Bunga di Ujung Cerita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 29 January 2018

Hari ini adalah hari yang cerah, benar-benar cerah. Hari yang langit birunya dipenuhi oleh awan-awan putih. Hari yang sinar mataharinya tidak terlalu terik dengan bunga-bunga yang bermekaran. Hari ini benar-benar tepat untuk bersantai.

Kebetulan sekali hari ini SMP Merah Putih mengadakan study tour ke beberapa tempat menarik, seperti wahana seribu kaca, wahana permainan cahaya, dan pantai untuk refreshing siswanya. Semuanya tampak bersemangat dan tidak sabar untuk segera berangkat.

Tak jauh dari sekolah, terlihat asap hitam membumbung tinggi. Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras. Semua terkejut dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tempat itu menjadi penuh sesak setelah ledakan itu terdengar.

Ternyata Dhani, salah satu siswa SMP Merah Putih mengalami kecelakaan. Mobil yang ia tumpangi dengan sopirnya hilang kendali hingga menabrak pohon besar yang ada di dekat sekolah. Untungnya mobil itu terbakar setelah para warga berhasil mengeluarkan Dhani dan sopirnya dari dalam mobil.

Para Guru mengabari orang tua Dhani dan segera membawa Dhani ke rumah sakit. Singkat cerita, Dhani didiagnosa mengalami amnesia, ingatannya menghilang sekitar 5 tahun terakhir. Dokter tidak menyarankan keluarga Dhani memaksanya untuk mengingat memori 5 tahun terakhirnya itu. Tapi dokter menyarankan untuk menjaga Dhani sebaik-baiknya.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu sudah terlalui. Namun Dhani belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhannya. Orangtua Dhani berpikir untuk mengajaknya berlibur agar otaknya bisa tenang dan bisa segera sembuh. Namun saat mereka merencanakan liburan, Dhani pingsan. Langsung saja orang tua Dhani membawanya ke rumah sakit.

“Mungkin Dhani memaksakan diri untuk mengingat sesuatu, jadi dia pingsan. Jadi, Ibu dan Bapak tolong awasi Dhani agar tidak memaksakan ingatannya!” kata dokter setelah memeriksa Dhani.
“Tapi Dhani baik-baik saja kan dok?” Tanya Ayah Dhani.
“Dhani baik-baik saja, jangan khawatir, Pak!”

“Dok, apakah amnesia anak saya itu parah? Soalnya terkadang dia lupa bagaimana cara memakai pakaian, bahkan sandal. Dia juga pernah sehari tidak berkata apa-apa karena dia lupa kata-katanya dan bagaimana cara berbicara dengan normal. Padahal setiap makan, kami selalu memberinya makanan berprotein tinggi agar sel-sel tubuhnya yang rusah bisa diperbaiki dan dia bisa cepat sembuh dok.” Sahut Mama Dhani.
“Ibu memberikan makanan berprotein tinggi dan Dhani sering lupa melakukan aktivitas sehari-hari? Sebentar ya Pak, Bu, saya mau memeriksanya lagi.” Dokter pergi untuk beberapa waktu. Cukup lama memang, namun dokternya juga akhirnya kembali, tidak pulang.
“Dari hasil pemeriksaan kami, terjadi penumpukan protein di otak Dhani, jadi dia mengalami Alzheimer di usia muda. Jadi, jangan memberikan makanan berprotein tinggi berlebih kepada Dhani!”

Setelah hari itu, kedua orangtua Dhani merasakan hari-hari yang buruk karena Dhani bukan hanya menderita amnesia, tapi juga Alzheimer. Mereka bingung harus berbuat apa? Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membuat Dhani pulih dengan cepat.

Kring… kring… kring…
Telepon rumah keluarga Dhani bordering. Mama Dhani yang ada di ruang tamu segera mengangkat telepon yang sedari tadi berdering.

“Halo, dengan Bu Hasan di sini. Ini siapa ya?” kata Mama Dhani.
“Halo Tante, apa kabar? Ini Riska. Kabarnya Dhani habis mengalami kecelakaan ya Tante? Maaf, Riska baru tahu. Riska tahunya juga dari teman Riska, adik kelasnya Dhani. Mengapa Tante tidak memberitahu Riska?” ternyata penelepon itu adalah Riska, seorang gadis yang pernah dekat dengan Dhani sekitar akhir kelas VIII dulu.
“Riska? Kabar Tante baik, kamu juga apa kabar? Iya, maaf ya tidak memberitahu kamu. Soalnya Tante juga bingung harus berbuat apa!”

“Tan, aku mau menjenguk Dhani nanti sore, boleh?”
“Ah kamu, seperti baru kenal saja! Tentu saja boleh.”
“Makasih Tante. Tan, sudah dulu ya, Mama memanggil-manggil Riska dari tadi! Sampai jumpa Tan, maaf mengganggu!”
“Mengganggu apanya? Ya sudah, sampai jumpa…”

Seperti yang sudah direncanakan Riska, sore ini Riska datang ke rumah Dhani dengan membawa karangan bunga dan buah-buahan. Mama Dhani mengantar Riska ke kamar Dhani. Dan meninggalkan mereka untuk menyiapkan minuman.
“Riska? Apa kabar? Kemana saja kamu selama ini? Sudah lama tidak ketemu! Mengapa harus pindah? Aku jadi kesepian!” kata Dhani terkejut melihat Riska datang.
“Maaf ya, aku baru tahu kalau kamu sakit…”
Pembicaraan mereka terus berlanjut. Namun sejak detik itu, maksudnya semenjak Dhani bertemu Riska, dia tampak normal. Dia ingat peristiwa-peristiwa 5 tahun terakhir, selalu ingat bagaimana harus bersikap, melakukan sesuatu dan sebagainya.

Ini bagai keajaiban. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa Dhani bisa begitu saja sembuh setelah Riska datang? Atau Dhani hanya berpura-pura saja selama ini? Kerena sebelum study tour, Dhani mengatakan kepada orangtuanya untuk mengambil paket B saja karena malas belajar dan Riska pindah ke sekolah lain. Padahal, dokter juga memeriksanya kan? Apakah dia sembuh atau berpura-pura? atau dokternya yang salah?

Cerpen Karangan: Dikta Sumar Hidayah
SMP NEGERI 1 PURI MOJOKERTO

Cerpen Bunga di Ujung Cerita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Hidup Sejati

Oleh:
Kata orang berlian itu sangatlah indah, namun menurutku dia lah yang paling indah. ‘Dia’, wanita yang membuatku jatuh hati pertama kalinya, rambut panjang lurus berwarna coklat gelap, namun ketika

4 Detik

Oleh:
“Felly!” seru seseorang saat ia hendak ke luar dari studio musik. “Kamu!” gumam Felly dengan wajah yang datar dan dingin. “Ya. Ini aku.” katanya dengan napas yang terengah. “Apakah

The Magic of Time (Part 1)

Oleh:
“Kring… Kring…” “Berisik!!” Aku mengambil Jam weker tersebut dan mematikannya. “plisslah hari ini hanya Mos, free class.” Aku kembali membaringkan tubuhku ke kasurku yang sangat nyaman. “Oh tidak, Apa

Sepeda dan Cinta Pertamaku

Oleh:
Namaku Tiara, aku sangat suka sekali bersepeda. Dari kecil aku sangat menyukainya. Aku masih ingat dulu saat pertama kali ibu dan ayah mengajariku menggunakan sepeda. Jatuh bangun ku rasakan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *