Budayaku Di Langit Rusia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 30 March 2018

Kilauan matahari belum terlihat dari langit utara, angin dingin berhembus manerbangkan dedaunan basah, gumpalan kapas salju turun beriringan, beberapa suara merdu burung masih terdengar walau dingin menerpa bumi ini, saat ini hanya dingin yang terasa.

Pagi masih terlalu dini, namun kupaksakan mata ini untuk terbuka melihat momen ini, jujur saja baru pertama kali ini aku melihat salju di negara Rusia ini sejak enam bulan yang lalu aku mendapatkan pekerjaan menjadi seorang fotografer majalah dan korandi kota ini. Huuuh… dingin sekali, segera mungkin aku mengambil winter coatku dan segera memakainya. Hari ini adalah musim salju pertama yang turun di kota Kazan, Rusia.

“Triiing… triiiing…” tiba tiba ponselku berbunyi, kulihat nama si penelepon, ternyata dari temanku Brian, aku langsung mengangkatnya.
“Nic! Kamu ada acara enggak hari ini?” tanya Brian
“Em… enggak sih, kenapa?”
“Kalau begitu temui aku di gedung 4 institut managemen, ekonomi dan keuangan kota Kazan ya?”
“Memangnya ada apa?”
“Pokoknya kamu datang saja, dan jangan lupa bawa kameramu, Kita ketemuan pagi ini juga.”
“Em.. ok..”

Tumben banget si Brian menelepon aku seserius itu. Tanpa pikir panjang lagi aku mengambil kameraku, dan langsung menuju ke tempat tujuan.
Aku keluar dari apartemenku dan langsung menghadang taksi, jalanan pagi ini macet, aneh aku tidak pernah melihat kota Kazan macet parah seperti ini.

Setibanya di tempat tujuan aku terperanjat, lihatlah … sebuah tulisan besar dengan corak warna warni terpampang jelas di sebuah pintu masuk sebuah festifal, sebuah tulisan yang tertulis “WONDERFUL INDONESIA”, aku segera menelepon Brian untuk menanyakan lokasi tempat kami bertemu.
“Kenapa enggak bilang kalau ada festifal seserius ini… kirain cuma pertemuan biasa!” kataku kepada Brian, orang yang keturunan asli Belanda yang bekerja sebagai usahawan di sebuah perusahaan ternama di kota ini.
“Setidaknya kau datang kawan… bukankah selama ini kau selalu menceritakan Negeri tercintamu itu? Dan sekarang aku akan melihatnya secara langsung” jawab Brian enteng. Aku cuma mengangguk, dia memang benar, akhir akhir ini aku sering menceritakan kekayaan Indonesia kepadanya.

Kami berdua pun jalan jalan di festifal itu, ada banyak sekali pameran pameran yang dipajang di sini, juga ada yang diperjual belikan. Tidak lupa aku potret semua isi festifal ini, bisa sebagai berita di majalah atau koran, atau setidaknya bisa sebagai sebuah kenangan.

Festifal ini sebenarnya diadakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA) yang mengadakan festival ‘Wonderful Indonesia’. Festival yang digelar di kota Kazan, Republik Tatarstan, ini mengusung tema ‘Taste of Indonesia’. Kegiatan ini diselenggarakan setelah melihat antusiasme masyarakat Rusia terhadap budaya Indonesia dengan suksesnya Wonderful Indonesia Agustus lalu yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hermitage Garden Moscow. Permira bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata dan didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rusia menyelenggarakan Wonderful Indonesia di Kazan. Sedangkan kegiatannya sendiri menyajikan rangkaian acara yang terdiri dari pameran kebudayaan indonesia seperti pagelaran seni, serta menampilkan kuliner khas Indonesia. Tentunya akan menunjukkan keragaman budaya dan kearifan lokal alam Indonesia.

Saat aku dan Brian sedang melihat lihat beberapa pameran, tiba tiba terlihat olehku sebuah pertunjukan seni tari yang dari dulu aku kenal, seni tari yang menyimpan beribu kenangan, seni tari kuda lumping. Seketika aku terpatung melihat seni tari ini, bukan, bukan karena tariannya, tetapi semua ini mengingatkanku tentang kampung halamanku, mengingatkanku tentang seseorang, Ibuku. Lihatlah, sekarang tidak ada Ibu yang menggandeng tanganku dan mengajakku pulang, tidak ada ibu yang akan menggendongku jika aku kelelahan menonton seni tari ini. Tak sengaja setetes air mataku bergulir terjatuh ke tanah.

Waktu sudah menjelang siang, namun gumpalan salju tak henti hentinya turun dari langit. Aku dan Brian pergi ke warung makan khas masakan Indonesia, akhirnya setelah enam bulan aku bisa makan masakan kampung halamanku. Kami berdua makan sambil menonton video layar lebar di tengah tengah lokasi festifal, tentu saja video ini memperkenalkan keindahan kekayaan alam dan budayanya Indonesia.

Baru saja aku menikmati makananku, tiba tiba ponselku berbunyi, aku pun langsung mengangkatnya.
“Hallo? Nic? Kamu ada di mana?” suara perempuan yang aku kenali ternyata meneleponku.
“Aiko? Aku… aku ada di festifal Wonderfull Indonesia, ada apa?”
“oh kamu juga ada di sini ya?”
“Memangnya kamu ada di festifal ini juga?”
“Iya, temui aku di taman bunga di dekat restoran Sandbar Chiken, ya?”
“B, baik, tunggu aku sebentar ya…” Telepon aku matikan.

“Siapa Nic?” Brian di dekatku bertanya.
“My girlfriend ” aku tersenyum malu, Brian tertawa, lalu dia menuruhku agar aku segera menemui Aiko.
“Nic! Jangan melakukan hal yang tidak tidak ya?” kata Brian sembari memukul lenganku.
“Memangnya apa yang aku mau lakukan di tempat umum seperti itu!” aku balas memukul lengan Brian, lalu pergi menuju taman bunga.
“Good luck!!” kata Brian saat aku meninggalkannya.

Siang sudah setinggi ujung penombak. Langkah kaki aku perlambat, di taman yang cuma berukuran setengah lapangan bola sepak ini hanya ada beberapa orang yang terjalin sebagai sepasang kekasih, aku masih berjalan mencari Aiko sampai aku temukan dia di bangku taman di dekat bibir sungai kecil. Lihatlah itu, seorang wanita yang memakai sweeter merah, di lehernya terbalut syal putih, matanyaa bersinar hijau, pipinya yang merona semakin merona karena cuaca. Aih… begitu cantiknya dia.

“Konnichiwa! Selamat siang Nico-San…” Sapanya ketika aku sampai di sana.
“Eh, siang juga…”
“Silahkan duduk dulu Nico-San” katanya sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya. Aku pun duduk.
“Bagaimana kabarmu Aiko?” tanyaku bosa basi
“Heiki Desu… aku baik baik saja Nico-San”
“Nic saja… enggak perlu pakai San” kataku
“Ooh maaf, di negara Jepang, memakai nama kecil seseorang itu tidak sopan”
“Kitakan sudah lama kenal Aiko… lagi pula aku tidak terbiasa dengan kata itu”
Aiko menyandarkan kepalanya di pundakku. “Gomen na sai, Maaf Nico-San aku sudah terbiasa menggunakan kata ini, bukankah kata ini menunjukan kehormatan bagi Nico-San?”
“Iya sih… ya… em… sudahlah… kalau begitu tidak apa apa”

Aiko Asami namanya, ia bekerja sebagai seorang Reporter, dia berasal dari negara sakura, Jepang. Kami sudah berhubungan sejak dua bulan yang lalu, kami bertemu di kota Belgorod, kota yang berada di dekat Ukraina, dan itu adalah pertemuan kami yang pertama kalinya.

“Kita pergi ke Festifal pameran yuk, Aiko?” tanyaku seketika.
“Hai! Baiklah Nico-San” katanya sambil melepas sandaran kepalanya dari pundakku lalu berdiri.

Kami pergi ke festifal itu, aku mengenalkan beberapa pameran dari Indonesia kepada Aiko, mengenalkan seni seni dan kuliner kepadanya, kami mengabadikan semua kegiatan kami. Tak akan pernah aku lupakan pengalaman seindah ini. Sampai aku sadari waktu berjalan cepat, senja pun sudah mengelilingi langit, akupun pulang bersama Aiko. Malam telah menjemput, bersama dengan gumpalan salju yang semakin ramai turun dari langit.

Malam dingin semakin dingin. malam ini aku berada di atas apartemenku, kupandangi langit malam ini, sedikit bintang di langit sana lainya tertutup awan, hari ini adalah hari paling bahagia di hidupku, andai saja ibuku bersamaku untuk melihat anaknya yang sedang bahagia ini. Semua ini karena adanya festifal itu, ya, festifal Kebudayaan Indonesia, menurutku kebudayaan itu bukan cuma sekedar seni, namun memiliki arti yang lebih dari itu, lebih dari sebuah tradisi. Karena budaya inilah sebuah kenanganku teringat kembali olehku, saat aku bersama orang yang aku sayangi, bersama keluargaku, bersama ibu, ayah dan teman temanku. Sungguh kenangan itu kembali hanyut di dalam hati dan ingatanku.

Malam ini salju masih turun, bintang gemintang sempurna tertutup awan di langit sana, angin dingin berhembus memainkan ujung rambutku, membuat diriku yang sedang penuh antusias menatap langit tersenyum.
“I LOVE YOU, MY CULTURE”

Sekian

Cerpen Karangan: Ahmad Rizqi Latif Oktavian
Facebook: Rizqi Latif

Cerpen Budayaku Di Langit Rusia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


39 Miles Away

Oleh:
Kalau dengen kata “Pacaran” pasti kedengarannya indah. Tapi kalau denger kata “Long Distance Relationship” kedengarannya pahit, mungkin hanya beberapa orang yang bertahan dan itu mungkin gak banyak, kenapa?. Mungkin

Dia Pergi Atau Menghilang

Oleh:
Kata cinta Selayaknya tak ada angkara di antara kedustaan, kenistaan dan penghancuran dalam kesucian cinta Kata cinta Sejatinya selalu ada jeda di setiap ruang, pun tiap semesta ada jeda.

Terlambat Untuk Menerima

Oleh:
Mentari mengintip dengan malu-malu di balik tirai jendela sebuah rumah sederhana. Disertai kokok ayam jantan yang bersahutan. Pagi kembali datang membawa kesejukan khas pegunungan. Tetes embun masih nyaring terdengar

Seseorang Di Atas Loteng (Part 3)

Oleh:
“Miyaaaa…” Dari balik pintu kamar terlihat seorang wanita memanggil sebuah nama dengan nada manja. Wanita itu mempunyai mata yang sama dengan nama gadis yang dipanggilnya barusan. Begitu ia melihat

Candra Abyad

Oleh:
Awan kelabu dengan hembusan angin sejuk menyapa ritmik setapak langkah. Menyegarkan dengan tetesan embun dan juga warna pekat awan mengundang guyuran hujan hingga menjadikan view luar bandara menjadi lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *