Bukan Hanya Sekedar Saudara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

Semilir angin segar berhembus melalui celah-celah kaca jendela yang memang sengaja terbuka agar angin dapat masuk, berbagai pemandangan indah yang kutemui dari perjalananku kali ini menambah semangatku untuk segera tiba di tanah kelahiranku, Jogjakarta. Perjalananku kali ini, ku tempuh dengan menggunakan kereta api dari Semarang menuju Jogja. Ya aku pergi sendiri ke Jogja hanya untuk liburan dan menenangkan pikiranku. Sambil menengok ke sebelah jendela kereta, otakku terus memutar kaset tentang bagaimana liburanku kali ini di kota Jogja, entah mungkin ini karena aku sudah tidak sabar untuk segera berlibur disana.

Sesampainya di sebuah stasiun di Jogja, aku segera menepi mencari tempat yang sekiranya teduh, lalu ku ambil handphone ku yang sedari tadi memang aku diamkan di dalam tas agar aku bisa menikmati perjalanan. Saat aku membuka hp, ternyata sudah ada sebuah pesan singkat dari bibiku, Ana. Dia bilang bahwa hari ini jam 8 pagi, ia dan suaminya akan pergi ke Surabaya karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan, jadi mereka menyuruh Mas Ashar agar menjemputku di stasiun siang ini. Mas Ashar adalah anak terakhir dari bibi dan pamanku yang tinggal di Jogja, ia sekarang sedang kuliah di salah satu universitas negeri di kota Jogja, ia sekarang telah menginjak semester 3 dan berniat mengambil jurusan kedokteran sebagai dokter gigi. Setibanya aku di Jogja, aku akan berlibur dan menginap di rumah bibiku itu, tapi ternyata mendadak ia ada urusan di Surabaya. Jadi mungkin selama aku berada di Jogja, aku akan tinggal dengan sepupuku, Mas Ashar.

Setelah aku mengetahui hal tersebut, aku pun menanti kedatangan mas Ashar yang akan menjemputku. Aku berusaha mencari-cari keberadaannya tapi belum juga ku temukan. Sampai akhirnya, ada seseorang yang memanggil namaku dari kejauhan, “Anin” begitulah dia memanggilku. Lelaki itu lalu berlari menghampiriku, sambil memegang pundakku dia menyapaku sekali lagi, “Hey Anin” dengan wajah teramat bingung, aku masih terus memandanginya dan bertanya-tanya siapa dia, atau mungkin dia mas Ashar. Ia lalu menghancurkan lamunanku dengan pertanyaan, “Kamu kenapa kok ngeliatin kayak gitu? Udah lupa ya sama sepupu sendiri?” katanya sambil senyum-senyum. Begitu dia melontarkan kalimat itu, aku langsung menyadari bahwa ia adalah mas Ashar. Aku justru balik bertanya untuk memastikan apakah dia benar mas Ashar, “Mas Ashar?” tanyaku sambil menunjuk ke arah dirinya. Ia hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan aku langsung memeluknya. Aku hampir saja tidak mengenalinya karena perubahan fisik yang ia alami yang disebut masa puber, ia nampak sangat tampan dan dewasa dengan tubuhnya yang semakin tinggi itu, jakun yang mulai terlihat, suaranya yang mulai memberat dan kumis tipisnya yang sangat membuatku tak mengenalinya. Setelah agak lama kami bercengkerama dengan perubahan-perubahan itu, akhirnya mas Ashar mengajakku untuk masuk ke mobilnya dan sekaligus mengajakku makan siang.

Sambil menunggu makanan datang, kami pun bercengkerama kembali. Ya, aku dan mas Ashar memang sudah sangat akrab sejak dulu, mungkin karena kami dulu pernah tinggal di rumah yang berdekatan sewaktu di Surabaya. Kalau sekarang, kami pun sudah tak tinggal di Surabaya lagi. Meskipun orang tuaku masih tinggal di Surabaya, tapi aku pergi merantau ke Semarang dan tinggal bersama om dan tanteku. Sedangkan mas Ashar, ia dan keluarganya memilih untuk tinggal di Jogja. Mas Ashar pun memulai pembicaraan kami di sebuah kedai mie ayam.
“Maaf ya, tadi mendadak mama sama papa ke Surabaya katanya ada urusan yang harus diselesaikan gitu, aku juga gak tau apa. Jadi mungkin liburan kamu kali ini mas yang temenin, nanti juga di rumah cuma berdua. Gapapa kan?” ucap mas Ashar.
“Iya gak apa-apa kok, mungkin emang lagi sibuk.”
“Kamu masih suka makan mie ayam?” tanyanya seperti hafal betul kesukaanku.
“Masih kok, malah suka banget.”
“Selera kita dari dulu emang selalu sama, mie ayam.” Ucapnya membuat gelak tawa.
“Haha mas ini bisa saja.”
“Kamu sekarang kelas berapa? Kayaknya udah gede aja.” ledeknya.
“Ini baru aja mau naik kelas 3 SMA.”
“Wah berarti bentar lagi ujian dong terus kuliah deh.”
“Iya mas, makanya doain ya semoga lancar.”
“Iya pasti dek.”

Setelah selesai makan siang, kami pun tak langsung pulang ke rumah karena pasti di rumah juga sepi, jadi kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Tapi tiba-tiba saat di mobil, mas Ashar mengejutkanku, “Aduh lupa lagi!” katanya sambil menepuk jidatnya.
“Ada apa mas?” tanyaku heran.
“Ada yang ketinggalan di kampus tadi, padahal buku itu penting dan harus aku baca.”
“Ya udah, di ambil aja dulu bukunya mas. Lagian kita kan gak buru-buru mau kemana juga justru malah santai.”
“Kamu bener gapapa kalo mas ajakin ke kampus mas sebentar buat ngambil buku?”
“Ya gak apa-apa lah. Justru aku malah seneng bisa diajak ke kampusnya mas, jadikan aku bisa liat-liat kampus, siapa tau aku berminat nanti buat daftar kuliah disana.”
“Hahaha bener juga kamu dek, yaudah kita ke kampus dulu ya.” Ucapnya lalu segera balik arah dan menuju kampusnya.

Setelah ia memarkirkan mobilnya, ia lalu menggandeng tanganku agar aku tidak salah arah katanya, karena kampusnya memang sangat besar. Mungkin dia takut jika aku tersesat. Mas Ashar menggandengku menuju ruang kelas yang baru saja dipakainya tadi pagi. Begitu kami melewati sebuah ruangan seperti laboratorium, disana kami berhenti sejenak karena mas Ashar bertemu dan menyapa teman-teman seusianya.
“Hai bro!” sapa seorang laki-laki pada mas Ashar.
“Eh iya bro, kok gak pulang? Masih ada kuliah?” jawab mas Ashar.
“Iya nih, ada kuliah tambahan. Wuidihh hebat bener lo, Shar. Tadi pagi ke kampus sendirian aja, eh sekarang datang ke kampus ngegandeng cewek berduaan. Pacar baru ya? Kenalin dong Shar!”
“Apaan sih lo? Dia ini sepupu gue yang baru datang dari Semarang buat liburan disini.”
“Ah masa? Kok kayaknya lebih pantes jadi pacar sih daripada sepupu.” Ledeknya lagi.
Aku pun yang sedari tadi hanya diam saja, kini aku memberanikan diri untuk berbicara.
“Maaf ya, tapi aku sama mas Ashar gak pacaran. Kami sepupuan jadi gak mungkin kalo kami pacaran.” Ucapku membela.
“Tuh loe dengerin apa kata adek gue. Malu lo diceramahin anak SMA.” Sindir mas Ashar lalu menggandengku dan segera pergi.
“Gue doain loe berdua jadian baru tau rasa lo!” teriak teman mas Ashar tadi seperti menyumpahi.

Sambil menaiki tangga yang cukup lama untuk menuju ruang kelas itu, mas Ashar meminta maaf atas ucapan temannya tadi yang bernama Rafa. Ya tentu saja aku tidak marah, mana mungkin aku marah pada mas Ashar. Akhirnya, kami sampai juga di ruang kelas yang dituju, dengan cepat mas Ashar segera mencari buku itu dan setelah dapat, mas Ashar kembali menggandengku dan segera berjalan menuju parkiran. Tapi, baru saja kami keluar dari kelas itu sudah ada seorang bapak-bapak dengan kumis tebal sambil membawa buku itu sepertinya ingin masuk ke kelas yang sama. Lalu, mas Ashar menghentikan langkahnya, sontak aku pun ikut menghentikan langkah seperti ada aba-aba dari mas Ashar.
“Siang Pak” begitu sapa mas Ashar pada bapak tua tadi.
“Siang. Ngapain kamu Shar?” jawab bapak itu yang ternyata adalah dosen di universitas tersebut.
“Ngambil buku pak ketinggalan. Bapak sendiri ngapain kesini pak?”
“Kunci mobil bapak juga ketinggalan di dalam.”
“Oh gitu pak.”
“Ini siapa? Pacar kamu Shar?” tanya bapak itu yang juga mengira bahwa aku pacar dari mas Ashar.
“Bukan pak. Dia sepupu saya baru datang dari Semarang mau liburan disini.”
“Oh bapak kira tadi pacar kamu soalnya pake digandeng segala tangannya.”
“Iya gapapa pak biar gak hilang dia.”
Begitu mendengar jawaban dari mas Ashar, langsung saja aku menginjak kakinya karena ucapannya itu. Segera saja mas Ashar pamitan dan mengajakku kembali ke mobil. Di dalam mobil pun masih meminta maaf soal perkataan teman dan juga dosennya tadi yang mengira bahwa kita berdua pacaran. Ya dengan cepat aku memaafkannya. Lalu, mas Ashar mengajakku berjalan-jalan disekitaran jalan malioboro, setelah ia memarkirkan mobilnya di tempat aman barulah kami memulai jalan-jalan di pinggir jalan malioboro dengan berjalan kaki, ia pun tak lupa membelikanku es krim rasa coklat sebagai pelepas dahaga di siang yang terik ini. Sambil menikmati es krim dengan berjalan kaki, aku pun memulai percakapan dengan menanyakan soal kejadian tadi di kampus.
“Mas.” Panggilku.
“Hmm..” gumamnya sambil menikmati es krim.
“Kenapa ya teman mas yang namanya Rafa tadi itu malah ngira kita pacaran, dosen mas juga tadi. Terus masa kita dibilang lebih cocok jadi pacar sih daripada sepupu? Emang bener yah?”
“Mana mas tau dek, itu kan menurut pandangan mereka. Mungkin mereka ngira kita pacaran itu karena tadi mas gandeng tangan kamu, mungkin harusnya mas gak perlu gandeng kamu. Maafin mas ya dek!”
“Gak apa-apa kok mas, bukan salahnya mas juga.”

Setelah selesai jalan-jalan, kami berkeliling ke pusat perbelanjaan hingga malam, langsung saja mas Ashar membawaku untuk segera makan malam di salah satu restoran terkenal yang menghidangkan menu seafood terenak di Jogja. Setelah selesai makan malam, mas Ashar pun mengajakku untuk pulang ke rumah karena hari juga sudah larut malam. Dan nampaknya aku sedikit kecapekan karena baru saja datang dari Semarang sudah diajak jalan hingga larut malam begini. Setelah aku sudah selesai membereskan barang-barang di kamar, langsung saja aku merebahkan diri di atas kasur sambil mengingat-ingat kejadian seharian ini. Aku sangat senang sekali bisa jalan-jalan dengan mas Ashar. Dan entah kenapa, kini aku justru masih teringat dengan perkataan orang-orang kampus tadi bahwa aku dan mas Ashar memang lebih cocok menjadi sepasang kekasih daripada saudara. Pikiran itu terus terngiang-ngiang dalam otakku. Dan mengapa kini aku terlihat sangat senang jika orang bilang aku adalah pacarnya mas Ashar, aku selalu senyum-senyum sendiri setiap ingat dengan kejadian itu. Aneh memang tapi aku juga tak mengerti dengan semua ini.

Matahari telah menyambut datangnya pagi yang cerah ini, aku pun sibuk menyiapkan sarapan untuk aku dan mas Ashar. Tentu saja, begitu mas Ashar bangun dia terlihat kaget begitu aku sudah siap menghidangkan sarapan pagi untuknya. Langsung saja kami melahap sarapan pagi itu berdua. Setelah selesai sarapan, kami pun segera mandi dan bersiap untuk kembali melanjutkan jalan-jalan kami yang memang masih kurang. Kebetulan mas Ashar memang tidak ada jadwal kuliah hari ini jadi ia mengajakku untuk pergi ke Solo, tak jauh memang dari kota Jogja jika ditempuh dengan kendaraan pribadi. Ya kami pergi berdua dengan mobilnya, pergi jalan-jalan mengelilingi kota Solo, belanja aneka pernak-pernik khas Solo, berburu kuliner khas Solo.

Sorenya setelah selesai berjalan-jalan di Solo, kami memutuskan untuk kembali ke Jogja. Hari semakin gelap, tapi kami belum juga sampai di Jogja. Yah mungkin karena malam ini malam minggu jadi seperti biasa di alun-alun kota pasti ramai dipenuhi anak-anak muda yang menghabiskan malam minggunya bersama pacar, teman, keluarga di jalanan. Kami pun hanya menghabiskan waktu kami semalam di dalam mobil karena terjebak oleh macet yang sangat panjang. Sementara, mas Ashar menyetir mobil dan aku mulai ngantuk jadi aku putuskan untuk menutup mataku dan tidur di bahu mas Ashar. Perlahan, mas Ashar mencuri-curi kesempatan di saat aku terlelap, ia mengusap-usap rambutku lalu mengecup keningku. Sebenernya aku memang belum bisa tidur saat itu dan hanya menutup mataku dan merebahkan kepala di bahu mas Ashar, tentu saja aku kaget setelah ia mengecup keningku saat itu, aku memang masih pura-pura tertidur agar dia tidak terkejut. Tak jelas memang apa maksud dibalik itu semua, belaiannya, kecupannya itu, sungguh aku tak mengerti.

Hingga tepat pukul 12 malam, kami tiba di rumah dan aku pun yang masih tetap pada posisiku pura-pura tertidur. Mas Ashar langsung saja menggendongku hingga sampai ke kamar, ia lalu memberikanku selimut yang penuh kehangatan, lalu ia kembali melakukan hal yang sama seperti di dalam mobil tadi, dia membelai rambutku sambil memandangku dengan indah, lalu mengecup keningku sekali lagi dan pergi meninggalkan aku di kamar. Tentu saja, otakku masih berfikir kenapa mas Ashar begitu perhatian denganku. Dalam fikiran itu, otakku sepertinya mulai lelah untuk berfikir dan segera saja aku memejamkan mata dan tertidur.

Esok harinya, mas Ashar mengajakku untuk makan malam di sebuah café. Mas Ashar langsung saja menggandengku untuk makan di lantai 2 di balkon café tersebut. Suasananya memang sangat indah dan romantis, makan malam ditemani dengan suasana malam kota Jogja dan gemerlap lampu-lampu jalan menghiasi kota itu. Sambil menunggu hidangan yang memang sengaja lama dibuat, mas Ashar memandangku terus menerus tanpa berkedip. Aku heran, lalu aku bertanya dengannya, mengapa ia sangat serius memandang ke arahku? Dia justru memuji ku, “kamu sekarang udah gede ya, makin tambah cantik.” Begitu rayunya. Aku hanya tertawa kecil saja dan dalam hati senang, entah kenapa mas Ashar justru memegang tanganku dan ia mengutarakan perasaannya bahwa ia mencintaiku lebih dari sebatas saudara. Dan entah mengapa, ia seperti bisa menebak kata hatiku bahwa aku pun mencintainya. Ia lalu memintaku agar aku menjadi kekasihnya, awalnya aku menolak karena aku takut jika keluarga kami tau pasti mereka akan marah, mereka tak mungkin merestui hubungan kami ini. Tapi, mas Ashar justru meyakinkanku, akhirnya aku setuju dan kami pun sepakat untuk tidak memberitahukan hubungan kami ini pada keluarga kami, kami pun menjaga sikap saat sedang bersama keluarga, kami memutuskan untuk pacaran diam-diam atau backstreet.

Hubungan kami berjalan dengan sangat baik tanpa diketahui oleh keluarga, hingga akhirnya aku lulus SMA dan aku berniat meneruskan pendidikanku di sebuah universitas yang juga dihuni oleh mas Ashar dan aku berniat mengambil jurusan psikologi. Kini, aku pun telah pindah tinggal di Jogja bersama keluargaku yang ikut pindah dari Surabaya, itu semua aku lakukan agar aku bisa selalu bersama mas Ashar. Setelah aku keterima di universitas negeri tersebut, aku dan mas Ashar jadi lebih sering bertemu dan bersama. Hingga akhirnya, keluarga pun mulai curiga dengan sikap kami ini dan rahasia itu telah diketahui seluruh keluarga saat kelulusan atau lebih tepatnya mas Ashar wisuda. Saat wisuda itulah, aku selalu setia menemani dan mendukung mas Ashar, entah kenapa aku menjadi sumber inspirasinya, begitu katanya. Kami pun tak dapat berbohong lagi, semua keluarga telah mengetahuinya dan melarang keras kami untuk melanjutkan hubungan itu, mas Ashar menolak, ia tak ingin hubungannya denganku berakhir begitu saja padahal kami masih saling mencintai. Keluarga pun hanya membiarkan dan mendiamkan hubungan kami yang semakin lama semakin erat ini.

Hingga akhirnya, mas Ashar berjanji akan menikahiku setelah aku selesai wisuda nanti. Ia akan menungguku hingga aku lulus dan kini mas Ashar telah menjadi seorang dokter gigi yang hebat dan sukses. Hubungan kami pun telah berjalan hampir 5 tahun, keluarga pun akhirnya menyetujui hubungan kami karena mereka melihat hubungan yang aku jalani dengan mas Ashar tidak main-main, belum lagi cinta kami yang begitu besar hingga sejauh ini. Dan setelah kami mendapat restu dari masing-masing keluarga, mas Ashar menepati janjinya, ia menikahiku setelah aku wisuda dan menjadi seorang psikolog.

Dan ternyata benar apa yang dikatakan waktu itu oleh teman mas Ashar yang bernama Rafa. Sepertinya doanya terkabul begitu saja, kami benar-benar menjadi sepasang kekasih dan menikah. Rafa pun begitu kaget setelah dirinya mendapat undangan pernikahan dari kami. Betapa bahagianya dia, bahwa doanya memang benar-benar terkabul.

Ashar dan Anin.

Selesai.

Cerpen Karangan: Iyasa Nindya
Blog: iyasalahtingkah.blogspot.com
Facebook: Iyasa Nindya
Twitter: @iyasanndya
Silahkan di follow ataupun di add bagi yang ingin kenal saya 🙂

Cerpen Bukan Hanya Sekedar Saudara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lamunan Senja

Oleh:
Termenung. Itu yang aku lakukan ketika sang kekasih sudah tak lagi melontarkan kata ‘sayang’ padaku. Menatap jauh sang langit biru yang sebantar lagi akan terbenam, dan seketika itu langit-langit

Bersamamu

Oleh:
Inilah hari lain bagiku yang super normal. Aku hanya duduk sambil tertawa dengan Josh, sahabat paling istimewa bagiku. Tiap hari dia selalu menemaniku duduk di kursi rodaku. Sepotong roti

Perpisahan Akhir

Oleh:
Jam beker berbunyi tepat jam 06:00 pagi . Saatnya untuk lian bersiap-siap untuk kesekolah , di sekolah lian anak yang bersahabat , memang sih gak pinter pinter amat .

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *