Bunga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 April 2017

Bunga, siapa yang tak kenal dia… tak ada yang mampu berkata tidak untuk perempuan cantik yang satu ini. Bibirnya yang indah menawan kaum lelaki, pipi lesungnya yang memikat roh-roh anak cucu adam ini pun turut menyumbang pancaran keindahannya. Ditambah lagi prestasi belajarnya di sekolah semakin membuat geregetan, termasuk aku…

Aku sudah lama mengaguminya, sejak pertama kali bertemu di gerbang sekolah waktu itu. Hari senin yang kebetulan masih masa orientasi siswa atau yang biasa disingkat MOS. Waktu itu dia memakai mahkota yang terbuat dari daun nangka kering dengan sorot matanya yang tajam, tanda pengenal yang menggantung di lehernya bertuliskan “Bebek”, dan Tas kresek yang entah apa isinya setia menggantung di belakang punggungnya. Rambutnya yang hitam panjang dan lurus itu pun tak luput dari pandangan mataku. Untuk sejenak aku terpana, sebelum “Braaaaak!!!” wajahku membentur pintu gerbang sekolah. Terdengar orang-orang menertawaiku. Kacamataku terjatuh entah ke mana. Tak lama kemudian kulihat tapi tak jelas ada seseorang yang membantu mencari kacamataku.
“ini kacamatamu…”
Dengan sambil meraba-raba ku coba meraih tangannya menyambut kacamataku. Lalu kupakai dan tampaklah sosok bidadari itu lagi. Ternyata dia yang membantuku mencari.
“terimakasih!” kataku…
“sama-sama”
Lalu aku beranjak pergi, saking senangnya aku menolehnya lagi tapi dia sudah tak ada di situ. Itulah menit-menit terindahku dengan sosok yang kukagumi. Selama MOS berlangsung aku masih berharap bisa bertemu dengannya lagi. Masih terbayang keindahan wajahnya dan juga suaranya yang ramah menembus sampai ke tulangku.

Masa orientasi siswa pun berlalu. hari pertama masuk sekolah begitu cerah, secerah hatiku pagi itu. Aku duduk di kursi taman di bawah rerindangan pohon cemara, alangkah sejuknya. Selang beberapa menit kemudian bel masuk pun berbunyi, semua siswa siswi masuk ke kelasnya masing-masing. Aku duduk di bangku tengah nomor dua dari depan dekat bangku guru. Tak lama ibu guru masuk. “selamat pagi anak-anak!” salam bu guru. “Pagi buuu!” jawab kami serentak. Pelajaran pun dimulai, Kelas begitu hening.

Tiba-tiba keheningan itu buyar saat terdengar beberapa kali ketukan di pintu dari luar.
“masuk!” perintah bu guru.
Lalu dibukalah pintu itu dan tampaklah sesosok perempuan yang tak asing bagiku. Semua mata tertuju padanya. Lirih terdengar suara denting piano di telingaku seakan berirama menyambut kedatangannya. “Oh tuhan, betapa dia seperti bidadari” seruku dalam hati. Dia adalah perempuan yang berada di gerbang sekolah waktu itu.
“kamu telat lima belas menit, kenapa bisa terlambat?” tanya Bu dini.
“maafkan saya bu, saya naik angkot, tadi macet agak panjang karena ada kecelakaan lalu lintas”
“oke, karena kamu masih anak baru di sekolah ini kamu saya maafkan. Tapi bukan berarti kamu tidak dihukum. Kamu harus memperkenalkan diri di depan kelas. Ceritakan semua tentang kamu, setuju anak-anak?”
“setuju” jawab kami serentak..
“baik kalau begitu! Teman-teman izinkan saya memperkenalkan diri. Namaku Bunga Nirmala. Kalian bisa memanggilku Bunga. Saat ini aku tinggal di perumahan nangka pepaya nomor tujuh. Ayahku seorang pegawai negeri dan ibuku seorang pemilik butik kecil-kecilan. Aku suka melukis dan membaca puisi karya kahlil gibran. Boleh saya duduk sekarang bu?!”
“Silahkan, cari tempat dudukmu sendiri!” perintah bu dini.
Pelajaran pun dimulai kembali. Dia duduk di samping Gio, karena memang bangkunya kosong.
“hari ini kita akan mempelajari bagaimana menghitung volume lingkaran. Silahkan buka buku paket kalian halaman sembilan…”

Satu jam berlalu, bel istirahat berbunyi…
“Bunga, ke kantin yuk!” ajak Gio. Tampak bunga masih berfikir sejenak lalu…
“yuk!”
Mereka ke kantin bersama. Untuk pertama kalinya aku merasa cemburu pada seseorang yang masih belum kutahu latar belakangnya. Saking keselnya kutendang saja meja di depanku. Aku tak sadar kalau ada orang yang masih diam di situ. “bedeh apah mas? Nyare masalah ka sengko’ ben?” bentak anak yang di depanku itu dengan logat madura kental. Tubuhnya kekar dan tinggi. Wajahnya sedikit seram mungkin karena dia sedang marah. “maaf mas, saya gak sengaja! Tadi ada tikus yang gigit sepatu saya, makanya saya coba menendangnya. Ehh malah kena bangku” jawabku mengarang sekenanya saja.
“hah, tikus mana tikusnya sekarang?!” tanyanya sambil naik ke atas bangku kegelian.
“Ah, badan loe aja yang gede tapi nyalinya kelingking” cengingisku dalam hati.
“Sudah pergi bang tikusnya..”
“adduh, mon gitu ayo kita pergi juga daripada digigit tikus itu.”
“Ke mana bang?”
“ka kantor nyare koceng, huh be’na reh mak bennya’ ghellu mikker.. majuh rah pas”
“hehe.. bang, pake bahasa manusia donk jangan pake bahasa…” aku tak melanjutkan
“bahasa apah? Reh jhet lah dherih dissa’en madureh.. majuh ka kantin lapar kok. Mong-ngomong sapah nyamanah be’na?” tanyanya sambil berjalan. “namaku farhan bang, kamu?” jawabku balik bertanya. “reng towanah sengko’ aberri’ nyamah Suraji masuji” jawabnya.

Hari-hari berikutnya masih seperti biasa. Pagi-pagi sekali aku telah jadi penghuni sekolah. Duduk membelakangi pohon cemara sambil melihat tajam gerbang sekolah tempat pertama kali bertemu dengannya. Berdebar rasa di hatiku lalu terdengar lagi denting piano dekat sekali dengan telingaku makin lama makin keras saja. Mataku terpaku di situ untuk waktu yang lama sampai akhirnya siswa laki-laki heboh entah kenapa. Ternyata ada sebuah mobil berwarna merah menepi. Mereka tau bahwa mobil itu adalah milik ayah bunga dan itu berarti bunga ada di dalamnya. Tak lama kemudian, turunlah bunga dari mobil merah itu. Lalu disambut bujuk rayu kaum lelaki namun dia hanya tersenyum tanpa kata-kata. Tapi di ujung sana adalah Gio yang menyambut dan menggandeng tangannya. Rasanya seperti kesetrum ribuan watt di otakku. Dan munculah suara drum dengan kerasnya.

Semenjak hari itu aku sadar akan sesuatu.. Mereka adalah pasangan yang ideal. Bunga yang cantik, juga Gio yang cukup Popular di sekolah. Gio berbeda dengan cowok lainnya, dia tergolong rupawan, energik, atletis dan juga smart. Soal yang paling sulit adalah mencari kekurangannya, kurasa..

Dua tahun berlalu… Tapi sampai saat ini hubungan bunga dengan Gio tetap terjalin. kini aku sudah kenal akrab dengannya. Dia suka memanggilku capunk…
Suatu pagi sahabatku, suraji melemparku dengan kertas yang diremuknya pada saat jam pelajaran. Aku menolehnya dan bertanya pelan… kemudian dia menunjuk ke belakang dengan kepalanya agak samar. Aku segera mengerti apa maksudnya. Aku segera menoleh dan tampaklah bunga dan Gio yang sama-sama memakai wajah geram satu sama lain.

Bersambung

Cerpen Karangan: Fendy Arga
Facebook: Fendy Arga
Mohammad Efendi Pradana
Riwayat Pekerjaan
1.Sekretaris PNPM Mandiri Perdesaan Kec. Pakusari
2.Operator di SMK Bahrul Ulum Kec. Mayang
3.Operator Bendahara Desa JATIAN
Alamat tinggal
Desa Jatian Kec. Pakusari
RT/RW 002/011
Jember 68181
Kontak
Mobile: +62-85 8 0611 0927
Email: Arga.onyez[-at-]gmail.com
Facebook: Fendy arga
Twitter: @Onyes_azza

Cerpen Bunga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Bad Heart

Oleh:
Aku berjalan ke tempat duduk di Taman E-park New York, dan duduk di salah satu kursi taman di dekat pohon besar. Aku bergumul sendiri, sambil meminum kopi cappucino-ku yang

Gara Gara Cinta

Oleh:
Malam yang sunyi dan indah, terdapat bintang-bintang yang menghiasi langit dan bulan yang menyinari bumi. Nama aku marwan santosa siswa smkn 1 rangakasbitung. Aku tinggal di kota banten daerah

Mengerti

Oleh:
“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,”

Anak Nakal Punya Prestasi

Oleh:
Terdengar suara gemuruh dari sebuah kelas, sesekali terdengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh anak pelajar. Guru mata pelajaran yang kebetulah tidak bisa masuk kelas dimanfaatkan oleh mereka. Sebagian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *