Buronan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 20 March 2018

Orang yang merasa terbidik, dengan cekatan memutar badan ke belakang sambil mengepalkan tangan kanan berbalut besi. Dengan memfokuskan tenaga di kepalan, dia mencoba menepis peluru yang menghampiri secepat kilat. Dengan timing akurat, dia mampu mengenai timah panas itu dan dibelokkan ke bawah. Peluru itu pun berubah arah dan langsung menancap ke tanah.

“AW!” teriak orang itu. Karena hukum aksi-reaksi, tangan kanan dia terpental ke belakang. Kelihaian dia pun diperlihatkan. Dengan memanfaatkan kondisi, dia memutar tubuh sekali lagi searah tangannya. Sambil menjulurkan lidah, dia menyeimbangkan pijakan di atas jalan, diikuti refleks kaki ke depan. Hal ini membuat dia tetap berlari dengan cepat menjauhi penembak tersebut.

“Siaaall!!” teriak penembak mulai meletuskan tembakan beberapa kali. Namun, peluru terus meleset sampai amunisi habis. Dengan kondisi letih, dan kaki yang tidak berkompromi untuk bergerak maksimal, dia pun menyerah dengan situasi gawat tersebut.

“Bagaimana? Kau mampu melumpuhkannya?” suara dari mikrophone kecil di telinga sang pengejar.
“Dia mengejekku!” kata dia terengah-engah.
“Aku telah menghubungi bantuan. Tetap kejar dia!” kata mikrophone. Namun, orang yang dikejar, tahu-tahu sudah menaiki sepeda motor CB 150R hitam meninggalkan dia. Dia pun hanya melihat wanita itu melambaikan tangan pada polisi muda itu.

“Dia pergi ke arah Timur!” kata polisi itu.
“Oke! Kami akan menyegatnya!” kata mikropone.
“CB 150R hitam.”
“Oke!” tutup seseorang dari mikrophone itu. Suasana pun langsung ramai, mencekam dan berantakan. Dengan kendaraan roda dua dan empat memenuhi bundaran jalan di kota itu.

Beberapa menit berselang, beberapa polisi mendatangi TKP dengan sepeda motor. Dengan sigap dan cekatan, mereka mengatur arus lalu lintas demi mengurai padatnya kendaraan.

“Bagaimana kondisinya?” tanya seseorang menghampiri polisi muda di bundaran.
“Ini akan memakan waktu cukup lama.” kata dia, sambil mengarahkan beberapa kendaraan.
“Aku akan mengatasi kendaraan di sana!” kata dia menggigit peluit.
“Tidak! Kau di sini saja! Aku akan mengejar wanita itu.” kata polisi muda itu meninggalkan tugas.
“Apa? Hei! Selesaikan masalah di sini dulu!” teriak polisi itu. Namun, bermodal kata-kata tidak mampu menghentikan tekad polisi muda itu. Dia pun menghilang menyusuri kerumunan kendaraan.

Selagi berjalan, polisi muda tersebut terus memikirkan wanita itu. Dia mencari fakta, alasan apa wanita itu melakukan tindakan buruk. Seleksi setiap perbuatan yang muncul dalam ingatan terus terbayang. Kebiasaan, aktifitas, tingkah laku, bahkan kepribadian dari seorang wanita yang familiar bagi dia memenuhi pikiran pembeban otak. Sampai tanpa sadar, dia telah kehilangan fokus dalam berpikir. Menumpu tatapan kosong akan apa yang dia lihat. Lamunan.

Kesadaran dia pun kembali setelah dering handphone menggetar paha kirinya. Mengetahui ada pemberitahuan, dia mengambil handphone dan melihat pesan. Pesan dari wanita yang telah membekas dalam hati laki-laki lugu. Sebuah tulisan digital berinti pertemuan. Setelah melihatnya, dia pun bergegas ke tempat pertemuan. Dimana mereka pernah bertemu untuk pertama kali di tempat yang sama.

“Apa yang kau inginkan?” tanya polisi muda itu. Mereka telah bertemu di sebuah restoran kecil dekat bundaran jalan.
“Aku hanya ingin bicara. Kita selesaikan di sini sekarang juga.” kata wanita itu. Dia menyodorkan secarik kertas dengan tangan kanan. Tangan gemetar bernoda darah.
“Cepat katakan sekarang!” kata polisi muda itu mengambil kertas itu.
“Jangan mengganggu rencanaku. Aku melakukan ini demi kepentinganmu juga.” kata wanita itu bermuka serius.
“Aku tidak bisa. Tindakanmu kali ini terlalu berlebihan bagiku.” kata polisi menggelengkan kepala.
“Itu adalah alamat yang akan aku tuju. Kuharap, kau tidak mencoba menghentikanku.” kata wanita itu.
“Akan kuhentikan kau di sini!” kata polisi itu mulai menarik pistol dari pinggangnya.
“Kau yakin? Kita akan membuat tempat ini berantakan karena ulahmu. Pikirkan orang-orang di sini.” kata wanita itu tersenyum.
“Situasi darurat membolehkanku melakukan sesuatu demi mencekal kejahatan.” kata polisi itu.
“Aku telah menyekap seseorang yang berharga di sana. Kalau kau bertindak, temanku akan melakukan sesuatu padanya.” kata wanita itu. Laki-laki itu pun tak bereaksi dengan apa yang dia gertak. Memahami kalau itu adalah sebuah kebohongan.

“Kau takkan mampu membuatku mundur!” kata polisi itu. Mikrophone di telinganya tiba-tiba mengeluarkan suara seseorang.
“T-tomy! Kami menerima laporan kalau salah satu keluargamu menghilang! Cepat ke kantor untuk rincian kasus ini.” kata mikrophone itu. Informasi ini membuat polisi itu tak bergerak, memalingkan mata ke segala arah sambil sedikit kebingungan. Sampai akhirnya melihat ke wanita yang sedang tersenyum menghias paras cantik. Wanita itu hanya mengangkat pundak menanggapi sikap polisi itu.

“Aku harap kau akan berubah di kemudian hari.” kata polisi itu menyarungkan pistol dan beranjak keluar.
“Aku tunggu kabar baiknya.” kata wanita itu sembari menyeduh teh hangat. Perpisahan ini semakin membekas hati polisi lugu itu, menyayangkan kejadian yang membuat dia gundah tak berujung.

Dengan adanya petunjuk melalui secarik kertas, di malam hari, beberapa personil polisi khusus menyergap sebuah gubuk tua. Salah satu dari mereka adalah Tomy, polisi berbakat dan berpredikat tinggi. Mereka mencari adik Tomy setelah dikabarkan hilang oleh kepala kepolisian setempat. Tidak lain dan tidak bukan, tersangka di balik kasus ini adalah wanita cantik bernoda darah di tangan kanannya.

Taktik sembunyi-sembunyi mereka terapkan. Menjalankan tugas secepat mungkin, tanpa ada yang menyadari. Bergerak seefisien mungkin, tanpa ada suara. Sebagai pemimpin personil, Tomy seringkali menggerakkan tangan sebagai isyarat akan suatu perintah. Semua personil mengikuti arahan-arahan tersebut tanpa ada kendala. Namun, hanya sampai di luar gubuk kejanggalan tidak tampak.

Salah satu personil membuka pintu untuk memastikan keadaan. Ketika membuka, ember berisi cairan kuning tumpah dari atas. Dengan sigap, personil tersebut mundur ke belakang, menghindari jebakan. Sebagai tim khusus, jebakan seperti itu setingkat dengan permainan anak SD. Namun, masalah besar tersulut karena hal ini.

Secara mendadak, tanah terbakar dengan hebat. Kobaran api menjalar dengan cepat. Karena gubuk terbuat dari bahan mudah terbakar, dalam sekejap si jago merah telah menyelimuti dinding. Kepulan asap membumbung menembus langit. Kejadian ini membuat Tomy mengambil inisiatif untuk memadamkan api.

“Bawa air untuk memadamkan api!” teriak Tomy. Kegelisahan hati Tomy mulai tumbuh. Sepintas, perasaan cemas menyelubungi hati Tomy. Ingatan tentang adik perempuan membayangi pikiran. Tanpa pikir panjang, dia berlari ke dalam gubuk reot itu, mencari keberadaan saudara perempuan satu-satunya. Melawan keganasan api tanpa mempedulikan resiko keselamatan nyawa yang dia miliki.

“Komandan! Bawa ini!” teriak salah satu personel membawa seember air. Tomy langsung menerima tawaran dia, sambil berlari memasuki gubuk. Ketika melihat kobaran api di depannya, dia tumpahkan isi ember ke kobaran api. Namun, masalah lain mulai timbul.

Ketika air menyentuh si jago merah, kobaran semakin mengganas. Air yang dimaksudkan memadamkan api, malah membuat api lebih marah. Tomy pun sedikit panik dengan situasi kritis ini.
“Apa yang terjadi?” bingung Tomy sambil membau ember. Terciumlah minyak tanah yang melekat. Tomy memikirkan prasangka sembari menoleh ke belakang. Dan situasi menjawab, pikirannya menjadi kenyataan. Tampak dengan jelas, seorang wanita memakai satu set seragam khusus polisi seperti yang Tomy kenakan.

“Cynthiaaa!!” teriak Tomy murka. Cynthia meninggalkan Tomy sambil melambaikan tangan, tertelan oleh gelapnya malam. Gundah telah melekat di hati Tomy. Kejadian ini membuat Tomy semakin terluka karena Cynthia. Dengan perasaan bercampur aduk, Tomy bergerak dengan membabi buta. Langkah kaki tanpa peduli ada api, tatapan was-was tanpa menghindar dari runtuhan puing-puing, dan mencari adik perrmpuan tanpa peduli kesakitan fisik. Tenaga ia kerahkan demi menelusuri setiap sudut gubuk seluas 100 meter persegi. Sampai akhirnya, dia harus menyerah dengan keadaan yang semakin darurat.

Dalam keadaan terluka, Tomy keluar dari gubuk api tersebut. Semua personil sudah angkat tangan menangani besarnya api. Gubuk tersebut tak mampu diselamatkan. 20 menit dibutuhkan untuk menghanguskan 80 persen rangka gubuk reot. Sehingga hanya ada satu hal yang mereka lakukan: Menunggu pemadam kebakaran tiba.

Kedatangan pemadam kebakaran terbilang sedikit sia-sia. Mereka hanya menyelamatkan gundukan tanah, bertumpukkan puing-puing gubuk. Hasil ini mengecewakan tindakan Tomy dan personilnya. Selain telah menghabiskan sebuah gubuk asing, mereka tidak menyelesaikan tujuan dari polisi khusus ini: mmenemukan dan menyelamatkan adik Tomy.

Gelengan kepala terus menjadi topik utama bagi Tomy. Kegagalan akan sebuah misi, kegagalan menyelamatkan adik perempuan dan kegagalan mendapat petunjuk dari tersangka merupakan tiga pukulan telak. Sambil merenungkan kejadian-kejadian itu, dia merilekskan tubuh dan ketegangan pikiran disamping mobil polisi. Tatapan kosong pada satu titik fokus yang buram mulai mengganggu kesadarannya. Memori tentang masa lalu mulai mengingatkan otak Tomy. Ingatan kebersamaan dan ketentraman suatu keluarga. Wanita yang selalu bersamanya dalam waktu yang lama, itulah yang sedang dia cari. Namun lamunan palsu itu memudar setelah semprotan air dari mobil damkar mengenai tubuhnya.

“A-ada apa?” kata Tomy terkejut.
“Oleng kapten!” teriak salah satu petugas.
“Hati-hati!” kata Tomy.
“Baik kapten!” teriak petugas memadamkan api. Sembari menatap sekeliling, aksi para pemadam membuat Tomy tertarik. Meski gubuk telah ambruk, mereka tetap memadamkan api. Mereka berpikir keras, bagaimana memadamkan si jago merah sesingkat mungkin. Meminimalisir kerugian, meski kerugian hampir mencapai maksimum. Dari tindakan-tindakan mereka, Tomy pun terhibur dan mendapat secercah pelajaran.

Tanpa pikiran jernih, takkan muncul petunjuk melalui dirinya. Terbawa emosi hanya menghasilkan pikiran negatif, disertai tindakan gegabah. Tindakan gegabah menghasilkan luka, baik itu fisik maupun batin. Itulah pendapat dia. Karenanya, dia merilekskan hati dan pikiran. Menarik napas, menghembuskan dengan memejamkan mata. Memantapkan tekad, dan bergumam pelan “Aku pasti menemukanmu!”. Pikiran dia pun langsung selaras dengan tekad yang dia miliki.

Setelah tenang menghampiri, dia berniat memulangkan diri. Ketika membuka pintu, dia melihat api menyala di atas mobil. Terkejut, dia pun memadamkan api dengan tangan basah. Betapa kagetnya dia, tangan dia malah terbakar. Dengan sigap, dia mengusap-usapkan ke baju basah. Api pun padam. Mengalami situasi ini, dia mulai memahami sesuatu.

Di atas mobil polisi, di sekitar bagian yang terbakar, tetap basah karena cipratan air dari mobil damkar. Air yang mengenai api malah membuat api membesar. Namun beruntung, atap mobil berbahan baja. Meski di atas api berkobar, tidak mungkin melelehkan mobil ber-titik lebur 2.900° C. Pertanyaan pun mendatangi pikiran dia. Bagaimana bisa terbakar?

Pikiran pun melayang ke sebuah bahan kimia bernama logam sodium. Ini adalah bahan yang terbakar apabila terkena air. Sungguh ajaib. Tapi itulah sifat asli bahan itu.

Penasaran, dia memperhatikan sekali lagi nyala api. Dan hasilnya, positif. Semakin deras air mengenai, semakin terang nyala api. Sampai ketika bahan habis, api padam dengan sendirinya. Pertanyaan kedua pun menghiasi pikiran Tomy. Siapa yang melakukan hal ini?

Petunjuk muncul. Warna hitam karena terbakar, membentuk pola tulisan. Penasaran, Tomy mengangkat kepala dan melihat, apa yang tertera di atas mobil.
“ADIKMU DI DALAM MOBIL!” gumam Tomy membaca. Ketiga kali dia terkejut, bergegas dia membuka pintu mobil. Terlihatlah sesosok adik perempuan tak sadarkan diri. Tubuh Tomy pun bergerak ke dalam mobil, memeriksa kondisi fisik.

Kejanggalan negatif. Segera setelah itu, dia menduduki kursi sopir, dan membawa mobil ke sebuah rumah sakit terdekat. Tersenyum lega, sekaligus sedih. Dengan kecepatan stabil, dia menyetir sembari memikirkan sosok perempuan itu. Menyimpulkan jawaban atas pertanyaan kedua. Bahwa dialah pelakunya.

Setelah adik Tomy memasuki UGD, Tomy menunggu di luar ruangan. Dalam letih, bersandar pada sebuah kursi kosong dekat dinding. Memejam mata, beristirahat dalam kesunyian. Kala itu pukul 10 malam, rumah sakit sudah sepi. Tak ada orang berkeliaran di dalam rumah sakit. Momen yang pas memikirkan pertanyaan ketiga dari seluruh kejadian ini: Kenapa dia melakukan ini?

Suara langkah kaki menghampiri. Penasaran, Tomy membuka mata, melirik dia yang menghampirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Wanita itu tersenyum.
“Apa yang kau bawa?” tanya Tomy.
“Ini? Kotak P3K.” jawab dia mengangkat tangan kiri yang membawa sebuah kotak.
“Siapa yang terluka?”
“Kamu tidak sedang baik-baik saja.” kata wanita itu duduk di samping Tomy.
“Jadi kau tidak berniat mengunjungi adik ipar?”
“Itu tujuanku juga. Ada masalah?” tanya dia membuka kotak dan mencari obat luka.
“Katakan yang sebenarnya.” kata Tomy memejamkan mata.
“Kau terluka dan aku ingin mengobati. Apakah itu belum cukup?”
“Aku sedang di rumah sakit. Di sini kau tidak akan khawatir padaku.”
“Bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu?”
“Apa kau baru memikirkannya?” tanya Tomy. Wanita itu pun tertawa dengan obrolan singkat ini.

“Kau memang selalu seperti ini, Sayang.” kata Wanita itu menghentikan tawa.
“Jadi?”
“Aku ingin mengakui kesalahan pada pihak berwenang. Apa yang telah aku lakukan sangat tidak pantas sebagai seorang polisi.”
“Mengaku padaku?” tanya Tomy menengok.
“Kau adalah pihak yang berwenang, Sayang. Keterlibatanmu sangat besar dalam tindakanku.”
“Kau tidak merencanakan sesuatu kan?”
“Tidak. Kali ini aku bertindak tanpa memikirkan keuntungan.” kata Wanita itu beralih mencari kapas.
“Jadi tindakanmu selama ini menguntungkanmu?”
“Hmmm… Tidak. Tapi menguntungkan negara.” kata wanita itu mulai mengobati luka di wajah Tomy.

“Apa yang ingin kau akui?” tanya Tomy mempersibuk wanita itu.
“Kemarin kita bertemu di restoran dekat bundaran, ingat? Di sana adalah tempat para mafia berada.” kata wanita itu tetap mengobati.
“Aku sudah tahu itu.” kata Tomy singkat.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Tidak mungkin para pengunjung tetap tenang saat aku mengeluarkan pistol secara terang-terangan. Apalagi membidik seseorang.” jawab Tomy.
“Kau memang teliti seperti biasanya.” kata wanita itu tersenyum.
“Saat ini polisi sedang menyelidiki tempat itu.”
“Kedua, tentang sebuah gubuk. Gubuk itu adalah markas para mafia. Karena tempatnya terisolasi, pihak keamanan tidak mempermasalahkan apa yang terjadi di dalamnya.”
“Jadi karena itu kau membakar gubuk? Kau menghanguskan bukti yang ada.” kata Tomy.
“Tapi polisi sedang menyelidiki. Aku yakin mereka akan segera tahu kebenarannya.”
“Apa kau hanya mengakui tentang mafia saja? Bagaimana dengan kekacauan di bundaran jalan dan penculikan adik iparmu?” tanya Tomy tanpa basa-basi.
“Itu juga salahku. Maaf telah melibatkanmu!” kata dia memegang tangan Tomy, setelah selesai mengobati.
“Alasannya?” tanya Tomy judas.
“Karena kamu.” kata dia tersenyum. Tomy hanya memalingkan wajah merespon kecantikan senyum wanita itu.

“Jangan membual!” kata Tomy.
“Tidak! Aku tidak membual. Aku melakukan ini karena aku tahu betul sifatmu.”
“Sifat? Apa kau mengejekku?” tanya Tomy.
“Tidak! Aku tidak ingin kau melibatkan lebih jauh lagi dengan diriku. Aku tidak ingin namamu tercemar karenaku lebih jauh lagi. Aku mencoba menghilang dari kehidupanmu karena aku buruk bagimu.”
“Jawaban yang tidak logis.”
“Itu semua karena aku tahu betul sifatmu. Tidak mudah melepaskan sesuatu.” kata wanita itu.

Tomy tertegun. Jawaban wanita itu menyentuh hatinya. Meski bukan berarti wanita itu jujur, anggapan bahwa wanita itu tulus bergejolak dalam hati. Pikiran mengatakan, kalau dia benar-benar telah melakukan hal kejam pada hidup Tomy. Namun, hati berbicara tentang kata “MEMAAFKAN”. Memaafkan kesalahan orang lain adalah hal yang baik bukan? Tapi jika dimaafkan, bukankah Tomy terlalu baik? Bukankah dia telah menyusahkan Tomy sampai membahayakan adik Tomy? Dan dia akhirnya memikirkan kata-kata yang tepat untuk diutarakan.

“Jadi kau melakukan semua ini demi kebaikan?” tanya Tomy.
“Demi dirimu.” jawab wanita itu.
“Aku harus meluruskan tindakanku sekarang.” ujar Tomy.
“Terserah tindakan apapun. Aku siap terima resiko.” terima wanita itu.
“Chintya.” panggil Tomy pelan mengambil sesuatu dari pinggangnya.
“Ya?”
“Karena kewajiban atas pekerjaan, aku harus membawamu.” kata Tomy memperlihatkan apa yang dia ambil. Sebuah borgol.
“Ini memang kesalahanku.” kata Chintya tersenyum. Dia menunjukkan kedua pergelangan tangan, menandakan kalau dia siap ditahan.
“Mungkin kau akan dihukum berat.” kata Tomy.
“Ini adalah hasil dari kelakuanku. Aku tak bisa mengelak.” kata Chintya. Tomy mulai memborgol Chintya.
“Meski fakta mengatakan kalau gara-gara kamu kami tahu markas mafia, tapi membahayakan warga sipil adalah larangan. Dan lagi, membuat kerugian atas kehendak kepada pihak lain. Kau tidak akan bisa bebas dari sanksi.” kata Tomy.
“Baik!” kata Cinthya tetap tersenyum.
“Tapi, aku akan mencoba meringankan hukumanmu.”
“Kenapa?” kejut Chintya.
“Karena aku cinta kamu.” kata Tomy. Suasana hening pun terjadi.

Chintya tertegun akan jawaban Tomy. Dia tidak mampu berkata-kata. Senyum yang melekat pada wajah dia, tiba-tiba berlapiskan air mata. Chintya terus mengusap air mata yang jatuh. Namun, tak bisa. Mata terus mengeluarkan air meski tak ingin. Mata berkaca-kaca membuat dia jatuh ke pelukan Tomy. Menyembunyikan wajah memalukan bagi dia.

“Kau bisa saja!” kata Chintya membasahi seragam Tomy yang basah.
“Aku akan berbicara kepada atasan untuk menguranginya.” kata Tomy.
“To-tomy!” kata Chintya semakin terisak.
“Apabila kau harus berada di dalam jeruji besi, aku akan mengunjungimu secara rutin. Sehingga kau tidak merasa bosan.” tambah Tomy.
“Tomyy!!” kata Chintya semakin terisak lebih.
“Oh ya! Kau pasti lapar! Bagaimana kalau kita pulang dulu? Aku membuat Kari tadi pagi. Mungkin sekarang sudah dingin.” kata Tomy mencoba menghibur.
“Tomyyy!! Maafkan aku! Maaf! Aku sungguh buruk! Aku minta maaf! Aku polisi bejat! Aku-” kata Chintya.
“Stop! Jangan menangis di sini! Kita pulang saja. Luapkan di sana.” kata Tomy menyela.
“Tomyyy! Tomyy! Maafkan aku! Maaf!” kata Chintya semakin terisak. Perlahan, Tomy mengajak Chintya berdiri. Melangkahkan kaki penuh perasaan, dan pulang dengan senyuman. Membersihkan kegundahan hati dan menghilangkan bekas luka hati. Menuju akhir bahagia.

END

Cerpen Karangan: Hadi Trimulyono
Facebook: facebook.com/hadiari.upinipin

Cerpen Buronan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamu dan Duniamu

Oleh:
Merekakah sahabat-sahabatmu? Tahu apa mereka? Apakah mereka selalu menemanimu setiap saat? Aku yang tahu kamu! Aku yang selalu menemani kamu ke manapun! Aku juga yang selalu merasakan apa yang

Fall in Love

Oleh:
Berawal dari senyuman itu. Kini ku merasakan kenyamanan. “ah.. sudahlah dia hanya angin lewat saja bagiku” kataku sambil menutup buku pelajaran malam ini. Lalu, aku beranjak ke tempat tidur

Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 1)

Oleh:
Cerita membangggakan bukanlah tentang perjuangan cinta, tetapi perjuangan di saat kita tahu betapa sulitnya mempertahankan sebuah ikatan bernama persahabatan. Cerita mengharukan bukanlah keromantisan tentang cinta namun perjuangan mempertahankan ikatan

Ruang Kehampaan

Oleh:
Hidup bagai ruangan yang hampa. Tanpa seseorang yang kita sayang. Hidup bagai ruangan yang hampa. Penuh tekanan, kekangan, paksaan. Selasa pagi, gerimis masih saja datang dan terpaksa aku harus

Penantian Panjangku Oleh Sang Gadis Impian

Oleh:
Pada suatu pagi yang cerah burung–burung berkicau-kicau dan menari-nari, serasa sedang merasakan kebahagiaanku. Ku lihat di ujung halaman kampus ada sebuah pohon besar rindang, dan menyimpan banyak kebahagiaan. Ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *