Bukan Sebelah Mata (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 29 January 2018

Dedaunan kering berjatuhan tertiup semilir angin di tepi danau, orang-orang sedang asyik memancing, ditambah birunya langit yang membentang. Aryn, perempuan yang tengah duduk di bangku di bawah pohon dekat danau. Ia menatap jauh ke danau. Sesekali ia melempar batu. “Kenapa sih? Apa salahnya aku? Apa karena aku hanya dari keluarga sederhana?” ucap Aryn sambil terisak. Air matanya pun tak terbendung lagi, mengalir di pipi manisnya. Ia masih belum bisa menerima jika Akta meninggalkannya, tanpa alasan.

“I can be tought, I can be strong, but wish you…” dering ponsel Aryn. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di saku celananya. Ternyata dari Miqha. Ia pun merejectnya. Kemudian, ada panggilan, ternyata dari Miqha lagi. Aryn memang sedang tidak mau menjawab panggilan. Hatinya gundah dan nelangsa. Di tempat inilah ia bisa melampiaskan kenelangsaannya.
“Kamu jahattttttt, aku benci,” teriak Aryn ke tengah danau melempar batu dengan emosi yang membara di hatinya.

“Hei, kamu kenapa? Teriak nggak jelas kayak gitu,” tiba-tiba ada suara di belakang Aryn. Aryn menoleh ke belakang, ada Miqha di belakangnya. Ia mencoba menghapus air matanya, dan berkata “Kok kamu tahu aku di sini?”.
“Ya, aku tadi ke rumah kamu, tapi kata ibu kamu, kamu nggak ada, jadi aku coba ke sini, karena kamu kan sering duduk di sini. Nah, ternyata bener kamu di sini” jelas Miqha.
“Oo gitu, ada apa kamu cari aku?”
“Pengen curhat sama kamu,”

“Oo, aku nggak bisa,”
“Kenapa? Apa aku ada salah sama kamu?”
“Nggak ada, cerita aja.”
“Ryn, aku lagi dekat dengan seorang cowok. Namanya Aktavio Martin. Sekolah di SMAN 1 Bukittinggi. Panggilannya Akta. Dia udah deketin aku udah seminggu. Kami sering BM-an, WA, dan telepon. Kemarin nih dia ngajak aku jalan.”

Batin Aryn langsung terguncang. Ia mencoba menahan air matanya. “Ternyata Akta deketin Miqha, temen aku sendiri. Miqha memang tidak tahu kalo aku pacaran sama Akta, aku tidak pernah kasih tau tentang masalah asmaraku kepada orang-orang, aku lebih memilih menyimpan sendiri. Toh, kalo mereka tahu palingan dari berita yang udah nyebar.” Gumam Aryn dalam hatinya.
“Aryn.. Halo Aryn.. kamu dengarin aku cerita nggak sih,” Miqha melambaikan tangannya ke depan wajah Aryn.

“Terus, gimana? Apa dia udah nembak kamu?” tanya Aryn yang sebenarnya penasaran dan kecewa dengan apa yang diceritakan Miqha.
“Iya sih dia udah nembak aku, kemaren malam di depan rumahku. Tapi, aku belum terima dia,”
“Kenapa belum kamu terima?”
“Menurut kamu, apa aku harus terima dia? Aku ada nih fotonya, coba deh kamu lihat” Miqha sembari melihatkan foto Akta berdua dengannya.

“Astaga, mereka mesra sekali” Bathin Aryn semakin terguncang. “Oh itu orangnya ya, ganteng sih, itu terserah kamu aja mau terima apa ngak, itu kan pilihanmu,” lanjut Aryn membuyarkan kesedihan hatinya.
“Aku sebenarnya juga sayang sama dia udah lama, baru sekarang kesampaiannya”
“Berarti waktu aku pacaran sama Akta, Miqha juga suka sama Akta.” Bathin Aryn kembali bergumam. Aryn semakin nelangsa dibuatnya. “Kalo memang begitu terima aja.” Kata Aryn memaksakan apa yang sebenarnya yang tidak ia suka.
“Oh iya Qha, aku pulang dulu ada janji sama temen” Aryn bergegas pergi meninggalkan Miqha.

Di jalan, air matanya terus menetes, ia terus menyekanya, tapi terus mengalir. Ucapan Miqha tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Sesampainya di rumah ia langsung bergegas ke kamar, dan mengunci pintu. Ia lalu memeluk guling kesayangannya.
“Akta, kamu jahat. Kamu tahu kalo Miqha itu sahabat aku. Dan kamu Miqha, aku nggak mau berteman sama kamu lagi, coba kalian ada di posisi aku,”

“Ryn, kamu udah pulang? Makan dulu yuk, Nak” Ibuku memanggil untuk makan.
“Ntar aja bu, Aryn belum lapar,”

Aryn masih menangis, berlinang air mata. Pikirannya gundah, hatinya masih diselimuti kenelangsaan dan kecewa.
Keesokan harinya, suasana kalbunya masih rada kurang sehat. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu rumahnya.
“Tok.. tok.. tok.. Aryn…”
“Iya..” sahut Aryn
Dilihatnya dari balik jendela, ada Shelyn.

“Iya Shel, masuklah. Ada apa ya?” sembari Aryn membukakan pintu.
“Kita jadi pergi ntar malam kan? Mata kamu kenapa? Kok sembab begitu?”
“Pergi ke mana ya? Ah, gak apa-apa, cuma kurang tidur aja,” Aryn memasang wajah kaget karena ia lupa ternyata ada janji dengan Shelyn.
“Datang ke pesta ulang tahun Miqha entar malam,”

“Oo itu, aku males datang, lagi ngak enak badan,” Sebenarnya bukan nggak enak badan, tapi nggak enak hati.
“Kok kamu gitu? Ini kan ulang tahun sahabat kita, masa iya kamu nggak datang,”
“Aku lagi nggak enak badan, Shel.”
“Coba aku rasa kening kamu,” Shelyn meletakkan tangannya ke kening Aryn. “Ah, nggak panas kok. Ayolah, Ryn. Pokoknya ntar malam aku jemput,”

“Oh iya, aku pamit dulu ya, hari sudah sore, aku mau siap-siap dulu. Dandan yang cantik neng, ntar malam aku jemput,”
Shelyn pun pamit pulang karena harus dandan untuk bersiap pergi ke pesta.

“Tit…tit…” bunyi klakson motor di depan rumah Aryn
Aryn langsung membuka pintu rumahnya.
“Ada apa Shel? Bikin riweh aja tuh klakson,” wajah Aryn agak kesel dengan ulah Shelyn.
“Astaga, belum siap-siap kamu, Ryn? Ayolah, Ryn. Ini ulang tahun sahabat kita,” Shelyn kaget karena Aryn belum bersiap pergi ke pesta.

“Sini aku dandanin,” Shelyn menarik tangan Aryn ke kamarnya.
“Yang ini cocok deh buat kamu, gaun ini sesuai sama kulit kamu yang putih,”
“Ah, udahlah Shel. Aku nggak mau pergi,”
“Ayolah, Ryn. Apaa perlu aku suruh Akta ke sini,”

“Aku udah nggak sama Akta, Shel,” Shelyn adalah sahabat yang paling dekat dengan Aryn, mungkin sahabatnya inilah yang tahu kalo dulu ia pacaran dengan Akta.
“Haa? Kok bisa?”
“Udahlah, jangan bahas ini dulu. Yuk, ke pesta ulang tahun Miqha,” Aryn pun memakai gaun yang dipilih Shelyn dan ia sedikit memoles natural make-up di wajahnya. Sebenarya Aryn tanpa make up sudah cantik.

“Bidadari dari mana ini? Cantik banget kamu Ryn” Shelyn tertegun melihat penampilan Aryn yang menawan. Bagai kelopak mawar merah yang merekah indah.
“Biasa aja kok. Yuk, kita pergi,” Hati Aryn sejujurnya berontak untuk pergi, tetapi karena Shelyn terus memaksanya untuk pergi, ia terpaksa pergi.

Setibanya di rumah Miqha, Miqha menyambut Shelyn dan Aryn dengan senyum sumringahnya. Tentu saja ini adalah hari spesial bagi Miqha.
“Pasti Akta akan datang ke sini. Oh Tuhan, pasti dia akan melihatku,” gumam bathin Aryn resah.

Momen yang paling ditunggu Miqha pun tiba. Akan tetapi, ini momen paling miris bagi Aryn.
“Sekarang waktunya untuk potong kue. Kue pertama akan diberikan kepada orang yang paling berjasa bagi hidup Miqha,” Ucap host pestanya.
Miqha pun memberikan potongan kue pertama kepada mama, lalu papa, kemudian kakak dan adiknya.

“Potongan kue selanjutnya akan diberikan kepada orang special dalam hidup Miqha,” Lanjut kata host pesta.
“Itu Akta. Benar, itu Akta,” teriak Aryn dalam kalbunya.
Miqha pun memberikan potongan kue itu kepada Akta.

“Ryn, itu Akta kan? Kenapa dia sama Miqha?” tanya Shelyn heran.
Aryn langsung berlari keluar aula pesta, air matanya pun tak terbendung. Shelyn pun mengejarnya.

“Ryn, apa yang terjadi sebenarnya? Cerita sama aku, Ryn. Apa karena itu kamu nggak mau datang ke pesta Miqha?”
“Iya karena itu, Akta ninggalin aku dan pergi sama Miqha,”
“Kurang ajar tuh si Miqha sama Akta, teman macam apa tuh si Miqha,”

Shelyn langsung masuk ke aula pesta dengan keadaan marah. Ia menghampiri Miqha yang sedang berbincang dengan Akta ketika para tamu sedang menikmati hidangan.

“Qha, kamu apa-apaan sih?” Shelyn menarik tangan Miqha dari aula pesta.
“Apaan Shel? Aku salah apa?” Miqha melepaskan cengkeraman tangan Shelyn dengan sinis.
“Kamu udah ngerebut cowoknya Aryn, si Akta, cowok kamu sekarang, kamu tega ya,”
“Haa? Emang Akta cowok Aryn? Jangan nuduh ya, aku bukan perebut,”

“Apaan nih ribut-ribut?” datang Akta menghampiri Miqha.
“Kamu ya Akta, kamu tega. Jelas-jelas Miqha ini sahabat Aryn. Dan kamu tega mutusin Aryn tanpa alasan.”
“Kalo iya kenapa?” Akta berlagak congkak di depan Shelyn
“Aryn itu dari keluarga sederhana. Nggak selevel sama aku. Miqha baru selevel sama aku. Kalo menang cantik apa gunanya. Ya aku malulah pacaran sama anak dari keluarga yang ekonominya pas-pasan” Lanjut Akta meremehkan.

Diam-diam Aryn mendengar omongan Akta. Ia bersembunyi di balik dinding, tempat Akta, Shelyn, dan Miqha bicara. Air mata Aryn semakin mengalir deras, dan ia langsung menghampiri Akta.

“Asal kamu tahu ya, aku itu udah cinta sama kamu. Hubungan kita udah setahun. Waktu pas anniversary 1 tahun, kamu ninggalin aku tanpa alasan. Kamu malu ya punya pacar kayak aku. Tapi maaf, setidaknya aku tak pernah makan uang kamu. Aku benci kamu, dan aku nggak mau ketemu kamu lagi. Kamu jahat Akta. PLAKK” Tamparan hebat melayang di pipi kanan Akta. Aryn bergegas pergi dari tempat pembicaraan karena air matanya benar-benar membajiri wajahnya, hatinya patah berkeping-keping. Shelyn pun ikut mengejar Aryn.

Aryn sudah dua hari mengurung diri di kamar. Ia benar-benar tak nafsu makan. Wajahnya pucat pasih, badannya lunglai, hatinya remuk.
“Aryn, ada teman kamu di depan tu?” panggil ibu.
Aryn dengan langkah gontai, membukakan pintu. Ternyata itu Miqha.

“Ada apa Qha?”
“Aku cuma mau nanya apa benar Akta itu pernah jadi pacar kamu?”
“Ya”
“Lupain Akta, karena Akta udah sama aku. Kamu nggak selevel sama dia, dia selevelnya sama aku,” Hati Aryn sedih mendengar apa yang diucapkan temannya itu.

“Kamu cari ribut ke sini? Mendingan kamu pulang deh,”
“Oke, tapi awas kamu jangan pernah dekatin Akta,”
Aryn pun langsung menutup pintunya, dan berlari ke kamar.
“Aku nggak salah apa-apa. Kok aku yang disuruh lupain? Mentang-mentang kalian anak orang kaya terus semena-mena sama aku, roda berputar, mana tahu kalian yang besok lebih sengsara dari aku. Aku benci Akta. Aku benci Miqha,” Isakan Aryn memukul-mukul gulingnya.

Hari-hari Aryn begitu kelabu. Tiada senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya. Ia seperti menyimpan tekad untuk menunjukkan kepada Miqha dan Akta kalo sewaktu-waktu roda itu akan berputar. Shelynlah yang selalu ada untuk Aryn, ia selalu menguatkan Aryn.

Shelyn mengajak Aryn ke danau tempat biasa Aryn menenangkan diri di sana.
“Ryn, ke danau yuk, refresh-in pikiranmu dari hal-hal negatif itu,”
“Terserah kamu aja,”

Setelah sampai di danau, ia melempar-lempar batu jauh ke danau, pandangannya hampa dan bergeming tiada berkata sedikit pun.
“Ryn..” sapa Shelyn
“Iya Shel. Ada yang mau aku omongin sama kamu,”
“Apa Ryn? Ngomong aja,”

“Kita kan udah nerima rapor dan naik ke kelas 11. Besok aku akan pindah keluar kota tempat bibiku ke Bandung,”
“Haa? Kamu pindah? Kenapa? Terus sahabat aku di sini siapa lagi selain kamu Ryn,”
“Shel, kamu orang baik pasti banyak yang mau bersahabat dengan kamu, aku akan melanjutkan pendidikan di sana, aku pasti pulang ke sini kok. Ini ada kenang-kenangan foto kita waktu SMP sampai SMA, kamu jaga baik-baik ya. Kamulah sahabat terbaik aku Shelyn, aku ngak akan lupain kamu,” Aryn memeluk sahabatnya itu.

Tiba-tiba ada sepasang kekasih yang melewati tempat duduk Shelyn dan Aryn di dekat danau. Ternyata itu Akta dan Miqha. Mereka pun berhenti di depan Aryn dan Shelyn.
“Eh, ada kamu ya, ngapain kamu di sini? Kenapa liatin kami berdua kayak begitu? Hahaha, aku tau pasti kamu iri kan?” Ledek Miqha kepada Aryn, ketika itu Akta sedang mengandeng tangan Miqha. Akta memang tidak berucap sepatah kata, namun ia menyombongkan dirinya dengan bahasa tubuhnya.
“Ryn, yuk kita pergi, nggak ada gunanya untuk bicara sama mereka,” Shelyn menarik tangan Aryn pulang ke rumah.

Setibanya di depan rumah Aryn, Aryn memeluk Shelyn kembali.

“Terima kasih ya sahabatku. Besok pagi aku akan pergi. Kamu jaga diri baik-baik ya,” kata Aryn
“Sama-sama sahabatku, kamu jangan lupain aku ya, cepat pulang ya,”
“Aku nggak akan lupain kamu, setelah aku sukses aku pasti akan kembali ke sini,”
“Oh iya, Ryn, aku ada janji sama mamaku, aku pulang duluan ya, I LOVE MY BEST,” Shelyn memeluk Aryn dengan erat lalu, ia berpamitan pulang kepada Aryn.

Keesokan harinya, Aryn tiba di bandara BIM dengan ditemani ibu dan ayahnya, ia dijemput oleh bibinya.

“Nak, belajar yang rajin di sana ya, jangan nakal, jangan keluyuran,” Air mata perpisahan mengalir di pipi ibunya Aryn.
“Aryn akan rajin-rajin belajar,Bu”
“Nurut sama bibi, jangan ngelawan, jangan salah pilih pergaulan di sana,” kata Ayahnya Aryn mengusap kepalanya Aryn.
“Iya Yah, Aryn akan nurut sama bibi dan akan cari pergaulan yang baik,”

Ketika Aryn naik ke pesawat, ia melambaikan tangan kepada ibu dan ayahnya.

Cerpen Karangan: Aryn Jasmine
Blog: arnimelati.blogspot.com

Cerpen Bukan Sebelah Mata (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Lily Putih

Oleh:
Jika kamu berpikir aku akan bercerita tentang seorang gadis yang bernama Lily, itu jelas salah karena aku akan menceritakan seorang gadis bernama Lala. Jika kamu berpikir aku akan bercerita

Si Maman

Oleh:
Jatuh cinta kepada orang itu merupakan hal yang sering terjadi di setiap orang tetapi pura-pura jatuh cinta kepada banyak orang itu hal yang sangat menyebalkan. Seperti yang dilakukan Maman,

Rahasia di Balik Sang Mantan

Oleh:
Daku terbangun dari tidur, menatap indah langit fajar menandakan syukur daku pada sang pencipta lantaran masih memberi daku nafas dengan sejuta kenikmatan, daku pasang kacamata hitam nan tebal diselingi

Pahit Manisnya Dunia Remaja

Oleh:
Cerita mengisahkan perjalanan seorang gadis yang lupa mau dibawa kemana hidupnya. Dia adalah temanku sebut saja namanya Susi. Dia sekarang duduk di bangku kuliah yakni di kuliah di salah

Harapan Palsu

Oleh:
Namaku Maria. Aku siswi kelas tujuh di SMP Meraih Cita. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Aku tinggal bersama kakek dan nenekku. Sementara ayahku dan ibuku tinggal bersama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *