Bukan Karena Cinta Kak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 December 2014

Percayalah kak, ini bukan kisah cinta, dan bukan pula karena aku mencintaimu. Memang teman-teman sering menafsiriku bahwa aku tengah jatuh cinta sama kamu. Tidak…! Itu salah kak, jangan pernah dengarkan kata mereka bahwa aku mencintaimu. Namun, ini hanyalah kisah cinta ibaratnya seorang kakak dan adik. Ya… aku terlanjur meanggapmu sebagai kakakku sendiri walau kita beda darah dan kasta. Dan jujur aku tak ingin kehilanganmu lagi setelah kejadiaan perselisihan kemarin. Sungguh aku tak ingin hal itu terulang lagi kak, karena aku sangat terlanjur mengenal dan menyayangimu.

Dulu di saat peristiwa perselisihan masih terjadi pada kita, entah mengapa aku berusaha untuk melupakanmu dan bahkan membencimu. Tapi, saat aku melupakan seseorang ia datang begitu saja. Ya.. sosokmu atau kasak-kusuk cerita tetangmu hadir di telingaku, hal itu aku telah gagal melupakanmu. “seburuk apapun etika dan estetika seseorang yang kamu kenal, kau tak kan bisa melupakannya begitu saja. Karena kamu pernah ada di hari-harinya. Kecuali amesia baru kamu melupakannya tapi, hanya sementara tak akan selamanya” beliaulah kata salah satu guru di sekolah. Dan syukurlah kita masih diberi kesempatan untuk mengulang cerita lagi.
Aku tak peduli kak, atas komentarmu suatu hari nanti, entah kau mengatakan aku gombal, narsis, lebay, norak, ataupun sebagainya, terserah kau. Karena hanya ini kejujuran isi hatiku dan aku sangat berharap kau bisa memahaminya.

Di sekolah sering sekali aku menunggu sang pengendara motor mio warna biru dan helm putih melintasi di lorong sekolahku, hanya demi melihat sesungging senyum dari bibir manismu. Namun, aku jarang mendapatkan senyum itu, karena kamu cuek atau tak menyapa bila aku lagi sama temanku. Entah itu malu atau apa aku tak tau. Tak apalah aku mengerti posisimu saat itu.

Pagi itu, pukul 09.00 aku harus ke sekolah, karena saat itu aku akan menghadapi lomba baca puisi. Sedangkan waktu itu aku masih ada di rumah familiku. Terbata bata aku minta antar ke sekolah yang kemungkinan 5 kilo meter dari rumah familiku. Setiba di sekolah aku merebahkan pantatku ke kursi yang mulai reyot karena faktor usia. Dengan hati-hati aku mendudukinya. Karena kemarin jatuh tergaletak di atas kursi yang reyot tiba-tiba guling begitu saja, rasa sakit itu masih teras di pantatku.

Tanpa sengaja aku teringatmu kak, aku jadi ingat kemaren aku minta kau mengajariku baca puisi untuk lomba class meeting di sekolahku. Saat itu aku tengah memaksa maksamu agar kau bisa mengajariku. Sayang, waktu tak mengijinkan. Alasannya akan ada cerita yang tidak baik terhadapmu nanti. Tapi aneh, perasaanku kurang begitu tenang dan aku takut akan ada hal-hal yang tidak diinginkan nanti menghampiri.

Di ruang kelas sepuluh aku duduk termengun merenungi bait bait teks puisi karangan D. Zawaai imran yang judulnya kepada pattimura. Andai saja kau ada di sini kak.. pasti aku nggak akan melas kayak gini. Ahh… sudahlah yang penting aku faham alasanmu. Dan aku yakin aku pasti bisa baca puisi ini, tanpa bimbingan kakak. Dengan tekat aku bangkit dari tempat dudukku, meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa. Dan aku ngak boleh ngecewain kakak, aku harus mendapatkan juara satu agar kakak tak menyesal mengajariku

Aku jadi teringat pesanmu kemarin saat aku ikut lomba di STKIP PGRI Sumenep Madura. “puisi itu tidak harus dengan gerak, kuncinya hanya satu, pengkhayatan, kamu itu kurang pengkhayatan jadi kamu harus belajar pengkhayatan.” Pesanmu tak akan pernah aku lupakan kak, selama aku mengenali puisi. Dengan tekat aku lakukan sekuat mungkin tak peduli suara pekak yang dari tadi menggunakan suara keras, tak peduli capek, susah dan sebagainya. Sungguh aku salut denganmu, telah mencuri waktunya untuk mengajari ku baca puisi di sekolah, sebenarnya aku malu yang mau membacakan cara baca puisiku sama kamu, namanya belajar malu-malu kucing gitu.

Tapi, sayang tekat dan usaha yang dilakukan semuanya sia-sia. Aku dan teman-teman gugur di baca puisi itu, karena sedikit kesalahan yang selalu bergantung sama pada panitia bahwa nomor urut peserta kita jatuh pada waktu selesai isyak. Padahal no urut peserta kita sudah dipanggil sebelum ashar. Tapi, walaupun aku tak ikut lomba itu, aku dapat sertifikat peserta lomba, lucu kan!. Kejadian itu aku tak akan menyerah dan patah semnagat. Akan aku buktikan semangatku di lomba baca puisi kali ini Bismillahirrahmanirrahim aku pasti menang. Cumungut… Cumungut… cumunguttt…!

Satu demi persatu pesrta lomba baca puisi akhirnya sampai juga kebagianku. Innahu min sulaimaana wainnahu bismillahirrahim alla ta’luu ‘alayya wa utuunii muslimin komat kamit ku baca doa dalam hati sambil memandangi dewan juri, doa yang aku pelajari dari ra fairuz temanku, katanya biar tidak aku grogi saat ada di atas panggung. Dan kebetulan dewan jurinya adalah guru sekaligus papa di teater sekolahku, sesungging senyum dan tepuk tangan meriah ia lontarkan untukku. Lagi-lagi teringat pesan kakak. “Bila kamu sudah ada di atas panggung kamu pejamakan mata, renungi dan konsentrasi”. Seakan berbisik di telingku. Ku pejamkan mataku sejenak, lalu ku baca bait-bait puisi semampu pengkhayatanku.

Kurang lebih 7 menit lamanya proses baca puisiku, tepuk tangan meriah dari teman teman seakan membuatku yakin bahwa cara baca puisiku sangat memuaskan. Selagi ku pandangi dewan juri ia meangukkan kepalanya juga senyumnya yang sulit ku lupakan.
“hayo pakek ilmunya sapa tuh?” kata salah satu teman akrab kakak sembari tersenyum lebar saat aku melintas di hadapannya. Aku hanya balas senyum itu, karena aku yakin dia sudah tau cara baca sapa yang ku baca barusan.
“sungguh pertama kalinya aku mendengar suaramu dengan lantang keras kayak tadi. Heemz… Belajar sama sapa kamu haha” ucap fida ngeledek
“biasa ilmunya kakak hehehe”
“re. gimana cara bacaku barusan?” tanyaku pada rea sahabatku
“cucok…” ucapnya sembari memberikan 2 jembol untukku
Ahh… sungguh sangat memuaskan hari ini, semoga saja kakak bangga dengan semua ini. Kakak lagi apa ya sekarang. Akankah dia dapat kabar tentang cara bacaku yang bagus. Semoga saja tidak, karena akan aku kasih surprise buat dia bila aku dapat juara satu.

Sore tiba, siluet senja mulai meronakan merah jingganya dan suara adzan magrib pun berkumandang. Tiba tiba saja hp ku berdering tertera nama “calling kakak”
“halo kak, ada apa?” tanyaku
“kamu cerita apa sama temenmu?” nadanya meninggi
“cerita apa kak?”
“coba kamu ingat-ingat dulu, kamu cerita apa sama temanmu?” geramnya
“kak aku gak ingin kita bertengkar lagi, ada apa lagi ini?” panikku
“aku butuh kejuranmu. Kamu cerita apa sama temanmu…?” geram kakak memaksa “apa maksud kamu dari play boy itu…?” Kakak langsung memutuskan telfonnya..
“asstagfirullahal adzim..” aku teringat dengan percakapanku tadi pagi di rumah mbak familiku.
Pagi itu, aku bercerita masa masa saat aku masih ada di pondok Annuqayah guluk guluk sumenep madura di rumah mbak. Bercerita saat aku disanksi melanggar peraturan pondok, saat aku di sidang sama zhi karena di fitnah ketemuan di kantin NDR, juga di fitnah l*sbi sama sahabatku dan sebagainya. Seakan aku menjadi santri ternakal waktu itu, tapi realitanya tidak hal itu sama sekali tak pernah terjadi kepadaku. Karena itu hanya gosip atau fitnah. Di tengah keasikan cerita, tiba tiba saja alur cerita itu sampai kepada cerita kakak. tanpa sadar aku menceritakan semua kejelekan kakak. Dan hal itu tak pernah aku katakan sebelumnya .dan tak pernah aku cerita semua kejekan kakak. Sungguh pertama kalinya aku menceritakan kejelekan orang, terutama kejelekan seseorang yang aku anggap sebagai kakaknya sendiri.
“kata orang-orang dia play boy mbak” ucapku ketus tanpa ada rasa salah
“masak sih, dia kayak gitu. Tapi aku juga pernah dengar hal itu, ku kira itu hanya gosip, soalnya tampangnya itu cuekmes”
“katanya sih gitu. Tapi walaupun dia play boy aku tau alasannya kenapa dan sebenarnya dia gak cuek hanya saja sudah menjadi karakternya. Dia ramah dan baik kok mbak” jelasku
Ya Allah, sekarang kenapa aku yang munafik, aku telah tega mengkhianatinya. Ya Allah sunguh aku tak sengaja dan aku tak ingin kehilangan kakak yang kedua kalinya lagi. Dan kenapa petaka ini bersandingan dengan adzan? Aku takut akan terjadi apa-apa dan apakah ini yang dinamakan petaka di ujung senja? Apa gerangan yang akan menghadang?. Terbata bata ku pencet satu demi persatu tombol hp unuk menjelaskan realita yang sebenarnya lewat inbox.

“owh.. mslh playboy i2.. ea kak, td aq crta ma mbk fitry.. ea aq hx ikt kta2 org sja kak. Lok k3 playboy. Pi aq g ad mksud g2. M’f kak… sungguh m’f…” jelasku di inbox
“ternyata dstu memang ornk x si mulut dua. Ap yg u mksd dg ply boy. Krn qw putus ma dy?
Andykan dy engk mintk ptuz qw engk akn mtuzin. Dia, tpi y udh mkch ats ucpan ply boy x” ketus kakak di inbox, ya Allah sunnguh aku tak tau kalau kakak putus sama pacarnya
“aq q tw lok u ptus ma dy. Billahih.. td aq g sngaja bhs k3. Sungguh kak aq mnt m’f . mngkin td pmbcraan q tk trkntro,l, kak aq mnt m’f n aq tk ingn prselisihan in trjd lg, aq mnt m’f kak dan sungguh hx mbk fitry n adk yg tw mslh i2. N aq hrp msalah i2 tk ad yg tw”
“engk ad yg tw?
Ap
Bkti x kbr x smpek ktlingaku sndrie lo u yg blang qw ply oy. Qw kra u yg percy 5 aq lek. Eh dnger y qw g akn pcran lg lok qw g ad mslh/ptuz 5 cwek qw. Ap it yg u sbut ply boy. Slah bangeth.. y udh jngan mz qw tw fon qw engk mw lhat u lgi cukup. Kta 5f engk bkaln bsa ntupin rsa mlu aq.” Kata-kata kakak memanas
“bnran kak sungguh, aq g prnh crta kjlekan u… hx prtma kli td kak… billahih kak, billahih aq berjnji g mw mluin k3 n g akn ngegospn k3. Pegang jnjiq kak…” pintaku sembari meneteskan air mata
“pintu 5f qw udh tertu2p bgi orank yg suka bcrain orank laen. Nie sbgy plajaran buat u. lo ngegosipin orang fkir2 dampak postif n ngatif x. udh jngn bhas lg mending u lakuin ap yg qw pint jngan mz lg.” kata-kata kakak semakin membuatku menitikkan air mata

“perlu kakak tau aku gak ingin kehilangan kakak lagi, karena kakak sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri.” Ucapku dalam hati
“kak sungguh maafkan aku kak…”

“qw bsa 5fin u asal u bsa ngehpus gosi u di telinga orank2 puas u bkin qw mlu. Emank u x qw slah ap 5 u lek,vqwkira kra d alga mch ad orank yg bener tpi ap. COMPERAN smua.”
“kak,.. aq mhon bri aq ksmpatn lg kak… aq mohon.. sunggh aq khilaf.. mohon…” kataku mengemis maafku
“ap uudh smua x dch trjdi. Udhlah qw engk knal 5 u.”
“tolong kak… bri aq ksempatan lg… aq mohon…
“udh smua x dch trjdi. Lbh bik u jga prasa.an orank laen aj. Dch ckup. Qw dch 5fin u. tpi bkn untk knal 5 aq lgi. Udh le’ qw engk mw knal 5 anak stu lgi. 5f udh jngan d bhas lg. qw dah 5fin u pie ingat jngan mz qw lg.” jelas kakak
“plis kak…” Kataku memaksa, sayang tak kunjung ada jawaban, dari kakak..

Ya Allah sungguh aku tidak sengaja, harus dengan apa lagi agar kakak menerima maafku dan memaafkan kesalahanku. Aku sayang dia Ya Allah aku gak mau kehilangan dia, aku begitu menyayanginya dan aku terlanjur meanggap dia sebagai saudaraku sendiri.
Seusai sholat mangrib ku raih ponselku mencari nama mbak fitry. Saluran telfon mulai menyambung.
“halo, apa dek.” Suara mbak fitry di seberang
“mbak, gara-gara tadi tanpa sengaja aku cerita tentang kakak, semuanya jadi hilang. Aku bertengkar lagi sama kakak. Sungguh mbak aku tak ingin kehilangan kakak yang kedua kalinnya. Tapi tak apalah mbak mungkin ini sudah takdirku pisah sama kakak” tanpa sesadari bulir air mataku menetes lagi.
“loh.. kok jadi panjang kayak gini sih.. sungguh dek aku minta maaf, aku tak bermaksud memisahkan kamu dengan orang yang kamu sayang. Ini semua gara-gara aku bukan salah kamu. Tadi aku juga tidak niat dan tak sengaja cerita klo dia itu play boy sama temaanku, dan teman itu kenal sama dia dan temanku juga tau lok dia play boy ada alasannya. Mungkin teman ku yang bilang ke dia. Sungguh aku tak sengaja dek. Akan aku usahakan kamu baikan lagi sama dia, mari aku mau minta no hp dia” jelasnya
“sudahlah mbak semuanya sudah terjadi dan gak usah bahas lagi, percuma dia sudah tak mau kenal aku lagi, sudah ya mbak hanya perlu itu” singkatku memutus saluran telfon

Mentari tak lagi menampakkan sesungging senyumnya, karena hujan terus mengguyur dari tadi subuh. Hari ini aku harus pergi ke sekolah karena ada penutupan class meeting, nyaris di rumah tak ada satu pun payung di rumahku. Dengan tekat dan tanpa rasa malu aku pinjam payung ke rumah tetangga di belakang rumah. Tergesa-gesa aku melawan hujan dan angin yang menerpaku, payung yang ku kenakan terlalu besar seakan aku mau terbang dibawa angin.

Siswa-siswi dari tingkat RA. MI. MTS. MA sudah banyak yang berdatangan. Secara perlahan acara di mulai, dan acara ini beralih pada pemberian hadiah. Satu persatu lomba telah sebut, dan akhirnya telah tiba acara yang aku tunggu-tungu pemberian hadiah tingkat MA. Kali ini aku yakin aku mendapatkan juara di lomba pidato bahasa arab, tapi kalau baca puisi membuatku patah semangat, dan kurang begitu mengesankan bagiku, juga tak spesial lagi bagiku.
Dengan rasa deg-degan aku menunggu namaku dipanggil, dan namaku sudah dipangil, ternyata aku mendapatkan juara dua di lomba pidato bahasa arab. Tak apalah kalah tak apa menang pun bahagia itulah motivasiku.
“peraih kepada lomba baca puisi, juara dua feni julianti juara pertama” berhenti sejenak waktu itu aku biasa saja seakan tak menghiraukannya “intan elok okti wardani” sebut MC, sementara teman-teman bertepuk tangan terutama teman sekelasku, bertepuk tangan yang meriah. Memberikan aku sport.. dengan malas aku menerima hadiah dari panitia
Sejujurnya aku tak bangga mendapatkan juara 1 ini, dan bahkan hal ini hanya membuat aku sakit hati. Bagaimana tidak, hadiah yang ku rencanakan akan menjadi surprise sudah tak berarti lagi.

Acara pun selesai berbondong-bondong sisiwa-siswi pulang meramaikan lorong di sekolah. Tak peduli budaya antri dan sebagainya.
“heemz… tuh kan juara.” Kata cak opank yang merupakan sprot ku dari dulu.
“iya. Makasih ya cak..”

Di bawah pohon jambu air, ku liat papa teater sekaligus juri baca puisi duduk santai di sana. Dengan senyum aku melintasi di belakangnya.
“dapat apa kamu?” tanyanya pura-pura tak tau. Ku perlihatkan nama juara lombanya
“huhh.. trahum tuh jurinya, lok kamu juara 1.” Katanya sok cuek
“loh bukannya sampean jurinya?” tanyaku tertawa kecil
“gak… bukan. Bukan aku jurinya, dek djali tuh” katanya ngeledek, dan sok judes mengalihkan pandanganku. sedang aku dan fila yang menyaksikan hal itu tertawa kecil.
Percuma kak, aku mendapatkan juara satu lomba puisi ini. Tak mengesankan lagi buatku. Andai saja kita tak berselisih pasti aku bangga dengan hadiah ini. Namun, nasi telah jadi bubur. Dan hanya menjadi bayangan semu di depan mataku. Kak aku ingin kita baikan lagi, tak bertengkar lagi, aku ingin belajar puisi lagi sama kamu. Semoga Allah membukakan pintu hatimu dan bisa memaafkanku. Dalam doa dan sujudku aku hanya berharap kau membukakan pintu maaf untukku.

Maaf kak, kisah kita telah aku jadikan cerita pribadi. Aku lakukan ini agar kau mau menerima maafku, dan ini bukan kisah perasaan maupun cinta. Andai kakak ada di posisiku pasti kakak tau apa yang aku rasakan. Kau terlanjur ada di hari-hariku kak, kau seperti kakakku sendiri, tapi kenapa tuhan selalu memisahkan kita kak? Apakah Allah akan memberikan kita kesempatan untuk memutar cerita lagi? Ku harap Allah mempertemukan kita lagi, dan kau masih mau mengenaliku.
Tiba-tiba saja ingin aku tumpahkan uneg-uneg yang ada di isi hatiku ini dengan kak iwank kakak sepupuku.
“kak, aku boleh curhat sama kamu,?”
“curhat apa ta?”
“curhat tentang seseorang..”
“emmm, iyalah curaht apa.. Tapi bayar ya..” kata kak iwank jengkel
“yee… dasar loh.. kak, bila seandainya ada seseorang yang sangat kakak percaya sepenuhnya, dan orang itu tau persis tentang semua kejelekan kakak. Terus orang itu dengan tidak sengaja menceritakan semua kejekan kakak, dan parahnya lagi orang itu bilang ke temannya lok kakak itu play boy.. perasaan kakak gimana?” jelas curhatku kepada kakak.
“ya.. kecewa sih.. bila seandainya kenyataannya begitu. Tapi, ngak semuanya sebuah kejujuran itu terus di butuhkan. Ada kalanya kita harus berbohong dikit demi, menjaga hal-hal yang tidak di inginkan..” jelas kakak ”emang ada apa sih nanyak kayak gituan?” tanya kakak.
“aku sudah mengecewain orang yang aku sayang kak. Waktu itu aku tidak sengaja menceritakan kejekan dia kepada temanku, dan yang paling kecewa aku ngatain dia bahwa dia play boy.. demi Allah aku gak sadar waktu itu kak. Dan sekarang dia sudah tak mau kenal aku lagi, aku harus melakukan apa kak, aga dia mau mengenalku lagi?”
“ya kamu harus minta maaf dek sama dia..”
“kak, aku bukan tidak minta maaf sama dia, seakan aku mengemis maafnya kepada dia, tapi apa.. dia gak peka dengan semua ini, dia keras kepala. Bantu aku dong kak”
“mau bantu giman dek? bagaimanapun caranya kamu harus minta maaf sama dia, dan kamu harus meyakinkan dia kembali percaya sama kamu lagi. Kamu kenapa sih, sebisanya kayak gitu”
“entahlah kak” mungkin kak iwank juga tak percaya hal ini akan terjadi kepadaku.
“emang dia siapa sih?”
“ada kak, kapan-kapan aku ceritain. Kak.. jujur aku gak ingin kehilangan dia, karena aku terlanjur meanggapku sebagai kakakku sendiri”
“yee.. bilang aja lok cowoknya.. jangan malu-malu kucing kayak gini” sembari menggatuk kepalaku
“bukan kak, hemm. Kisah ini aku ingin buat cerpen dan aku harap dia baca cerpen itu.”
“aku mau baca” katanya ketus
“wani piro, Hahaha” kakak hanya dam saja, membiarkan jengkelku
Kak, sering kali aku like update statusmu di facebook, ingin rasanya aku koment statusmu. Tapi aku yakin kau pasti tak membalasnya. Atau bahkan kau memblokir facebook ku, agar aku tak bisa menmuimu lagi. Semoga kau tak seperti aku bayangkan.

Ku harap kisah ini bisa di muat di media publik. Maaf jika kakak malu dengan kisah ini yang telah di baca banyak orang. Dan justru aku yang lebih malu kak, karena aku terlalu mengemis-ngemis maafmu. Aku harap kau juga membaca kisah ini, dan aku tak ingin kamu marah, apalagi menitikkan air mata. Ahh.. ku rasa kau tak mungkin menitikkan air mata, yang pastinya kau enjoy-enjoy saja tak menghargai dan tak merasa iba dengan kisah ini.

Sungguh aku selalu berkhayal, suatu saat kau mebaca kisah ini, lalu kau menelfon atau menghampiriku ke sekolah mengatakan “aku sudah baca cerpenmu, iya aku maafkan kamu, dan aku masih mau mengenalmu lagi lek.” Aku harap perkataan itu benar-benar terjadi. Bakan mimpi atau khayalan.
Sekali lagi di akhir cerita ini aku minta maaf kak… aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku rela melakukan apa saja agar kau bisa menerima maafku kak. Dan ingat kak ini aku buat cerita pribadi ini bukan karena cinta. Seperti di cerpen ra fairuz kemarin “bukan kisah cinta”. Ya. Aku menyayangimu bukan kisah cinta. Melainkan kisah cintanya seorang adik kepada kakaknya sendiri.
Semoga orang yang ada di tokoh ini membaca kisah ini, mengkoment atau like kisah ini. Dan orang-orang pasti tau siapa yang ada di dalam tokoh ini, karena kisah ini tak asing lagi buat kita juga mereka. Tanpa menyebutkan nama, dia pasti tau. Hanya satu kalimat yang ku tunggu darimu kak “aku menerima maafmu” hanya itu kak. Aku harap kau tak marah dengan kisah ini. Kisah ini, Bukan karena cinta, kak!

Cerpen Karangan: Intan Elok Okti Wardani
Facebook: Putry Padang Pasir
Putry Padang Pasir nama pena dari Intan Elok Okti Wardani. Penulis, pengagum cahaya kejora dan senja kabut malam. Berelahiaran pamekasan 02 oktober 1996. Alamat kertagena laok kadur pamekasan. Aktif di Teater alif Madrasah Alghazali Pragaan Sumenep Madura. Koordinator kenaskahan di teater alif. Dan merupakan kelas akhir XII IPA madrash aliyah alghazali karya- karyanya di muat di beberapa media.. Fb: Putry padang pasir Kontak: 087701878556

Cerpen Bukan Karena Cinta Kak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luh Sari

Oleh:
BALI… Tak pernah terbayang olehku kalau aku akan kembali menginjakan kaki di Pulau ini. Tanah tempat aku dilahirkan 32 tahun yang lalu. Hari ini untuk pertama kalinya sejak 12

Harapan Jihan

Oleh:
Saat sadar, malam sudah mengutuk dan menistakanku. Terlebih langit, ia seakan tak sudi untuk menampakkan keindahannya, apalagi bintang. “Hahaha..” Aku tertawa kecil, memilih untuk satire pada keadaan. “Hufft…” Sebuah

Yang Mengisi Kehidupan

Oleh:
Dingin malam ini menyelimuti indahnya bintang malam yang berhamburan di langit. Aku hanya terdiam di kursi depan rumahku sambil mengamati satu bintang yang paling terang bersinar di malam itu.

Meski Harus Terpisahkan Jarak

Oleh:
Namanya adalah Bayu, dia adalah seorang mahasiswa di salah satu kampus swasta di Banjarbaru. Bayu adalah anak yang baik walau tidak terlalu menonjol di bidang akademik namun dia bukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *