Bukan Benci Orangnya Tapi Perpisahannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 18 July 2019

Pertemuan disore itu nyaris membuatku tak merasakan hidup, semenjak dia mengucapkan kata sayang hidupku serasa dibuat beku, beku oleh cibirnya yang meluluhkan hati anak remaja ketika hendak beranjak dewasa, ucapnya bak pisau tajam yang menyayat hati, sejak sepasang dua bola mata itu bertemu kini tak ada lagi rindu.

Alkisah saat siang hari aku dipertemukan dengan seseorang, umur kita beda satu tingkat dan aku masih duduk di bangku menengah atas, waktu itu mataku kabur jiwaku terngiang saat ku tersadar bahwa seseorang yang ada di hadapanku bukanlah seseorang yang sudah menemani hari-hari sunyiku selama beberapa pekan. “Ini siapa kenapa aku bertemu dengan orang ini?” gumamku dalam hati, dalam beberapa saat ia kembali menancapkan gasnya hingga tak terlihat punggungnya sekalipun, sesaat sebelum pergi ia hanya menebarkan senyum dengan seuntas perkenalan nama.

Sebelum perkenalan dalam pertemuan pertama itu kita awali dengan chatting di berbagai social media, hingga aku mulai memahami karakter yang terdapat dalam jiwanya, sebenarnya ia sosok yang penyayang, baik, ramah tapi hidupnya agak terlalu tinggi. Sifat buruknya aku ketahui saat bibirnya bergerak menjawab pernyataan yang aku lontarkan, senyuman demi senyuman mulai menjalar hingga tawa renyah dengan lepasnya seperti tak ada beban pikiran menyelimuti layaknya anak remeja yang baru menyentuh kata cinta, waktu berputar keras dengan suara jeritan detik telah mengingatkan dua insan bahwasannya hari sudah menenggelamkan mereka.

Aku masih duduk mendengarkan ucapan-ucapan yang ia jatuhkan dari mulutnya tanpa sedikitpun memandang wajahnya. Saat ia hendak pergi ke toilet ia sempat menitipkan handphonenya padaku, rasa penasaran muncul di benakku menggoda jiwa, saai itu aku memberanikan diri membuka social media yang sering ia hampiri, memang privacy tapi aku penasaran, kulihat ada chat dari seseorang yang memang nama perempuan tersebut berada di urutan paling atas, aku membukanya hingga terbaca secara detail, “sepertinya perempuan ini spesial untuknya?” lirihku dalam hati.

Ketika kumulai merasakan ada gejolak cemburu dalam hati, tiba-tiba saja ia berada dekat di belakangku, aku menyadarinya saat ia berbatuk pelan jelas saja aku tersontak kaget dan dengan cepatnya kututup kembali handphone miliknya. “Sepertinya kamu sudah mengetahui duluan!” jelasnya, “maksudnya?!” kataku dengan banyak penasaran, “ya itu tadi!” katanya cuek, “maksud kamu apa?” kataku makin penasaran, “seperti yang kemarin aku ceritakan, bahwa hari ini aku akan memberitahumu suatu hal dan ternyata kamu sudah tahu duluan!” jelasnya. Penjelasannya jelas sangat membuatku harus berfikir keras, apa maksudnya?

Saat itu aku pulang dengan rasa kecewa, aku paham betul kenapa ia tak pernah jujur sebelumnya kalau ia masih menyayangi seseorang di masa lalunya, aku berkata lirih di hadapannnya saat ia menghentikan laju kendaraanya yang kita tunggangi. “Kenapa kamu tak pernah jujur sebelumnya, kalau kamu masih menyayangi perempuan yang dulu pernah jadi kekasihmu!” kataku, “Kamu juga tak pernah jujur kalau kamu punya seseorang saat ini!” jelasnya. Sungguh pertanyaan sekaligus pernyataan yang membuatku tersontak kaget, lidahku kelu, bibirku membisu, diriku terpaku, aku tak mampu menjawabnya.

“Kau… kenapa kau harus jadi milikku saat ini, padahal aku sudah mencintai orang lain, aku kasihan terhadapmu tapi aku rindu perhatianmu, aku ingin kau tetap perhatian terhadapku, bolehkah aku melepasmu tanpa alasan?”.

Sejak saat itu aku tak pernah memikirkan perasaan seseorang yang mengisi hatiku yang jelas rasaku sudah pudar untuknya karena aku sudah menaruh hatiku pada seseorang kemarin sore, kulepaskan ia secara perlahan melalui jari-jemariku yang terus berloncatan di atas layar.

Kulupakan pertemuan saat itu dengannya, kusunggingkan senyuman padanya saat berada di suatu tempat yang tidak jarang dijamah orang, tempat itu ramai dan dengan santainya aku kembali bercanda dengannya aku benar-benar bahagia berada di dekatnya, “aku percaya dan aku menyukaimu!” gumamku dalam hati.

“aku boleh bicara sesuatu?” tanyanya “eh.. iya boleh!” jawabku dengan rasa gugup “sebenarnya aku menyayangimu” jelasnya “lantas?” kataku “iya aku menyayangimu!” Ia hanya mengucapkan kata sayang tanpa menjadikanku seseorang spesial dalam hidupnya, jelas aku sedikit ragu dan kecewa tapi jujur aku sangat senang.

Hari demi hari berlalu poros waktu mengayuh begitu cepat hingga tiba di suatu hari, tepat hari jum’at disore hari, saat itu aku benar-benar canggung sebagai seorang pemimpin ia mengutarakannya terlebih dahulu, dengan sangat cermat aku memahami apa yang ia lontarkan terhadapku, perbincangan waktu sangat menyenangkan. Ku bahagia berada di dekatnya kunikmati suasana sore di atas jalan berkerikil duduk manis bersamanya, kurasa itu bukan pertemuan terakhir karena sebelumnya tak pernah kusangka bahwa ia akan pergi jauh mencari jati dirinya, dia berkata bahwa ia harus dan akan pergi jauh mencari jati diri demi mengejar cita-cita menjadi seorang pemimpin. Dia berkata maaf terhadapku bahwa ia tak kan memainkan seorang perempuan sebelum cita-citanya tercapai, dengan gagahnya aku percaya begitu saja tapi hati berkata “kenapa kamu bilang sayang terhadapku.”

Sejak kepergiannya aku terus berharap dan mengharapkan akan kehadirannya mengubah senduku saat ini, tapi ia tidak ada, mungkin ia sudah melupakan hal itu, mungkin juga dia lupa terhadapku. Ini bukan LDR (long distance relationship) karena ia bukan milikku, aku tak patut merindukannya, aku ingin melupakannya dengan cara ku harus mengikhlaskan, tapi jujur hal ini sulit siang malam tak pernah kulupakan kenangan tersebut padahal hamper setengah tahun lebih ia meninggalkanku tanpa sedikit kabar yang pernah ia berikan terhadapku, sungguh hati ini keras tak bisa kudapati suasana baru dalam memberikan rasa terhadap orang lain selain dirinya.

“Tuhan kenapa harus seperti ini, aku punya masa depan yang lebih cerah dibanding ku harus mengharapkan ia kembali, tapi aku yakin jika ia jodohku kelak pasti kan bertemu.”

Cerpen Karangan: Wili Novita
Facebook: facebook.com/willi.novita
Ada video-video Follow ig: wilinovita_

Cerpen Bukan Benci Orangnya Tapi Perpisahannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pencarian Jawaban

Oleh:
Jari jemari menari diatas keyboard, mata memandang layar yang tiada henti hentinya memberikan tugas yang semakin lama semakin memberikan beban di mata. Tak kusadari esok hari beban itu mungkin

Cinta Bersemi di Warung Kopi

Oleh:
“Vin, ingat enggak, dulu kita pernah bertengkar di tempat itu,” ucap Mas Amri menunjuk sebuah warung kecil berspanduk ‘Warkop Temu Jodo’ yang ada di seberang jalan dari tempat kami

Lilis dan Iyan (Part 3)

Oleh:
Bisa-bisanya Bryan meninggalkan buku pelajaran Kewirausahaannya di rumah, padahal hari ini mesti presentasi nanti jam 2 siang bareng Melissa. “Izin ambil buku dulu deh ke rumah.” Ucap Melissa bingung

Si Buruk Rupa Mencari Cinta (Part 1)

Oleh:
Doni adalah laki-laki yang memiliki wajah yang biasa-biasa saja dia sudah sering menerima penolakkan dari wanita yang dia sukai. Tapi, dia tidak pantang menyerah. Dia terus berusaha mencari pasangan,

Sajak Cinta Ralin

Oleh:
Asal kau tahu saja Senyum mu itu adiktif. Aku kecanduan. By: Your Forever Admire Begitulah Ralin sekitar enam bulan terakhir ini ia gencar sekali mengirimi tulisan tulisan semacam itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *