Buat Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 22 January 2014

Akhirnya di rumah deh.
Fani Imaya akhirnya bisa pulang ke rumah setelah hampir 3 minggu kegiatan di sekolah menahannya di Malang. Meskipun jarak Batu-Malang itu hanya satu jam perjalanan naik mobil, tetap saja kalau banyak kegiatan ya nggak bisa sering-sering pulang kampung.

Waktu Fani sampai di rumah, Mama belum pulang bekerja. Hanya ada Suti dan Mpok Cina, yang jadi asisten rumah tangga Mama sejak Fani masih SD. Karena tidak ingin tidur, Fani pun membongkar ransel. Baju-baju kotor terbungkus plastik merah menumpuk di sudut kamarnya — salah satu niat Fani pulang kampung adalah mencuci baju tanpa bayar. Oleh-oleh buat orang serumah berupa brownis tempe dan aneka keripik ditumpuk di atas meja belajar. Tas berisi laptop tergeletak di lantai. Kemudian Fani menjungkirkan ranselnya sehingga benda-benda kecil seperti dompet, kotak pensil, bungkus-bungkus permen, struk belanjaan, peniti, buntelan kertas, dan selotip meluncur jatuh ke atas ranjang yang baru diseprai oleh Suti.

Berantakan banget ranselku. Kepala Fani menggeleng, geli pada kebersihannya yang akan dapat nilai nol gede dari Mama. Dia segera memunguti benda-benda tersebut.

Tiba-tiba Fani berhenti membenahi ranjangnya. Dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Kening gadis itu berkerut sedikit. Suara mobil itu begitu halus. Fani hafal suara mobil Mama. Tidak seperti itu. Suara mobil Mama tuh ya, gede dan heboh banget sampai pernah dikira ada bajaj masuk kampung.

Fani melemparkan ransel di tangannya dan berlari ke jendela kamar. Dia melongok ke bawah, ke halaman depan. Sebuah Nissan Terano abu-abu berhenti disana. Siapa yang turun beberapa saat kemudian membuat mata Fani yang susah melotot membelalak lebar-lebar.
“Sutiii! Suuu-tii!” panggilnya, tanpa beranjak dari jendela setinggi badannya itu.
Suti, yang sedang membantu Mpok Cina mengulek bumbu pecel, berpandang-pandangan dengan Mpok Cina, yang sedang menggoreng ikan mas. “Ada apa ya, Mpok?” tanya Suti.
“Tanya gue? Buruan gih, samperin.”
Mpok Cina meneruskan goreng-gorengnya. Saat itu kedengaran lagi suara Fani berteriak memanggil Suti, yang langsung meninggalkan cobekannya dan tergopoh-gopoh berlari ke kamar nona majikannya. Sempat-sempatnya dia menyambar sapu ijuk dari gantungan di belakang pintu dapur.
“Non, kenapa, Non? Ada apa?”
Fani berpaling dari jendela kamarnya. Mata yang sedang melotot itu semakin membulat. “Ngapain kamu bawa-bawa sapu ijuk sama ulekan batu?”
Suti nyengir, diturunkannya sapu yang teracung tinggi di atas kepalanya. “Lha, Non Fani sih teriak-teriak. Saya kira ada tikus, Non.”
“Hah, tikus?! Dimana?” jerit Fani panik. Dia langsung nangkring di birai jendela.
“Lha, Non Fani ngapain teriak-teriak?” Suti terheran-heran.
“Oh… sini, sini.”
Fani melambaikan tangan menyuruh Suti mendekat, kemudian menunjuk ke halaman depan di bawah. Suti ikut melongok supaya bisa melihat lebih jelas pemandangan apa yang bikin Non Fani jerit-jerit. Siapa tau ada cowok ganteng lagi b*gil. Hus, geblek.
“Lihat, Ti. Itu. Siapa tuh?”
“Yee, Non Fani bercanda iki. Itu kan Ibu, mamanya Non.” Suti memandang Fani dengan wajah geli campur sebal. Gara-gara jeritan Non Fani, Suti sampai nyaris terpeleset tangga dan terancam menggelinding ke lantai bawah. Pfuuh, horor banget. Fani memutar bola matanya. “Ih, itu sih aku tau. Tapi itu… Mama lagi sama siapa?”
“Eh…?”
“Eh apa?”
“Eh, ng-nggak, Non. Sama teman sejawat kali, Non.”
Fani mengerling ke halaman, kemudian tatapannya menyelidik ekspresi wajah Suti. “Mana pernah Mama nebeng pulang kantor sama temen.” Kening Fani berkerut. “Eh, bentar. Teman. Laki-laki!” Mata Fani membelalak.
“Iya, Non, soalnya mobil Ibu udah dua minggu digarasiin. Jadi…,” Suti menatap Non-nya takut-takut. “Non?” Tik. Dicoleknya lengan Fani. Ekspresi Non Fani serem euy. “Non, Non, sadar, Non.”
“Sejak kapan Mama pulang bareng temen cowok? Sejak mobil Mama digarasiin ya?”
“Eh, baru kali ini kok…”
“Heh, jangan coba-coba bohongin aku ya. Sejak kapan?” tanya Fani, galaknya kumat.
Suti melirik jendela, lalu menatap Fani yang ekspresinya seperti siap menelan orang. “Itu…”

Fani memandangi pigura flanel yang dibuatnya di kelas prakarya waktu kelas 1 SMP. Pigura itu berisikan fotonya bertiga dengan Mama dan Papa. Foto yang diambil saat mereka sekeluarga berlibur ke Bromo. Sebulan setelah itu Papa bertengkar hebat dengan Mama, pergi dari rumah, dan tidak pernah muncul lagi sampai sekarang.

Waktu Fani kelas 2 SMP, dia mendengar kenyataan kenapa Papa pergi. Orangtuanya sedang dalam proses perceraian. Papa mempunyai istri lain tanpa sepengetahuan Mama, bahkan Papa sudah punya anak perempuan seumur Fani.

Fani menyangka ibunya berbohong. Tidak mungkin Papa berbuat seperti itu, tidak mungkin Papa sejahat itu. Papa laki-laki keren yang serba bisa, Prince Charmingnya Fani. Dulu, kalau minta dibikinin mainan, diajarin ngerjain PR, dan apa pun, Fani selalu datang ke Papa. Soalnya Mama sibuk dengan praktek dan kuliah spesialis syaraf-nya sehingga jarang berada di rumah. Apa karena Mama terlalu sibuk jadi Papa menikah lagi?

Air mata Fani menitik. Dia selalu berharap Papa kembali bersama mereka, tapi kayaknya nggak mungkin. Fani pernah ke rumah Papa dan melihat dengan hati hancur kebahagiaan keluarga Papa, setelah itu Fani tidak pernah bertemu Papa lagi, hanya sesekali mengirim email. Papa juga tidak pernah berusaha menemui Fani, hanya uangnya saja yang rajin mengalir ke rekening pribadi Fani setiap awal bulan.

Sejak saat itu, tanpa sadar Fani selalu bersikap protektif terhadap Mama. Mama nggak boleh dekat dengan sembarang laki-laki. Harus laki-laki yang cocok dan sayang banget dengan Mama dan Fani yang boleh menikah dengan Mama. Kalau Mama mau menikah lagi.

Tapi, hm, Fani sendiri bagaimana? Maksudnya, apa dia siap punya ayah tiri? Bagaimana kalau ayah tirinya genit? Bagaimana kalau… argh, Fani, itulah gunanya memata-matai. Fani memandang foto dalam pigura sekali lagi sebelum melempar pigura itu ke dalam kotak di kolong ranjangnya.

“Fani sayang, kamu nggak suka tiramisu bikinan Mama?” Suara lembut Mama membuyarkan keruwetan pikiran Fani.
“Mama, Fani suka kok. Mama jangan sensi gitu dong. Fani cuman lagi mikir,” kata Fani sambil menyuap potongan besar kue ke dalam mulutnya.
Mama tersenyum geli mendengar nada serius itu. “Apa pun yang kamu pikirin sekarang dilanjutkan lagi setelah makan kue buatan Mama.”
“Mam, laki-laki yang nganter Mama pulang tadi teman Mama?” cetus Fani.
“Oh. Dia namanya Bagus Pramudita Sahara. Dokter bedah di rumah sakit tempat Mama dinas,” senyum Mama.
“Ohh… dokter juga,” gumam Fani, tangannya tidak sadar mencacah-cacah potongan kue di piringnya. Sambil menunduk, dia bertanya, “Mama mau suka ya sama dia?”
“Sayang…”
“Mama jawab saja. Fani lihat tadi Mama kelihatan senaaaang waktu sama dia.”
“Kamu ngintip?” Mama memasang wajah galak, tapi malah kelihatan lucu.
“Ayolah, Mam. Kita kan janji mau saling terbuka,” cengir Fani.
“Om Bagus laki-laki baik, Sayang. Dia sudah melamar Mama, hanya… Mama minta waktu sampai Mama menjelaskan semuanya ke kamu, makanya Mama belum menjawab lamarannya.”
“Oh… tadi Mama kelihatan hepi waktu sama dia. Mama cinta ya, sama Bagus itu?”
“Om Bagus, Sayangku,” tegur Mama masih dengan suara lembut.
Fani tersenyum kecut. “Yaa… Om Bagus deh. Mama cinta sama dia?”
Fani tidak perlu jawaban waktu melihat senyum yang merekah di bibir wanita tercintanya. Dia belum pernah melihat rona kebahagiaan yang seperti itu di wajah Mama sejak kepergiaan Papa 5 tahun lalu. Hufft, Fani rela nggak rela Mama ingin menikah. But, dia nggak boleh bersikap egois. Demi Mama, Fani rela punya ayah tiri. Tapi…mata-mata dulu. Fani harus tau baik-buruknya pria bernama Bagus Pramudita Sahara ini. Hm, namanya sounds familiar. Ah, yang benar saja. Familiar, familiar, cowok yang namanya Bagus kan buanyak. Kalau pergi ke mall terus teriakin nama Bagus, pasti banyak laki-laki yang menoleh.

Tapi… Fani melangkah mondar-mandir di kamarnya. Sahara, Sahara, dimana dia pernah denger nama itu ya? Terus, tadi Mama cerita, Om Bagus itu punya keponakan yang sekelas dengan Fani. Siapa, siapa? Siapa sih, teman sekelasnya yang punya nama keluarga Sahara? Jawabannya ketemu saat jam beker bebeknya ber-kwek-kwek 12 kali. Fani bertepuk tangan senang, bangkit dari sofa kamar tempatnya tidur-tiduran, dan langsung melompat ke atas ranjang mencari-cari ponsel ijo-nya diantara tumpukan baju bersih yang belum disetrika.

Dia segera mencari nama Lintang di contact list-nya. “Halo, Lintang? Kamu lagi tidur ya?”
“Haaah? Enggak, tenang aja, lo nggak gangguin gue kok. Gue sengaja begadang sampe jam 12 malem demi nungguin telpon dari elo. Untung lo nelpon, kalo enggak gue nggak tidur-tidur sampe subuh ntar, padahal nanti gue harus bangun jam 4 subuh dan jogging jam 5-nya. Elo baik banget, gue jadi tambah sayang sama elo, Fan,” cerocos suara ngantuk di seberang.
Fani mengernyit bingung. “Kamu nungguin telponku? Emangnya aku janji bakal nelpon kamu?”
“Haduuuh, Fani, to the point deh mau ngomong apaan, aku ngantuk tauuu. Kamu mau ngapain nelpon jam segini? Awas ya kalo nggak penting,” sungut Lintang.
Fani baru tersadar dengan sindiran Lintang yang tadi. “Hehe, soriii, Lintang sayangku. Aku mau tanya, sebentar kok…”
“Tanya apa? Besok pagi kan belum kiamat. Semogaaa bukan urusan cowok lagi.”
“Sayangnya emang urusan cowok,” kekeh Fani. Didengarnya suara erangan Lintang. “Heh, udah nggak usah lebay gitu deh. Eh, Bagus Pramudita Sahara itu siapanya kamu, Ntang?”
“Hah? Ngapain kamu tanya-tanya Om Bagus? Jangan bilang kamu sekarang sukanya sama tipe om-om ya.”
“Iiih, dodol. Bukaaan. Jadi dia om-mu? Eh, bukannya pernah jadi pembicara tamu di acara sekolahan ya?”
Lintang menguap keras dan sepertinya —terdengar dari suaranya yang heboh— lebar dulu sebelum menjawab, “Ho-ooh. Pembicara tamu di acara peringatan Hari Jantung International. Kamu gimana sih? Kan dulu kamu udah kukenalin ke Om Bagus. Kamu bilang, Om Bagus itu baa-ek, gaaaan-teng, raaa-mah, piiin-ter, aaa-lim, heee-b…”
“Iya, iya, aku inget sekarang! Thanks ya, Ntong. I love you sooooo much deh. Dadah, nite-nite!”
“Eh, Fani, Fan! Kamu ngapain tanya-tanya Om aku? Kamu jangan om-om complex ya. Om aku tuh udah punya calon istri.”
“Yee, enak aja. Iya, aku tau kok. Soalnya calon istri Om Bagus itu adalah… teretettetetet, aku tau pokoknya!”
“Hah? Kamu tau? Masa sih? Gimana bisa wong aku yang ponakannya belum tau kok.”
Fani ketawa geli. “Entar lah kamu tau sendiri. Dah, balik tidur sana. Good night!”

Setelah menutup telepon, Fani tersenyum lebar. Pantes, rasanya pernah tau nama Bagus Pramudita Sahara dimana. Ternyata dia pernah ketemu toh. Hehe, salahnya tidak melihat dengan jelas sosok Om Bagus waktu beliau mengantar Mama pulang tadi sore. Main ngambek aja.
“Wah, kalau Om Bagus yang itu sih, aku setuju. Setuju banget malah,” senyum Fani lebar pada langit-langit kamarnya. Dia tau apa yang akan dikatakannya pada Mama besok pagi. Selama Mama bahagia, Fani juga akan saaangat bahagia.

END

Cerpen Karangan: Syarifah
Facebook: Syarifah Ahmad Abdurrahman Bahamisah

Cerpen Buat Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Do Painting French

Oleh:
Di hari yang cerah ini, aku mau bilang sama kalian semua … bahwa besok, aku dan keluarga mau pindah ke Prancis, lebih tepatnya lagi ke Paris. Aku hanya bisa

Diary Di Pantai Cinta

Oleh:
Senja berganti malam, riuh keramaian kota tangerang semakin terasa menghilang terbungkus heningnya malam. Membuat seorang remaja kian terhanyut dalam khayalan tingkat tingginya. Sesekali, ia membolak balikan antara profil dan

Mau Tak Mau

Oleh:
Mendung terlihat dari aura wajahku setelah melihat nilai uts di raport yang tidak memuaskan dengan beberapa nilai merah di beberapa mata pelarannya. “kapan nilai kamu bisa bagus nay?” kata

Cintaku Bersemi di Rumah Sakit

Oleh:
Trriiikk… Triiikk… hssss… Hujan angin ini membanjiri hatiku. Tuhan… aku merindukannya, tapi mungkinkah dia juga merindukanku. Dimas Prayoga Adistira. Seorang lelaki yang kucintai sejak kelas 1 SMA. Tapi sampai

Cowok Misterius

Oleh:
Persaanku sekarang ini aku tidak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikannya, rasanya aku ingin melepas lelah ku selama ini, aku lelah dengan semuanya, mulai dari ayah yang telah pergi meninggalkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *