Bukan Sekedar Sebuah Titipan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 5 September 2016

Apa hari sudah pagi? Aku mengusap wajahku sejenak dan melihat cahaya fajar mengintip dari balik sela-sela tirai jendela kamarku. Benar, sudah pagi ternyata. Tapi siapa peduli? toh ini hari minggu. Apa sebaiknya aku tidur lagi saja? Ide bagus. Memejamkan mata untuk beberapa menit ke depan tidak ada salahnya bukan?. Aku mulai menutup mataku. Rasa kantuk itu mulai datang lagi. Lantas aku biarkan rasa kantuk itu membawaku kembali pada alam bawah sadar. Satu menit… dua menit… tiga menit… empat menit… lima menit… aku membuka mataku kembali.

Gonggongan anjing itu memecah keheningan pagi hari. Aku melirik jam dinding di dekat lemari kayu sejenak. Astaga! Sudah jam 9? Aku lupa member makan Reev!. Gonggongan terdengar makin berisik dari sebelumnya. Ya ya ya Reev, aku datang, tunggu sebentar.

Baru saja aku membuka pintu kamarku dan ternyata Reev sudah ada tepat di depan pintu. Pantas saja suara gonggongannya semakin lantang. Seperti biasa Reev selalu menghampiriku dan menjilat-jilat wajahku. Aku menggendongnya menuju ruangan kecil di bawah tangga yang sengaja kujadikan khusus sebagai kamar untuk Reev. Apa aku terlalu berlebihan sampai menyediakan kamar kecil untuknya? Kurasa tidak. Reev sangat istimewa. Kalau kalian bertanya-tanya apa saja isi kamar kecil yang dihuni Reev, aku bisa beri tahu. Simpel saja, hanya ada tempat tidur khusus anjing, dua mangkuk yang digunakan untuk makan dan minum, beberapa boneka, dan juga bola-bola kecil kesukaannya. Tidak lupa dinding kamarnya kuberi cat bewarna biru laut, warna favoritku.

Aku menuangkan makanan di mangkuknya dan juga air. Diam-diam aku memandanginya dan mengelus-elus kepalanya. Tapi… asal kalian tahu, pikiranku melayang kemana-mana. Tepatnya melayang kepada empat tahun lalu saat pertama kali Reev dititipkan padaku. Ya, orang itu menitipkan Reev padaku. Jadi jelas Reev sebenarnya bukan milikku. Sudah empat tahun lamanya orang itu pergi tanpa kabar dan hanya menaruh satu janji bahwa ia akan kembali entah kapan dan ia ingin melihat Reev tetap sehat. Aku menjaga Reev dengan sepenuh hatiku tanpa terikat dengan janjiku untuk merawat Reev untuknya. Sekarang aku sadar, janjinya untuk kembali hanya sia-sia jika kupikirkan. Ia menitipkan Reev padaku hanya sebagai kenang-kenangan yang ia harap bisa membuatku lupa akan rasa sedih ketika ia pergi. Kembali atau tidak, aku akan tetap merawat Reev. Tapi entah kenapa aku masih yakin bahwa ia kembali dengan senyuman dan melihat Reev sehat bersamaku. Kuharap begitu.

Reev sudah selesai dengan semangkuk makanannya rupanya. Aku kembali menggendongnya dan membawanya ke luar rumah. Cuaca sedang baik. Kurasa duduk-duduk di ayunan di taman kecil milik keluargaku tidak ada salahnya. Aku membuka pintu rumah utama dan seketika angin berhembus pelan. Benar, cuaca benar-benar cerah. Aku tersenyum tipis.

Gonggongan Reev mulai terdengar lagi. Ia menggonggong ke arah pohon besar di depan rumah tetanggaku. Terus mengonggong tanpa aku tahu kenapa. Aku mencoba menoleh pada arah yang ia gonggongi tapi tidak ada satu pun orang di sana. Mungkin ia melihat burung terbang atau semacamnya. Aku mengelus kepalanya dan segera duduk di ayunan yang kumaksud tadi.

“Kau semakin besar saja, bulumu semakin lebat, dan kau semakin pintar juga sehat, aku merawatmu dengan baik kan?” ucapku padanya.
Setiap hari kuucapkan kalimat itu dan ia hanya menggonggong tiap kali aku mengucapkannya.
“Katakan padanya kelak bahwa kau sehat bersamaku, okay?”. Ia mengonggong lagi.

Reev memang pintar. Kurasa baru saja beberapa menit aku duduk menikmati suasana taman kecil di pekarangan rumah milik keluargaku ini, Reev mulai mengonggong lagi. Semakin kencang ia menggonggong, semakin membuatku bingung.

“Hey kawan, ada apa sih? Apa makananmu kurang? Apa kau ingin jalan-jalan?” Reev tetap mengonggong pada sesuatu di belakangku.

Apa sih yang ia lihat? Apa sesuatu yang sama saat ia mengonggong ketika baru saja ke luar rumah?. Aku tahu ini saatnya aku membalikkan badan dan saat itu pula Reev melompat dariku. Ia melompat kepada seseorang yang berdiri tegap di belakangku. Seorang laki-laki berambut pirang yang dibiarkan tergerai karena agak gondrong serta mata abu-abu yang membuatku tertahan untuk mengucapkan apapun. Astaga, aku terdiam terpaku saat aku menatap mata itu. Bahkan aku tidak peduli lagi bahwa Reev sudah berada dalam genggamannya. Tuhan, aku tidak percaya bisa melihat bola mata abu-abu miliknya lagi. Senyuman itu membuatku kembali pada masa-masa remaja kami empat tahun yang lalu. Dia disini, dia benar-benar disini! Tuhan, jadi dia benar-benar memegang janjinya? Aku tersenyum lebar dan berdiri siap memeluknya. Jonathan Roscher, aku merindukanmu. Sungguh!

“Kau ke sini untuk membawa Reev pulang?”

Aku berharap Reev tetap di sini sebenarnya. Tapi bagaimanapun Reev bukan milikku. Kapanpun ia pulang, kapanpun ia bisa mengambil Reev dariku. Aku memandangi Reev yang masih akrab dalam gengongannya. Reev menjilat-jilat tangan Jonathan. Astaga, bagaimana bisa Reev menjadi seakrab itu dengan Jonathan padahal ia sudah berpisah lama. Entahlah insting anjing mungkin lebih tajam sehingga bisa mengetahui dengan cepat siapa majikan yang sebenarnya. Aku tersenyum sekali lagi. Jujur, aku masih tidak percaya Jonathan benar-benar pulang. Empat tahun lamanya ia pergi ke Belanda karena ibunya menikah dengan ayah tirinya yang berkewarganegaraan Belanda. Dengan alasan itu kupikir Jonathan tidak akan pulang lagi.

“Apa ini caramu menyapaku setelah empat tahun tanpa komunikasi apapun?”
“Aku merindukanmu Jo” ucapku akhirnya.

Kami pun sama-sama duduk di kursi taman dekat air mancur kecil. Aku bercerita dengan semangatnya mengenai perkembangan Reev dari hari ke hari. Bagaimana awalnya ia mengerti setiap aku panggil sampai Reev benar-benar bisa mengerti ketika aku sedih. Aku juga bercerita mengenai Reev yang kuberi kamar khusus dibawa tangga. Tawanya memecah suasana. Aku bersyukur Tuhan mengizinkanku mendengar suara tawanya lagi. Sementara itu ia memperhatikanku dengan serius. Uhm.. sejujurnya aku tidak berani menatapnya dalam-dalam. Aku grogi, sumpah! Jadi aku memutuskan untuk berceloteh tentang Reev, Reev dan Reev. Sampai akhirnya aku berhenti bercerita. Aku ingin mendengarnya bercerita. Tentang apapun, aku ingin mendengar suaranya lebih banyak. ah bagus! Ia mengerti rupanya.

“Terimakasih telah merawat Reev, Rowena Thomas. Maaf aku menghilang tanpa satu pun kabar, aku tidak akan mengambil Reev darimu tenang saja, tapi Reev tetap milikku juga, jadi aku bisa kapanpun menemuinya kan? Rowe, kau sukses menjalankan ujianmu, aku bangga padamu”

Sejenak ia berhenti bicara. Aku pun masih bingung dengan arti kata ujian yang ia maksud. Tapi sebaiknya aku tidak banyak bertanya, jadi kubiarkan ia melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa? Kok diam saja? Jadi sebenarnya, aku… sedang mengetesmu saja dengan menitipkan Reev padamu. Aku… tidak pernah menyukai gadis manapun seumur hidupku sampai aku bertemu dengan… Kau. Saat Mom memutuskan untuk ikut Dad ke Belanda dan mengajakku ikut serta, aku ragu untuk mengucapkan bahwa aku menyukaimu dan bertanya maukah kau menjadi pacarku. Aku takut kau tidak akan tahan jika kita berhubungan jarak jauh, jadi aku coba mencari jalan untuk mengujimu dengan menitipkan Reev padamu. Aku ingin tahu apakah kau menjalankan amanat untuk merawat dan menjaganya sampai aku kembali. Ternyata kau melakukan itu semua, tak peduli kapan aku akan datang kau tetap merawatnya. Jadi kurasa keputusanku hari ini sudah tepat, aku ingin kau menjadi kekasihku karena sampai saat ini pun tidak ada siapapun menarik perhatianku, Rowe, kau mau kan?”

Rowe, Kau harus bangun! Ya aku harus bangun. Aku harus cari jalan keluar dari mimpi yang kelewat indah ini. Aku memejamkan mata sebentar lalu membukanya. Tidak, ini kenyataan! Jonathan menatapku dengan mata abu-abunya dan menyatakan cintanya padaku! Aku ingin mengucapkan satu kata namun tenggorokanku mendadak kering seakan memintaku untuk tetap diam. Lalu Jonathan mendekat padaku. Aku tetap diam. Ya Tuhan, kenapa aku ini. Aku membiarkannya semakin mendekat dan mencium keningku. Saat itulah aku bisa mengeluarkan suara.

“Tentu”

Gonggongan Reev kembali terdengar. Aku tertawa pelan. Jonathan juga begitu. Reev terimakasih telah membuatku bersabar walau kupikir Jonathan tidak mungkin kembali. Terimakasih telah membuatku lulus dari ujian yang Jonathan berikan. Kau memang anjing hebat! Lihat saja, akan aku rombak habis kamarmu agar menjadi lebih nyaman dan keren!

Cerpen Karangan: Mesa Pratiwi
Facebook: Melati Septyana

Cerpen Bukan Sekedar Sebuah Titipan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahagia Itu

Oleh:
Pagi ini aku baru bisa menghapus semua inbox SMS yang telah lama tinggal di HP ku. Dengan disaksikan oleh sahabatku aku mulai menghapusnya. Lalu aku berkata bahwa aku sudah

Menyumpahinya 12 kali

Oleh:
Damar yang kala itu baru saja pulang dari kampus berpapasan dengan Indah. Mereka berbincang mengenai tugas yang baru saja diberikan oleh dosennya. “Tugas itu sulit sekali lah, aku bingung

Kamu Yang Pertama

Oleh:
Awalnya aku tidak mengenal kamu, sekolah kita beda, tempat tinggal berjauhan, hanya saja mungkin tuhan berencana. Aku perempuan yang cuek, apalagi menghadapi seorang laki-laki. Aku tidak pernah peduli dengan

Waktu Di Balik Senja (Part 4)

Oleh:
– Nathan Aditya POV Hari ini aku sungguh tidak bersemangat untuk sekolah. Apalagi ditambah dengan janjiku sama Salman agar tak mendekati Secret Admirerku, Rayya Arthamevia. Entah apa yang membuat

Kabarnya

Oleh:
Sepertinya kau sudah lupa denganku, atau mungkin kau sekedar pura-pura tidak tahu. Entahlah apa yang merasuki diriku, menuliskan pesan ini padamu. Dunia memang banyak berubah tapi aku ingat selembar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *