Bukan Benci tapi Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 May 2017

Andin, itulah nama panggilanku di sekolah. Dulu aku dan dia begitu dekat bahkan mirip orang pacaran karena kami memang satu kelas. Dia adalah Evan. Tapi semua itu hanya kenangan setelah hal yang tidak pernah kubayangkan terjadi. Pihak sekolah akan merombak kelas yang dulunya 5 kelas untuk kelas VII, 5 kelas untuk kelas VIII, dan 5 kelas untuk kelas IX menjadi masing-masing 4 kelas. Awalnya memang begitu berat berpisah dengan teman-teman yang sudah aku anggap sahabat, apalagi suka dan duka telah kami lewati barsama selama 2 tahun. Meskipun pada akhirnya aku sudah bisa beradaptasi dengan teman-teman baruku, bahkan merasa lebih nyaman dengan keadaan yang sekarang. Entah apa yang membuatku merasa lebih nyaman dengan teman temanku yang sekarang, mungkin karena teman-temanku yang dulu benar-benar telah berubah, mereka menjadi lebih tepes alias tebar pesona di depan junior kami. Tapi sudahlah itu tidak terlalu penting.

Awal tahun ajaran baru, kami masih dekat sama seperti pada saat kami masih di kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar bahwa dia belum begitu ikhlas dengan semua ini, komunikasi kami pun menjadi tidak baik. Bagaimana tidak, ketika kami masih satu kelas di kelas VIII kami begitu akrab terlebih lagi aku yang paling sering membantunya dalam hal pelajaran.

“Andin!” panggil Mala salah satu teman sekelas Evan.
“oh, iya mal ada apa?” ucapku menghampiri Mala.
“ndin, aku Cuma bingung kok Evan kelihatannya benci sama kamu gitu, sampai bilang kalau semua yang ada di kelas kamu itu musuh dia” balas Mala dengan ciri khasnya yang lebay itu.
“serius, Evan bilang bagitu?” tanyaku meminta kepastian Mala.
“serius ndin, aku kan teman sekelasnya dia” jawab Mala memastikan perkataaannya tadi.
“hehehe, iya juga ya. Makasih ya mal, aku mau ke kelas aku dulu” ucapku kemudian melanjutkan perjalanan ke kelas sambil memikirkan perkataan Mala tadi.

Aku mulai kesal dengan semua kata-katanya itu. Kuputuskan untuk tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya, ia pun begitu. Sepertinya dia juga melakukan hal yang sama. Setiap kali kami bertemu atau hanya berpapasan kami saling cuek layaknya orang yang sedang bermusuhan. Tapi, itulah Evan hobbynya menyindir orang aku pun disindirnya setiap kali bertemu. Dia bilang aku sombonglah, apalah, itulah mengapa aku malas banget kalau ada urusan di kelas dia. Waktu itu aku sama temen aku mau lewat di lapangan sekolah, kebetulan dia lagi main bola di lapangan. Sepertinya dia memang sengaja menendang bolanya ke arahku. Tapi untunglah keberuntungan masih berpihak padaku.

Setiap kali kami bertemu di luar sekolah sama saja, kami tetap layaknya orang yang sedang musuhan. Dia cuek, aku juga bisa cuek. Dia sombong, aku juga bisa, yah namanya juga orang lagi musuhan. Dan juga setiap kali Evan lewat di depan rumah aku dia pasti sengaja mengocok gas motornya.
“Mau bikin aku tuli apa. Awas yah kamu.” Gerutuku dalam hati setiap kali dia lewat.

6 bulan kemudian, sepertinya waktu berlalu bagitu cepat. Hubungan kami belum ada perubahan, tetap saja layaknya orang musuhan. Selama itu pula, Aku selalu merasa ada yang kurang di sekolah sejak aku tidak lagi pernah melihat senyum, canda dan tawanya. Aku benar-benar telah kehilangan sosok Evan yang dulu selalu menghiburku disaat aku sedang sedih. Sebenarnya aku menyesal bersandiwara seperti ini, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Evan. Tapi, aku juga tidak mungkin meminta maaf lebih dulu. Aku kan cewek, malu kalau aku yang minta maaf duluan.

Sementara itu di kelasnya Evan juga sedang berpikir keras. “sebenarnya aku tidak nyaman dengan hubunganku seperti ini pada Andin, aku merindukan saat-saat bercanda dengannya dulu, tapi mungkin dia sudah lupa sama aku” kata Evan pada dirinya sendiri.

Ternyata si cerewet Sandra mendengarkan apa Evan katakan. Yang namanya orang cerewet memang seperti itu, Sandra pun langsung memberitahuku apa yang ia dengarkan.
“ndin, tadi aku nggak sengaja dengar Evan bilang kalau sebenarnya dia itu rindu saat-saat bercanda sama kamu dulu” kata si cerewet itu.
“hah? Yang bener san?” tanyaku penuh keheranan.
“iyalah ndin, aku dengar sendiri. Masa aku bohong, kan nggak ada untungnya aku bohong sama kamu” jawab si cerewet Sandra.
“iya juga yah. makasih ya san” balasku.
Sandra pun pergi meninggalkanku sendiri. “aduh, Sandra. Kamu Bikin aku jadi kepikiran, tapi ada untungnya juga, aku jadi tahu sebenarnya isi hati Evan” kataku dalam hati. “masa aku lupa sama kamu van, tidak mungkin hanya karena hubungan kita tidak baik lantas aku bisa melupakanmu dengan mudah” Lanjutku dalam hati.
“aduh sadar Andin. Kenapa aku jadi mikirin Evan. Tapi mana mungkin Evan suka sama aku, apalagi hubungan kita akhir-akhir ini tidak baik” kataku lagi sambil menampar pipi kiri kanan.

Keesokan harinya, di kelas Evan tampak Aldi yang juga teman sekelas Evan memberinya saran.
“van, kamu suka sama Andin?” basa-basi Aldi memulai pembicaraan.
“apa? kamu kan tau kalau aku sama Andin musuhan, masa iya tiba-tiba aku suka sama dia” bantah Evan, yang sebenarnya ragu dengan perkataannya itu.
“van, benci sama cinta itu cuma beda tipis, ya udah gini aja kalau kamu beneran suka sama dia baiknya kamu tembak dia aja, jangan sampai kamu menyesal nanti” ledek Aldi lalu berlari maninggalkan Evan sendiri.
“sebenarnya aku suka sama Andin, tapi bagaimana caranya?” tanya Evan pada hatinya.
Akhirnya kami kembali bertemu di lapangan, sekarang Evan tak lagi menyindirku, dia memang sengaja mencari aku yang kebetulan sedang berjalan di lapangan menuju ke kantin.
“Andin tunggu!” panggil Evan.
“ada apa van? Tumben ramah, biasanya kamu nyindir aku” tanyaku apa Evan dengan nada sinis.
“a..a.. aku mau ngomong sesuatu sama kamu ndin” jawabnya yang sedikit gugup.
“ah.. udalah pasti gak penting. Aku mau ke kantin” kataku lalu beranjak meninggalkan Evan.
“tunggu ndin. Aku Cuma mau bilang kalau sebenarnya aku kangen.. kangen banget saat-saat kita masih satu kelas dulu ndin” ucapnya dengan menarik tanganku.
“Cuma itu?” tanyaku cuek.
“em. Masih ada lagi. Aku juga suka sama kamu ndin, kamu mau gak jadi pacar aku?” dia akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya padaku.
“apa? Kamu suka sama aku” tanyaku kembali kepada Evan.
“iya ndin aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” jelas Evan.
“sebenarnya aku juga suka sama kamu van. Aku mau jadi pacar kamu” jawabku.
“yang benar ndin. Makasih yah” Evan tampaknya sangat senang dan begitupun denganku.
Pada akhirnya hubungan kami pun membaik, dan aku sadar ternyata benar kata si Aldi benci sama cinta itu Cuma beda tipis.

Cerpen Karangan: Dian Sukma Putri
Facebook: Dhian sukma putry

Cerpen Bukan Benci tapi Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berpisah Bukan Berarti Berakhir

Oleh:
Siang itu, jalanan lumayan sepi. Doni mengayuh sepedanya dengan cepat, diikuti oleh Rahma yang sedikit tertinggal di belakang, namun berusaha agar posisinya sejajar dengan Doni, hingga akhirnya mereka bersebelahan.

I’m Sorry I Love You

Oleh:
“Diaaaa, please stop, dengarkan aku bicara sebentar, aku mohon untuk kali ini sajaa, Anindya putri! Aku mohon untuk yang terakhir kalinya,” jeritku di pelataran parkir kampus bawah fakultas ekonomi,

Ketika Cinta Berbisik

Oleh:
“Plakkk…!!!” Hendri menampar istrinya dengan penuh emosi. Tetesan air mata menggenangi pipi Asfy, istri yang dinikahinya setahun lalu. Baru kali ini ia mendapat tamparan keras dari suaminya. “Maafin aku

Kisah Kasih di SMK

Oleh:
Awalnya aku tak pernah menyangka akan bersekolah di situ. Tak terlintas sedikit pun di otakku, untuk masuk sekolah itu. Bangunan yang begitu kotor, jelek, dan seperti bukan sekolahan. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *