Bukan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 21 February 2015

Sebuah nama yang ada di alam bawah sadarku akhir-akhir ini muncul ke permukaan. Nama seorang wanita yang pernah aku coba untuk dihapus dari memory otakku, kini muncul kembali.
Dia adalah Lisa, wanita dari empat tahun yang lalu dan pernah memberi banyak kebahagiaan serta harapan. Ya… empat tahun yang lalu ada sebuah cerita antara aku dan dirinya. Berawal dari taruhan konyol ku dengan kedua temanku yang sama-sama ingin berkenalan dengannya, bahkan ingin menjadikannya pacar.
Meskipun tampangku paling di bawah standard, tapi jurus merayu ceweknya jauh lebih ampuh. (hahaha) terbukti waktu malam itu aku yang berhasil pertama kali mengetahui namanya plus nopenya juga.

Semuanya begitu cepat, sungguh begitu cepat.
– Malam pertama kenalan
– Malem kedua jadian
– Malem ke tiga ciuman
– Malem ke empat bubaran
Emang sangat konyol jika diingat kembali tentang aku dan Lisa. Tetapi bukan saat kenalan yang membuatku terus mengingatnya, bukan juga pas jadian, atau pas ciuman. Justru pasca bubaran yang selalu terus ada di dalam ingatan.
“Meskipun kita tidak pacaran, setidaknya kita bisa berteman kan dit?” itulah kata-katanya yang terus dia ucapkan.

Memang tidak ada yang salah namun meskipun berteman gaya berkomunikasi kita seperti orang yang berpacaran. Perhatiannya, cemburunya, tangisnya, ketawanya… semua membuatku merasa dia lah yang akan menjadi sumber kebahagian ku nantinya.

Dan aku masih sering mengatakan seperti pengemis cinta, “maukah kamu menjadi pacarku lagi?”. Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini, atau mungkin tepatnya.. belum ada wanita yang membuatku senyaman ini lagi.

Memang sangat memalukan, aku masih saja berharap menjadikannya pacar walaupun ratusan kali ditolak. Waktu pun terus berputar sampai Tiga tahun kemudian, Lisa sudah punya pacar. Tapi bagiku tidak masalah,
“sebelum janur kuning melengkung, dia masih milik kita bersama”. Itu lah yang ku pegang sampai pada satu titik dimana garis takdir membelah ceritaku dan ceritanya.

Masih tertancap di dalam fikiranku kata-katanya, “adit… aku pengin ngomong sesuatu, tapi kamu jangan marah ya…” dia memulai obrolan
“ya udah si ngomong aja, kenapa juga aku harus marah?” jawabku santai.
“bulan mei nanti, aq akan menikah. kalau bisa kamu dateng ya…”
Seperti mendengar ledakan bom Nagasaki dan Hiroshima secara bersamaan, jantungku hampir berhenti berdetak. Dunia seperti menghitam, pandanganku kabur. Tapi aku tidak meneteskan air mata, lagian aku juga tau kalau dia hanya temanku. Namun mengapa aku harus kecewa seperti ini? kenapa hatiku merasa sakit? kenapa kebencian yang menguasai pikiranku?.
Aku tidak menjawab perkataan Lisa. Dengan gontai ku langkahkan kakiku menjauh darinya. Meskipun sayup-sayup aku mendengar seorang memanggil manggil namaku,
“dit… adit… kamu mau kemana?? Dit… masa aku ditinggal si… adittt”
Aku terus berjalan, aku tak peduli lagi dengan suara itu.

Sampai di rumah sms dan telfon Lisa berulang kali membuat handphone ku berbunyi. Namun tak ada niat sedikitpun untuku peduli. Ku keluarkan simcard dari ponsel, aku tekuk-tekuk, lalu ku buang.
“Bodo amat ama pernikahan lisa, nikah ya nikah sanalah, emang aku peduli” begitulah yang terus aku ucapkan dalam hati.

Jika bukan cinta, kenapa aku sakit hati tentang pernikahannya?
Jika bukan cinta, kenapa aku tak rela melepasnya?
Bukankah cinta tak harus memiliki? lalu untuk apa aku mencintainya? lalu bagaimana aku membuatnya bahagia sedangkan hatiku terluka? apakah ketulusan cinta itu ada? Apakah aku sama sekali tak mengerti cinta?

Mulai saat itu aku mencoba menjauhinya. Mulai dari membuang simcard, blokir facebooknya, sampai aku pergi mencari pekerjaan ke jakarta. Semua ku lakukan semata-mata untuk melupakannya. Tetapi tidak berjalan senpurna, fikiranku terus dihantui wajahnya, terus dibayangi senyumnya, terus terdengar suaranya, dan akhirnya kebencian mulai merasuk jiwa.

Delapan bulan telah berlalu, aku kembali ke desaku. Ternyata lisa sedang ikut suaminya ke bandung, sepertinya Tuhan pun tau kalau aku tidak ingin melihat Lisa yang sekarang.
Aku bertemu sahabat lamaku, seperti biasa kita selalu menghabiskan waktu untuk berbicara, apa lagi kita sudah delapan bulan tidak berjumpa. Dari obrolan ringan sampai akhirnya dia menanyakan yang menurutku sangat mengganggu,
“Dit, kok kamu gak dateng ke pernikahan lisa?”
“nggak ah males, lagian aku baru seminggu di jakarta, belum ada duit untuk pulang kampung lah”
“ah… bilang aja kamu gak sanggup melihat Lisa menikah, iya kan?”
“fffuuuhhh… emang ada ya? orang yang sanggup melihat pernikahan seseorang yang sangat dia cintai?”
“hahaha, banyak lah… neh coba kamu fikir, kalau kamu benar-benar mencintainya, harusnya kamu bahagia dong melihat Lisa bahagia?”
Sejak saat itu nasihat dari sahabatku terus terngiang di kepalaku, apa iya aku bisa bahagia melihat lisa bahagia? aku terus menanyakan itu di dalam hatiku. Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk merelakan Lisa yang sudah bahagia. Sebenernya aku ingin sekali ngucapin selamat kepadanya, tapi aku takut suaraku masih bergetar tanda tak ikhlas.
Memikirkan itu semua membuatku bingung, jika benar ada kutipan “tulus dalam mencintai”, aku ingin mencobanya.
Akhirnya aku putuskan membuka blokir facebooknya, barang kali akunnya masih aktif. Ternyata benar, akun Fbnya masih aktif, terbukti statusnya yang terbaru, 5 hari yang lalu.
Aku tidak melanjutkan membaca statusnya ketika terpampang jelas tulisan “menikah dengan…” langsung aku close tab dan keluar dari Facebook. aku tidak mau membaca nama suaminya, ternyata masih terlalu menyakitkan.

Selang beberapa hari aku buka kembali facebook, dan ternyata pemberitahuan pesan dari lisa cukup banyak,
“adit… gimana kabarnya? kok ngilang gitu aja?” 2 hari yang lalu
“dit, kamu udah lupa ama aku yah?” 1 hari yang lalu
“maafin aku ya kalau aku punya salah..” 5 jam yang lalu
“kamu marah ya ama aku? apa kamu udah lupa ama aq?” 2 jam yang lalu
“dit, nomer hape kamu mana?” baru saja

Bingung…!

Kalau aku kasih tau nomerku, Lisa pasti minta penjelasan atas menghilangnya aku, kalau aku tidak kasih, pasti dipikirnya aku masih marah. Padahal aku sedang mencoba nasehat temenku, aku ingin terlihat bahagia untuknya.
Akhirnya aku kasih nomer handfone ku, “ini nomerku 08389******”
yap, sudah kuduga rentetan sms darinya memberondong hp ku. Aku membalas semua pertanyaannya dengan sejujur jujurnya, dan pada akhirnya aku ucapkan “Walaupun terlambat aku ingin mengucapkan, Selamat Menempuh Hidup Baru ya…”
Tidak sampai di situ, ternyata Lisa yang dulu masih sama, dia selalu menemani hari-hariku dengan sms atau telfon, malah terkadang aku jadi bingung, kenapa dia masih saja seperti Lisa yang belum menikah?
Lama kelamaan aku tidak nyaman sendiri, aku membayangkan posisiku sebagai suaminya, dan ternyata istriku masih berhubungan dengan mantannya. Aku pasti akan sangat marah besar. Memang aku ingin menunjukan bahwa aku bahagia melihat kehidupan lisa yang sekarang, namun ini sudah kelewatan dan mendekati ambang perselingkuhan.

Aku mulai bertanya tanya apa maksud dari semua ini, Lisa yang berani manggil sayang, Lisa yang masih saja smsan sama aku meskipun katanya suaminya tidur di sampingnya, lisa yang ngambek ketika aku menceritakan wanita yang sedang dekat denganku, Lisa yang khawatir jika aku sakit.
Jika dia tidak lagi mencitaiku lalu apa?

Semuanya berlanjut sampai tahun baru 2014, aku pulang kampung dan bertemu Lisa. Kita seperti sedang berselingkuh meskipun aku menolak mengakuinya. Karena walaupun sekeras apapun aku mencoba untuk mengatakan “aku sudah merelakan dia bahagia”, tetapi di dalam hatiku yang paling dalam berkata sebaliknya.

Senja di bukit belakang rumah menjadi saksi dua manusia saling terdiam menikmati indahnya masa lalu. Tetes air mata turun di pipi cantiknya, dan senyum pahit terukir di bibirnya. Kata demi kata meluncur dengan lembut dari mulutnya,
“dit, maafin aku yang meninggalkanmu, maafin aku yang sering banget nyakitin kamu, maafin aku yang tidak bisa bersamamu dalam sebuah ikatan. Kamu pasti bertanya kenapa aku begini, sebenarnya aku tidak bahagia dengan suamiku, aku tidak pernah merasa dihargai oleh suamiku…”
“kenapa kamu menceritakan ini padaku? Dan semua itu sudah menjadi pilihanmu, aku tidak bisa membantumu, itu bukan domain ku untuk berbicara” aku potong kata katanya.
“iya aku tau itu, tapi aku seneng banget kamu masih mau berteman denganku, kamu masih bisa membuatku tertawa. Makasih untuk semuanya ya dit…” lanjutnya berbicara, kini senyumnya terlihat benar benar manis.
“lisa, kita tidak bisa begini terus. maksudku, kamu sudah menjadi istri orang lisa… kamu sudah tidak bisa bebas memilih siapa temanmu. apa lagi denganku aku yang masih…” ups.. aku tidak sengaja mengatakan itu
“masih apa dit?”
“nggak, nggak pa pa”
“ih… masih apa dit…?”
“beneran nggak papa, aku lupa mau ngomong apa” aku jadi salting.
“ya udah sekarang aku mau tanya, kamu harus jawab dengan jujur”
“ya udah mau nanya apa?”
“kamu masih mencintai aku ya dit?”
Deg… pertannyaan macam apa ini? Aku tidak menyangka Lisa akan menanyakan hal tersebut.
“kok diem dit…”
“Sa, kenapa kamu menanyakan itu?”
“ya udah deh kalau kamu gak mau jawab, asal kamu tau… aku masih sayang kamu dit.”
“dan untuk kata kata kamu tentang kita, aku juga berfikir kita memang tidak boleh seperti ini. aku sudah menjadi istri orang, memang sebaiknya kita tidak boleh berduaan seperti ini.”
Aku tau kemana arah pembicaraan ini, dan untuk saat ini aku akan mengatakan apa yang terbaik untuk kita.
“Lisa, aku akan jujur padamu. Bahwa aku masih mencintaimu, aku masih berharap kita bisa bersatu, aku masih punya impian hidup bahagia bersamamu. Tapi itu tidak mungkin.”
Air mata lisa terus mengalir dengan isakan yang makin jelas.
“Aku tidak menyalahkan mu yang telah menikah dengan orang lain, kamu berhak bahagia dengan siapapun. Kebahagiaan mu yang paling penting untuk hidupku. Dan sekarang, sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi ya… perasaan ku padamu tidak bisa aku hilangkan, aku takut merusak rumah tanggamu.”
Kali ini bukan isakan lagi yang terdengar dari Lisa, dia menangis.
Setelah semuanya reda, barulah dia mengatakan keinginannya.
“baiklah dit, tapi ini permintaanku yang terakhir sebelum kita benar-benar berpisah. Aku ingin kamu jangan lupain aku ya… dan aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya, boleh ya dit…”
Aku rentangkan kedua tanganku, dan langsung saja Lisa menghambur ke pelukanku, Erat sekali pelukan kita, seakan akan dunia akan runtuh jika kita melepas pelukan ini. Lisa yang masih saja menangis membuat badannya bergetar, aku hanya bisa mengusap rambutnya untuk menenangkannya.

Jika bukan cinta, kenapa kita saling berpelukan di saat yang seharusnya tak boleh di lakukan…?
Jika bukan cinta, kenapa kita susah melepaskan satu sama lain…?
Jika bukan cinta, kenapa kita tidak di persatukan untuk selamanya…?
Jika bukan cinta, lalu apa?

Telfon dari pacarku membuyarkan lamunan, dan aku tersenyum sendiri. Memang masa lalu susah dilupakan, karena masa lalu bukan untuk dilupakan tetapi untuk pembelajaran. Dan kehidupan yang sekarang harus lebih baik dari masa lalu. Dan yang terpenting syukuri apa yang ada sekarang, seperti yang kan ku lakukan sekarang.
“hallo sayang…”

– The end –

Cerpen Karangan: S Fajar Saputra
Facebook: https://facebook.com/sigitf2black

Cerpen Bukan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Darah Kehidupan

Oleh:
Febby, dan Rasya adalah dua orang sahabat. Mereka telah bersahabat sejak kelas tiga SD hingga sekarang mereka yang telah duduk di bangku kelas satu SMP, mereka telah dipertemukan kembali

First Love

Oleh:
Awalnya, Kukira aku tidak akan pernah kehilangan dirimu… Kau cinta pertamaku.. Tapi kini telah pergi… Menghilang bersama angin bulan Desember… Aku menatap butir-butir air yang jatuh dari langit. Setiap

Cinta Menjelaskan Cinta

Oleh:
Perasaan ini terlalu mengusik hati Ya Rabb, aku bingung dengan perasaan ini, lidahku yang tak bertulang ini juga tidak cukup fasih untuk menjelaskannya, apakah ini cinta?, kalau benar ini

Hilangnya Cokelat Satya

Oleh:
“Teng teng teng,” suara lonceng istirahat terdengar. Semua siswa dengan wajah gembiranya cepat-cepat keluar dari kelas untuk pergi jajan ke kantin. Tapi tidak untuk Satya, dia malah masih duduk

Setetes Harapan

Oleh:
Cinta… ya kata yang sering di sebut-sebut semua manusia di dunia ini. Namun banyak orang tak bisa memberi arti apakah itu cinta yang sesungguhnya. Hari demi hari ku jejaki,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *