Bukan Karena Buku Diary

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

Matahari sudah membumbung tinggi. Langkah seorang siswi yang semula gemulai tiba-tiba berubah sangat cepat. Namanya Dian Anggraini, Sekbid kesehatan OSIS. Ia harus menemui ketua osis di ruang UKS yang memanggil dirinya lima menit yang lalu lewat microfon. Pasti marah lagi itu ketua osis, pikirnya. Saat sampai Ian menatapnya acuh tak acuh.

“kok, kecepetan?” olok Ian si ketua osis dengan gaya hiperbolanya.
“Sori, tadi itu aku lagi ke toilet” jawab Dian menepiskan rasa bersalahnya.
“Ke toilet lama amat, emang yu lagi ngapain?” Tukas Ian santai sambil melipat tangannya di dada.
“Aduh Ian, plis deh yang itu jangan ditanya-tanya. Aku yakin kamu bukan manusia bodoh yang gak tahu-menahu mengenai kerjaan orang di toilet” Dian naik pitam sehingga bicara panjang lebar.
“Kamu masih ingat yang kita bicarakan kemarin, kan?” Tanya Ian masih dengan wibawanya yang kadang bikin para pengurus lain muak.

Dian melirik jam tangannya. Kemudian beranjak dari tempat berdirinya menuju lemari paling pojok di ruangan itu. Ia mengacak-acak beberapa obat di sana lalu memasukannya di kotak P3K. Hari ini pasti melelahkan lagi, keluhnya dalam hati.

“Sudah” ujarnya menghancurkan lamunan Ian.
“Bagus, kamu boleh berangkat sendiri ke SMANSA” putus Ian masih dengan gaya sok cool.
“Apa??!! pake apa coba aku ke sana, emang aku superman”
“ehmm, ya udah kita bareng aja” Sanggah Ian mencoba menahan tawa.

Perasaan Dian baru lega mendengar tutur Ian yang sedemikian halusnya sampai menusuk hati. Lagian bareng sama Ian bukan masalah yang terlalu buruk, lagi-lagi Dian meyakinkan dirinya terhadap si ketua osis yang selalu dicap songong itu.

“Naik” Ian memerintah dengan nada suara yang selalu sama.
Tanpa banyak babibu, Dian naik ke atas motor matic putih milik Ian. Baru saja naik, Ian langsung jalan. Dian terkejut bukan main hampir saja dia memeluk Ian gara-gara ulah Ian sendiri. Ian terus jalan seakan tidak menyadari insiden itu. Sedangkan Dian sedang menenangkan diri dan mencoba menahan jantungnya yang mau copot.

Saat sampai di tempat yang dituju, ia memarkirkan motor maticnya di parkiran siswa SMANSA. Dari gerak-gerik Ian, nampak bahwa badannya yang kurus itu sudah sering kemari. Dian hanya pasrah mengikuti langkah ketuanya yang seolah berjalan sendiri alias tidak ada Dian di situ.
Ian disambut hangat oleh warga SMANSA. Cerminan diri Ian sebagai pemimpin yang disegani mulai dirasakan Dian. Mereka yang ada di situ menjabat tangan Ian sedangkan Dian hanya sebagai asisten yang menyaksikan itu semua.

“Gimana pertandingannya, bro?” tanya Ian tak kalah gaul dengan cowok yang menjabat tangannya barusan.
“Keren. SMA BL cukup ngeri bermainnya, kayaknya lo udah ngumpulin anak-anak PORSENI tahun lalu deh” cowok itu menunjuk dada Ian dengan telunjuk tangan kanannya.
Ian mengancungi jempol sebagai responnya terhadap perkataan cowok itu, cowok yang tak dikenal oleh Dian.
“Eh, dia siapanya kamu?” tiba-tiba cowok itu mengalihkan pandangan ke arah Dian yang sedari tadi berdiri di belakang Ian” Cantik juga”
Pipi Dian langsung bersemu merah mendengar itu. Benar-benar gak habis pikir gue akan diolok macam gini, serunya dalam hati.
“Dia cewek gue” Ian berbisik di telinga anak SMANSA.
Kalau sudah begini ceritanya mah Dian pasti sebal setengah mati kepada Ian yang selalu saja begitu. Dasar ketua osis yang songong, umpatnya dalam hati.

Besoknya….
Seperti biasa Dian jalan kaki berangkat ke sekolah. Kakinya yang semula kuat kini mulai terasa sangat pegal akibat aktivitasnya kemarin. Dian menjadi teringat perlakuan Ian kepadanya yang terasa berlebihan. Bukan Ian yang kukenal, Simpul Dian dalam hati.
Setelah larut dalam pikirannya, Dian meneruskan perjalanannya di pagi hari yang agak lembab. Matahari juga belum nongol sehingga Dian harus merapatkan sweaternya. Coba aja Ian adalah cowok ramah pasti sudah kutelepon dia sedari tadi buat boncengin aku, kali ini Dian bertutur sendiri di tengah jalan.

“PIIIIIP!!!” bunyi klekson yang keras menyambar telinga Dian.
Dian melompat sangking kagetnya. Sebuah motor matic berhenti tak jauh dari posisinya. Anak berseragam putih abu-abu membuka helm putihnya sambil nyengir menatap cewek yang lagi histeris ketakutan menyambut kedatangannya.
“Udah ah. GAK USAH GAYA-GAYAAN. NAIK NOH” kali ini Ian bicara sambil tersenyum.
Dian memandang cowok yang tak lain adalah ketua osis songong yang dicap oleh pengurus osis lain di SMA BL plesss julukan ketua narsis seantero sekolahnya, hasil karyanya di buku diary. Mulutnya menganga seperti mulut ikan mas koki.
Ian memperhatikan pakaiannya kemudian sepatunya, gak ada yang aneh dengan penampilannya. Sejurus kemudian membenamkan mukanya ke arah ketiak untuk mencium badannya, ahh gak bau malah harum dan segar. Ini cewek napa ya? ah aku kali yang aneh.., pikir Ian bertanya. karena sudah menyerah dan kepala terakhir digaruk meskipun tidak gatal. Ian memulai pembicaraan.
“Pagi ini gue agak aneh ya? kok, lo natap gue gitu” Tanya Ian masih celingukan.
“Lo bukan hantu, kan?” sergah Dian masih dengan mimik tak percaya.
“Bukanlah, emang muka gue segitu amat?” kali ini Ian memperhatikan dandanan Dian yang terkesan ndeso” udah cepetan, naik. kita bisa terlambat nanti”
Dengan beberapa pertimbangan akhirnya tak ada kata menolak dari Dian. Seperti kemarin, dia duduk dengan posisi menyamping, posisi khas cewek. Ian sedikit mempercepat laju motornya, sengaja buat membuat rambut si gadis ndeso itu meronta-ronta di kepala pemiliknya. Dian meski ndeso, cantik juga ya, Ian bicara dalam hati.

Sesampai di sekolah, Dian turun dengan pelan nan ayu buat jaga imejnya di depan satu sekolahan. Sedari tadi mereka berdua jadi tontonan siswa-siswi satu sekolahan. Dian tak lupa mengucap terimakasih kepada Ian. Ian hanya menjawabnya dengan senyuman, sebuah senyuman tulus dari bibir ketua osis yang sebelumnya tak pernah dia lihat.

Dian melangkah menuju kelasnya disusul oleh Ian. Mereka satu kelas semenjak naik kelas sebelas, kelas XI –IPA 1. Di dalam kelas biasanya Ian bersikap biasa aja terhadap dirinya bahkan lebih terkesan super duper judes. Mengingat Ian selain menjabat sebagai Ketua OSIS juga termasuk anak dari keluarga berkeadaan, jadi wajar sekali jika kadang dirinya nampak sombong. Sedangkan Dian berasal dari keluarga yang sederhana dan religius sehingga Ia selalu nampak lemah lembut terhadap kawan-kawannya.

“Dian, kamu dah temukan buku diarymu?” tanya Sri tiba-tiba.
Dian membuang nafas dalam-dalam “Belum” jawabnya sedih.
Sri mengelus pundak Dian bermaksud menghiburnya. Dian pasti sangat sedih kehilangan buku diary kesayangannya itu. Di sana dirinya mampu mencurahkan segala perasaan serata kesannya saat memasuki SMA BL, sekolah idamannya. Siapa sich yang ngambil buku itu dan mengapa tidak dikembalikannya?, benaknya Dian.

Sejak hari itu, Dian dan Ian menjadi teman yang akrab. Ian menjadi sangat terbuka terhadap Dian begitu juga sebaliknya. Tak terasa satu tahun telah berlalu dan jabatan OSIS lama pun terganti. Namun persahabatan yang terjalin antara mereka tak pernah berlalu. Bagi Dian, Ian adalah teman yang sangat disayanginya.
Hingga pada suatu hari…
Kelas XI-IPA 1 yang baru kemarin berubah menjadi XII-IPA 1 mengadakan tamasya ke pantai. Transportasi yang mereka gunakan adalah Bus TNI yang mengangkut sekitar 15 orang per bus. Ada 2 bus yang mereka sewa, rencananya satu untuk putra dan satu untuk putri. Terakhir, rencana itu gugat alias semua bebas memilih tempat di bus-bus itu.
Dengan hati yang sedikit berbunga-bunga, Dian memilih tempat duduk paling depan. Ian sudah berjanji akan duduk di sampingnya.

Lima menit menunggu, Ian datang dengan muka agak sembab.
“kamu gak kenapa-napa?” tanya Dian dengan nada kekhawatiran.
“ah gak kok, santai aja” Ian tersenyum serasa sedang menyembunyikan sesuatu.

Pukul 09:30 WIB, bus berangkat. semua anak-anak bersorak gembira bahkan ada yang sengaja bawa gitar trus memainkannya di bus. Dian tidak salah memilih bus, semua penumpangnya gokil dan kocak abis. Tetapi Ian sudah tertidur pulas di tengah kehebohan satu kelas.
Pukul 12:15 WIB, rombongan sampai ketempat tujuan. Mereka keluar satu-persatu, ada yang langsung keluarin kamera trus foto, ada yang langsung mengambil tempat duduk yang nyaman di hamparan pasir dan ada juga yang pergi ke warung terdekat sekedar beli minum.
Ian bangun dan menatap Dian yang menyodorkan sebotol minuman kepadanya. Sambil tersenyum Dian hendak beranjak pergi saat Ian mengambil minuman itu.
“Tunggu sebentar” Pinta Ian.
“Ada apa Ian?” tanya Dian membalikkan badannya menghadap Ian kembali.
“Gue udah punya waktu, so gue ingin bicara sama lo di sini aja”
Dian pun duduk, mencoba menenangkan perasaannya. Meskipun hatinya sudah sedari tadi merasa ada sesuatu yang tak beres, tetapi Dian mencoba mengusir perasaan itu dengan senyum.

“Sori berat ya Dian, gue selama ini udah banyak bikin hidup lo susah dan makasih banget buat kesediaan lo mau bantu gue kapanpun” Ian menarik nafas sejenak buat meneruskan perkataannya.
“Ian kamu kok tiba-tiba bilang gitu?”
“Dian aku serius” Merogoh saku celananya “Nih, buku diarymu yang hilang”
Dian serasa tercekat oleh kekagetan. Tak pernah disangkanya jika Ian yang mengambil buku kecil itu darinya.
“Di dalam buku diary ini, kamu menuliskan jika kamu gak bakal maafin orang yang yang udah membacanya bahkan menyentuhnya, kamu juga bilang kalau kamu ingin lihat orang itu lagi seumur hidup” terbata-bata Ian mengucap perkataan itu smbil meneteskan airmata.
“Aku mau pindah ke Jakarta ikut orangtua ke sana. Semoga kamu di sini, baik-baik aja. Gak usah pungkiri mengenai aku, katanya sedih kalau akhirnya kebersamaan berujung perpisahan. Tapi, karena diary ini aku harap kamu benci dan anggap aku gak ada”
Dian meneteskan airmata mendengar itu. Bukan karena buku diarynya tapi karena ucapan cowok itu barusan.

“jadi kamu pergi karena buku diary ini?” Dian mengusap pipinya yang basah karena air mata.
“Bukan, tapi karena aku memang harus pergi. Mungkin juga karena itu, buku itu kudapat saat di UKS tahun lalu. Saat pertama kali aku mencoba mengenalimu. Aku membaca semuanya, kamu bilang jika kau ini ketua osis yang songong, narsis, sok kecakepan dan sok berwibawa.” Ian tersenyum dalam kebimbangan serta derai airmata.
“Jadi karena itu kamu pergi? itu kan dulu saat aku masih belum ngenal kamu lebih dekat” Dian menangis sejadi-jadinya.
Ian melirik di kaca jendela, sebuah sedan putih datang mendekati bus.
“Aku harus pergi, Bokap dan Nyokap dah datang” putus Ian.
Ian keluar dengan lunglai, semua temannya memandang punggungnya. Kemarin lusa Ian sudah memberitahukan perihal kepergiannya kepada satu kelas kecuali Dian.
“IAN, IAN” Dian memanggil sambil berlari ke arahnya.
Ian berhenti, menyambut kedatangan cewek ndeso itu. Setetes air kembali keluar dari pelupuk matanya. semakin dekat dan akhirnya langsung berhenti.
“Nih, aku mau kasih buku diary ini untukmu karena aku tak punya uang cukup untuk membelikanmu hadiah” ucap gadis itu dengan tulus dan sangat menyentuh hatinya.
“Makasih ya, Dian” Ian menangis tersedu-sedu “Sampai jumpa ya”
“Oh ya, aku Cuma mau bilang kalau aku sayang kali sama Ian dan jatuh cinta sama Ian” Dian berujar lirih dan sendu.
“Ian juga sayang kali sama Dian dan jatuh cinta sama Dian. Pastinya akan kangen sekali dengan cewek ndeso itu”
Keduanya bertatapan bahagia bercampur haru dan kesedihan. Dian akhirnya melepas Ian si Ketua OSIS narsis dan songong pergi.

“Sampai jumpa lagi Dian, semoga kita jodoh” kata Ian dalam hati, tiada hentinya dia melihat ke belakang karena di sana puluhan tangan melambai kepadanya termasuk Dian sahabat manisnya.
“Semoga kamu bahagia, Ian” Dian berujar lirih sambil meneteskan airmata terakhirnya karena kepergian Ian.

Cerpen Karangan: Lisniyanti Gowasa
Facebook: Lis Gowasa

Cerpen Bukan Karena Buku Diary merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Menuntunmu Untukku

Oleh:
Gue Nadine, gue baru masuk SMA, dan ini hari pertama gue di MOS. Hampir semua OSIS dari kelas XI sampai kelas XII hadir. Gue kebagian di MOS sama OSIS

Ada Apa Dengan Rama

Oleh:
Hari ini hari pertama Ku masuk sekolah di jenjang SMA. Namaku Nadia, umurku 15 tahun bulan depan. Masa ini begitu sulit bagiku. Meninggalkan masa SMP yang penuh cerita. Entah

Perbedaan Jadi Tidak Berarti

Oleh:
Nama saya Arini Destianti. Aku dilahirkan dari seseorang yang berhati malaikat yang sering ku panggil IBU. Terlahir sebagai anak yang tidak normal bukanlah keinginanku. Siapapun itu, pasti tidak ingin

Dia Bukan Untukku

Oleh:
Namaku Lili, aku seorang gadis yang selalu ceria. Walau terkadang masalah dalam hidupku selalu datang silih berganti. Aku termasuk pribadi yang tertutup, mungkin karena aku jarang sekali bergaul dengan

Masih Seperti Dulu

Oleh:
Aula Symphonia. Gedung ini masih tercium aroma seperti dulu. Tirai beludru merah yang menutupi panggung masih lembut seperti dulu. Dinding dengan pilar-pilar yang masih tetap kokoh seperti dulu. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *