yang enggak-enggak sambil teriak gitu.”
“Ya mau gimana lagi? Udah jadi kebiasaanku kalau kaget berdiri terus ngomong yang aku pikirin kan?”
“huuuft… Dasar. Makanya jangan jadi anak tentara.”
“Ya itu kan bukan aku yang mau.”
Akhirnya hari ini sekolahku di isi dengan berdiri di koridor.

Sore menjelang, waktunya kami pulang sekolah. Tapi tidak untuk para anggota klub perpustakaan setiap hari kami bergiliran merapikan buku di perpustakaan. Hari ini giliranku bersama Yuigahama dan Seijuro.
“Huuh” Klub perpustakaan kan punya banyak anggota, kenapa tiap hari cuma 3 orang yang tugas? Sungguh melelahkan.” Eluh Seijuro.
“Ya mau gimana lagi Seijuro-kun? Ini kan sudah peraturannya” Timpal Yuigahama.
“Hai… Aku mengerti Yui-chan. Aku takkan mengeluh lagi, bahkan aku akan mengerjakan bagianmu juga”
“Haha… Tidak perlu kok, aku bisa sendiri”

Begitulah Seijuro, dia sangat menyukai Yuigahama, alasan dia ikut klub ini juga hanya untuk mendekatinya. Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Aku mendengar suara langkah kaki dari lapangan.
“Hei… apa klub lari ada latihan hari ini? Sepertinya aku mendengar suara dari lapangan sebelah.”
“Sepertinya begitu, mungkin mereka sedang berlatih untuk mempersiapkan sesuatu.”
“Apa kamu gak tahu Emishiro? Sebentar lagi kan ada lomba lari antar sekolah se-provinsi.”
Mendengar kata Seijuro aku jadi teringat. Tadi siang Ruri sudah memberitahuku soal itu. Aku jadi berpikiran untuk melihatnya latihan.

Selesai latihan aku menuju tempat biasa aku menonton Ruri latihan. Seperti yang Seijuro dan Yuigahama katakan, klub lari sekarang sedang berlatih mempersiapkan diri untuk event tersebut. Sepertinya mereka sedang berlatih rintangan, dan sekarang giliran Ruri. Seperti biasa ketika Ruri serius berlari dia akan mengikat rambutnya, dia terlihat manis dengan ponytail itu. Ruri mulai berlari, dia berlari dengan sekuat tenaga, rambutnya mengibas di udara senada dengan irama larinya.

Rintangan pertama sudah ada di depannya dan Ruri pun melompat namun apa yang terjadi kaki kanan Ruri tersandung papan rintangan. Kini ia tergeletak di tanah memegangi pergelangan kaki kanannya sambil menahan rasa sakit. Para anggota lari berlari ke arah Ruri, begitupun denganku. Dengan perasaan khawatir dan panik itu aku pun menerobos kerumunan tepat ke arah Ruri.
“Ruri! Ruri! Kamu gak papa kan?”

Tak ada jawaban darinya, hanya suara tangis yang kudengar darinya. Apakah sesakit itu sakitnya? Aku langsung menggendong Ruri dan berlari menuju UKS.

Beruntung Hiratsuka-sensei guru UKS belum pulang, Ruri segera diberikan pertolongan pertama. Ia terlihat sangat kesakitan. Dilihat dari cara Hiratsuka-sensei merawatnya sepertinya ada pergeseran tulang. Aku jadi makin khawatir, aku hanya bisa berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan Ruri.
Hiratsuka-sensei menghentikan perawatannya, sekarang dia membalut kaki Ruri, dan Ruri pun tampak tidak kesakitan lagi.

“Kenapa kamu masih di sini Emishiro-kun? Seharusnya kan kamu keluar saat perawatan tadi.”
“Eh… umm… ya, aku khawatir dengan keadaan Ruri, lagi pula kenapa sensei tidak mengusirku tadi?”
“Gak apa-apa kok sensei. Aku merasa lebih baik jika Yusha ada di sini.”
“Yaaah… Begitulah pasangan, masa muda begitu indah ya?”
“Bu… bukan begitu, kami bukan pasangan”
“Ara ara. Gak ap-apa kok Emishiro-kun. Kalian kelihatan serasi. Ya sudah, sensei pulang dulu ya? Ruri tidak apa-apa kok, hanya perlu istirahat mungkin sekitar 2 atau 3 minggu.”
“3 minggu? Tapi sensei, perlombaan kan akan dimulai 1 minggu lagi.”
“Ya mau bagaimana lagi? Kamu harus mundur demi kesehatanmu sendiri.”
Hiratsuka-sensei pergi meninggalkan kami berdua di ruang UKS.

“Yuu-kun. Sepertinya aku gagal lagi.”
“Kamu ini ngomong apa? Jangan menyerah hanya karena luka seperti itu. Aku yakin kamu bisa sembuh dalam waktu seminggu.”
“Tapi seperti yang Hiratsuka-sensei bilang, aku perlu istirahat 3 minggu kedepan.”
“Manusia tidak akan pernah bisa mengetahui masa depan, itu cuma perkiraan. Aku yakin kamu bisa Ruri”
“Aku pun berharap begitu.”
“Kembalikan…”
“Kamu bilang apa Yuu-kun?”
“Kembalikan Ruri yang dulu, Ruri yang tak pernah menyerah apapun yang terjadi. Ruri yang selalu
tersenyum menghadapi masalah. Kembalikan Ruri yang aku suka!”

Tanpa sadar aku berteriak mengungkapkan perasaanku pada Ruri, Ruri pun tersenyum.

“Yuu-kun” Apa kau benar-benar menyukaiku?”
“Ya-ya, aku menyukaimu, aku senang bisa selalu berada di dekatmu, aku senang melihatmu tersenyum.”
“Yuu-kun? Apa kamu tahu? Aku selalu menantimu untuk dapat mengucapkan kalimat itu. Aku juga suka
kamu Yuu-kun”
“Ma… Maka dari itu, kamu harus cepat sembuh dan berlari di trek lagi. Aku ingin melihat senyum
kemenanganmu kali ini.”
“Huuuh… Bodoh, dasar bodoh. Ya sudahlah aku gak tahu gimana, tapi aku bakal cari cara untuk ngobatin
luka ini.”
“Ya. Kalau gitu, ayo kita pulang sekarang.”
“Kamu duluan aja, kalau nunggu aku lama, aku kan pake tongkat.”
“Ya aku kan bisa gendong kamu”
“Heee… Kamu mau gendong aku sampe rumah? Gak usah gak usah, aku bisa jalan sendiri kok.”
“Bodoh, kalau kamu jalan sendiri sampe jam berapa kamu di rumah? Ini udah sore”
“Umm… Ya udah deh.”

Aku pun menggendong Ruri pulang. Sepanjang jalan pulang tak ada sepatah kata pun yag kami ucapkan. Bahkan di tengah jalan Ruri tertidur lelap di atas bahuku. Aku yakin wajahnya saat itu sangatlah manis.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk menunggu Ruri dan berangkat bersama dengannya. Tak seperti biasanya Ruri keluar 20 menit lebih awal.

“Oh, Yuu-kun, apa kau menungguku?”
“Gak mungkinlah, aku kesiangan tadi.”
“Jadi gitu ya? Kesiangan? Baru kali ini aku denger Yuu-kun kesiangan.”
“Udahlah jangan dipikirin, kamu sendiri kenapa berangkat lebih awal?”
“Kakiku kan sakit, kalau aku gak berangkat lebih awal bisa telat nanti. Lagi pula kemarin kan aku janji sama kamu buat berangkat lebih awal”
“Ya sudahlah ayo berangkat. Bisa jalan kan?”
“Ya bisalah. Memang kenapa? Kamu mau gendong aku lagi?”
“Maleslah, kamu berat banget.”
“Heee… Kamu tahu gak sih, ngomongin berat badan sama cewek itu gak sopan.”
“Bukan gak sopan, tapi kalian malu kan?”
“Yuu-kun jahat”
“Oh iya, ini bekal dari Ibuku. Isinya sup sum-sum, katanya cepat sembuh”
“Hee… Bibi baik banget. Tapi kenapa sup sum-sum?”
“Bodoh, biar kamu cepet sembuhlah, sup sum-sum kan baik buat tulang.”
“Tapi kan tulangku gak kenapa-kenapa.”
“Haah! Brisik, Tanya aja sama Ibuku”

Sebenarnya aku yang meminta Ibuku memasakkannya untuk kami, aku hanya ingin dia cepat sembuh dan bisa mengikuti lomba itu. Hampir setiap hari sejak saat itu Ruri selalu makan sup sum-sum buatan Ibuku. Sampai akhirnya pagi hari sebelum perlombaan kakinya benar-benar sembuh.

“Yuu-kun!” Berlari ke arah Yusha yang baru keluar rumah.
“Arigatou… sup buatan bibi benar-benar hebat. Kakiku sudah sembuh sekarang”
“Benarkah? Baguslah kalau gitu. Terus, kamu mau ikut lomba itu?”
“Pasti, kali ini aku akan menang.”
“Semangatmu itu benar-benar hebat ya. Pasti nanti aku nonton bagaimana kamu mencapai kemenangan
itu.”
“Bener kamu mau nonton? Janji?” Mengajukan jari kelingking.
“Iya aku janji” Melakukan janji pinky.

Tiba-tiba Ruri menarik tanganku dan mulai berlari. Aku senang akhirnya dia bisa tersenyum seperti itu lagi. Semoga kali ini dia benar-benar menang.

Perlombaan dimulai. Sekolah kami menjadi tuan rumah acara ini, banyak sekolah hadir ke acara ini, banyak pula lomba yang diadakan. Karena ini perlombaan olahraga tentu aku tidak ikut, aku benar-benar payah dalam olahraga. Aku pergi ke lapangan tempat lomba lari diadakan. Sepertinya lomba lari pria sedang dilaksanakan. Aku tak melihat adanya Ruri, mungkin dia di dalam melakukan persiapan. Aku duduk di tempat biasa aku makan. Para peserta lomba lari pun keluar, sepertinya lomba akan dimulai.

Para peserta berbaris di garis start. Kulihat Ruri berada di urutan 1 sedang melakukan peregangan, dia pun mengikat rambutnya seperti biasa. Tembakan pertanda dimulainya pertandingan telah dibunyikan, para pelari termasuk Ruri berlari sekuat tenaga. Kulihat Ruri maju perlahan melewati pelari lain.
“Ruri benar-benar bersemangat ya Emishiro-kun?”

Tiba-tiba datang pria berbadan tinggi dan tegap yang kemudian langsung duduk di sebelahku dan menyapaku dengan senyumannya yang sok akrab itu. Aku mengenalnya dia adalah Akairo Musashi dari kelas 2-3, orang yang pernah menyatakan cintanya ke Ruri tahun lalu, tapi Ruri menolaknya.
“Yah begitulah dia. Kamu ke sini buat nonton Ruri?”
“Iya… Seperti itulah. Apa ada masalah soal itu Emishiro-kun?”
“Ya enggaklah. Semua orang berhak nonton kan?”
“Baguslah kalau gitu”

Sebenarnya aku merasa kesal jika berada di dekatnya. Sikapnya yang selalu memandang rendah orang lain itu membuatku kesal. Aku tahu dia anak dari pengusaha yang kaya, tapi bukan berarti dia bisa memandang rendah orang lain kan? Aku putuskan untuk pindah ke tempat lain.
“Aku pergi dulu, aku mau beli minuman.”
“Eh! Apa kau terganggu denganku di sini?”
“Tidak, kenapa harus begitu?”
“Kalau gitu boleh aku pesan minuman juga? Kau akan kembali ke sini kan?”

Sepertinya dia mengerti apa yang kupikirkan. Dia benar-benar membuatku kesal, aku putuskan untuk langsung meninggalkannya. Aku tidak berbohong pada Akairo, aku memang benar-benar haus jadi aku ingin pergi membeli minuman kaleng.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan para penonton. Dan kulihat Ruri tergeletak di tanah, apakah kakinya sakit lagi? Aku langsung berlari ke sisi trek. Ruri masih berusaha berdiri sementara pelari lain hampir menyusulnya.
“Ruri apa kau baik-baik saja? Jangan paksakan kakimu.”

Aku tidak peduli dengan sekitarku, aku mencoba melangkah masuk ke trek dan menolong Ruri, namun Ruri melihatku dan tersenyum. Senyumannya membuatku menghentikan langkahku.
“Aku gak apa-apa kok. Tinggal sedikit lagi, aku pasti bisa.”

Ruri bangkit dan kembali berlari. Sebenarnya aku tidak tahan melihatnya seperti itu, tapi aku mengerti dia ingin memenangkan lomba ini. Pelari lain mendekat dan menyusul Ruri. Apakah Ruri akan kalah lagi? Apakah semua usahanya akan berakhir sia-sia lagi?
“Ruri! Aku akan menunggumu di garis finish. Pastikan aku akan melihat senyum kemenanganmu di sana.”

Entah apa yang kupikirkan, aku hanya mencoba memberinya semangat. Aku pun berlari ke garis finish dan menunggunya di pinggir trek. Kulihat Ruri mulai berlari mencoba menyusul pelari lainnya.
Perlahan tapi pasti, ia menyusul pelari lainnya. Hingga akhirnya tinggal satu pelari lagi. Ruri berlari sekuat yang ia bisa. Aku pun terus berteriak menyorakinya.
Karena aku dianggap mengganggu beberapa petugas menghampiriku dan berusaha menarikku keluar lapangan. Aku pun berusaha melawan. Kulihat Ruri tersenyum melihatku kemudian ia menambah kecepatan larinya.
Meskipun Ruri telah mengeluarkan semua kemampuannya namun keberuntungan tidak memihaknya. Dia tidak bisa menyusul pelari itu. Ia berakhir di urutan kedua. Aku pun langsung menghampirinya.

“Maaf Yuu-kun, aku gak bisa tepati janjiku.” menangis menutupi wajahnya.
“Kamu sudah berusaha semampumu kok, itu tadi hebat banget. Walaupun sempat jatuh tapi akhirnya
kamu bisa finish di urutan kedua. Orang biasa gak mungkin bisa kayak gitu”
“Tapi akhirnya aku gak bisa menang.”
“Kalau yang kamu incar itu posisi pertama, kamu selalu di posisi itu dalam hatiku”

Tanpa sadar aku kembali mengungkapkan perasaanku pada Ruri. Ruri pun Memelukku dan menangis lebih keras.

Cerpen Karangan: Febry Cahyo Riyadi
Facebook: Febry Cahyo Riyadi

Cerpen Boku wa Shiranaikedo (I Don’t Know) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta itu Pengakuan

Oleh:
Aku tak pernah mengagumi atau mengidolakan siapapun dalam 15 tahun perjalanan hidupku. Bahkan ibupun aku tak tahu, tak pernah bertemu. Hhhhh entahlah. Aku bahkan pernah berfikir akan lebih baik

Crazy Love

Oleh:
“Hallo?!,” tanya Felly dengan suara seraknya. “Felllyyy!!!,” teriak seseorang dengan amarahnya. Seketika Felly mengeryitkan dahinya. Ia menjauhkan ponselnya sejenak, kemudian kembali berbicara dengan suara seraknya sebangun dari tidur. “Aduh

Kenangan Waktu Lalu

Oleh:
Suasana kelas yang sepi, di sekitar sekolah hanya ada beberapa murid saja yang terlihat. Memang tidak seperti biasanya, hari ini aku berangkat pagi sebab dimarahi guru salah satu mapel

Aku dan Arkan

Oleh:
Cinta itu indah jika dibayangkan tapi cinta itu terlalu buruk jika dijalani Perkenalkan namaku Shania, biasanya aku dipanggil Nia, aku bersekolah di SMA negeri Surabaya kalas 10, hobiku membaca

Kucari Kamu

Oleh:
Namaku Rena. Aku pemain basket puteri bernomer punggung 13 dengan posisi point guard. Aku siswa kelas 9 yang baru saja selesai menyelesaikan Ujian Nasional tahun 2016 ini. Basket tim

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *